Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang Kuat
Bulan-bulan berlalu dengan langkah yang terasa berat namun pasti. Kehilangan Sandi bukanlah luka yang sembuh dalam semalam. Setiap pagi saat Laras bangun dari tidur, ada kebiasaan lama yang masih tertinggal seperti tangan kanannya secara tidak sadar akan menyentuh sisi tempat tidur di sebelahnya, berharap merasakan kehangatan seseorang yang dulu selalu ada di sana.
Namun yang dia temukan hanyalah keheningan yang sunyi. Saat itulah dia akan menarik napas dalam-dalam, menyentuh perutnya yang semakin membesar setiap harinya, dan menyadari bahwa dia tidak boleh menyerah. Ada nyawa lain yang bergantung sepenuhnya kepadanya.
Dia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk anak yang sedang tumbuh di dalam kandungannya.
Laras menyadari bahwa uang tabungannya tidak akan bertahan selamanya. Biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan kehidupan sehari-hari membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dia tidak ingin terus bergantung pada bantuan dari keluarga atau teman-temannya.
Dia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, ingin menunjukkan kepada anaknya kelak bahwa ibunya adalah wanita yang tangguh dan mandiri. Maka Laras mulai berpikir tentang apa yang bisa dia lakukan dari rumah sambil tetap beristirahat dengan cukup.
Dia selalu pandai memasak dan membuat kue, sesuatu yang dia pelajari sejak kecil dari ibunya. Dari situlah ide itu bermula. Dengan modal uang sisa yang dia miliki, dia membeli bahan-bahan berkualitas dan mulai membuat kue kering serta roti buatan tangan di dapur rumahnya yang sederhana.
Awalnya tidak mudah. Dia sering harus beristirahat di tengah pekerjaan karena punggungnya terasa sakit atau kakinya bengkak. Kadang kue yang dia buat tidak sempurna dan harus dibuang. Kadang hanya ada sedikit pesanan dalam sehari.
Tapi Laras tidak pernah mengeluh. Dia bangun lebih pagi dari siapa pun, bekerja dengan teliti, dan selalu memberikan yang terbaik bagi setiap pelanggan yang datang. Pelan tapi pasti, usahanya mulai dikenal.
Orang-orang menyukai rasanya yang tulus dan kemasannya yang rapi dan sederhana. Pesanan mulai bertambah, dan Laras bahkan sempat mempekerjakan satu tetangga dekat untuk membantunya mengemas pesanan saat perutnya semakin besar dan tenaganya semakin terbatas.
Saat hari persalinan akhirnya tiba, Laras melahirkan seorang putra yang sehat dan tampan. Dia memberinya nama Bima. Nama yang berarti kuat dan teguh, harapannya agar anaknya tumbuh menjadi pria yang tangguh seperti ayahnya, dan baik hatinya seperti yang selalu dia ajarkan.
Kehadiran Bima membuat rumah mereka yang dulu terasa sunyi kembali penuh dengan tawa dan tangis bayi yang menenangkan. Namun tantangan justru dimulai dari sini. Mengurus bayi sendirian sambil menjalankan usaha bukanlah hal yang mudah.
Laras sering bangun tengah malam untuk menidurkan Bima, lalu bangun lagi sebelum matahari terbit untuk menyiapkan adonan kue. Dia kadang merasa lelah hingga tulang-tulangnya terasa sakit, tapi setiap kali dia melihat wajah kecil Bima yang tertawa dalam tidurnya, dia merasa seakan ada energi baru yang mengalir di tubuhnya.
Laras tidak pernah malu berjuang. Dia tidak peduli apa kata orang. Yang penting anaknya kenyaman, sehat, dan tumbuh dengan bahagia. Dia bangun lebih pagi dari siapa pun, bekerja dengan jujur, dan menyimpan sebagian hasil usahanya untuk masa depan pendidikan anaknya.
Dia juga terus menulis cerita-ceritanya di waktu luang, cerita tentang keberanian, tentang harapan, dan tentang cinta yang tidak pernah berakhir meski seseorang telah pergi.
Bertahun-tahun berlalu dan Bima kini sudah mulai berjalan dan berbicara. Dia adalah anak yang cerdas dan penurut. Kadang saat dia bertanya tentang ayahnya, Laras akan tersenyum lembut dan menunjuk ke arah langit. "Ayah adalah malaikat pelindung kita yang paling baik. Dia tidak ada di depan mata kita, tapi dia selalu melihat kita dari sana. Ayah bangga melihat kita berusaha keras menjadi orang yang baik." Bima akan mengangguk seakan dia mengerti, lalu kembali bermain sambil tersenyum lebar.
Usaha kue Laras juga berkembang pesat. Dia membuka sebuah kedai kecil di depan rumahnya yang bernama Kedai Senyum. Tempat itu bukan sekadar kedai makanan, tapi tempat di mana banyak orang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tapi juga untuk mendengarkan cerita Laras dan saling menguatkan satu sama lain.
Laras membuktikan bahwa kesedihan tidak harus membuat seseorang berhenti berjuang. Justru kesedihan itu yang menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh lagi. Dia tidak menyesali nasibnya.
Dia justru bersyukur, karena dari kehilangan itu dia belajar bahwa dirinya jauh lebih kuat dari yang dia duga. Dan dia berharap suatu hari nanti Bima akan tumbuh menjadi seseorang yang menghargai perjuangan, menghargai kasih sayang, dan tidak pernah takut untuk bermimpi besar meski hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.