NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resonansi Gelap

​Gema dentang lonceng kuno ke-13 yang menghancurkan Buku Kurikulum Maut di Altar Sektor 02 masih menyisakan di sudut-sudut rongga dada Revan.

Asap hitam pekat yang sebelumnya menyelimuti mimbar berundak telah memudar, meninggalkan bau belerang yang menusuk hidung dan keheningan yang menyesakkan.

​Revan berdiri terpaku di tengah ruangan bawah tanah tersebut. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Namun, ada sesuatu yang salah. Sangat salah.

​Tepat di bawah dada kirinya—di atas posisi jantungnya—rasa panas membakar merayap pelan. Revan mencengkeram kemeja seragamnya yang terkoyak, mencoba menahan rasa sakit luar biasa yang seolah-olah merobek kulit dan dagingnya dari dalam.

​"Revan!" suara Anya memecah keheningan. Gadis itu berlari mendekat dengan langkah pincang, disusul oleh Bima, Dika, Nisa, dan Sasha.

​"Lo gak apa-apa, Van?" Bima merangkul bahu Revan, menahan tubuh ketua OSIS itu yang mendadak goyah.

"Kita berhasil, kan? Bukunya udah hancur. Pengorbanan Kak Yudha tadi... gerbang sekolah harusnya udah terbuka sekarang."

​Revan tidak menjawab. Matanya terpejam rapat, menggertakkan gigi menahan nyeri yang kian menjadi-jadi. Ketika ia membuka kancing atas kemejanya dengan tangan gemetar, Nisa menjerit pelan sambil menutup mulutnya.

​Di dada kiri Revan, sebuah ukiran garis-garis hitam keemasan terbentuk secara gaib di bawah kulit. Pola itu meliuk-liuk rumit, membentuk enam simbol gabungan dari tanda lahir mereka berenam, dengan sebuah angka romawi kuno berdarah di bagian tengahnya: SEKTOR 00.

​"Simbol itu..." gumam Sasha, matanya membelalak lebar. Indra keenamnya mendadak bergetar hebat, mengirimkan gelombang mual dan kepanikan yang luar biasa ke dalam benaknya.

"Kutukannya... kutukannya gak hancur saat buku itu terbakar!"

​"Maksud lo apa, Sha?!" potong Dika panik sambil menatap layar gawai genggamnya yang masih tak mendapatkan sinyal.

"Bukankah inti ritualnya ada di buku pendaftaran 1996 yang baru aja dibakar Revan?!"

​Sasha menggeleng perlahan, wajahnya pucat pasi bagai mayat. "Buku itu cuma wadah penampung... Inti dari Kurikulum Maut butuh inang baru saat wadah utamanya dihancurkan. Dan..." Matanya tertuju lurus pada Revan. "...inti kutukan itu memilih Revan karena darah leluhurnya."

​Darah Raditya. Sang kakek yang menjadi pemicu awal pembantaian tahun 1996.

​Revan merintih pelan saat ukiran di dadanya memancarkan cahaya kehitaman yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Suara bisikan dingin—beribu-ribu suara jeritan jiwa yang terperangkap—menggema langsung di dalam kepalanya, memanggil namanya berulang kali.

​Revan... Sang Pewaris... Lanjutkan Kurikulum...

​"Diam..." bisik Revan serak. Tangannya meremas dadanya sendiri hingga kuku-kukunya memutih. "DIAM!"

​"Revan, kendalikan pikiranmu!" bentak Bima menepuk pipi Revan pelan untuk menyadarkannya dari pengaruh ghaib tersebut. "Jangan biarkan suara itu menguasai pikiran lo!"

​Anya mendekat, menatap Revan dengan mata yang masih basah oleh air mata duka untuk kakaknya. "Revan, dengerin aku. Kak Yudha mengorbankan jiwanya bukan supaya kamu jadi wadah baru buat iblis itu! Pasti ada cara buat menghapus ukiran itu dari dada kamu!"

​"Di SMA Bhakti Mulia ini... udah gak ada jawabannya lagi," sela Nisa cepat, teringat pada lembaran dokumen lusuh yang sempat ia baca dari laboratorium tersembunyi.

"Sekolah ini cuma Sektor Cabang. Pusat dari seluruh jaringan Yayasan dan Altar Utama ada di tempat lain."

​"Maksud lo... SMA Graha Sentosa?" tanya Dika dengan napas terengah-engah.

​Nisa mengangguk mantap. "Yayasan Induk Pusat. Di sana tempat Altar Induk Sektor 00 berada. Jika inti kutukan di dalam tubuh Revan tidak dinetralkan di Altar Induk sebelum bulan purnama berikutnya tiba... jiwa Revan bakal sepenuhnya terserap dan tubuhnya bakal jadi wadah kebangkitan penuh bagi entitas tersebut."

​Pernyataan Nisa menyisakan keheningan yang mencekam. Waktu mereka tidak banyak. Bulan purnama berikutnya hanya berjarak kurang dari tiga minggu.

​Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Debu dan reruntuhan batu bata mulai berjatuhan dari langit-langit Sektor 02. Dinding-dinding lorong bawah tanah retak, mengeluarkan suara gemuruh seperti bangunan tua yang siap runtuh kapan saja.

​"Sektor 02 mulai runtuh total!" seru Dika sambil menunjuk ke arah lorong utama yang mulai tertutup bongkahan beton. "Sistem pertahanan otomatisnya mengaktifkan penghancuran mandiri karena inti bukunya musnah!"

​"Kita harus keluar sekarang!" Bima langsung memapah lengan kanan Revan.

​"Anya, Sasha, Nisa, jalan di depan! Cari jalan menuju tangga darurat menuju palka halaman belakang!" perintah Bima tegas.

​Tanpa membuang waktu, mereka berenam berlari menembus debu dan reruntuhan lorong bawah tanah. Koridor-koridor gelap yang sebelumnya dipenuhi teror bayangan kini mulai runtuh satu per satu. Suara erangan ghaib dan jeritan penderitaan terdengar saling bersahutan saat dimensi tersembunyi Sektor 02 perlahan melenyapkan dirinya sendiri.

​Mereka memanjat tangga besi tua yang berkarat menuju pintu palka atas. Bima mendorong pintu besi tebal itu dengan seluruh tenaga tersisa hingga akhirnya pancaran sinar bulan malam yang dingin menerpa wajah-wajah mereka yang berjelaga.

​Satu per satu dari mereka keluar dan melompati ambang pintu palka, ambruk di atas rumput halaman belakang SMA Bhakti Mulia. Begitu kaki terakhir Revan melewati ambang pintu, palka besi itu runtuh dan tertutup rapat oleh tanah dan bongkahan semen dari bawah, menyegel Sektor 02 untuk selamanya.

​Keheningan malam mendadak menyelimuti mereka. Bau tanah basah dan desir angin malam menggantikan bau belerang dan darah.

​Dika terduduk di atas rumput, memeriksa ponselnya. Indikator sinyal di pojok atas layarnya mendadak kembali terisi penuh. Jam digital menunjukkan pukul 04.15 pagi. Fajar hampir tiba.

​"Sinyal... sinyalnya udah kembali," bisik Dika dengan napas terengah-engah, antara lega dan masih tidak percaya mereka berhasil bertahan hidup melalui malam detensi terkutuk itu.

​Anya menghampiri Revan yang berbaring telentang di atas rumput, menatap langit malam yang mulai memucat di ufuk timur. Denyut cahaya hitam di dadanya perlahan mereda, meninggalkan rasa nyeri tumpul yang menjalar di seluruh syarafnya.

​"Kita selamat dari sekolah ini, Van," kata Anya pelan, berlutut di samping Revan.

​Revan perlahan duduk, menatap teman-temannya satu per satu. Wajah-wajah mereka dipenuhi goresan luka, pakaian yang kotor, dan duka atas kehilangan Kak Yudha. Namun, mata mereka memancarkan satu hal yang sama: tekad untuk tidak menyerah.

​Revan meremas dadanya di balik kemeja, merasakan detak jantungnya yang kini berdenyut bersamaan dengan garis kutukan baru tersebut.

​"Ini belum selesai," ujar Revan dengan suara berat namun dingin. Ia menatap ke arah luar gerbang sekolah yang kini sudah terbuka lebar. "SMA Bhakti Mulia cuma awal dari babak pertama. Jika kita mau benar-benar bebas... kita harus menyusup ke SMA Graha Sentosa."

​Bima menepuk bahu Revan keras-keras sambil tersenyum tipis. "Gua gak akan biarkan lo berangkat sendiri, Ketos. Kita masuk bareng-bareng ke tempat ini, kita juga yang bakal hancurkan Yayasan Pusat itu bareng-bareng."

​Nisa, Dika, Sasha, dan Anya mengangguk mantap menyetujui ucapan Bima.

​Fajar merah keemasan perlahan menyingsing di atas atap SMA Bhakti Mulia, mengakhiri malam detensi berdarah yang panjang. Namun bagi Revan dan teman-temannya, mereka tahu ini bukanlah akhir dari ketakutan. Ini adalah awal dari perburuan yang lebih besar di dalam labirin Yayasan Induk Pusat Sektor 00.

​[CATATAN AUTHOR]

Terima kasih sudah membaca Bab 16! Perjuangan di SMA Bhakti Mulia resmi berakhir, tapi ancaman baru di SMA Graha Sentosa sudah menanti Revan dan kawan-kawan. Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar, dan beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 17!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!