Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Wusss.
Angin pagi berhembus masuk menyegarkan lorong lantai dua rumah mewah Nisa yang sangat luas.
Jarot berjalan pelan menyusuri lorong yang sepi itu sendirian tanpa ada yang menemani.
Ia sedang memetakan seluruh tata letak rumah ini dengan teliti di dalam kepalanya.
"Rumah sebesar ini sangat gampang disusupi kalau penjagaannya cuma mengandalkan CCTV," batin Jarot menilai.
Sebagai mantan penguasa bawah tanah, instingnya selalu bekerja otomatis mencari celah keamanan di tempat baru.
Tap. Tap.
Langkah kakinya tiba-tiba berhenti tepat setengah meter di depan ujung tangga utama turun.
Jarot menunduk melihat seutas benang nilon transparan yang melintang sejengkal dari atas lantai marmer.
"Klasik banget," gumam Jarot tersenyum tipis melihat jebakan kuno tersebut.
Benang itu terhubung ke sebuah pot bunga keramik besar yang ditaruh menjorok di atas lemari pajangan.
Kalau kaki Jarot menyentuh benang itu sedikit saja, pot seberat sepuluh kilogram itu pasti akan jatuh menghantam kepalanya.
"Niatnya mau mengusir pengawal atau mau bunuh orang sih bocah-bocah ini," pikir Jarot sambil menggelengkan kepala.
Jarot dengan santai melangkahi benang jebakan itu tanpa menyentuhnya sama sekali.
Srek. Srek.
Ia melanjutkan langkahnya menuruni tangga seolah tidak melihat ada jebakan berbahaya di sana.
Di balik sebuah pilar besar di lantai bawah, tiga pasang mata sedang mengawasi Jarot dengan sangat tegang.
"Sialan, dia bisa lihat benang transparan aku?!" bisik Tata dengan nada tidak percaya kepada saudara-saudaranya.
"Kamu masangnya kurang rapi, Ta," komentar Lyly yang berdiri melipat tangan di dada.
"Masa sih? Aku udah pakai benang pancing ikan hiu yang paling tipis lho," elak Tata mencoba membela diri.
Melly yang sedang berjongkok di sebelah Tata terkikik pelan sambil menutupi mulutnya.
"Mungkin mata gembel jalanan itu udah terlalu terlatih buat nyari recehan jatuh di aspal," ejek Melly sembarangan.
"Tenang aja, aku masih punya jebakan kedua yang lebih parah di lorong depan," kata Tata dengan senyum licik.
Jarot akhirnya sampai di lantai bawah dan langsung berjalan santai menuju lorong arah ruang keluarga.
Ia bisa merasakan tiga hawa keberadaan amatiran yang sedang bersembunyi di balik pilar ujung ruangan.
"Mereka kira lagi main petak umpet sama anak TK apa ya," batin Jarot merasa sangat geli.
Syuuut.
Tiba-tiba, Jarot merasakan lantai marmer di depannya menjadi sangat licin dan tidak wajar.
Tata rupanya sengaja menyiram lantai lorong itu menggunakan cairan pelumas mesin mobil yang jernih.
Bagi orang awam, menginjak lantai itu pasti akan membuat mereka terpeleset dan jatuh telentang dengan sangat keras.
Tapi bagi Jarot, menjaga keseimbangan di atas permukaan licin adalah materi dasar latihan fisiknya puluhan tahun lalu.
Tap. Sreek.
Jarot sengaja menginjak lantai licin itu dengan sepenuh tenaga, tapi ia tidak terjatuh sama sekali.
Gerakannya meluncur sangat luwes seperti atlet profesional yang sedang bermain sepatu roda di atas es.
Wusss.
Jarot meluncur mulus melewati lorong licin itu sampai berhenti tepat di depan pilar tempat ketiga gadis itu bersembunyi.
Ketiga gadis cantik itu langsung melompat kaget dan mundur selangkah karena ketahuan.
"Pagi, Nona-nona. Kalian lagi ngapain sembunyi di pojokan rumah begini?" sapa Jarot dengan wajah tanpa dosa.
"K-Kamu kok nggak jatuh kepleset?!" teriak Tata dengan mata melotot lebar.
"Jatuh kenapa? Lantainya emang agak licin, tapi asyik kok buat main perosotan pagi-pagi," jawab Jarot dengan nada polos.
Wajah Tata langsung memerah karena merasa jebakan andalannya dihina telak oleh gaya santai Jarot.
Lyly membetulkan letak kacamatanya mencoba menutupi rasa terkejutnya yang lumayan besar.
"Kamu kebetulan aja bisa lewat. Nggak usah belagu di depan kami," cibir Lyly dengan nada dingin.
"Terserah Mbak Lyly deh. Saya mau cari cemilan di dapur dulu ya," balas Jarot sambil berbalik badan tanpa peduli.
Baru saja Jarot membalikkan punggungnya dengan santai, Tata mendadak kehilangan kesabarannya.
Sebagai pemimpin perguruan bela diri, harga dirinya sangat terluka melihat jebakannya dipatahkan tanpa sedikit pun perlawanan berarti.
"Jangan berani sok santai kamu di depan ku!" teriak Tata marah dari belakang.
Bugh.
Tata berlari maju dan melayangkan satu pukulan lurus mematikan ke arah punggung Jarot.
Jarot sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk melihat serangan tersebut.
Srett.
Ia hanya memiringkan bahunya sedikit ke arah kanan di saat yang sangat pas.
Pukulan keras Tata meleset total dan hanya mengenai ruang kosong di sebelah tubuh Jarot.
Karena memukul dengan emosi meledak, Tata kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri dan hampir menabrak dinding lorong.
Pluk.
Jarot menahan dahi Tata yang hampir menabrak dinding menggunakan satu telapak tangannya yang lebar.
"Kalau jalan tolong lihat-lihat dong, Mbak. Nanti kepalanya benjol kalau nabrak tembok lho," ucap Jarot terdengar sangat peduli.
Tata menepis tangan Jarot dengan kasar lalu melompat mundur memasang jarak aman.
"Kamu beneran cari mati di rumah ini ya?!" geram Tata sambil merendahkan kuda-kuda bertarungnya yang sangat solid.
Lyly dan Melly langsung mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pertarungan bagi saudara mereka.
"Hajar aja dia, Kak Tata! Bikin dia cacat sekalian biar langsung dipecat Mama!" seru Melly memberi semangat yang salah.
"Jangan sampai mati di dalam rumah, nanti kita repot ngurusin mayatnya," tambah Lyly dengan nada kejam.
Jarot menghela nafas sangat panjang melihat kekompakan tiga saudara yang niatnya sangat buruk ini.
"Aku ini dibayar buat jadi pengawal kalian. Kenapa malah kalian sendiri yang mau bunuh aku?" tanya Jarot memberikan fakta logis.
"Karena kami nggak butuh pengawal sampah rendahan kayak kamu!" bentak Tata sebelum kembali menerjang maju.
Whusss.
Tata melayangkan kombinasi dua tendangan menyilang yang sangat cepat ke arah kaki dan perut Jarot.
Gerakannya sangat terarah dan punya tenaga penghancur yang luar biasa besar untuk ukuran seorang perempuan muda.
"Bakat bela dirinya memang bukan main-main kalau dilatih dengan benar," puji Jarot di dalam hatinya sendiri.
"Sayangnya, pengalaman bertarung hidup dan matinya masih nol besar," lanjut pikir Jarot.
Tak. Tak.
Jarot menangkis kedua tendangan keras itu hanya menggunakan punggung tangannya yang digerakkan dengan sangat santai.
Suara benturan itu terdengar pelan, tapi Tata justru merasa kakinya seperti baru saja menendang tiang besi padat.
"Aduh..." ringis Tata tertahan sambil mundur dan mengusap tulang keringnya yang terasa berdenyut nyeri.
"Mbak Tata kakinya kram ya? Pasti kurang pemanasan pagi itu," komentar Jarot pura-pura simpati.
"Diam kamu! Pertarungan ini belum selesai!" teriak Tata tidak mau menyerah dan mengakui kekalahannya.
Tata berlari lagi dan kali ini mencoba menggunakan teknik bantingan judo untuk menjatuhkan Jarot.