Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Orang yang Dikunci oleh Ayahnya Sendiri
“Dirimu.”
Dua suku kata itu menggantung di udara, lebih berat daripada ancaman apa pun yang pernah didengar Gu Chen.
Ia memandang Gu Yuan, berharap lelaki itu akan menarik kembali perkataannya. Namun, Gu Yuan tidak melakukannya. Ia berdiri diam, dengan wajah seseorang yang akhirnya terpaksa mengakui dosa yang telah disembunyikannya terlalu lama.
Gu Chen memasukkan tangan ke dalam saku, menggenggam Kunci Asal.
“Menarik.” Ia tersenyum tipis. “Jadi, selama ini ayahku bukan hanya menyembunyikan masa laluku. Dia juga pernah mengunciku di suatu tempat. Apa ada rahasia lain yang ingin kau ceritakan sebelum aku mulai menebak-nebak?”
“Tidak ada.”
“Jawaban yang salah.”
Gu Chen mengeluarkan kunci itu dan meletakkannya di atas meja batu.
“Kalau kau mengunciku, berarti pernah ada pintu yang harus ditutup. Kalau pintu itu masih ada, berarti sesuatu di baliknya mungkin masih hidup. Dan kalau sesuatu itu adalah diriku sendiri, aku punya satu pertanyaan sederhana.”
Ia menatap Gu Yuan lurus-lurus.
“Siapa yang sedang menjalani kehidupan ini sekarang?”
Lin Yue terdiam. Bai menundukkan kepala, sementara wajah Gu Yuan tampak semakin pucat.
“Aku tidak tahu,” jawab Gu Yuan akhirnya.
Gu Chen tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Kau mengunciku, memberiku nama, memberiku kehidupan baru, lalu mengaku tidak tahu siapa yang sedang berada di dalam tubuhku. Kau benar-benar ayah yang luar biasa.”
“Gu Chen, dengarkan aku.”
“Tidak. Kali ini, kau yang akan mendengarkan.”
Nada suara Gu Chen tetap tenang, tetapi matanya tidak lagi menunjukkan sedikit pun kelonggaran.
“Aku tidak akan menuduhmu berbohong hanya karena kau menyembunyikan sesuatu. Aku tahu ada alasan di balik tindakanmu. Namun, jangan mengira alasan itu otomatis membuat semua yang kau lakukan menjadi benar.”
Gu Yuan terdiam.
“Sekarang, ceritakan apa yang kau ketahui. Bukan semua kebenaran yang kau inginkan untuk kusadari. Bukan pula jawaban yang menurutmu sanggup kuterima. Ceritakan apa yang benar-benar kau ketahui.”
Untuk waktu yang lama, Gu Yuan hanya memandangi kunci di atas meja.
Akhirnya, ia duduk.
“Aku tidak mengunci kehidupanmu yang sekarang,” katanya. “Aku mengunci sesuatu yang pernah menggunakan tubuhmu sebelum kehidupan ini dimulai.”
Gu Chen tidak menyela.
“Pada waktu itu, kau belum memiliki nama Gu Chen. Kau juga belum menjadi Pemain Pertama seperti yang tercatat dalam sebagian arsip. Keberadaanmu sudah ada sebelum semua itu, tetapi tidak ada satu pun catatan yang bisa menjelaskan asal-usulmu.”
“Lalu kau menemukanku?”
“Bukan. Aku menemukan pintunya.”
Gu Yuan mengangkat pandangan.
“Di balik pintu itu ada seseorang yang memanggil namaku. Ia mengetahui semua hal yang belum pernah terjadi, termasuk kesalahan yang kelak akan kulakukan. Ia memintaku membuka pintu, mengatakan bahwa jika aku membebaskannya, dunia akan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki dirinya.”
“Dan kau percaya?”
“Tidak sepenuhnya.”
“Tapi kau tetap membukanya.”
Gu Yuan mengangguk.
“Ketika pintu terbuka, tidak ada orang di dalamnya. Hanya sebuah lonceng hitam dan seorang anak yang tidak memiliki nama.”
Gu Chen melirik lonceng di tangannya.
“Anak itu aku?”
“Aku tidak tahu apakah anak itu adalah dirimu yang sebenarnya. Aku hanya tahu bahwa setelah membawanya keluar, aku mulai kehilangan ingatan tentang apa yang ada di balik pintu tersebut.”
Gu Chen menyipitkan mata.
“Kalau begitu, bagaimana kau bisa mengunciku lagi?”
“Aku tidak mengunci anak itu. Aku mengunci sesuatu yang mengikuti anak tersebut keluar.”
Kesunyian menyelimuti ruangan.
Bahkan Lin Yue tidak segera mengajukan pertanyaan.
Gu Chen perlahan melepaskan genggamannya dari kunci.
“Jadi, menurutmu ada sesuatu yang masuk bersamaku ketika kau membawaku keluar?”
“Ya.”
“Dan kau tidak tahu apakah sesuatu itu masih berada di dalam diriku?”
Gu Yuan mengangguk sekali lagi.
Gu Chen bersandar pada meja, kemudian mengusap wajahnya.
“Bagus. Sekarang aku mulai memahami kenapa semua orang di dunia ini begitu menyukai rahasia.”
Bai akhirnya berbicara.
“Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan penjelasanmu.”
Gu Yuan menoleh.
Bai menunjuk Kunci Asal.
“Jika yang kau kunci adalah sesuatu yang mengikuti anak itu keluar, mengapa sistem menyebut pemilik kunci sebelumnya adalah Gu Yuan? Bukankah kunci itu seharusnya menjadi milik penjaga tempat tersebut?”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah penjaganya.”
“Namun, kau memiliki kuncinya.”
“Karena tidak ada orang lain yang bisa menggunakannya.”
Bai terdiam sesaat, lalu menggeleng.
“Tidak. Aku pernah melihat catatan tentang benda semacam ini. Kunci yang tidak memiliki lubang bukanlah alat untuk mengunci pintu. Ia digunakan untuk menentukan siapa yang berhak berada di sisi tertentu dari sebuah batas.”
Gu Chen mengangkat alis.
“Jelaskan dengan bahasa manusia.”
Bai menghela napas.
“Kunci itu tidak menentukan siapa yang dikurung. Kunci itu menentukan siapa yang boleh dianggap berada di dalam.”
Gu Chen memandang logam hitam tersebut.
“Artinya, seseorang bisa berada di luar pintu, tetapi dunia tetap menganggapnya berada di dalam?”
“Benar.”
“Dan seseorang bisa berada di dalam, tetapi tidak diakui sebagai penghuni tempat itu?”
“Benar.”
Gu Chen mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, mungkin aku tidak pernah dikunci di suatu tempat.”
Ia menatap Gu Yuan.
“Mungkin kau hanya membuat dunia percaya bahwa aku tidak pernah keluar.”
Wajah Gu Yuan berubah.
Perubahan itu berlangsung sangat singkat, tetapi Gu Chen melihatnya.
Dan itu sudah cukup.
“Kau mengenali kemungkinan tersebut,” kata Gu Chen.
Gu Yuan tidak menjawab.
“Berarti ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
“Ada banyak hal yang belum kau pahami.”
“Kalimat itu tidak membantumu.”
Sebelum Gu Yuan sempat membalas, Kunci Asal tiba-tiba terangkat dari meja.
Tidak ada tangan yang menyentuhnya.
Sembilan garis pada permukaannya menyala satu demi satu, sementara lingkaran kosong di bagian belakang berubah menjadi titik hitam. Udara di sekitar mereka bergetar, lalu sebuah pintu muncul pada dinding yang sebelumnya tidak memiliki apa pun.
Pintu itu terbuat dari batu putih.
Tidak ada gagang, engsel, ataupun celah.
Hanya sebuah tulisan di tengahnya.
RUANG PENENTUAN PEMILIK.
Bai segera mundur.
“Jangan mendekatinya.”
Gu Chen justru melangkah maju.
“Kenapa?”
“Karena ruangan itu tidak menyimpan orang yang dikurung. Ruangan itu menentukan siapa yang seharusnya memiliki sesuatu.”
“Seperti nama?”
“Lebih dari nama. Identitas, ingatan, bahkan hak untuk dianggap pernah dilahirkan.”
Gu Chen menatap pintu itu.
“Dan siapa yang berada di dalam?”
Bai tidak menjawab.
Namun, dari balik pintu terdengar tiga ketukan.
Tok. Tok. Tok.
Kemudian suara seorang anak laki-laki terdengar dari dalam.
“Gu Yuan.”
Gu Yuan membeku.
Suara itu melanjutkan, “Kau terlambat.”
Gu Chen menoleh kepada lelaki yang selama ini dipanggilnya ayah.
“Apakah kau mengenali suara itu?”
Gu Yuan menutup mata sejenak.
“Ya.”
“Siapa?”
Gu Yuan membuka matanya dan menatap pintu putih tersebut.
“Anak yang kubawa keluar dari pintu pertama.”
Gu Chen merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.
“Bukankah kau bilang anak itu mungkin aku?”
“Aku bilang aku tidak tahu.”
Dari balik pintu, suara anak itu terdengar lagi.
“Jangan dengarkan dia, Gu Chen.”
Kali ini, suara tersebut menyebut namanya.
“Dia tidak membawaku keluar.”
Gu Yuan mengepalkan tangan.
“Diam.”
Anak di balik pintu tertawa kecil.
“Kau masih melakukan hal yang sama. Kau selalu menyuruhku diam setiap kali aku hampir mengatakan kebenaran.”
Gu Chen mengamati reaksi Gu Yuan. Lelaki itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menghadapi musuh. Ia tampak seperti seseorang yang berusaha menahan pintu agar masa lalu tidak kembali memasuki kehidupannya.
“Gu Yuan,” kata Gu Chen pelan. “Aku ingin kau menjawab satu pertanyaan lagi.”
Gu Yuan menatapnya.
“Ketika kau menemukan anak itu, apakah dia memiliki wajahku?”
Gu Yuan tidak menjawab.
Namun, pintu putih itu perlahan terbuka.
Di baliknya terdapat ruangan kecil yang diterangi cahaya pucat. Seorang anak laki-laki duduk di tengah ruangan, mengenakan pakaian putih sederhana. Rambutnya hitam, matanya gelap, dan wajahnya sama sekali tidak menyerupai Gu Chen.
Akan tetapi, di pergelangan tangannya terdapat gelang kayu dengan sembilan garis dan satu lingkaran kosong.
Anak itu mengangkat kepala.
Ia menatap Gu Chen, lalu tersenyum.
“Sudah lama sekali,” katanya.
Gu Chen tidak mengenalnya.
Namun, lonceng hitam di tangannya bergetar hebat.
Sebuah pesan muncul di permukaan logam.
\[IDENTITAS TERDETEKSI.\]
\[HUBUNGAN DENGAN GU CHEN: TIDAK DAPAT DITENTUKAN.\]
\[STATUS KEBERADAAN: DI LUAR URUTAN KELAHIRAN.\]
Anak itu berdiri.
“Jadi, kau akhirnya mendapatkan kehidupan yang kau inginkan.”
Gu Chen mengerutkan kening.
“Aku bahkan tidak tahu siapa kau.”
“Benar. Karena itulah aku masih bisa berdiri di sini.”
Anak itu berjalan mendekati pintu, tetapi berhenti tepat di ambangnya. Ia memandang Gu Yuan dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Terima kasih sudah menjaga pintunya selama ini.”
Gu Yuan tidak bergerak.
Anak itu kemudian kembali menatap Gu Chen.
“Tapi sekarang, aku ingin sesuatu darimu.”
“Apa?”
“Namaku.”
Gu Chen terdiam.
Anak itu mengangkat tangan dan menunjuk lonceng hitam.
“Nama yang tersimpan di dalam benda itu adalah milikku. Kau menggunakannya untuk hidup, sementara aku harus tinggal di tempat yang bahkan tidak mengenal keberadaanku.”
Gu Chen menatap lonceng tersebut.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, sistem mengeluarkan peringatan baru.
\[PERINGATAN: DUA KEBERADAAN MENGAKUI KEPEMILIKAN ATAS IDENTITAS YANG SAMA.\]
\[KONFLIK KEPEMILIKAN DIMULAI.\]
Anak itu tersenyum.
“Sekarang kau mengerti, bukan?”
Ia memandang Gu Chen seolah sedang melihat seseorang yang sudah dikenalnya selama ribuan tahun.
“Akulah orang yang kau kunci.”
Kemudian senyumnya menghilang.
“Dan kaulah orang yang mencuri kehidupanku.”
Bersambung — Bab 36: Nama yang Diperebutkan Dua Kehidupan