Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Perang Terbuka di Meja Hijau
Pagi itu, atmosfer di lantai empat puluh tiga Aristha Tower terasa begitu mencekam. Ruang rapat utama berkapasitas puluhan orang tersebut dipenuhi oleh para pemegang saham, dewan komisaris, dan jajaran direksi berjas rapi. Semua mata tertuju pada pintu ganda berukir megah saat Reynand Aristha melangkah masuk.
Di sampingnya, Aira Anindita berjalan anggun mengenakan blazer serba hitam yang simpel namun elegan. Rambutnya disanggul rapi, memancarkan aura profesionalisme yang tenang meski dadanya bergemuruh hebat.
Di sudut meja bundar, Devan Aristha duduk menyilangkan kaki dengan senyum miring yang penuh percaya diri. Tatapannya pada Aira sarat akan ejekan—seolah mengisyaratkan bahwa kejatuhan gadis itu tinggal menghitung menit.
"Selamat pagi, Dewan Komisaris dan Pemegang Saham yang terhormat," suara bariton Reynand memecah hening saat ia mengambil posisi di ujung meja utama. "Kita langsung mulai agenda rapat evaluasi kuartal ini."
Belum sempat sekretaris membuka dokumen, Devan tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan memotong pembicaraan.
"Sebelum kita membahas agenda rutin, Tuan CEO," potong Devan dengan nada vokal yang keras dan sengaja menarik perhatian. "Saya rasa kita perlu mempertimbangkan kelayakan calon pendampingmu—yang sekaligus menjabat sebagai asisten pribadimu—untuk memegang akses dokumen krusial perusahaan."
Suasana ruangan seketika berubah riuh rendah. Beberapa komisaris senior saling berbisik skeptis.
"Apa maksudmu, Direktur Devan?" tanya salah satu komisaris senior dengan dahi berkerut.
Devan tersenyum puas. Ia menepuk berkas tebal di depannya. "Saya menerima bukti bahwa Nona Aira telah menyalahgunakan wewenang dan membocorkan data keuangan internal kepada pihak luar demi keuntungan pribadi sebelum pengumuman pertunangan ini."
Aira menahan napas. Tangannya di bawah meja mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tuduhan itu begitu keji dan terencana.
Devan bangkit dari kursinya, membagikan beberapa lembar salinan dokumen ke hadapan para komisaris. "Ini adalah rekam jejak transaksi dan dokumen transfer yang mencantumkan nama Aira Anindita."
Keadaan ruangan memanas. Tatapan para pemegang saham yang tadinya netral kini berubah curiga ke arah Aira. Namun, Reynand tidak menunjukkan riak kepanikan sedikit pun. Wajahnya tetap sedingin es, matanya menatap Devan seolah sedang melihat lelucon murahan.
Reynand perlahan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi pimpinan. "Hanya itu bukti yang kamu miliki, Devan?"
Devan menaikkan alisnya, merasa menang. "Bukti ini lebih dari cukup untuk mencopot Nona Aira dan mempertanyakan kepemimpinanmu yang berat sebelah, Reynand!"
Brak.
Pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar.
Langkah kaki anggun dengan ketukan hak sepatu yang tegas bergema di dalam ruangan. Semua orang menoleh, tak terkecuali Devan yang mendadak menegang.
Nyonya Rosalinda Aristha masuk ke dalam ruangan. Mengenakan pakaian formal bernuansa maroon lengkap dengan perhiasan mutiara yang elegan, aura dominan sang matriark keluarga Aristha langsung mematikan keberanian para komisaris.
"Nyonya Rosalinda..." gumam beberapa anggota dewan refleks berdiri memberi penghormatan.
"Maaf mengganggu jalannya rapat, Dewan yang terhormat," ucap Nyonya Rosalinda dengan nada tenang namun mematikan. Ia melangkah menuju meja utama dan meletakkan sebuah flashdisk hitam di atas meja.
"Sebelum kalian menghakimi menantu pilihan saya," sambung Nyonya Rosalinda sambil menatap Devan dengan pandangan dingin, "sebaiknya kalian periksa audit forensik digital yang sebenarnya. Dokumen yang dipegang Devan adalah rekayasa transfer akun bodong yang ia ciptakan sendiri tiga hari lalu."
Layar proyektor utama di ruang rapat mendadak menyala. Tim IT internal yang berada di bawah instruksi Reynand menyajikan alur peretasan dan aliran dana ilegal yang sebenarnya—yang justru bermuara langsung pada rekening rahasia milik Devan Aristha di luar negeri.
Wajah Devan seketika pucat pasi. Bibirnya bergetar, senyum percaya dirinya sirnah tanpa sisa. "I-ini tidak benar! Ini fitnah!"
Reynand bangkit dari kursinya, berdiri tegap memancarkan otoritas penuh sebagai CEO Aristha Tower.
"Bukti digital ini sudah diserahkan ke pihak kepolisian dan otoritas keuangan," tegas Reynand tajam. "Devan Aristha, kamu resmi dicopot dari jabatan Direktur Operasional dan hak kepemilikan sahammu dibekukan detik ini juga.