Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — NAMA YANG MULAI DITAKUTI
Suara tepuk tangan memenuhi aula utama ketika hasil sementara babak kedua diumumkan. Para peserta berdiri di depan layar besar, menunggu nama mereka muncul dalam daftar peringkat. Sebagian tampak percaya diri, sementara yang lain berusaha menyembunyikan kegelisahan setelah menyadari bahwa hasil pemeriksaan mereka tidak sesuai harapan.
Arga Pratama berdiri di barisan belakang.
Ia tidak terlalu memedulikan posisi sementara. Pikirannya masih tertuju pada pesan misterius yang diterimanya beberapa menit sebelumnya.
"Jangan percaya kepada Adrian Voss. Dia bukan satu-satunya orang yang mengkhianatimu lima tahun lalu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Selama lima tahun, Arga percaya bahwa Adrian adalah orang utama di balik kehancurannya. Semua bukti yang ia lihat saat itu mengarah kepada pria tersebut. Namun, tidak pernah terpikir olehnya bahwa ada orang lain yang ikut terlibat.
Siapa pengirim pesan itu?
Mengapa orang tersebut mengetahui kejadian lima tahun lalu?
Dan yang paling penting, apakah ia benar-benar ingin membantu Arga atau justru sedang memancingnya ke dalam perangkap baru?
"Hei, Arga!"
Suara Dimas membuatnya tersadar.
"Kamu dari tadi melamun. Apa kamu tidak ingin melihat hasilnya?"
Arga mengalihkan pandangan ke layar.
"Aku sedang melihat."
Dimas tertawa kecil. "Matamu memang mengarah ke layar, tetapi pikiranmu sepertinya berada di tempat lain."
"Sedikit."
"Kalau begitu, simpan dulu masalahmu. Kita sedang mengikuti kompetisi nasional. Setidaknya, nikmati kesempatan ini."
Arga mengangguk.
Dimas benar. Ia tidak boleh membiarkan persoalan masa lalu mengganggu konsentrasinya. Apa pun yang sedang direncanakan Adrian, ia harus menyelesaikan kompetisi ini dengan kemampuan sendiri.
Pembawa acara mengangkat mikrofon.
"Para peserta, hasil babak kedua telah selesai diverifikasi. Berikut adalah lima peserta dengan nilai tertinggi pada tahap analisis sistem mesin."
Layar berubah.
Nama pertama muncul, disusul nama kedua dan ketiga.
Dimas Prakoso berada di posisi keempat.
Rendy Mahardika berada di posisi ketiga.
Rendy langsung menegakkan tubuh. Wajahnya menunjukkan kepuasan karena berhasil memperbaiki peringkatnya.
Namun, ketika dua nama terakhir muncul, senyumnya perlahan menghilang.
Posisi kedua ditempati peserta dari sebuah perusahaan otomotif besar di Bandung.
Sementara posisi pertama kembali menjadi milik Arga Pratama dari Agung Joyo Motor.
Aula mendadak riuh.
"Dia lagi?"
"Bagaimana mungkin mekanik bengkel kecil mengalahkan peserta dari perusahaan besar?"
"Apakah dia pernah bekerja di tim balap internasional?"
Berbagai pertanyaan terdengar di antara kerumunan.
Arga menghela napas pelan. Ia sudah menduga bahwa hasilnya akan menarik perhatian, tetapi tidak menyangka namanya akan menjadi bahan pembicaraan begitu cepat.
Rendy berdiri kaku.
Dua kali berturut-turut, ia harus menyaksikan nama Arga berada di atas namanya. Bagi seseorang yang terbiasa mendapatkan pujian karena latar belakang keluarganya, kenyataan itu terasa sangat sulit diterima.
Ia berjalan menghampiri Arga.
"Kamu menggunakan metode apa sebenarnya?"
Arga menoleh.
"Metode pemeriksaan yang sesuai dengan gejala dan data kendaraan."
"Jangan menjawab seperti itu. Aku ingin tahu bagaimana kamu bisa mendapatkan hasil yang lebih baik daripada peserta lain."
"Aku memeriksa sebelum mengambil kesimpulan."
Rendy mendengus.
"Semua orang juga melakukan pemeriksaan!"
"Kalau begitu, kamu seharusnya tahu bahwa hasil tidak selalu sama."
Beberapa peserta yang berada di dekat mereka saling melirik. Dimas menahan senyum, sedangkan Rendy semakin kesal.
"Kamu pikir dirimu hebat hanya karena dua kali mendapat nilai tertinggi?"
"Tidak."
"Jangan berpura-pura rendah hati!"
Arga menatap Rendy dengan tenang.
"Aku hanya melakukan pekerjaanku. Kalau kamu ingin mengalahkanku, lakukan hal yang sama. Fokus pada kendaraanmu, bukan pada hasil orang lain."
Rendy terdiam beberapa saat.
Ia ingin membalas, tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat. Akhirnya, ia berbalik dan pergi dengan wajah merah karena menahan amarah.
Dimas mendekati Arga.
"Kamu benar-benar tahu cara membuat orang kehilangan kata-kata."
"Aku tidak berniat membuatnya marah."
"Itulah masalahnya. Kamu bahkan tidak perlu berusaha."
Arga hanya tersenyum tipis.
Namun, dari balkon lantai dua, seorang pria sedang mengamati mereka.
Pria itu mengenakan jaket gelap dan topi hitam. Ia adalah sosok yang sebelumnya berdiri di dekat pintu samping aula.
Ia mengangkat telepon dan mengirim pesan singkat.
"Arga masih memiliki kemampuan yang sama. Dia sudah dua kali berada di posisi pertama."
Balasan datang tidak sampai satu menit kemudian.
"Jangan dekati dia dulu. Pastikan dia menyelesaikan kompetisi."
Pria itu memasukkan telepon ke sakunya, lalu meninggalkan balkon.
Tidak seorang pun menyadari bahwa perkembangan Arga sedang diamati oleh lebih dari satu pihak.
Satu jam setelah pengumuman hasil, para peserta diperbolehkan meninggalkan aula untuk beristirahat. Babak berikutnya dijadwalkan berlangsung pada pagi hari.
Arga keluar dari gedung dan duduk di sebuah bangku di area taman. Ia mengeluarkan telepon, membuka kembali pesan misterius, lalu membaca setiap katanya dengan saksama.
Kali ini, ia memperhatikan sesuatu yang sebelumnya terlewatkan.
Pengirim pesan itu tidak mengatakan bahwa Adrian bukan satu-satunya orang yang menyebabkan kehancurannya.
Pesan tersebut secara khusus menggunakan kata mengkhianatimu.
Artinya, pengirim itu mengetahui bahwa Arga pernah memercayai seseorang yang kemudian berbalik melawannya.
Pengetahuan semacam itu tidak mungkin dimiliki orang sembarangan.
Arga membuka daftar kontak lamanya. Sebagian besar nomor dari masa lalu sudah tidak aktif. Beberapa orang bahkan tidak pernah menghubunginya lagi setelah skandal proyek ARX-9.
Namun, ada satu nama yang membuatnya berhenti.
Kevin Santoso.
Kevin adalah rekan teknis yang dahulu bekerja bersamanya. Mereka pernah menghabiskan berbulan-bulan di laboratorium untuk menguji sistem pembakaran mesin. Kevin bukan mekanik paling berbakat dalam tim, tetapi ia sangat teliti dalam mencatat hasil pengujian.
Lima tahun lalu, Kevin menjadi salah satu saksi yang menyatakan bahwa Arga memiliki akses terhadap dokumen yang bocor.
Pernyataan itu memperkuat tuduhan perusahaan.
Setelah kasus tersebut selesai, Kevin menghilang dari lingkungan otomotif. Arga tidak pernah mengetahui ke mana ia pergi.
Arga memandang nama itu cukup lama.
Apakah Kevin mengetahui sesuatu?
Atau justru Kevin adalah salah satu orang yang mengkhianatinya?
Ia belum berani mengambil kesimpulan. Tanpa bukti, semua dugaan hanya akan membuatnya kembali terjebak dalam prasangka yang sama seperti lima tahun lalu.
Arga memasukkan telepon ke saku.
"Pelan-pelan," gumamnya. "Kali ini, aku harus memastikan semuanya."
"Arga?"
Ia menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya. Perempuan itu mengenakan blazer abu-abu, kemeja putih, dan membawa tablet di tangan kirinya.
Wajahnya terlihat tidak asing.
"Nadia?" Arga berdiri.
Perempuan itu tersenyum kecil.
"Kamu masih ingat aku."
"Tentu. Kamu dulu bekerja di bagian analisis data proyek ARX-9."
Nadia Prameswari mengangguk.
"Sudah lama sekali."
Arga memperhatikan wajahnya. Nadia adalah salah satu orang yang dahulu bekerja di bagian dokumentasi dan validasi data. Mereka tidak terlalu dekat, tetapi beberapa kali bekerja bersama ketika proyek sedang memasuki tahap pengujian.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Arga.
"Aku menjadi konsultan teknis untuk penyelenggara kompetisi tahun ini. Aku baru tahu kamu menjadi peserta setelah melihat hasil babak pertama."
"Jadi, kamu juga melihat namaku di layar?"
"Seluruh aula melihatnya." Nadia tertawa pelan. "Aku tidak menyangka kamu benar-benar kembali."
Arga tidak langsung menjawab.
Nadia memperhatikan ekspresinya, lalu menurunkan suara.
"Aku dengar kamu bertemu Adrian."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Orang-orang di panitia membicarakannya."
Arga memandang Nadia dengan hati-hati.
"Apakah kamu tahu sesuatu tentang proyek ARX-9?"
Senyum Nadia perlahan memudar.
Ia memandang ke arah gedung sebelum kembali menatap Arga.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Karena aku menerima pesan dari seseorang yang mengatakan bahwa Adrian bukan satu-satunya orang yang mengkhianatiku."
Nadia terdiam.
Perubahan ekspresinya sangat kecil, tetapi Arga cukup jeli untuk menyadarinya. Ada sesuatu yang membuat perempuan itu terkejut.
"Kamu tahu siapa pengirimnya?" tanya Arga.
Nadia menggeleng perlahan.
"Aku tidak tahu."
"Namun, kamu mengetahui sesuatu."
Nadia menatapnya cukup lama.
"Arga, ada banyak hal yang terjadi setelah kamu meninggalkan perusahaan. Sebagian orang memilih diam, sebagian lainnya pindah ke perusahaan lain. Aku sendiri tidak memiliki seluruh informasi."
"Apakah kamu pernah melihat laporan asli proyek itu?"
Nadia menarik napas panjang.
"Aku pernah mengelola beberapa salinan laporan pengujian. Ada perbedaan antara data yang tercatat di laboratorium dan dokumen yang akhirnya diserahkan kepada dewan direksi."
Arga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Perbedaan seperti apa?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat tanpa memeriksa arsip yang masih kusimpan. Saat itu, aku hanya bertanggung jawab atas pencatatan dan validasi. Aku tidak memiliki wewenang untuk mengubah kesimpulan akhir."
"Apakah kamu pernah melaporkan perbedaan itu?"
Nadia mengangguk.
"Aku pernah mempertanyakannya kepada atasanku. Jawaban yang kuterima hanya bahwa perubahan tersebut sudah disetujui oleh tim manajemen."
"Siapa yang menyetujuinya?"
Nadia terdiam.
Sebelum ia sempat menjawab, suara seseorang terdengar dari belakang mereka.
"Nadia, ternyata kamu di sini."
Mereka berdua menoleh.
Marcus Hale berjalan mendekat dengan senyum yang tampak dipaksakan.
"Saya mencari Anda sejak tadi. Ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa sebelum rapat malam ini."
Nadia langsung mengubah ekspresinya menjadi profesional.
"Baik, Pak Marcus. Saya akan segera kembali."
Marcus melirik Arga.
"Ah, Arga Pratama. Peserta terbaik kita hari ini."
"Selamat sore, Pak Marcus."
Marcus mengulurkan tangan. Arga menjabatnya sebentar.
"Saya harus mengakui, hasil Anda cukup mengesankan. Sudah lama saya tidak melihat peserta yang begitu teliti."
"Terima kasih."
"Semoga performa Anda tetap konsisten sampai babak final."
Marcus tersenyum, lalu menatap Nadia.
"Kalau begitu, mari kita kembali."
Nadia mengangguk. Sebelum pergi, ia sempat menoleh kepada Arga.
"Kalau kamu ingin membicarakan arsip lama, kita harus memilih waktu yang tepat."
Arga menangkap maksudnya.
"Baik."
Nadia berjalan mengikuti Marcus.
Arga tetap berdiri di dekat bangku, memperhatikan keduanya sampai menghilang di balik pintu gedung.
Percakapan singkat itu memberinya petunjuk baru.
Setidaknya, ia kini mengetahui bahwa pernah ada perbedaan antara data asli dan laporan resmi proyek ARX-9.
Namun, pertanyaan terbesarnya belum terjawab.
Siapa yang mengubah laporan itu?
Di dalam gedung, Marcus berjalan berdampingan dengan Nadia menuju ruang administrasi.
"Nadia," katanya setelah memastikan tidak ada orang lain di dekat mereka. "Apa yang kamu bicarakan dengan Arga?"
Nadia tetap berjalan.
"Hanya percakapan biasa."
"Percakapan biasa tentang apa?"
"Kompetisi."
Marcus berhenti.
"Nadia, saya sudah mengenalmu cukup lama. Kamu bukan orang yang pandai berbohong."
Nadia menatapnya.
"Kalau begitu, seharusnya Anda tahu saya tidak suka ketika seseorang mencoba mengendalikan percakapan pribadi saya."
Marcus menghela napas.
"Saya tidak bermaksud mengendalikanmu. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa proyek ARX-9 adalah urusan lama yang sebaiknya tidak dibicarakan sembarangan."
"Kalau memang tidak ada yang salah, mengapa kita harus takut membicarakannya?"
Wajah Marcus berubah tegang.
"Kamu tidak memahami seluruh situasinya."
"Benar. Karena itu saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
Marcus menatap Nadia cukup lama sebelum akhirnya melanjutkan langkah.
"Jangan membuat kesalahan yang sama seperti Arga."
Nadia tidak menjawab.
Namun, setelah Marcus berjalan lebih dulu, ia mengeluarkan telepon dari sakunya dan membuka sebuah folder yang telah lama tidak disentuh.
Folder itu diberi nama sederhana:
ARX-9 — ARSIP CADANGAN.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen, foto, dan catatan pengujian yang disimpan lima tahun lalu.
Nadia membuka salah satu berkas. Matanya bergerak cepat membaca isi dokumen, lalu berhenti pada sebuah baris yang pernah membuatnya ragu.
Tanggal perubahan laporan: lima hari sebelum insiden.
Persetujuan akhir: Adrian Voss.
Namun, di bagian bawah terdapat satu nama lain yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Nama seseorang yang memiliki akses langsung terhadap data pengujian.
Nadia menutup berkas itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia belum tahu apakah dirinya harus memberikan informasi tersebut kepada Arga.
Jika ia melakukannya, ia mungkin bisa membantu mengungkap kebenaran.
Namun, ia juga akan membuka kembali sebuah rahasia yang selama lima tahun berusaha dilupakan banyak orang.
Sementara itu, di sebuah restoran mewah tidak jauh dari lokasi kompetisi, Rendy Mahardika duduk berhadapan dengan ayahnya, Hendra Mahardika.
Hendra adalah pengusaha yang membangun perusahaan distribusi suku cadang otomotif dari usaha kecil hingga memiliki jaringan di beberapa kota besar. Ia dikenal tegas dan tidak menyukai kegagalan, terutama jika kegagalan itu menyangkut nama keluarganya.
"Jadi, kamu berada di bawah mekanik bengkel kecil itu dua kali?" tanya Hendra.
Rendy menunduk.
"Kompetisinya belum selesai, Yah."
"Itu bukan jawaban."
Rendy mengatupkan rahang.
"Dia memang memiliki kemampuan yang bagus."
Hendra meletakkan sendoknya.
"Kalau begitu, pelajari cara kerjanya. Jangan hanya mengeluh karena seseorang lebih baik darimu."
"Tapi semua orang sekarang membicarakan dia!"
"Dan kamu membiarkan hal itu mengganggu konsentrasimu."
Rendy terdiam.
Hendra menghela napas.
"Ayah tidak peduli apakah lawanmu berasal dari bengkel kecil atau perusahaan besar. Kalau kamu ingin membangun nama sendiri, kamu harus bisa menerima bahwa ada orang yang lebih unggul."
Rendy mengepalkan tangan di bawah meja.
Ia memahami perkataan ayahnya, tetapi harga dirinya sulit menerima kenyataan bahwa Arga telah mengalahkannya.
"Aku akan mengalahkannya di babak berikutnya," katanya.
Hendra menatapnya.
"Pastikan kamu melakukannya dengan kemampuanmu sendiri. Jangan pernah membawa nama keluarga kita ke dalam tindakan yang memalukan."
Rendy mengangguk, meskipun pikirannya masih dipenuhi rasa kesal.
Setelah makan malam selesai, ia keluar menuju mobilnya. Di dekat pintu masuk restoran, ia melihat seorang pria yang dikenalnya sebagai salah satu penghubung dari perusahaan otomotif internasional.
Pria itu sedang berbicara melalui telepon.
"Ya, Pak Adrian. Saya mengerti. Peserta bernama Arga Pratama itu harus diawasi."
Rendy berhenti.
Ia mengenal nama Adrian Voss. Beberapa kali ayahnya menghadiri acara industri yang juga dihadiri pria tersebut.
Rendy tidak mendengar seluruh percakapan, tetapi satu kalimat berikutnya membuatnya penasaran.
"Jika dia berhasil mencapai final, masalah lima tahun lalu bisa terbuka kembali."
Pria itu menutup telepon dan segera pergi tanpa menyadari bahwa Rendy telah mendengarnya.
Rendy berdiri di tempatnya.
Lima tahun lalu?
Masalah apa yang dimaksud?
Ia kembali teringat pada Arga, mekanik sederhana yang ternyata mampu mengalahkan para peserta berpengalaman.
Untuk pertama kalinya, Rendy mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik sosok Arga Pratama.
Malam semakin larut ketika Arga tiba di rumah.
Ia meletakkan tas peralatan di dekat meja, mencuci tangan, lalu duduk di ruang depan. Ibunya sudah beristirahat. Rumah itu sunyi, hanya terdengar suara kipas angin dan kendaraan yang sesekali melintas di jalan.
Arga membuka telepon dan memeriksa pesan yang diterimanya.
Tidak ada balasan.
Ia mencoba menghubungi nomor misterius itu sekali lagi. Hasilnya tetap sama.
Kemudian, sebuah pesan baru masuk dari nomor lain.
"Aku memiliki salinan data asli proyek ARX-9. Jika kamu benar-benar ingin mengetahui siapa yang mengkhianatimu, datanglah besok pukul enam pagi ke bengkel tua di belakang stasiun lama. Datang sendiri."
Arga membaca pesan itu dengan saksama.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Hanya sebuah lokasi dan waktu.
Ia tahu bahwa pergi ke tempat yang tidak dikenal berdasarkan pesan anonim bukan keputusan yang bisa dianggap sepele. Bisa saja seseorang sedang mencoba memperdayanya. Ia juga tidak ingin membuat ibunya khawatir atau membahayakan dirinya sendiri.
Namun, pesan itu menyebut data asli proyek ARX-9.
Jika benar ada salinan dokumen yang dapat menjelaskan apa yang terjadi lima tahun lalu, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Arga menyimpan tangkapan layar pesan tersebut dan mencatat nomor pengirimnya. Ia berencana memastikan lokasi itu terlebih dahulu dan memberi tahu orang yang ia percaya sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.
Ia tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu dengan mempercayai seseorang tanpa memeriksa bukti.
Arga berdiri, mengambil kotak besi dari bawah meja, lalu membukanya kembali.
Medali lama, kartu identitas, dan foto tim ARX-9 masih berada di tempatnya.
Ia mengambil foto tersebut dan memandang wajah orang-orang yang berdiri di sampingnya.
Satu demi satu nama muncul dalam ingatannya.
Adrian Voss.
Marcus Hale.
Kevin Santoso.
Dan beberapa orang lain yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya.
"Siapa di antara kalian yang sebenarnya mengkhianatiku?" bisiknya.
Ia meletakkan foto itu kembali ke dalam kotak, tetapi kali ini tidak menutupnya.
Lima tahun lalu, Arga kehilangan segalanya karena mempercayai orang yang salah.
Kini, ia memiliki kesempatan untuk mencari tahu kebenaran.
Namun, semakin dekat ia dengan jawaban, semakin banyak orang yang tampaknya ingin menghentikannya.
Arga mematikan lampu ruang depan dan berjalan menuju kamar.
Besok pagi, ia akan menghadapi babak ketiga kompetisi nasional.
Setelah itu, ia harus menentukan langkah berikutnya.
Di tempat lain, Adrian Voss menerima laporan singkat dari Marcus.
"Arga mulai berbicara dengan Nadia Prameswari," tulis Marcus. "Saya khawatir dia masih menyimpan arsip lama."
Adrian membaca pesan itu, lalu meletakkan telepon di atas meja.
Beberapa detik kemudian, ia membuka sebuah laci dan mengeluarkan map berwarna hitam.
Di bagian depan map itu tertulis:
PROYEK ARX-9 — DOKUMEN INTERNAL.
Adrian membuka halaman pertama, lalu berhenti pada sebuah foto lama.
Foto yang sama dengan milik Arga.
Namun, di bagian belakang foto Adrian terdapat tulisan tangan yang berbeda.
Tulisan itu berbunyi:
Jika Arga mengetahui siapa yang memberikan akses terakhir malam itu, semuanya akan berakhir.
Adrian menutup map dengan cepat.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa waktu tidak lagi berpihak kepadanya.
Dan jauh dari sana, Arga Pratama tertidur dengan satu keputusan yang telah ia buat.
Ia akan mencari kebenaran.
Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk membersihkan nama yang selama lima tahun dirampas darinya.
Bersambung.