Carter Bruce pernah kehilangan segalanya dalam satu malam—istri yang ia cintai pergi demi pria kaya, meninggalkannya sendirian bersama tiga anak kecil dan hati yang hancur. Kini ia bangkit sebagai pengacara paling ditakuti di dunia hitam, tangan kanan seorang bos mafia, seorang pria berdarah dingin yang dijuluki "Sang Algojo". Kekayaan, kuasa, dan ketakutan tunduk di kakinya. Hanya satu hal yang tak bisa ia beli: sebuah keluarga yang utuh.
Meghan Pirs hanyalah seorang guru TK muda, yatim, dan berhati lembut—sampai takdir mempertemukannya dengan si sulung Carter yang manis, lalu dengan sang ayah yang dingin dan berbahaya. Ketika hidup Meghan runtuh dan ia terdesak tanpa pilihan, Carter menawarkan sebuah kesepakatan yang mustahil ditolak: menikah dengannya, berpura-pura menjadi pasangan penuh cinta selama satu tahun. Tak lebih.
Tapi tak ada yang memberi tahu mereka betapa berbahayanya berpura-pura mencintai seseorang—karena kadang, kepura-puraan itu berubah menjadi sungguhan.
Di antara pelukan hangat anak-anak yang memanggilnya "Mami", ancaman dari musuh-musuh yang mengintai dari kegelapan, dan rahasia masa lalu yang tak sanggup mereka lupakan, Meghan dan Carter mulai menemukan sesuatu yang tak pernah mereka duga. Namun dunia mafia tak pernah tidur, dan setiap orang yang berani menyentuh keluarga Sang Algojo akan belajar satu hal dengan cara yang paling mengerikan: tak ada yang boleh menyentuh apa yang menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Reveca Díaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permulaan
Hujan sudah turun tanpa henti selama seminggu, dan malam itu terasa amat dingin. Kegelapan menyelimuti seluruh kota ketika Carter Bruce pulang ke rumah, sama seperti hari-hari lainnya, setelah seharian bekerja yang panjang dan melelahkan.
Ia turun dari bus dan berjalan menembus hujan, menempuh tiga blok menuju rumahnya—tempat istri tercinta, Amelia, dan ketiga anaknya yang masih kecil, Alejo, Donovan, dan Yulisa, menantinya.
Sesampainya di sana, ia melihat sebuah mobil mewah terparkir di jalan depan rumahnya. Ia tak menaruh perhatian dan langsung masuk—hanya untuk mendapati istri tercintanya sedang duduk di pangkuan pria lain.
"Akhirnya kau pulang juga," kata Amelia. "Aku pergi, dan jangan cari aku. Kutinggalkan surat cerainya untukmu."
"Aku tidak mengerti. Apa yang terjadi?"
"Apa yang terjadi? Aku muak dengan hidup tanpa masa depan ini. Wanita seperti aku pantas mendapat kemewahan, jalan-jalan... dan apa yang bisa kauberikan? Kemelaratan dan bocah-bocah ingusan itu."
"Sayang, ayo kita pergi," kata Hector.
Amelia pun pergi bersama Hector Guzman, seorang pemuda yang sangat kaya.
Carter berdiri terpaku, memandang kehampaan. Sepasang matanya yang biru indah perlahan memerah oleh air mata yang tak henti mengalir di pipinya. Ia tetap di sana berjam-jam lamanya, sampai terdengar tangisan lirih dari salah satu anaknya.
Tubuhnya kaku karena terlalu lama berlutut di lantai ruang tamu kecil itu.
Saat tiba di kamar anak-anaknya, si sulung yang baru berusia dua tahun sudah terjaga, sementara si kembar yang baru empat bulan tertidur begitu tenang.
Carter menggendong putra sulungnya untuk menenangkannya agar kembali terlelap. Setelah anak itu tertidur, ia terpaku menatap anak-anaknya, lagi-lagi berjam-jam lamanya.
Ketika ia masuk ke kamar yang dulu ia tempati bersama istrinya, surat cerai itu tergeletak di atas ranjang. Ia membacanya, lalu memandang ke sekeliling sambil duduk di tepi ranjang, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia berpikir ini hanyalah mimpi buruk, bahwa sebentar lagi ia akan terbangun dan istrinya yang cantik akan ada di sisinya.
Kamar yang gelap itu terasa semakin dingin. Tanpa ada lagi yang bisa dilakukan, ia menandatangani surat itu dan meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang.
Ia merebahkan diri, memejamkan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis—menangisi semua yang menimpanya, menangisi dirinya yang dulu tak mau mendengarkan ibunya ketika diperingatkan tentang Amelia.
Keesokan harinya ia bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menyiapkan tas berisi keperluan anak-anaknya, menaruh kedua bayi di kereta dorong, lalu menggandeng tangan Alejo dan pergi ke rumah ibunya, agar anak-anaknya bisa dititipkan selama ia bekerja.
Nyonya Carmen memandang putranya—wajah tampan yang kini memancarkan kesedihan dan kelelahan. Tanpa sepatah kata pun, ia hanya memeluk putranya, memberikan penghiburan yang begitu didambakan dan dibutuhkan oleh anaknya.
Carter menitipkan anak-anaknya, lalu berangkat menuju kantor pengacara kecil tempatnya bekerja selama tiga tahun terakhir.
Carlos Lopez, pemilik kantor itu, adalah pria tua yang hanya menangani sedikit perkara. Namun kali ini seorang kenalan lamanya datang meminta bantuan untuk membela seorang klien.
Tuan Carlos memanggil satu-satunya karyawannya, Carter, untuk menjadi kuasa hukum Tuan Dimitri Petrov.