NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Rencana Rahasia dan Mata Elang

Keluar dari ruang OSIS pagi itu rasanya kayak habis lolos dari kandang singa, tapi langsung masuk ke labirin rahasia yang baru. Eca berjalan menyusuri koridor lantai satu dengan langkah cepat, setengah berlari karena takut bel masuk keburu bunyi. Punggungnya masih terasa agak tegang akibat konfrontasi jarak dekat dengan Angkasa tadi. Sialan banget cowok itu, ternyata dia nggak ada niat sama sekali buat ngembaliin kartu pelajar lamanya dalam waktu dekat. Tiga bulan? Itu waktu yang lama banget buat jadi babu pribadi cowok psikopat kayak Angkasa!

Begitu Eca melangkah masuk ke kelas XI MIPA 3, suasana kelas masih agak santai. Bu Endang belum datang karena ini masih jam literasi pagi. Nadya yang lagi asyik coret-coret buku tulis langsung mendongak begitu melihat Eca duduk di bangkunya dengan wajah lesu dan napas putus-putus.

"Astaga, Ca! Muka lo pucat banget kayak abis ngeliat setan," celetuk Nadya heboh, menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Eca. "Lo beneran gapapa kan? Si Angkasa nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan sama lo?"

Eca melepas kacamata bulat tebalnya sebentar, mengusap wajahnya yang kelelahan, lalu memakainya lagi. Dia tersenyum kecut ke arah sahabat barunya itu. "Nggak apa-apa kok, Nad. Cuma capek aja semalam lembur ngerjain tugas ringkasan map merah yang dia kasih kemarin. Tangan gue rasanya mau copot."

Nadya menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. "Gila ya itu cowok. Mentang-mentang anak pemilik yayasan, semena-menanya nggak ngotak. Tapi lo hebat sih, Ca. Biasanya murid lain yang kena target dia langsung nangis-nangis atau bahkan nggak berani masuk sekolah keesokan harinya."

Gue juga pengennya nangis dan pindah sekolah lagi, Nad, kalau aja kartu pelajar lama gue nggak disita sama dia, gerutu Eca dalam hati penuh dongkol.

Pelajaran jam pertama dan kedua berlalu dengan sangat lambat buat Eca. Rasa kantuk akibat tidur jam tiga pagi tadi mulai menyerang pertahanannya. Kepalanya beberapa kali terantuk ke depan saat mendengarkan penjelasan guru sejarah di depan kelas. Eca mati-matian menahan matanya agar tetap terbuka dengan cara mencubit lengan kirinya sendiri setiap kali rasa kantuk itu datang menyiksa.

KRIIINGGGG!

Bel tanda istirahat pertama akhirnya berbunyi. Murid-murid kelas XI MIPA 3 langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin seperti kawanan lebah yang keluar dari sarangnya. Eca mengembuskan napas lega, bersiap untuk menenggelamkan kepalanya di atas meja untuk tidur selama lima belas menit. Dia sengaja nggak mau ke kantin dulu karena malas bertemu gerombolan cewek populer yang menghalangi jalannya kemarin.

"Ca, gue ke kantin duluan ya? Mau nitip sesuatu nggak?" tanya Nadya sambil merapikan dompetnya.

"Nggak usah, Nad. Gue mau tidur bentar aja di kelas, ngantuk banget," jawab Eca lemas.

"Oke deh, tidur yang nyenyak ya, Asisten Angkasa," goda Nadya pelan sambil terkekeh lalu berjalan keluar pintu kelas.

Kelas mendadak sepi, hanya menyisakan tiga atau empat murid di barisan depan yang sibuk main gim di ponsel mereka. Eca baru saja melipat kedua tangannya di atas meja dan memposisikan kepalanya dengan nyaman, ketika tiba-tiba sebuah bayangan tinggi menghalangi cahaya lampu yang menembus ke mejanya. Diikuti oleh suara ketukan pelan di atas meja kayu miliknya.

TOK. TOK.

Eca mendesah kesal dalam hati. Siapa lagi sih yang ganggu gue? Angkasa lagi? pikirnya dongkol. Dengan malas, Eca mendongakkan kepalanya. Namun, begitu matanya menangkap sosok cowok yang berdiri di depan mejanya, rasa kantuk Eca langsung hilang menguap entah ke mana. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena kaget.

Cowok itu adalah Reno Aliansyah. Wakil Ketua OSIS yang tadi pagi memotong pembicaraannya dengan Angkasa di ruang OSIS. Reno berdiri di sana dengan gaya santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya, dan sebuah senyuman ramah terukir di wajah tampannya yang berwibawa.

"Hai, Alesya," sapa Reno lembut dengan suara baritonnya yang tenang.

Eca langsung menegakkan posisi duduknya dengan kaku, membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Eh... Kak Reno? Ada apa ya, Kak? Nyari siapa ke kelas ini?" tanya Eca, berusaha kembali ke mode cewek cupu yang lugu dan ketakutan.

Reno tidak langsung menjawab. Dia melirik bangku kosong milik Nadya di sebelah Eca, lalu menunjuknya dengan dagu. "Boleh gue duduk di sini sebentar? Ada hal penting yang mau gue omongin sama lo. Cuma berdua."

Eca menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk ragu. "B-boleh, Kak. Duduk aja."

Reno menarik kursi Nadya dan duduk di sebelah Eca. Jarak mereka yang cukup dekat membuat Eca bisa melihat dengan jelas bahwa Reno memiliki tatapan mata yang sangat cerdas, berbeda dengan Angkasa yang tatapannya penuh dengan intimidasi dan ancaman dingin.

"Gue langsung ke inti masalahnya aja ya, Alesya," ucap Reno pelan, menurunkan volume suaranya agar murid-murid di barisan depan tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. "Tadi pagi di ruang OSIS, gue tahu ada yang nggak beres di antara lo sama Angkasa. Angkasa bilang lo cuma asisten pribadinya yang lagi nganterin tugas, tapi ekspresi muka lo tadi nggak bisa bohong. Lo kelihatan tertekan dan marah banget sama dia."

Eca meremas jemarinya sendiri di bawah meja. "Itu... kemarin aku nggak sengaja numpahin kopi ke sepatu mahal Kak Angkasa, Kak. Makanya aku dihukum jadi asisten pribadi buat ganti rugi," jawab Eca, mencoba bertahan pada alasan resmi yang dibuat oleh Angkasa.

Reno terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang terdengar sangat tidak percaya. "Alesya, gue udah kenal Angkasa sejak kita berdua masuk ke sekolah ini. Dia emang arogan dan perfeksionis, tapi dia nggak pernah se-terobsesi itu buat ngurusin murid baru cupu kayak lo sampai nyuruh lembur tugas pribadi. Ditambah lagi... tadi pagi gue sempat ngeliat dia megang sebuah kartu pelajar lama berwarna hitam di tangannya sebelum lo masuk ke ruangan. Dan pas gue perhatiin, foto di kartu itu mirip banget sama lo, tapi tanpa kacamata dan kuncir dua ini."

DEG!

Darah Eca rasanya mendadak berhenti mengalir. Seluruh tubuhnya membeku seketika. Firasatnya benar, Reno ternyata sangat jeli dan sempat melihat kartu pelajar lamanya yang dipegang oleh Angkasa! Rahasia penyamarannya kini berada di ujung tanduk di depan dua orang penguasa OSIS sekaligus.

Melihat kepanikan yang terpancar jelas dari gerak-gerik Eca, Reno langsung menyentuh pundak Eca pelan dengan maksud menenangkan. "Lo nggak usah takut sama gue, Alesya. Gue ke sini bukan buat nyari masalah atau sebarin rahasia lo. Justru kebalikannya, gue ke sini buat nawarin bantuan ke lo."

Eca menatap Reno dengan pandangan bingung sekaligus curiga. "Maksud Kak Reno... bantuan apa?"

Reno memajukan tubuhnya sedikit, matanya menatap Eca dengan serius dan penuh tekad. "Gue tahu Angkasa pasti lagi ngancem lo pake kartu pelajar atau rahasia masa lalu lo itu kan? Dia emang licik kalau udah nemuin kelemahan orang lain. Gue tawarkan kerja sama ke lo. Lo bantu gue cari tahu celah atau kelemahan Angkasa buat urusan internal OSIS, dan imbalannya... gue bakal pastiin kartu pelajar lama lo itu balik ke tangan lo dengan aman tanpa ada satu murid pun di sekolah ini yang tahu rahasia asli lo. Gimana?"

Eca tertegun mendengar tawaran luar biasa dari Reno. Ini adalah kesempatan emas yang dia cari! Reno adalah musuh bebuyutan Angkasa di sekolah, jadi cowok itu pasti punya akses atau cara untuk menghadapi kelicikan Angkasa. Dengan bekerja sama dengan Reno, Eca bisa lepas dari perbudakan Angkasa jauh lebih cepat tanpa harus menunggu waktu tiga bulan yang menyiksa.

Namun, tepat saat Eca hendak membuka mulutnya untuk memberikan jawaban atas tawaran Reno, sebuah aura dingin yang sangat pekat mendadak berembus dari arah pintu masuk kelas XI MIPA 3. Atmosfer di dalam kelas yang tadinya tenang berubah mencekam secara drastis dalam hitungan detik.

Eca dan Reno serentak menoleh ke arah pintu kelas.

Di ambang pintu, Angkasa Argantara Mahendra sedang berdiri tegak dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Kancing seragam atasnya sudah kembali dibuka satu, menampilkan kaus hitam di dalamnya yang memberi kesan liar. Sepasang mata elangnya yang tajam dan sedingin es itu langsung mengunci tepat ke arah posisi duduk Reno yang berada di sebelah Eca. Ada kilatan amarah dan ketidaksukaan yang sangat besar terpancar dari bola matanya melihat kedekatan mereka berdua.

Seluruh murid yang berada di barisan depan kelas langsung menghentikan gim mereka dan buru-buru menundukkan kepala, tidak berani bernapas dengan keras melihat kedatangan sang penguasa tertinggi sekolah secara tiba-tiba ke area kelas MIPA.

Angkasa berjalan lambat memasuki ruang kelas, langkah sepatunya terdengar sangat konstan dan penuh intimidasi di lantai keramik yang sepi. Dia berhenti tepat dua langkah di depan meja Eca, berdiri menjulang tinggi sambil menatap Reno dengan pandangan menantang yang sangat kentara.

"Gue nggak tahu kalau Wakil Ketua OSIS sekarang punya tugas tambahan buat keliling kelas MIPA cuma buat godain murid baru cupu," ucap Angkasa dengan suara yang sangat rendah, berat, dan penuh dengan nada sindiran yang tajam.

Reno perlahan berdiri dari kursinya, menegakkan tubuh jangkungnya untuk menyejajarkan posisinya dengan Angkasa. Dia membalas tatapan mata Angkasa dengan senyuman tenang namun penuh dengan provokasi. "Gue cuma lagi menjalankan fungsi gue sebagai pengurus sekolah buat mastiin murid pindahan baru bisa beradaptasi dengan baik di sini, Ketua. Nggak kayak lo... yang hobinya cuma bisa ngasih intimidasi dan perbudakan tugas."

Angkasa mendengus hambar, sebuah senyuman licik terukir di bibir tipisnya. Dia maju satu langkah, mengikis jarak di antara dirinya dan Reno, membuat ketegangan di antara kedua pemimpin sekolah itu terasa sangat nyata hingga Eca yang duduk di tengah-tengah mereka merasa nyaris tidak bisa bernapas.

"Dia urusan pribadi gue, Reno. Dan apa pun yang menyangkut urusan pribadi gue... nggak ada satu orang pun di sekolah ini yang boleh ikut campur, termasuk lo," desis Angkasa dengan nada mengancam yang sangat jelas. Cowok itu lalu mengalihkan mata elangnya langsung ke arah Eca yang duduk kaku di bawahnya. "Alesya, ikut gue ke ruang OSIS sekarang juga. Tugas istirahat lo dimulai dari sekarang, dan jangan harap lo bisa mangkir semenit pun."

Eca menatap Reno yang memberi isyarat mata seolah memintanya untuk tetap tenang, lalu Eca beralih menatap Angkasa yang matanya sudah berkilat penuh amarah yang tertahan. Eca tahu, jika dia menolak perintah Angkasa di depan Reno sekarang, cowok arogan itu tidak akan segan-segan menghancurkan penyamarannya detik ini juga di depan kelas. Dengan perasaan yang campur aduk antara kesal, takut, dan bingung, Eca terpaksa berdiri dari kursinya, mengambil langkah maju mengikuti punggung Angkasa yang sudah berbalik pergi meninggalkannya bersama Reno yang masih menatap mereka dengan senyuman penuh misteri di sudut kelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!