Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Brummm.
Suara mesin mobil sedan mewah memecah keheningan jalanan kota di malam hari.
Jarot duduk di kursi penumpang depan dengan postur tubuh yang sangat santai dan sedikit merosot ke bawah.
Ia menyandarkan kepalanya ke kursi empuk sambil melihat pemandangan lampu jalanan dari balik kaca jendela.
Nisa menyetir mobilnya sendiri dengan kedua tangan yang masih mencengkeram setir cukup erat.
Sisa ketakutan dari kejadian di taman tadi rupanya masih menempel di benak pengusaha wanita tersebut.
"Mas Jarot, saya mau minta maaf sebelumnya," ucap Nisa tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.
"Minta maaf kenapa, Mbak? Gaji saya mau dipotong sebelum saya mulai kerja?" balas Jarot asal-asalan tanpa menoleh.
Nisa tersenyum canggung mendengar candaan Jarot yang sangat blak-blakan itu.
"Bukan soal gaji, Mas. Ini soal perlakuan anak-anak saya nanti pas Mas sampai di rumah," jelas Nisa dengan nada khawatir.
Jarot menoleh ke arah Nisa dengan tatapan datar dan mata setengah mengantuk.
"Anak-anak Mbak memangnya suka gigit orang baru?" tanya Jarot memancing.
"Bukan gigit badannya, Mas, tapi gigit mentalnya," jawab Nisa sambil menghela nafas panjang tanda lelah.
"Mereka itu pintar banget bikin orang tidak betah di rumah dengan cara mereka sendiri," tambah Nisa memperingatkan.
"Tenang saja, Mbak. Saya ini orangnya kebal sama yang namanya omongan pedas atau perlakuan kasar," sahut Jarot santai.
Jarot kembali menatap ke arah luar jendela mobil yang gelap.
Di dalam hatinya, ia menertawakan peringatan Nisa barusan yang menurutnya sangat berlebihan.
"Gigit mental gimana maksudnya? Disiksa pakai bor listrik atau dicambuk kawat berduri?" batin Jarot membandingkan dengan kehidupan masa lalunya.
"Paling mentok cuma diteriakin atau disuruh bersih-bersih toilet," pikirnya meremehkan.
Cittt.
Mobil sedan mewah itu berhenti perlahan tepat di depan sebuah gerbang besi tinggi berwarna hitam pekat.
Trettt.
Gerbang besi yang menjulang itu terbuka secara otomatis membelah dua setelah Nisa memindai kartu akses dari dalam mobil.
Jarot sedikit membuka matanya lebih lebar melihat hamparan halaman depan rumah yang luasnya nyaris seperti lapangan sepak bola.
"Buset, ini rumah apa stadion bola?" batin Jarot lumayan takjub dengan kekayaan Nisa.
Sebuah air mancur besar berdiri megah di tengah taman depan dengan lampu sorot kuning yang menyorot indah dari dasar air.
Nisa memarkirkan mobilnya tepat di depan teras rumah utama yang pilar-pilarnya berjejer tinggi menjulang.
Ceklek.
Jarot membuka pintu mobil dan melangkah turun sambil meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku.
"Ayo, Mas Jarot. Kita langsung masuk saja lewat pintu utama," ajak Nisa sambil berjalan memimpin di depan.
Jarot hanya mengangguk pelan dan mengekor di belakang Nisa dengan langkah santai seolah sedang jalan-jalan di pasar.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki mereka menggema pelan di atas lantai lorong teras yang berlapis marmer mahal memantulkan cahaya.
Kriettt.
Pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir tebal itu dibuka perlahan oleh Nisa.
"Mama pulang!" seru Nisa dengan suara yang cukup keras agar terdengar ke seluruh penjuru rumah.
Syuttt.
Tepat ketika kaki kanan Jarot baru saja melangkah melewati ambang pintu, firasat membunuhnya langsung berbunyi.
Sebuah ember seng penuh berisi air es meluncur deras dari atas bingkai pintu mengarah tepat ke kepalanya.
Jarot hanya melirik ke atas sekilas tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang bosan sama sekali.
Srettt.
Dengan gerakan yang sangat halus dan terkesan seperti kebetulan, Jarot menunduk sedalam-dalamnya untuk membetulkan tali sepatunya.
Byuurrr!
Air es itu tumpah ruah membasahi karpet mahal tepat di sebelah telapak sepatu Jarot tanpa mengenai ujung rambutnya setetes pun.
Klang!
Ember seng itu jatuh membentur lantai dan menggelinding pelan ke sudut ruangan.
"Yaaah, meleset!" seru suara perempuan muda dari arah ruang tamu dengan nada yang sangat kecewa.
Jarot kembali berdiri tegak dengan santai dan menatap ke arah ruang tamu yang terang benderang tersebut.
Di sana, tiga orang wanita muda berwajah cantik sedang duduk berpencar di area sofa mewah.
"Itu pasti kerjaan kamu kan, Melly?" tegur Nisa dengan nada marah sambil menunjuk ke arah gadis paling muda.
Seorang gadis memakai jaket hoodie kebesaran yang sedang memegang tablet pintar hanya tersenyum tanpa dosa.
"Hehehe, cuma tes refleks pengawal baru kita kok, Ma," jawab gadis bernama Melly itu membela diri.
Jarot menatap gadis berjaket hoodie itu dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai.
"Tes refleks pakai air es? Kamu kira aku ayam potong yang mau direbus?" batin Jarot sedikit geli.
Wanita kedua yang duduk di ujung sofa menyilangkan kakinya dengan postur sangat angkuh dan elegan.
Ia memakai kacamata baca berbingkai tipis dan setelan pakaian kerja yang sangat rapi tanpa lipatan.
"Mama bawa orang gembel dari mana lagi kali ini?" tanya wanita itu dengan nada dingin dan menusuk sampai ke tulang.
Nisa langsung menatap tajam ke arah putri sulungnya tersebut dengan tatapan memperingatkan.
"Lyly, jaga ucapan kamu. Dia ini orang yang baru saja menyelamatkan nyawa Mama di taman kota," tegur Nisa tegas.
Wanita bernama Lyly itu hanya mendengus pelan dari hidungnya sambil membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk.
"Menyelamatkan nyawa atau cuma kebetulan lewat dan mau cari untung dari keluarga kita?" sindir Lyly tanpa ampun.
Jarot menguap lebar-lebar tanpa repot-repot menutupi mulutnya dengan tangan.
"Mbak, kalau mau ngajak berantem debat nanti saja ya. Saya ngantuk banget ini pengen rebahan," potong Jarot malas-malasan.
Mata Lyly langsung melebar mendengar jawaban kurang ajar dan tidak sopan dari pria asing berpakaian murah di depannya itu.
Wanita ketiga yang sedari tadi diam memegang barbel kecil tiba-tiba berdiri tegak dari sofa.
Ia memakai pakaian olahraga ketat yang memperlihatkan postur tubuhnya yang sangat bugar dan terbentuk sempurna.
Brak!
Wanita bernama Tata itu menendang meja kaca kecil di depannya hingga bergeser lumayan jauh menabrak karpet.
"Kamu berani ngomong begitu ke kakak ku?!" bentak Tata dengan mata melotot marah ke arah Jarot.
Tata berjalan mendekati Jarot dengan langkah lebar dan kepalan tangan yang mengeras kuat.
"Tata, jangan mulai lagi! Dia pengawal baru kalian!" teriak Nisa mencoba melerai sambil melangkah maju.
Tapi Tata tidak mempedulikan larangan ibunya sama sekali dan terus maju mendekati Jarot.
Whush!
Tanpa basa-basi atau aba-aba, Tata melayangkan tendangan memutar setinggi dada ke arah Jarot dengan kecepatan tinggi.
Tendangan itu sangat rapi, kokoh, dan bertenaga layaknya atlet bela diri profesional yang sudah berlatih bertahun-tahun.
"Kuda-kudanya bagus, lumayan juga buat ukuran perempuan," batin Jarot menilai serangan gadis itu secara refleks.
Namun bagi mata Jarot yang terbiasa melihat peluru berterbangan, gerakan Tata itu tidak ubahnya seperti gerakan lambat anak balita.
Tap!
Jarot memegang sebuah bantal sofa empuk yang tergeletak di kursi kecil dekat pintu lalu mengangkatnya dengan santai.
Bugh!
Kaki Tata menghantam bantal sofa empuk itu telak dan seluruh tenaga tendangannya terserap habis tanpa sisa.
Tata terbelalak kaget melihat tendangan andalannya bisa ditangkis hanya dengan bantal dan terlihat sangat kebetulan.