Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
POV: Amelia
Dua minggu kemudian, aku masih terbangun dini hari dengan telapak tangan di perut, menghitung. Menghitung denyut yang diizinkan dr. Bella untuk kudengar, menghitung hari, menghitung apa yang tersisa.
Dr. Bella mengatakan satu hal, ketika akhirnya aku paham, satu-satunya yang menahanku berdiri di jam-jam pertama itu. Aku tidak kehilangan keduanya. Aku kehilangan Anin. Ikan Kecil, melawan segala peluang, bertahan hidup di dalam sana.
"Dia bertahan," katanya padaku, di kamar rumah sakit, menggenggam tanganku. "Itu jarang terjadi, Bu Amelia. Pada kehamilan kembar, ketika satu hilang di tengah masa kehamilan, kadang yang lain bisa terus tumbuh, terlindungi dalam kantungnya sendiri. Risikonya sangat tinggi dari sini. Butuh istirahat hampir total, pemantauan terus-menerus, keberuntungan. Tapi dia di sini. Dia berdetak. Dia ingin hidup."
Aku menangisi Anin, putri yang kukuburkan tanpa kulihat, yang nisannya dipilihkan lelaki lain. Dan menangisi Ikan Kecil, anak yang masih berdetak di dalam diriku, keras kepala seperti ibunya. Duka dan harapan berbagi satu rahim.
Dan di antara kedua nyeri itulah kuambil keputusan tersulit dan paling benar dalam hidupku.
Fariz bersamaku di apartemen persembunyian saat aku mengatakannya.
"Tidak boleh ada yang tahu dia selamat," kataku. "Bukan media, bukan keluarga Wiratama, bukan Arga. Tidak seorang pun."
"Lia..."
"Dengar." Kupegang lengannya erat. "Bu Ratna mendorongku dari tangga untuk merenggut anak-anak ini dariku. Bu Ratna. Dan Arga membangun rumah berkamera di setiap sudut untuk mengurungku. Kalau mereka tahu ada anak yang hidup, mereka akan mengejarnya persis seperti mengejarku. Mereka akan berebut hak asuh, menyebutku gila, tidak stabil, memakai semua uang mereka dan semua pengacara Jakarta. Aku tidak akan membiarkan. Anak ini akan lahir dalam perlindungan, jauh dari mereka, dan mereka akan terus mengira aku kehilangan segalanya di tangga itu."
Lama dia menatapku, menimbang.
"Kamu yakin? Menyembunyikan itu berat. Dan lama. Berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun."
"Yakin." Dan aku yakin, dengan keyakinan yang datang dari rahim, bukan kepala. "Itu satu-satunya cara memastikan tak seorang pun merenggutnya dariku. Aku sudah kehilangan satu putri pada orang-orang itu. Yang satunya tidak akan kuberikan."
"Kalau begitu kita sembunyikan." Dia mengangguk, tanpa ragu. "Dan aku melindungi kalian berdua. Kamu dan dia. Dengan semua yang kupunya, dan aku punya banyak, Lia. Kamu tidak tahu seberapa banyak."
Pencatatan sipil akan tetap ada, dr. Bella menjelaskan, karena wajib, rahasia ini tidak boleh berarti tidak mencatatkan. Tapi dunia, media, para musuh akan terus mengira Amelia Pramesti kehilangan seluruh kehamilannya dalam jatuh itu. Rahasia yang nyata, dijaga di antara sangat sedikit orang.
Tapi bersembunyi tidak cukup. Aku tidak akan hanya bersembunyi dan menangis di pojok. Aku punya keputusan lain, dan yang ini untuk dunia luar.
Kutelepon Pak Bayu.
"Saya ingin konferensi pers," kataku. "Saya ingin menceritakan semuanya. Penyekapan, pengendalian, pemblokiran rekening, karier yang disabotase, dan apa yang dilakukan Bu Ratna di tangga."
"Bu Amelia, konferensi pers akan mengekspos Ibu. Banyak. Tak ada jalan kembali."
"Mereka sudah mengeksposku, Pak Bayu. Bedanya, sekarang aku yang memilih bagaimana dan kapan." Kupegang ponsel dengan mantap. "Cukup jadi perempuan yang dibicarakan. Aku akan jadi perempuan yang bicara. Sekali seumur hidup."
Dia mengerti. Dan membantu.
Kami kumpulkan semuanya. Rekaman kamera penthouse Pondok Indah yang membuktikan kendali, lorong-lorong terawasi, perempuan terpojok di dalamnya. Rekaman kamera rumah Bu Ratna yang disita polisi dan memperlihatkan dorongan itu, atau senggolan, atau apa pun namanya. Kesepakatan bungkam yang dibuat Arga dengan Priska, yang berhasil dilacak kenalan Pak Bayu, dan melempar keraguan besar atas seluruh cerita "selingkuhan hamil Wiratama".
Fariz hampir menghalangiku sekali.
"Kamu tidak perlu memaparkan diri begini," katanya. "Aku bisa menyelesaikannya di belakang layar. Tanpa kamu muncul, tanpa kamu mengulang semuanya di depan kamera."
"Perlu." Kupegang tangannya. "Kamu menyelesaikan semuanya di belakang layar, Fariz, dan aku sungguh mencintai itu dari dirimu. Tapi ini suaraku. Mereka membungkamku tiga tahun. Menghapus si aktris, mengurung si perempuan, membunuh si ibu setengahnya. Aku perlu mendengar diriku bicara keras-keras di depan seluruh negeri supaya aku sendiri percaya masih punya suara. Biarkan yang ini jadi milikku."
Lama dia menatapku. Dan dia melakukan sesuatu yang tak akan pernah dilakukan Arga dalam seribu tahun.
"Kalau begitu itu milikmu," katanya. "Aku mengurus keamanan dan logistik. Kutaruh orang di setiap pintu. Tapi panggungnya milikmu, mikrofonnya milikmu, kata-katanya milikmu. Tak seorang pun mengambil mikrofon dari tanganmu. Kalau ada yang mencoba, barulah aku muncul."
Semalaman aku berlatih di depan cermin. Seluruh pidato. Apa yang dikatakan, apa yang ditunjukkan, apa yang disimpan. Karena aku akan membeberkan hampir segalanya, tapi ada satu hal yang tidak akan kukatakan. Kebenaran tentang Ikan Kecil. Itu tinggal bersamaku, terkunci, satu-satunya rahasia yang akan kubawa ke liang kubur kalau perlu.
Kuusap perutku yang tersembunyi di balik pakaian longgar.
"Mama akan berjuang untuk kita," bisikku pada Ikan Kecil. "Dan tak seorang pun akan tahu kamu di sini sampai kamu aman di dunia. Kamu rahasia Mama, harta karun Mama yang tersembunyi. Bertahan bersama Mama sebentar lagi."
Saat itu ponselku berdering. Pak Bayu, lagi, suaranya tegang.
"Bu Amelia, Arga baru saja mengajukan permohonan ke pengadilan. Putusan sela untuk mencegah konferensi pers. Dengan alasan 'perlindungan citra anak-anak'." Dia menarik napas. "Dia mau membungkam Ibu sebelum Ibu membuka mulut. Dia tahu soal konferensi pers dan lari ke pengadilan."
Kutekan tanganku di atas naskah pidato, kertasnya kusut.
Dia masih mengira bisa membungkamku. Setelah semua ini. Setelah tangga, setelah Anin, dia masih mengira berhak memilih kapan aku bicara dan kapan aku diam.
"Lalu bagaimana, Pak Bayu?" tanyaku, suaraku mantap walau segalanya. "Konferensi persnya tayang atau tidak?"