NovelToon NovelToon
Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naysol C.

Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.

Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.

Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."

Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

— Daniel —

Setelah hampir dua jam bertempur, kedua kubu sama-sama kelelahan dan penuh luka.

Ketika Bara dan aku bertarung, kami berdua sudah terlalu banyak menderita luka. Akhirnya kami sepakat mengakhiri perkelahian itu dengan hasil seri.

Semua anak buah kami kepayahan dan babak belur. Untunglah Bara sudah lebih dulu membawa tenaga medis untuk merawat mereka agar tak ada korban jiwa.

Kami berdua terbaring di tanah, kelelahan. Saat itu aku bertanya pada Bara.

"Kenapa kau mencegah Emira mengetahui kebenaran?"

"Dia sangat penting bagiku," jawab Bara, "sama seperti dia penting bagimu. Aku tak ingin melihatnya menderita karena hal-hal yang tak berkaitan langsung dengannya."

Kukira Bara akan memanfaatkan Emira untuk mendekati keluargaku dan menghancurkannya. Bahkan aku sempat mengira ia akan menggunakan pertarungan ini untuk membunuhku. Tapi sebaliknya, ia justru membawa bantuan medis untuk semua orang. Aku jadi bertanya-tanya, orang macam apa sebenarnya Bara ini.

"Kalau kau memang mencemaskannya seperti yang kau bilang," ucapku, "kenapa kau ingin menguasai militer seperti yang dilakukan ayahmu?"

"Kalau kubilang orang tuaku terjebak dalam sebuah tipu daya untuk mencelakai keluargamu, apa kau akan percaya?"

"Kalau kau ada di posisiku, kau pun akan begitu."

Ia tetap berbaring dalam diam, tenggelam dalam pikirannya, sampai akhirnya bangkit dari tanah dan pergi bersama gerombolannya. Namun sebelum itu ia sempat berkata,

"Kalau aku jadi kau, aku pun takkan percaya. Tapi demi Emira, selidikilah sedikit, dan kau akan segera tahu siapa sutradara di balik drama tragis ini... Kuharap kau bisa melindunginya dari orang itu. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."

Beberapa saat kemudian aku berganti pakaian untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan kata-kata Bara. Entah kenapa aku merasa ucapannya menyimpan makna tersembunyi, dan aku penasaran siapa orang yang tadi ia sebut.

Mungkinkah orang tuanya benar-benar ditipu oleh seseorang? Tapi tetap saja, itu tak menghapus kenyataan bahwa merekalah yang membunuh paman dan bibiku.

Setelah lama memutar-mutar masalah itu di kepalaku, kuperintahkan Wisnu untuk diam-diam menyelidiki keluarga Emira.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri. Emira sudah tertidur pulas.

Emira sangat penting bagi hidupku. Aku mencintai dan menyayanginya. Demi dia, aku sanggup melawan arus. Tapi apa yang akan terjadi kalau ia sampai tahu kebenarannya? Akankah ia meninggalkanku? Atau tetap tinggal di sisiku?... Aku sangat takut ia memilih pergi dariku.

Aku mendekatinya, mengecup lembut bibirnya tanpa membangunkannya, lalu memeluknya dan membiarkan diriku tertidur di sisinya, merasakan kehangatan tubuhnya.

Keesokan paginya, saat membuka mata, ia tak ada di sampingku. Aku mulai panik. Dengan cemas aku bangkit dari ranjang, memeriksa apakah ia sedang mandi. Tapi tak ada siapa-siapa. Saat kubuka pintu dan hampir mencapai ujung lorong, aku bertemu seorang pelayan. Kutanyakan di mana Emira, dan ia menjawab bahwa Emira pergi bersama ibuku dan Regina untuk membeli keperluan pernikahan yang akan digelar tiga bulan lagi.

Mendengar itu, aku merasa lega dan kembali ke kamar. Kuambil ponselku, dan ternyata Emira meninggalkan pesan bahwa ia pergi berbelanja.

Setelah itu aku bersiap-siap untuk menjemput mereka. Meski begitu, aku lebih suka seandainya Emira membangunkanku, agar aku bisa menemani mereka. Sejak kemarin kata-kata Bara terus berputar di kepalaku, sampai-sampai aku terbangun dengan paranoid karena tak melihatnya di sampingku.

Setelah melacak lokasi mereka, aku menyusul ke sana, hanya untuk mendapati Marko sedang mencengkeram Emira, sementara pacarnya diseret keluar dari toko oleh pihak keamanan.

Cemburu langsung menguasaiku. Kudekati mereka dan kulayangkan satu pukulan ke wajah Marko, memicu perkelahian yang akhirnya dilerai oleh pengawal ibuku.

Regina dan Vira berusaha menahanku agar berhenti memukul, sementara Emira menahan Marko agar tak makin memancing amarahku.

Marko mencengkeram lengan Emira. "Emira, kau wanitaku. Aku takkan membiarkanmu menikah dengan pria lain."

Emira melepaskan diri dan menampar wajahnya, lalu mendekat. "Aku bukan Emira yang dulu, Marko... Jangan kira aku lupa apa yang pernah kau coba lakukan padaku."

"Mengertilah, aku sedang putus asa," Marko mendekatinya. "Niatku tak pernah untuk—"

Aku melepaskan diri dan dengan langkah lebar menghampiri Marko, hendak memukulnya sekali lagi, tapi Emira menahanku. Saat Marko mendekat, ia justru mundur, lalu berbalik menerjang ke arahku dan menciumku di depan semua orang.

Marko terkejut sekaligus marah pada Emira. Kemudian Emira melepaskan diri dariku dan berkata dengan nada dingin pada Marko, sambil menautkan jemarinya dengan jemariku.

"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku, ataupun di hadapan Dani..." Suaranya berubah mengancam. "Kalau kau nekat, tanggung sendiri akibatnya. Kali ini aku takkan menahan diri, dan takkan ada belas kasihan untukmu." Sebelum berlalu, ia menambahkan, "Selama ini aku hanya membiarkannya demi persahabatan lama kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!