Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Suara dari Balik Balkon
Angin malam bertiup cukup kencang di kawasan perumahan itu, membawa aroma embun dan wangi bunga dari sepanjang pagar.
Jam dinding di lorong utama menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Mika sudah tertidur pulas setelah seharian bermain dan menghabiskan waktu dengan Keira.
Merasa pengap jika terus berada di kamar, Keira memutuskan keluar sebentar ke taman belakang. Ia berjalan menuju bangku kayu di dekat kolam ikan koi, lalu duduk sambil mengangkat kedua lututnya.
Di lantai dua, pintu kaca balkon kamar utama terbuka sedikit. Ian berdiri di sana mengenakan kaos hitam dan celana santai. Cangkir kopi yang mulai dingin masih berada di tangan kanannya.
Awalnya, ia hanya ingin menghirup udara malam sebelum tidur. Namun, pandangannya justru tertuju pada Keira yang duduk sendirian di taman.
Perempuan itu sedang menelepon seseorang. Cahaya layar ponselnya menerangi sebagian wajahnya yang terlihat lelah.
Ian sempat berniat masuk kembali. Ia tidak ingin dianggap mengintip. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Keira yang terdengar pelan dan sedikit serak.
"Halo? Bu? Suara Keira kedengaran gak?"
Suara ibunya terdengar dari speaker ponsel.
"Kedengaran, Nduk. Kamu kok belum tidur? Udah malam begini. Nanti dimarahin majikanmu."
Keira terkekeh kecil.
"Nggak dimarahin, Bu. Mika udah tidur nyenyak, kok. Oiya, Bapak gimana? Kakinya masih suka linu kalau malam?"
"Bapakmu udah mendingan. Tadi sore udah diminumin obat dari Puskesmas. Cuma ya gitu, dari tadi kepikiran kamu terus." Ibunya menghela napas. "Kei, tadi siang Pak Darto datang lagi ke rumah..."
Tangan Keira yang memegang ponsel langsung mengencang.
"Pak Darto? Dia nagih uang tujuh juta itu lagi, Bu?"
"Iya. Dia bilang kalau bulan depan belum ada cicilan minimal dua juta, warung di depan rumah mau disita. Ibu bingung harus ngomong apa. Belum lagi kemarin orangnya Bang Jon, si rentenir itu, lewat depan rumah sambil gedor-gedor pagar."
Di balkon, Ian mengernyit. Perlahan, ia meletakkan cangkir kopinya di atas pembatas balkon.
Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada percakapan di bawah.
Keira menghela napas panjang.
"Ibu tenang aja. Uang tujuh juta buat Pak Darto nanti Keira bayar dari gaji bulan pertama. Kan gaji Keira di sini gede, Bu. Dua belas juta!"
Ia berusaha terdengar ceria.
"Nanti Keira kirim sepuluh juta. Tiga juta buat nyicil ke Bang Jon biar dia gak terus-terusan neror Bapak, sisanya tujuh juta buat lunasin utang ke Pak Darto."
"Ibu rasanya berdosa banget sama kamu, Nduk..."
Suara ibunya mulai serak.
"Gara-gara musibah empat tahun lalu, kamu yang harus nanggung semuanya. Kalau saja waktu itu truk yang dibawa Bapakmu gak rem blong..."
"Bu, udah. Jangan dibahas lagi," potong Keira cepat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Bapak kan gak sengaja. Siapa juga yang mau nabrak orang sampai meninggal di tempat? Bapak juga udah berusaha bertanggung jawab."
"Tapi ganti rugi lima puluh juta dari keluarga korban itu yang bikin kita hancur, Kei," bisik ibunya. "Kita gak punya uang waktu itu. Makanya Bapakmu terpaksa pinjam ke rentenir kertas kuning itu. Sekarang bunganya makin gila. Dari lima puluh juta berkembang jadi tujuh puluh juta!"
Ibunya kembali terisak.
"Ditambah utang tujuh juta ke Pak Darto buat modal warung sama biaya sekolah kamu sampai lulus SMA. Total hampir delapan puluh juta, Kei. Mana mampu kita bayar kalau kamu gak merantau?"
Ian membeku.
Belum sempat ia mencerna semua informasi itu, ponsel di saku celananya bergetar panjang.
Bzzzt... Bzzzt...
Ia segera mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangan dari Keira.
"Halo, Dy," bisiknya.
"Yan! Gua udah dapet semua data latar belakang si Keira dari tim intel," suara Edy terdengar serius. "Gua sampai kaget pas baca filenya. Ternyata dugaan lu salah. Cewek itu bukan penipu."
"Sebutin isinya."
Ian berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun pikirannya mulai kacau setelah mendengar percakapan Keira.
"Empat tahun lalu, bapaknya Keira yang kerja sebagai sopir truk mengalami kecelakaan di jalan lintas provinsi. Rem truknya blong dan menabrak pengendara motor sampai meninggal di tempat."
Edy berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Bapaknya gak dipenjara karena hasil pemeriksaan membuktikan kecelakaan itu terjadi akibat masalah teknis armada perusahaan. Tapi keluarga korban menuntut ganti rugi lima puluh juta."
Ian memejamkan mata.
"Keluarga Keira gak punya tabungan, jadi terpaksa pinjam uang ke rentenir lokal yang dikenal dengan sebutan kertas kuning. Bunganya mencekik. Karena gak sanggup membayar, utang lima puluh juta itu sekarang membengkak jadi tujuh puluh juta. Belum lagi bapaknya mengalami cacat permanen di kaki akibat kecelakaan itu dan gak bisa bekerja sebagai sopir lagi."
Ian menggenggam ponselnya lebih erat.
"Yan? Lu masih dengerin?"
"Lanjut."
"Ada satu utang lagi. Tujuh juta ke tetangganya yang bernama Pak Darto. Uangnya dipakai buat biaya sekolah Keira sampai lulus SMA dan modal warung kecil milik ibunya."
Edy menghela napas.
"Jadi total utang keluarga mereka hampir delapan puluh juta. Sekarang Keira satu-satunya tulang punggung keluarga. Dia ke Jakarta cuma buat cari uang dan melunasi utang-utang itu."
Namun, Ian sudah hampir tidak mendengar apa-apa lagi.
Panggilan itu terasa seperti suara jauh yang tenggelam di tengah pikirannya sendiri.
Ia memutus sambungan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit gemetar. Perlahan, ia menunduk dan kembali memperhatikan Keira di bawah sana.
Perempuan itu sedang mengusap air mata di pipinya dengan ujung lengan kaos.
"Ibu gak usah nangis," ujar Keira. Suaranya terdengar berusaha tegar. "Keira di sini sehat, kok. Makanannya enak-enak, tempat tidurnya empuk banget kayak kasur di FTV."
Ia terkekeh kecil.
"Mas Ian, anak sulungnya yang galak itu, memang suka marah-marah gak jelas. Tapi Keira kuat, kok. Anggap aja dia anjing galak yang cuma bisa menyalak, tapi gak bisa menggigit."
Pft!
Ian yang sedang tenggelam dalam rasa bersalah hampir tersedak ludahnya sendiri.
Anjing galak?!
Nih cewek... Dalam kondisi sedih aja masih sempat-sempatnya ngatain gua anjing galak!
"Iya, Bu," lanjut Keira sambil terkekeh di antara sisa air matanya. "Muka Mas Ian kalau lagi ditekuk mirip banget sama Bulldog tetangga kita, si Komo."
Ian langsung mengerutkan dahi.
Bulldog?!
"Tapi gak apa-apa. Yang penting Pak Nathaniel baik banget ngasih gaji dua belas juta. Keira janji, tahun ini semua kertas kuning sialan itu bakal Keira bakar sampai jadi abu!"
Keira mengusap hidungnya yang memerah, lalu bangkit dari bangku.
"Ya udah, Bu. Keira mau masuk dulu. Takut ketahuan si Bulldog kalau keluyuran malam-malam. Selamat malam, Bu. Salam buat Bapak."
Setelah mematikan telepon, Keira menarik napas panjang sebelum berjalan kembali menuju pintu belakang rumah.
Sementara itu, Ian masih berdiri mematung di balkon.
Percakapan Keira dan ibunya terus terngiang di kepalanya. Tentang kecelakaan truk, utang tujuh puluh juta kepada rentenir, utang tujuh juta kepada Pak Darto, sampai julukan Bulldog yang baru saja disematkan kepadanya.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengganggu pikirannya.
Semua ucapan buruk yang pernah ia lontarkan kepada Keira kembali terputar jelas.
Wanita pengincar uang.
Parasit pemburu harta.
Mengincar posisi di rumah ini.
Ian menunduk. Dadanya terasa sesak.
Selama ini ia menuduh Keira datang untuk memanfaatkan keluarganya. Padahal, perempuan itu justru sedang berjuang menyelamatkan keluarganya sendiri.
"Bodoh..."
Suaranya terdengar serak.
"Gua bener-bener cowok paling bodoh."
semangat Kak 💪💪