Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Studio
Keesokan paginya, suasana di rumah tua itu terasa sedikit berbeda.
Saat Bellona keluar dari kamar dengan seragam SMA yang sudah rapi, Devan sedang berdiri di depan kompor. Pria itu sibuk membalikkan potongan roti tawar—entah dapat dari mana—yang digoreng memakai mentega.
"Pagi, Bocah," sapa Devan tanpa berpaling dari wajan. Suaranya sudah kembali santai dan slengean, seolah lagu pilu tadi malam tidak pernah tercipta. "Nih, sarapan roti goreng ala paman lo. Kagak gosong, tenang aja."
Bellona berjalan mendekat, menyambar satu tangkup roti hangat di atas piring. Ia mengunyahnya pelan, lalu melirik Devan yang sedang menuangkan air hangat ke dalam dua cangkir.
"Gitar lo semalem... jangan sering-sering dimainin jam segitu," celetuk Bellona ketus, menyembunyikan rasa harunya. "Suara lo fals dikit."
Devan seketika menoleh melotot, memegang dadanya seolah baru saja ditembak bandit.
"Fals?! Sembarangan lo!" omel Devan tak terima. "Suara serak-serak basah begini tuh mahalan di pasaran tahu kagak! Para produser musik kalau denger bisa langsung ngantre minta tanda tangan gue!"
"Tanda tangan surat penangkapan iya," balas Bellona datar, namun sudut bibirnya terangkat tipis sebelum ia meneguk air hangatnya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah melaju di atas motor tua Devan menembus kesegaran angin pagi. Kali ini, tanpa diminta, Bellona langsung memegang pinggiran jaket kulit Devan saat motor mulai menambah kecepatan di jalan raya.
Saat tiba di gerbang sekolah, seperti biasa, tatapan murid-murid kembali tertuju ke arah mereka. Namun Bellona tidak lagi se-senewen kemarin.
"Inget, pas pulang tunggu di teras depan. Jangan kelayapan," pesan Devan sambil membuka kaca helmnya.
"Iya, Bego," sahut Bellona singkat. Gadis itu menyerahkan helm kusam ke Devan, lalu berbalik melangkah masuk ke area sekolah.
Di koridor dekat ruang piket, Bellona melihat Viola sedang berjalan sendirian sambil membawa beberapa map tugas. Langkah Bellona sempat melambat, ada keraguan yang mendadak melintas di pikirannya.
‘Kalau lo kagak mau kehilangan orang yang peduli sama lo, jalin hubungannya. Jangan sibuk ngebenteng diri terus,’ kata-kata Raka yang sempat ia dengar Devan ceritakan tempo hari mendadak berputar di kepalanya.
Bellona menghembuskan napas panjang. Ia mempercepat langkah kakinya, berjalan menyusul gadis berpita biru itu.
"Viola," panggil Bellona pelan.
Viola menoleh, agak kaget melihat Bellona yang menghampirinya duluan. "Eh... Bellona? Kenapa?"
Bellona meremas tali tas ranselnya, menundukkan kepala sejenak sebelum menatap mata sahabatnya itu dengan tulus.
"Soal kemarin... sorry ya," bisik Bellona pelan. "Gue belakangan ini emang lagi banyak masalah keluarga. Tapi... bukan berarti gue kagak mau temanan lagi sama lo."
Viola membelalakkan matanya terkejut. Senyuman hangat yang sudah lama hilang dari wajah sahabatnya itu perlahan merekah kembali.
"Beneran, Bell?" tanya Viola memastikan.
Bellona mengangguk kaku. "Iya. Nanti pas istirahat... mau makan bareng di kantin?"
"Mau banget!" sahut Viola antusias, matanya berbinar riang.
Bellona tersenyum tipis. Entah mengapa, ia merasa beban berat di dadanya perlahan terangkat satu per satu—karena kini ia tahu, ia tak perlu lagi menghadapi dunia ini sendirian.
***
Siang harinya, bel pulang sekolah berbunyi nyaring menandakan jam pelajaran telah usai. Bellona merapikan buku-bukunya, lalu berjalan keluar bersama Viola. Hubungan mereka yang sempat kaku kini berangsur melunak setelah perbincangan kecil di pagi hari tadi.
"Bell, kamu pulang naik apa?" tanya Viola saat mereka menyusuri koridor menuju gerbang depan. "Mau bareng aku? Kebetulan Pak Sopir udah nunggu di depan."
Bellona menggeleng tipis sambil menyunggingkan senyum tipis. "Gak usah, Vi. Gue udah ada yang jemput."
"Ooh... 'paman' kamu yang ganteng kayak vokalis band terkenal itu ya?" goda Viola sambil menyenggol bahu Bellona, teringat hebohnya anak-anak cewek di kelas saat melihat sosok Devan kemarin.
Muka Bellona langsung berlipat kesal. "Ganteng matamu. Orang stres kayak gitu dibilang ganteng."
Begitu melangkah keluar dari gerbang sekolah, sosok yang dibicarakan sudah berdiri santai di dekat motor tuanya. Devan tampak sedang mengobrol dengan Pak Satpam sekolah sambil tertawa lepas, menyemil kerupuk kaleng yang entah ia dapat dari mana.
"Tuh kan, beneran dijemput!" kekeh Viola. "Yaudah deh, aku duluan ya, Bell. Sampai ketemu besok!"
"Iya, hati-hati Vi," balas Bellona.
Bellona melangkah menghampiri Devan. Pria itu menyadari kedatangan Bellona, lalu buru-buru menyapu sisa remahan kerupuk di tangannya ke celana jeans-nya yang agak kusam.
"Lama amat lo, Bocah," celoteh Devan sambil menyerahkan helm kusamnya. "Gue sampai habis dua kerupuk ngobrol sama Pak Satpam."
"Siapa suruh lo datang kecepatan, Bego," desis Bellona ketus, menyambar helm itu lalu memakainya.
Ia naik ke jok belakang. Saat motor tua Devan kembali meraung dan membelah jalanan kota yang hangat, Bellona menyandarkan kepalanya pelan ke punggung lebar Devan. Angin siang menerpa seragam sekolahnya, tetapi di atas jok motor tua yang berisik ini, Bellona tak lagi merasa cemas tentang apa yang akan terjadi esok hari.
Devan merasakan sandaran pelan di punggungnya. Pria itu tersenyum tipis di balik kaca helmnya.
***
Motor tua Devan bukannya berbelok ke arah rumah, melainkan melaju terus melewati jalur utama dan berbelok ke sebuah gang area kompleks ruko tua.
Bellona yang sadar jalurnya berbeda langsung menepuk bahu Devan agak keras. "Woy, Bego! Ini bukan jalan pulang! Lo mau bawa gue ke mana?!"
"Diem aja, Bocah! Kagak bakal gue jual lo ke pasar gelap!" teriak Devan membalas dari balik helmnya, menambah kecepatan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan studio musik bercat kusam dengan stiker-stiker band terkemul di pintunya.
Devan mematikan mesin motor, melompat turun, lalu menatap Bellona yang masih duduk di jok belakang dengan muka berlipat kesal.
"Turun. Gue mau latihan dikit sama anak-anak," ujar Devan santai sambil mencopot helmnya.
Bellona mendecak keras, tapi tetap turun dan mengekor di belakang Devan saat pria itu mendorong pintu studio yang dipasangi peredam suara dari busa kusam. Udara dingin dari AC tua langsung menyapa mereka, bercampur bau asap rokok tipis dan aroma kopi hitam.
Di dalam ruangan penuh alat musik itu, sudah ada beberapa orang yang berkumpul, yaitu Raka, Miko, Dino, dan Teo
"Nah! Datang juga lo, Van!" seru Raka sambil menepuk drumnya sekali. Tapi begitu matanya menangkap sosok Bellona di belakang Devan, stik drum di tangannya seketika terhenti.
Miko dan Dino juga ikut menoleh, menatap Bellona dari atas ke bawah dengan raut kaget. Sementara Teo hanya mendongak pelan dari buku liriknya, menatap Bellona sebentar dengan mata datarnya, lalu kembali menunduk.
"Buset, Van... ini anak yang lo ceritain itu?" celetuk Miko sambil meletakkan bass-nya. "Mirip banget anjir muka lo berdua pas lagi cemberut!"
"Dih, sembarangan lo kalau ngomong!" bentak Devan cepat untuk menutupi rasa canggungnya. Pria itu menunjuk kursi sofa kosong di dekat Dino. "Bocah, lo duduk di situ dulu. Jangan pegang-pegang alat, ntar rusak lo kagak sanggup ganti."
Bellona melayangkan tatapan tajam ke Devan. "Siapa juga yang mau megang alat-alat kusam lo itu!" desis Bellona ketus, namun ia tetap melangkah dan menjatuhkan dirinya di sofa.
Raka tertawa renyah, melompat turun dari kursi drumnya lalu menghampiri Bellona sambil menyerahkan kotak susu kemasan yang masih dingin dari kulkas mini studio.
"Halo, Bellona. Gue Raka," sapa Raka ramah dengan senyum lebar. "Kagak usah dengerin ocehan si Devan. Kalau dia macam-macam atau bikin lo kesel di rumah, bilang sama gue. Ntar gue kaplok kepalanya."
Bellona menerima susu kotak itu, rasa canggungnya sedikit melunak melihat keramahan Raka. "Makasih, Bang."
"Dih, Raka sok akrab amat lo!" cibir Devan sambil menyambar gitar elektriknya dari stand. Ia memasang kabel jack ke amplifier, membuat suara dengung nyaring terdengar di ruangan.
Devan menoleh ke arah Teo yang masih diam menyendiri di pojokan sofa, tak jauh dari tempat Bellona duduk.
"Teo, lirik lagu baru yang kemarin udah lo rapiin belum?" tanya Devan.
Teo hanya mengangguk tipis tanpa bersuara, mengacungkan buku catatan kecil di tangannya.
"Tuh anak emang irit kata banget, Bell," bisik Dino dari samping papan keyboard-nya sambil terkekeh pelan pada Bellona. "Tapi suara dia pas nyanyi kagak ada obatnya."
Bellona melirik cowok bernama Teo itu dari sudut matanya. Ada aura dingin dan tenang yang terpancar dari Teo—sangat berbanding terbalik dengan Devan yang bising dan suka bikin emosi.
Devan memetikan senar gitarnya keras-keras, mengetes nada. Pria itu menyeringai ke arah teman-temannya, lalu melirik Bellona sekilas dari atas panggung kecil studio.
"Yaudah, fokus! Kita coba track pertama!" seru Devan, memposisikan jemarinya di papan fret.
Di atas sofa studio yang agak kusam itu, Bellona menyedot susunya pelan, bersiap mendengarkan bagaimana pria slengean yang tinggal bersamanya itu bertransformasi saat memegang gitar di tengah teman-temannya.