Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Adrian menatap Kayna. Ia adalah seorang jenderal. Ia tahu ketika seseorang sedang merencanakan sesuatu. Dan tatapan berbinar di mata Kayna saat mendengar kata 'Istana Kerajaan' bukanlah tatapan seorang wanita yang ingin membuktikan kesehatannya. Itu adalah tatapan seorang pemburu yang baru saja melihat rusa gemuk berjalan ke dalam perangkapnya.
"Tidak," ucap Adrian datar. "Aku akan menolak atas namamu. Aku akan menghadap Raja sendiri dan.."
"Jika Yang Mulia menolak, itu berarti pengkhianatan," potong herald kerajaan itu dengan hati-hati, berkeringat dingin karena berada di tengah pertengkaran calon suami-istri ini.
Adrian menutup matanya sejenak, menghela napas panjang yang terdengar seperti orang yang sedang menyerah pada takdir.
"Baiklah," geram Adrian. Ia menatap Kayna dengan tatapan memperingatkan. "Kau akan pergi. Tapi kau tidak akan lepas dari pandanganku sedetik pun. Jika kau mencoba menyentuh pisau, jika kau mencoba mendekati tangga, jika kau bahkan mencoba menelan makananmu terlalu cepat... aku akan memborgolmu di kursimu dan memberi tahu seluruh kerajaan bahwa kau gila."
Kayna tersenyum manis. "Terima kasih, Tuan Duke. Kau memang tunangan yang paling pengertian."
***
Malam berikutnya, ruang perjamuan Istana Kerajaan berkilauan oleh ribuan lilin dan perhiasan.
Kayna berdiri di puncak tangga marmer raksasa, mengenakan gaun putih pucat yang dirancang sangat indah namun (menurut penilaian Kayna) memiliki kerah yang cukup longgar untuk memudahkan akses ke nadi karotis jika nanti ada pisau buah yang tersangkut.
Di sampingnya, Adrian berdiri dalam seragam kebesaran berwarna hitam dan perak. Pria itu tampak sangat tampan, sangat agung, dan... sangat stres. Tangan Adrian secara halus tapi tegas mencengkeram pergelangan tangan Kayna, tidak melepaskannya.
"Senyum," bisik Adrian di telinganya, tanpa menggerakkan bibirnya. "Dan jangan coba-coba melepaskan dirimu."
"Aku tidak akan lari, Tuan Duke. Kakiku sakit memakai sepatu hak tinggi ini," bisik Kayna balik. "Lagipula, kenapa aku harus lari? Tempat ini penuh dengan benda-benda tajam yang indah."
Adrian mencengkeram tangannya lebih erat, nyaris meremukkan tulang. "Aku serius, Kayna."
"Aku juga," balas Kayna, menatap ruang perjamuan di bawah mereka dengan tatapan seorang inspektur yang sedang menilai properti.
Lampu gantung di tengah ruangan. Jarak jatuh: lima meter. Kematian instan. Probabilitas keberhasilan: 80% jika Adrian lengah selama tiga detik.
Mereka mulai menuruni tangga. Setiap langkah Kayna dihitung oleh Adrian.
Namun, tepat saat mereka mencapai lantai dasar dan hendak melangkah menuju ruang perjamuan, sebuah bayangan familiar muncul di sudut ruangan.
Freya.
Gadis yatim piatu itu tidak duduk di kursi para tamu biasa. Ia berdiri di dekat pintu masuk ruang perjamuan, mengenakan gaun biru muda yang sangat mencolok, menatap Kayna dengan senyum yang terlalu manis. Dan yang lebih penting, Freya berdiri tepat di bawah lampu gantung kristal raksasa yang sedang berayang pelan karena angin dari jendela yang terbuka.
"Selamat malam, Yang Mulia Adrian. Nona Kayla," sapa Freya, suaranya terdengar riang. "Senang melihat Nona Kayla sudah sembuh. Aku... aku ingin meminta maaf secara langsung sebelum perjamuan dimulai. Bolehkah aku memelukmu, Kak Kayla?"
Freya melangkah maju, merentangkan tangan kirinya yang sehat, bersiap untuk memeluk Kayna.
Adrian langsung menggeser posisinya, hendak menghalangi Freya. "Freya, jangan mendekat.."
Tapi Kayna lebih cepat.
Melihat Freya yang berlari kecil ke arahnya, dan melihat posisi lampu gantung kristal yang tepat di atas kepala gadis itu, sebuah ide brilian dan sangat konyol melintas di pikiran Kayna.
Jika Freya menarikku, dan aku menariknya balik dengan keras... kami berdua bisa jatuh. Dan jika lampu gantung itu terlepas karena getarannya...
Tanpa berpikir panjang, Kayna melangkah maju, mengabaikan tangan Adrian yang mencoba menahannya, dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan Freya.
"Kayla, JANGAN!" teriak Adrian, suaranya memecah keheningan ruang perjamuan.
..gagal terus🤣