Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Jalan yang Lebih Lambat
Keesokan paginya, hari pertama bulan keempat, Jian Chen datang ke pondok pengobatan lebih awal dari biasanya. Lin Xue sedang menyapu lantai, dan ia berhenti ketika melihat wajahnya.
"Kau tidak tidur," kata Lin Xue.
"Sedikit."
"Itu bukan jawaban." Lin Xue menyandarkan sapu ke dinding. "Duduk. Apa yang terjadi?"
Jian Chen duduk di bangku kayu. Ia sudah memikirkan kalimatnya sepanjang malam, dan sekarang semuanya terasa tidak cukup. "Aku butuh bantuanmu untuk menembus dinding di bahuku. Bukan dengan ramuan murah. Dengan cara yang lebih keras."
"Aku sudah bilang jangan paksakan."
"Aku tidak memaksa. Aku punya rencana lain, tetapi rencana itu gagal." Ia memilih kata-kata dengan hati-hati. "Aku ingin menembusnya pelan-pelan, pakai batu napas kelas rendah dan jarum. Aku tahu urutan titiknya."
"Kau tahu urutan titiknya." Lin Xue menyilangkan tangan. "Dari mana?"
"Dari buku."
"Buku di perpustakaan luar?"
"Ya."
"Buku yang sama dengan Catatan Tanaman Gunung?"
"Kira-kira begitu."
Lin Xue menatapnya lama, dan Jian Chen balas menatap tanpa berkedip. Akhirnya Lin Xue menghela napas. "Baik. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi dengarkan aku. Cara itu namanya Delapan Lapis. Aku pernah membaca tentangnya. Risikonya besar. Kalau jarumnya meleset satu jari dari titik yang benar, aliranmu bisa terbalik dan intimu retak. Kalau kau menahan sakit terlalu lama, kau bisa pingsan di tengah dan tidak bisa kuselamatkan."
"Aku tahu risikonya," kata Jian Chen.
"Kau tahu atau kau cuma bilang tahu?"
"Aku tahu," jawab Jian Chen pelan. "Dan aku ingin kau yang memegang jarumnya, bukan orang lain."
Hening sebentar. Lin Xue memalingkan wajah ke jendela. "Kenapa aku?"
"Karena kau tidak pernah salah menusuk."
"Kau belum pernah kutusuk."
"Daun Sutra Racun," kata Jian Chen. "Kau tidak salah memisahkannya satu pun."
Lin Xue mengerutkan dahi, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. "Itu bukan jarum."
"Tetap saja."
"Baik." Ia mengambil sebuah gulungan kain berisi jarum perak tipis dari rak dan menaruhnya di meja. "Tapi syaratku tiga. Pertama, kau makan daging tiga hari berturut-turut sebelum kita mulai. Kedua, kau tidur penuh dua malam. Ketiga, kalau aku bilang berhenti, kau berhenti."
"Aku setuju."
"Bagus. Siapkan batu napasmu."
Lima hari kemudian, tengah malam, Jian Chen duduk bersila di ruang belakang pondok pengobatan dengan jubah dilepas. Delapan batu napas kelas rendah, sebesar kelereng dan berwarna biru pucat, tersusun melingkar di lantai di sekelilingnya. Dua belas poin kontribusi yang ia kumpulkan sejak hari pertama sudah habis untuk membeli semuanya. Di belakangnya, Lin Xue berlutut dengan delapan jarum perak di sela jari.
"Mulai dari titik pertama," kata Lin Xue. "Katakan kalau terasa salah."
"Baik."
Jarum pertama menembus kulit di antara tulang belikat. Rasanya seperti sengatan es. Jian Chen menarik napas dan mengalirkan qi dari batu pertama. Napas Langit mengalir masuk, tipis, dingin, dan menabrak dinding di bahunya.
"Jarum kedua," kata Lin Xue.
"Lanjut."
Satu per satu, delapan jarum masuk. Delapan batu napas mulai bersinar redup, dan cahaya biru itu merambat ke tubuh Jian Chen seperti air masuk ke tanah kering. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Bahunya terasa seperti ditarik dari dua arah.
"Jian Chen," kata Lin Xue. "Nadimu naik."
"Aku tahu."
"Kalau lewat batas, aku berhenti."
"Belum," jawab Jian Chen dengan gigi terkatup. "Satu lapis lagi."
Dinding itu retak. Bukan seperti dinding batu yang pecah, tetapi seperti es tipis yang terinjak. Jian Chen merasakan aliran qi menerobos, melewati bahu, turun ke lengan, dan berputar di pusat dadanya. Inti kecil yang tadinya sebesar biji kacang berdenyut, membesar sedikit, lalu stabil.
"Berhenti!" seru Lin Xue.
Jian Chen membuka mata. Napasnya terengah, wajahnya basah. Delapan batu napas di lantai sudah kehilangan warna dan berubah abu-abu seperti kerikil biasa. Lin Xue menarik jarum satu per satu dengan tangan gemetar.
"Kau berhasil," kata Lin Xue pelan. "Pengumpul Napas tahap tengah."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu." Lin Xue menyentuh bahu kiri Jian Chen dan menekannya. "Rasa?"
"Tidak ada."
"Itu masalahnya." Ia menekan lagi, lebih keras. "Bahu kirimu kebas. Itu harga cara ini. Mungkin sepekan, mungkin sebulan. Kalau lebih lama dari itu, kau datang padaku."
"Baik."
"Dan satu hal lagi." Lin Xue menurunkan tangannya. Suaranya merendah. "Aku tidak tahu apa yang kau cari sebenarnya. Tapi aku tahu orang yang memilih jalan seperti ini adalah orang yang tidak punya jalan lain. Aku tidak akan bertanya. Tapi kalau kau butuh seseorang untuk memegang jarum lagi, jangan cari orang lain."
Jian Chen menatapnya. Cahaya lilin menyinari wajah Lin Xue, dan untuk sesaat ia lupa harus menjawab apa. "Aku mengerti," katanya akhirnya.
"Bagus. Sekarang tidur."
Pagi harinya, hari keenam bulan keempat, Jian Chen berjalan keluar dari pondok pengobatan dengan langkah lebih ringan walaupun bahu kirinya mati rasa. Di depan pintu, seseorang bersandar di tiang dengan tangan terlipat. Jubah putih biru, pedang tipis di pinggang.
"Zhao Feng," kata Jian Chen.
"Kau naik tahap," jawab Zhao Feng, matanya menyipit. "Aku bisa merasakannya dari sini. Pengumpul Napas tengah, dalam sebulan sejak kau menjadi murid luar yang paling lemah di pondok tujuh. Menarik."
"Aku berlatih keras."
"Aku yakin. Tapi kau berjalan miring. Bahu kirimu kenapa?"
"Salah tidur."
"Orang tidak salah tidur sampai lengannya menggantung seperti itu." Zhao Feng menegakkan tubuh. "Tapi itu bukan urusanku. Aku datang karena hal lain. Aku menelusuri kurir yang membawa perintah palsu. Tidak ada murid kurir terdaftar di aula kontribusi hari itu. Yang kutemukan hanya stempel yang retak, dan seseorang yang tahu betul prosedur sekte."
"Retak?" ulang Jian Chen, pura-pura heran.
"Seperti cermin yang pecah." Zhao Feng menatapnya tajam. "Kau tahu sesuatu tentang itu?"
"Tidak."
"Kau berbohong dengan buruk." Zhao Feng berbalik pergi, tetapi berhenti setelah beberapa langkah. "Satu hal lagi. Penjaga kebun herbal bilang ada yang mengambil akar di bawah batu hitam sebelum waktunya. Dia juga bilang kau datang ke kebun malam itu."
Jian Chen menahan napas.
"Aku tidak bertanya apa urusanmu di sana," kata Zhao Feng tanpa menoleh. "Tapi kalau aku menemukan siapa yang mengambil akar itu, aku akan tahu kau mencarinya. Dan itu berarti kau tahu sesuatu yang tidak seharusnya kau tahu."
Ia pergi, meninggalkan Jian Chen berdiri di depan pintu dengan bahu yang mati rasa dan satu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Seseorang telah mengambil Akar Embun Perak sehari sebelum ia sampai, dan hanya dia, satu-satunya orang di dunia ini, yang seharusnya tahu letaknya.