"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 SANG PENGAWAS HUKUMAN
Suara bel tanda berakhirnya jam sekolah berdenging panjang, memecah keheningan yang sempat menggantung di udara.
Di luar sana, lorong-lorong kelas mulai dipenuhi oleh riuh rendah langkah kaki dan tawa para siswa yang merdeka, bergegas pulang menuju rumah atau tempat nongkrong favorit mereka.
Namun bagi Wira, bel itu terdengar seperti lonceng kematian.
Dengan langkah diseret, pemuda itu berjalan gontai menyusuri koridor lantai satu yang perlahan mulai sepi.
Tas ranselnya menggantung lemas di satu bahu. Sudut bibirnya yang robek dan dilumuri obat merah terasa berdenyut-denyut nyeri setiap kali ia meringis, sementara buku-buku jarinya yang lecet bergesekan dengan kain celananya, mengirimkan sengatan perih yang menjengkelkan.
Namun, semua rasa sakit fisik itu menguap tak bersisa saat otaknya kembali memutar titah mutlak dari Pak Anton di ruang BK tadi.
“Namanya Asmara Putri. Teman sebangkumu sendiri. Gadis itu yang akan menjadi mandormu...”
Wira mengacak rambut ikalnya dengan kasar. Ia merutuki kebodohannya sendiri, merutuki Bima dan teman-temannya yang mulutnya seperti sampah, dan merutuki takdir yang seolah sedang mempermainkannya dengan selera humor yang sangat kejam.
Niat hati ingin menjadi tameng yang melindungi kehormatan gadis itu, Wira kini justru terjebak dalam situasi di mana ia harus mempertontonkan kehancurannya sendiri di hadapan sang gadis setiap sore.
Langkah kaki Wira akhirnya membawanya ke bagian paling belakang dari kompleks SMA Budi Bangsa. Melewati deretan laboratorium IPA yang sepi, terdapat sebuah paviliun berarsitektur Jawa klasik dengan atap limasan.
Papan kayu kusam di atas pintu ganda besarnya bertuliskan: Ruang Budaya & Perpustakaan Lama.
Udara di sekitar paviliun ini terasa lebih sejuk karena dinaungi oleh dua pohon beringin kembar yang sangat besar. Daun-daun kering berserakan di atas paving blok yang berlumut, menciptakan suasana kuno yang seolah terisolasi dari hiruk-pikuk bangunan utama sekolah.
Wira berdiri di depan pintu kayu jati yang terbuka separuh. Aroma kapur barus, debu buku tua, dan kayu lapuk langsung menyapa indra penciumannya. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur, lalu mendorong pintu itu hingga berderit pelan.
Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah deretan rak kayu jati tinggi yang dipenuhi buku-buku tebal berdebu.
Di bagian tengah ruangan yang cukup luas, tergelar seperangkat alat musik gamelan—saron, bonang, gong, dan kendang—yang ditutupi oleh kain putih tipis untuk melindunginya dari debu.
Dan di sana...
Di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang...
Sudah berdiri sosok yang membuat jantung Wira berdetak dengan ritme tak karuan.
Asmara Putri.
Gadis itu sudah menanggalkan lencana dan rompi OSIS-nya. Ia membalut seragam putih abu-abunya dengan sebuah celemek kain berwarna cokelat pudar.
Rambut panjangnya yang biasanya dibiarkan tergerai, kini diikat tinggi ke atas membentuk cepol yang rapi, memperlihatkan jenjang lehernya yang bersih.
Di tangannya, Asmara memegang sebuah kemoceng bulu ayam dan sebuah papan dada (clipboard) berisi selembar kertas absensi.
Mendengar derit pintu, Asmara menoleh.
Matanya bertemu dengan mata Wira.
Wira menahan napas.
Ia menantikan senyum itu.
Ia menantikan teguran selembut sutra yang biasa gadis itu berikan, atau bahkan tawaran minyak kayu putih untuk mengobati bibirnya yang luka.
Wira sangat menantikan secercah kelembutan untuk mengobati dadanya yang sesak.
Namun, Wira harus menelan pil pahit.
Wajah Asmara datar tanpa ekspresi. Tidak ada senyum maklum yang hangat. Tidak ada tatapan teduh yang memaafkan.
Sepasang mata bulat itu menatap Wira dengan sorot yang sangat dingin dan berjarak, seolah Wira hanyalah orang asing yang kebetulan lewat.
"Selamat sore, Mas Wira..." sapa Asmara. Nada suaranya sangat formal, datar, dan kaku.
Sapaan itu terasa seperti pedang es yang menusuk langsung ke ulu hati Wira.
"Sore," jawab Wira serak. Ia melangkah masuk, menjatuhkan tas ranselnya ke atas sebuah kursi kayu panjang di sudut ruangan.
"Pak Anton sudah menyerahkan jadwal dan daftar tugas sosial yang harus Mas Wira selesaikan selama satu bulan ke depan kepada saya," lanjut Asmara tanpa basa-basi, matanya menunduk menatap kertas di papan dadanya.
"Mulai hari ini, tugas Mas Wira adalah membersihkan seluruh area lantai paviliun, membersihkan debu di rak buku bagian A sampai C, dan mengelap instrumen gamelan dengan kain kering."
Wira mendecak pelan, berjalan mendekati Asmara. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter.
Wira menatap wajah Asmara dari samping, mencari-cari celah untuk meruntuhkan dinding es yang mendadak dibangun gadis itu.
"Kenapa harus lo, sih?" tanya Wira tiba-tiba, nada suaranya mengandungi protes yang tertahan. "Di sekolah ini ada puluhan anak OSIS. Kenapa Pak Anton milih lo buat ngawasin gue?"
Asmara perlahan mengangkat wajahnya, mempertemukan kembali tatapan mereka.
"Karena barang-barang di ruangan ini bukan sekadar inventaris sekolah, Mas," jawab Asmara dengan intonasi yang begitu tenang, namun menyiratkan ketegasan mutlak. Ia menunjuk ke arah seperangkat gamelan di tengah ruangan.
"Gamelan ini, beberapa naskah kuno di lemari kaca itu, adalah replika dan hibah langsung dari Keraton Yogyakarta. Sekolah tidak berani sembarangan menyerahkan kuncinya kepada siswa biasa."
Asmara diam sejenak, lalu melanjutkan, "Sebagai anak seorang Abdi Dalem, pihak sekolah tahu bahwa saya mengerti unggah-ungguh dan tata cara merawat barang-barang pusaka ini. Pak Anton menugaskan saya untuk memastikan bahwa orang yang baru saja menghancurkan pot dan mading di lorong sekolah siang tadi, tidak melampiaskan amarah liarnya untuk menghancurkan peninggalan sejarah di ruangan ini."
MAKKK JLEBBB!!!
Kata-kata itu diucapkan dengan bahasa yang sangat sopan, tanpa nada tinggi, namun efek kerusakannya setara dengan hantaman bom.
Wira tertegun.
Ia dihakimi secara halus sebagai perusak yang harus diwaspadai.
"Gue nggak sebarbar itu," desis Wira, rahangnya mengeras karena egonya kembali terluka. "Gue mukul orang karena ada alasannya. Gue bukan anjing gila yang asal gigit tanpa sebab."
"Alasan apa pun tidak membenarkan kekerasan, Mas Wira," balas Asmara cepat, matanya menatap tajam ke arah sudut bibir Wira yang terluka.
"Melihat Mas Wira berdiri di sana tadi siang, dengan tangan berlumuran darah dan wajah penuh amarah... Mas sama sekali tidak terlihat seperti manusia yang menggunakan akal budinya."
Wira mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
Emosinya bergejolak hebat.
Ia rasanya ingin sekali berteriak, 'Gue ngelakuin itu buat lo, Asmara! Bajingan-bajingan itu ngomongin lo dengan kata-kata kotor, dan gue cuma mau bungkam mulut sampah mereka!'
Namun, Wira menelan paksa kata-kata itu hingga tenggorokannya terasa perih.
Gengsinya sebagai seorang laki-laki, dan tekadnya untuk menjaga agar telinga Asmara tidak tercemar oleh ucapan kotor Bima, memaksa Wira untuk mengunci rapat-rapat rahasia itu.
Biarlah...
Biarlah Asmara menganggapnya sebagai monster barbar....
Wira rela menanggung cap buruk itu sendirian.
"Terserah apa kata lo," ucap Wira memalingkan wajah, mengalah pada keheningan. "Mana sapunya? Gue mau cepet-cepet kelarin hukuman konyol ini."
Asmara tidak merespons ucapan Wira. Ia melangkah menuju sebuah lemari kecil di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah sapu ijuk, sebuah alat pel, dan sebuah lap microfiber yang kering.
Gadis itu meletakkan alat-alat kebersihan tersebut di atas lantai, lalu kembali menatap Wira.
"Silakan dimulai, Mas. Dari ujung rak bagian timur. Saya akan duduk di meja administrasi untuk merekap inventaris buku."
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Asmara membalikkan badannya, berjalan menuju meja kayu di dekat jendela, dan membuka setumpuk buku tebal berdebu.
Ia mengabaikan eksistensi Wira sepenuhnya.
Wira berdiri mematung.
Ia menatap sapu di lantai, lalu menatap punggung Asmara yang menjauh.
Keheningan di dalam Ruang Budaya itu terasa begitu pekat dan mencekik.
Jika kemarin Wira mati-matian berusaha memancing Asmara agar gadis itu mau merespons dan marah kepadanya, kini Wira menyadari bahwa didiamkan dan diabaikan dengan sikap profesional dingin seperti ini ternyata jauh, jauh lebih menyakitkan!
Dengan napas berat, Wira memungut sapu ijuk itu.
Ia mulai menyapu lantai kayu jati yang berdebu dengan gerakan kaku.
Setiap kali sapunya bergesekan dengan lantai, suara srek-srek yang ditimbulkannya memantul ke dinding-dinding paviliun, menjadi satu-satunya sumber suara yang menemani keheningan di antara mereka berdua.
Sesekali, Wira melirik ke arah Asmara.
Gadis itu benar-benar tidak mengacuhkannya.
Wajahnya serius membaca lembar demi lembar buku tua, mencatatnya dengan rapi, tanpa sekalipun menoleh untuk memeriksa apakah Wira menyapu dengan benar atau tidak.
Melihat profil samping Asmara yang dibingkai oleh cahaya matahari sore, dada Wira kembali berdesir.
Rasa bersalah menekan paru-parunya.
Wira, yang selama tujuh belas tahun hidupnya tidak pernah mau menunduk pada siapa pun, kini menyadari satu hal.
Ia benci diabaikan oleh gadis ini...
Ia rindu teguran lembutnya...
Ia rindu senyum maklumnya saat Wira melakukan hal-hal bodoh...
Sambil terus mengayunkan sapunya, Wira menatap lurus ke arah gamelan pusaka di tengah ruangan. Pemuda begajulan dari kota hujan itu mengikrarkan sebuah janji rahasia di dalam hatinya.
Hukuman satu bulan ini tidak akan lagi ia anggap sebagai siksaan atau waktu untuk membalas dendam.
Sebaliknya, satu bulan di Ruang Budaya ini akan menjadi medan pembuktian bagi Wira.
Ia akan melakukan apa pun—menyapu, mengepel, membersihkan debu tertajam sekalipun—untuk menebus kesalahannya, melunakkan kembali hati sang putri Abdi Dalem, dan merebut kembali senyum hangat gadis itu.
Meskipun ia tidak tahu harus mulai dari mana.