Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Bawah Langit Terakhir
Tiga hari sebelum bulan paling gelap, aku menghabiskan setiap detik sepenuhnya. Pagi bersama Dinda, siang bersama keluarga, sore bersama Orion. Aku tidak memberitahu siapa pun keputusanku, kecuali Dinda.
Kami duduk di tepi sungai tempat kami biasa bermain sejak kecil. Langit sore berwarna jingga keunguan, sama seperti hari pertama aku bertemu Orion.
"Jadi kau benar-benar pergi?" tanya Dinda pelan, suaranya pecah.
Aku mengangguk, menahan air mataku. "Aku tidak bisa membiarkannya sendirian, Dinda. Dia sudah kesepian terlalu lama."
Dinda menarik napas panjang, mengusap pipinya dengan kasar lalu tersenyum sedih. "Aku tahu. Aku sudah tahu sejak pertama kali melihat matamu saat menyebut namanya. Kau tak akan tenang tanpa dia."
Ia merogoh saku tasnya, mengeluarkan sebuah liontin perak berbentuk bintang. "Ini. Hadiah dariku. Jangan pernah melepaskannya. Katanya benda ini melindungi pemiliknya dari kegelapan. Aku tidak tahu benar atau tidak, tapi aku berharap begitu."
Aku menerima liontin itu, memakainya di leher. "Terima kasih. Aku akan selalu mengingatmu."
"Dan aku akan selalu mencari bintang paling terang di langit," Dinda tersenyum, air mata menetes di pipinya. "Sampai kapan pun."
Kami berpelukan lama sekali, seolah tak ingin melepaskan. Saat berpisah, Dinda tersenyum lebar, meski matanya basah. "Pergilah. Dan berjanjilah padaku: bahagialah. Lebih bahagia dari siapa pun."
"Janji," jawabku, berusaha tersenyum.
Sore itu, aku pergi ke tempat pertemuan kami untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. Orion sudah ada di sana, menungguku dengan tas kecil berisi barang-barang yang kami butuhkan—bekal dari dunianya, perlindungan, dan sepasang kalung perak yang saling terhubung.
"Ini," katanya sambil memakaikan salah satunya ke leherku. "Selama kalung ini menyatu, tak ada jarak yang bisa memisahkan kita. Tak ada kegelapan yang bisa menyembunyikanmu dariku."
Aku memakaikan kalung satunya ke lehernya, jemariku menyentuh kulitnya yang dingin namun halus. "Dan tak ada kekuatan yang bisa membuatku melupakanmu."
Kami duduk berdampingan di bawah pohon besar itu, memandang matahari terbenam untuk terakhir kalinya di duniamu. Tidak ada yang berbicara untuk waktu yang lama. Hanya menikmati kehangatan sinar matahari, suara angin di antara dahan, aroma tanah basah—semua hal yang akan kurindukan, tapi tidak sebanding dengan hal yang akan kumiliki.
"Aruna," panggil Orion pelan.
"Hm?"
"Kau tidak menyesal?"
Aku menoleh, menatap matanya yang indah itu. "Tidak. Sedetik pun tidak."
Dia tersenyum, lalu menggenggam tanganku erat. "Aku akan membuatmu bahagia. Aku akan berusaha setiap detik hidupku agar kau tidak pernah menyesal memilihku."
"Aku sudah bahagia," jawabku tulus. "Karena aku bersamamu."
Matahari akhirnya hilang sepenuhnya. Langit menjadi gelap, dan di kejauhan, kabut tebal mulai turun—tanda waktunya tiba.
Orion berdiri, mengulurkan tangannya. "Siap?"
Aku menyambut tangannya, berdiri di sampingnya. "Siap."
Kami berjalan masuk ke dalam kabut, beriringan, tangan tak terpisahkan. Di belakangku, aku tahu Dinda masih berdiri di tepi jalan setapak, melihatku pergi. Di depanku, dunia yang belum kuketahui. Tapi aku tidak takut. Karena di sampingku berjalan seseorang yang telah menjagaku seumur hidupku, dan sekarang akan menjadi rumahku untuk sisa hidupku.
"Kita akan baik-baik saja?" tanyaku pelan saat kabut mulai menutup pandangan.
Orion meremas tanganku, mencium punggung tanganku. "Kita akan bahagia. Di mana pun kita berada."
Dan di dalam kegelapan yang menyambut kami, aku tidak merasa tersesat. Karena di sampingku berjalan cahayaku, dan aku adalah cahayanya. Bersama-sama, kami tidak pernah gelap.