Elio pindah bukan karena mau.Seminggu setelah neneknya meninggal di desa, ibunya memaksanya pindah dari Jakarta ke SMA pinggiran yang dikelilingi kebun dan kabut. Rumah peninggalan nenek itu dingin, lembab, dan penuh sesajen yang belum sempat dibuang.Di malam terakhir nenek, nenek membisikkan satu hal sambil menggenggam tangan Elio erat: "Nenek buka jalannya ya, biar kamu gak kesepian."Sejak itu Elio melihat mereka.Awalnya hanya bayangan di ujung sawah. Lalu anak kecil tanpa kepala yang duduk di gerbang sekolah. Elio pikir dia gila.Sampai dia bertemu Ash.Di gudang belakang SMA-nya yang terkunci, ada cowok seumuran pakai seragam lama yang sobek. Tampan, pucat, dan tersenyum ke Elio. "Akhirnya ada yang bisa lihat lagi."Namanya Sean. Mereka memanggilnya Ash, karena dia seperti abu — tipis, beterbangan, selalu ada di sebelah, gak bisa diusir.Masalahnya, Ash bukan satu-satunya.SMA baru Elio menyimpan arwah penasaran dari tahun 90-an, dan semua mulai mendekat karena mata Elio
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckystar20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Dari Kegelapan dan Teka-Teki Takdir
Suasana kelas 11-C pagi itu terasa agak pengap. Suara gurupan Pak Hendra yang lagi menerangkan rumus Fisika di depan papan tulis cuma terdengar kayak dengungan lebah di telinga Ayu.
Ayu duduk di barisan ketiga dekat jendela. Pandangannya lurus menatap papan tulis, tapi jemari tangan yang berada di bawah meja mengepal kencang sampai buku-buku perkakas memutih.
Sejak jam pelajaran pertama dimulai, Ayu udah bisa ngerasain ada sesuatu yang gak beres. Hawa dingin yang lengket dan busuk tiba-tiba dari sudut atap kelas, menusuk-nusuk tengkuknya. Ayu emang gak bisa ngelihat wujud makhluk halus secara jelas dan utuh kayak Elio atau Alvian, tapi sensitivitas dalam dirinya jauh lebih tajam dibanding Bima yang cuma sekedar merinding disko. Aura unik yang dimiliki Ayu—aura yang seolah punya benang merah kental sama tanah tua Parangkusuma—seolah jadi umpan manis yang memancing makhluk-makhluk kegelapan buat mendekat.
BZZZZT... BZZZZT...
Lampu neon di atap kelas tiba-tiba kedap-kedip pelan. Di samping meja Ayu, bayangan hitam tebal membuat naik, membawa bisikan-bisikan serak yang membuat telinga berdenging sakit. Makhluk itu sengaja mengganggu, menempel di pundaknya, mencoba menekan mental Ayu sampai bawah.
Ayu memejamkan matanya rapat-rapat, mengatupkan bibirnta yang kencang. Dia menahan gejolak mual di perut sambil berusaha keras dengan posisi normal di depan teman-teman sekelasnya.
"Ayu? Kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget," tegur Pak Hendra yang tiba-tiba menghentikan tulisannya di papan tulis sambil menatap Ayu heran.
Ayu mendongak, menarik napas panjang buat menetralkan suara yang agak bergetar. "Maaf Pak... kepala saya tiba-tiba pusing banget dan mual. Saya izin ke UKS sebentar ya Pak."
"Oh iya, iya. Silakan. Kalau gak kuat, istirahat di UKS saja sampai jam pelajaran selesai," izin Pak Hendra ramah.
Ayu berdiri dari kursinya, jaket rapat seragamnya, lalu melangkah keluar kelas. Begitu pintu kelas tertutup di belakangnya, Ayu menghembuskan napas panjang yang terengah-engah.
Tapi teror itu ternyata belum selesai. Begitu Ayu berjalan melintasi lorong lantai dua yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung, hawa busuk tadi makin menjadi-jadi!
WOOSH!
Angin dingin yang kencang bertiup di lorong yang tertutup itu. Di depan Ayu, sosok bayangan hitam berwujud tinggi besar dengan jemari berkuku panjang dan muka yang rata tiba-tiba muncul menembus dinding! Aura jahatnya pekat banget, memacar agresif penuh nafsu buat menguasai aura unik di dalam tubuh Ayu.
Ayu terdorong mundur satu langkah. Tapi alih-alih menjerit atau lari ketakutan kayak cewek biasa, Ayu malah mendongak tajam. Manik matanya memancarkan keberanian yang luar biasa. Dia memasang kuda-kuda kokoh, menatap lurus ke arah tempat sosok itu berdiri.
"Jangan berani-berani ganggu gue!" geram Ayu dengan suara rendah yang penuh penekanan, mencoba mengusir makhluk itu pakai dorongan tekad dan aura mentalnya yang kuat. "Gue gak takut sama kalian!"
Sosok hitam itu malah tertawa serak, suaranya kayak besi bergesek yang memicu ngilu di telinga. Makhluk itu menggenggam tangannya yang berkuku tajam, ingin mencengkeram bahu Ayu!
"Ayu! Awas!"
DRAP! DRAP! DRAP!
Dari ujung lorong, Elio—yang baru aja balik dari ruang guru membawa tumpukan buku—langsung berlari kencang begitu ngelihat sosok hitam besar yang lagi memojokkan Ayu! Elio melempar tumpukan bukunya asal-asalan ke lantai, lalu memasang badan tepat di depan Ayu.
Elio mengacungkan tangan kirinya, mencoba mendorong energi batinnya untuk mengusir makhluk jahat itu. "Pergilah dari sini! Jangan ganggu dia!"
BAM!
Daya dorong energi Elio menghantam dada sosok hitam itu. Tapi anehnya, makhluk jahat yang satu ini berbeda sama hantu-hantu pembohong biasa yang pernah Elio hadapi di sekolah. Sosok itu hanya terdorong mundur dua langkah, lalu kembali berdiri tegak dengan aura yang membuat merah menyala!
"Gak mempan?!" bisik Elio kaget, napasnya mulai terengah-engah gara-gara energi batinnya tertahan.
Sosok hitam itu tertawa mengejek, suaranya memenuhi seluruh lorong sepi itu. "Bocah mentah... kalian berdua gak ada apa-apa dibandingkan kekuatan kegelapan tanah ini! Kalian hanya serangga kecil yang sok tahu!"
Makhluk itu menggeram dengan kencang, membuka mulut yang lebar dan meluncur deras hendak menelan Elio dan Ayu sekaligus! Elio refleks merentangkan kedua tangannya, memeluk dan melindungi tubuh Ayu di belakangnya. Suasana tiba-tiba Mencekam banget, Elio dan Ayu bener-bener merasa terpojok!
Namun, tepat sebelum kuku-kuku hitam tajam itu menyentuh tubuh Elio...
"BERANI-BERANINYA LO SENTUH MEREKA!"
BOOOOM!
Sebuah ledakan gelombang energi abu yang super dahsyat tiba-tiba membual keluar dari udara kosong! Udara di lorong itu seketika turun hingga di bawah titik beku. Serpihan-serpihan es gaib tercipta di udara, meluncur deras menghantam sosok hitam itu sampai terlempar kencang dan menabrak tembok lorong!
BRAK!
Abu muncul di udara! Wujud abu hantu tampan berseragam vintage itu menampilkan begitu terang dan padat, matanya berkilat abu-abu tajam penuh amarah yang berkobar. Pakaian vintagenya berkibar-kibar ditiup hawa es yang berputar-putar di sekeliling tubuhnya.
Abu meluncur turun, berdiri tepat di depan Elio dan Ayu dengan posisi pasang yang sangat dominan. Gelombang hawa dingin dari tubuh Ash mengunci pergerakan sosok hitam itu rapat-rapt di dinding, membuat makhluk jahat itu gak bisa berkutik sama sekali!
"Cuma hantu kelas teri kayak lo, berani-beraninya ngegertak mereka di depan gue?!" geram Ash dengan suara berat gaibnya yang memenuhi lorong.
Sosok hitam yang terkunci di dinding itu meraung kesakitan gara-gara terbakar hawa es murni milik Ash. Wujud kabut hitamnya mulai terurai menjadi debu-debu abu yang hancur. Tapi sebelum tubuhnya benar-benar musnah ditelan energi dahsyat Ash, sosok hitam itu mendongakkan kepalanya yang rata, menatap lurus ke arah Elio dan Ash dengan menggandakan yang sangat Mencekam.
"Kau... Kau mungkin memiliki kekuatan yang lebih dari kita..." bisik makhluk itu dengan suara serak yang menggemuruh menakutkan, "Tapi kau tidak akan bisa melawan takdir mu! Kau akan menderita dengan kebenaran yang akan terungkap di masa depan!"
WOOSH!
Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, tubuh sosok hitam tersebut meledak menjadi debu kabut tipis dan hilang sepenuhnya dari lorong sekolah, meninggalkan kenyamanan yang dingin dan menusuk tulang.
Abu melemparkan napas gaibnya pelan, pendaran cahaya abu-abu di tubuhnya perlahan-lahan meredup kembali normal. Hantu tampan itu di balik badan menatap Elio, raut mukanya agak tegang. “Lo gak apa-apa kan, Manusia Berisik?”
Tapi Elio gak langsung menjawab. Cowok itu mematung di tempatnya berdiri, matanya memelotot menatap tempat di mana makhluk tadi menghilang. Kalimat terakhir makhluk itu berputar-putar hebat di dalam kepalanya, memicu rasa merinding yang berbeda dari biasanya.
Gak bisa melawan takdir? Menderita gara-gara kebenaran yang bakal terungkap nanti...? Maksudnya apa?! Kebenaran apa yang bisa bikin gue atau Ash menderita?!
"El?" panggil Ash dia gara-gara Elio cuma diam.
Sebelum Elio sempat mencerna teka-teki itu lebih jauh atau menjawab pertanyaan Ash, tiba-tiba jemari tangan Ayu terulur. Ayu menggenggam pergelangan tangan Elio dengan erat!
Genggaman tangan Ayu terasa dingin dan sedikit gemetaran. Ayu menatap Elio dengan mata beningnya yang memancarkan raut serius yang gak bisa dibantah.
"Ikut gue," bisik Ayu pelan.
Tanpa menunggu persetujuan Elio, Ayu langsung menarik tangan Elio, menyeret pria itu berjalan cepat melewati lorong sekolah. Ash yang heran hanya bisa melayang cepat menguntit mereka dari belakang.
Ayu membawa Elio menuju ke area belakang gedung laboratorium IPA tua yang sudah gak terpakai—sebuah sudut sekolah yang sangat sepi, tertutup rimbunnya pohon kamboja tua, di mana gak bakal ada murid atau guru lain yang lewat.
Ayu melepas cengkeraman tangan di pergelangan tangan Elio, lalu balik badan berdiri menghadap cuma bertiga—Elio, Ayu, dan sosok gaib Ash yang melayang di antara mereka berdua—menyisakan keheningan tegang yang menggantung di udara.