Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Buka Mulutmu
Mbok Yem pun akhirnya terpaksa menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu saat Janitra pulang dari mengurus koas di Satya Medika.
Kresna tentu mengingat hari itu karena Janitra pulang bersamanya. Lebih tepatnya dipaksa pulang karena Kresna cemburu melihat Janitra duduk di cafe dengan Dewa.
"Setelah Gusti Kresna kembali ke kantor, Gusti Janitra pergi ke pendopo kecil dekat kolam teratai. Beliau meminta sebuah baskom yang berisi air panas. Saya sudah bertanya untuk apa, tapi Gusti Janitra tak menjawabnya. Ia hanya menyuruh kami segera menyiapkannya," ungkap Mbok Yem menjeda sejenak kalimatnya.
"Setelah siap, tanpa kami duga Gusti Janitra memasukkan telapak tangan kanannya ke dalam baskom tersebut. Kami coba menarik tangannya, tapi beliau melarangnya. Maafkan kami, Gusti." Sambungnya.
Kresna mengepalkan telapak tangannya. Rahangnya mengeras seketika usai mendengar penjelasan Mbok Yem.
"Setelah itu apa yang dia lakukan?"
"Gusti Janitra hanya diam menatap kolam teratai dan saya melihat air matanya menetes. Beliau menangis tanpa suara. Saya coba bertanya, kenapa Gusti Janitra melakukan hal seperti itu hingga membuat telapak tangannya terluka?"
"Lantas, dia menjawab apa Mbok?" sela Kresna didera rasa tak sabaran dan penasaran.
"Katanya, Gusti Janitra sedang menghukum telapak tangan kanannya yang sudah berbuat dosa."
"Dosa apa?" tanya Kresna didera penasaran.
"Karena telapak tangan kanannya baru saja menampar wajah dari pria yang seharusnya dia hormati. Untuk menebusnya maka Gusti Janitra melakukan hal itu," jawab Mboh Yem.
Kresna sontak terkejut mendengarnya.
Detik selanjutnya, ia memejamkan kedua matanya sejenak.
Kresna akhirnya mengerti bahwa sosok pria yang dimaksud oleh Janitra adalah dirinya. Sebab, hari itu Janitra baru saja menampar dirinya di dalam mobil sebelum masuk ke Kasepuhan.
Kini Kresna menyadari bahwa ia juga bersalah pada Janitra. Istri mana yang tak marah jika mendapatkan ucapan kasar dari bibir suaminya yang menuduhnya 'wanita penggoda atau murahan'.
"Saya juga menduga puasa yang dilakukan Gusti Janitra berakar pada hal yang sama. Seperti sebuah penebusan atas kesalahan yang terjadi. Hanya saja saya kurang tau detail masalahnya. Maaf, Gusti." Ucap Mbok Yem.
"Makasih, Mbok. Pergilah,"
"Baik, Gusti."
☘️☘️
Sepeninggal Mbok Yem, Kresna terdiam dan banyak merenung.
Beberapa saat kemudian, Kresna memutuskan bangkit dari tempat duduknya. Lalu, ia keluar ruangan dan berjalan menuju kamar Janitra.
Sebelumnya, Kresna sudah meminta kunci duplikat kamar Janitra pada Mbok Yem. Tanpa mengetuk pintu, Kresna memutuskan langsung membuka pintu kamar istrinya itu.
Ceklek...
Derit pintu terbuka. Janitra yang dalam posisi tidur-tiduran di atas ranjangnya sontak terkejut melihat Kresna masuk ke kamarnya.
"Gus_ti," sapa Janitra sedikit terbata.
Janitra pun bangun. Lalu, Janitra terlihat memaksakan dirinya sendiri untuk turun dari ranjangnya. Padahal tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Kresna segera mencegahnya.
"Siapa yang menyuruhmu bangun? Tetap di situ!" titah Kresna.
Janitra yang sedang tak ingin berdebat dengan Kresna, akhirnya memilih kembali berada di atas ranjang dengan posisi duduk. Punggung Janitra bersandar pada papan ranjang dan bantal.
"Ada apa malam-malam begini Gusti ke kamar saya?" tanya Janitra lirih.
"Apa sebagai suami, aku tak boleh masuk ke kamar istriku?" balas Kresna.
"Maaf, Gusti. Bukan maksud saya seperti itu,"
Kresna melihat dengan jelas makanan dan minuman masih utuh di atas meja yang berada di sudut kamar Janitra. Artinya, istrinya itu belum menyentuh makan malamnya sama sekali.
Perlahan langkah kaki Kresna mendekat ke ranjang di mana Janitra berada.
Tanpa basa-basi, Kresna menarik telapak tangan kanannya yang berada di bawah selimut.
Srettt...
"Auchhh," jerit Janitra refleks karena Kresna menyentuh bagian yang sakit.
Janitra sontak tersadar. Lalu, ia berusaha dengan cepat menarik tangannya kembali. Namun, Kresna menahannya. Kekuatan Janitra pastinya kalah. Terlebih saat ini dirinya sedang lemah.
"Kenapa tanganmu sampai terluka seperti ini?" tanya Kresna.
"Hanya luka ringan. Gusti tidak perlu khawatir," jawab Janitra dengan nada suara yang terdengar menenangkan Kresna.
"Bagaimana bisa terjadi begini? Apa ada abdi dalem yang teledor sampai tanganmu seperti ini?"
"Bukan salah abdi dalem, Gusti. Saya yang tak sengaja ketumpahan air panas saat meracik teh. Semua salah saya. Gusti jangan pernah menyalahkan abdi dalam atau siapapun," jawab Janitra terpaksa berbohong.
"Termasuk menyalahkan diriku?" sahut Kresna.
Perlahan Janitra mengangkat pandangannya dan menatap wajah Kresna. Terlihat jelas wajah suaminya itu malam ini sedang tidak menyimpan amarah padanya. Justru tampak seperti raut wajah penyesalan dan merasa bersalah.
"Siapa yang mengizinkanmu melakukan hal bodoh itu?" desak Kresna.
"Gusti," gumam Janitra.
Kresna hanya mampu diam sembari menatap Janitra. Hatinya ingin mengatakan bahwa ia minta maaf. Bahkan Kresna ingin mengatakan bahwa ia mencintai Janitra. Akan tetapi, bibirnya justru bungkam seakan masih terkunci rapat.
"Apa dia sudah tau penyebab sebenarnya luka tanganku?" batin Janitra.
"Jangan pernah melakukannya lagi atau kamu tidak akan bisa koas di rumah sakit mana pun!" ancam Kresna.
Sebelum Janitra bersuara untuk protes, Kresna berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Tampak seorang dokter perempuan sudah berdiri di depan pintu kamar Janitra.
"Periksa dia!" titah Kresna.
"Baik, Gusti."
Janitra ingin menolak, tapi akhirnya ia memilih patuh.
Setelah dokter perempuan tersebut memeriksa luka Janitra, ia memberikan salep untuk luka di tangan dan vitamin untuk diminum. Dokter tersebut juga berusaha meyakinkan Kresna bahwa kondisi Janitra sedang lemah sehingga kurang baik untuk berpuasa.
Kini di dalam kamar, hanya tersisa sepasang suami-istri yang masih berjarak.
"Kamu dengar sendiri kan kata dokter tadi. Kalau sampai kamu masih nekat puasa, satu per satu abdi dalem yang menjagamu di sini akan aku hukum!" ancam Kresna.
Kresna belum mampu membuka bibirnya tentang cintanya untuk Janitra. Terpaku masa lalu, rasa gengsinya dan tidak percaya diri hingga membuat Kresna menggunakan cara berbeda untuk menyampaikan wujud cintanya tersebut.
Kresna tau jika Janitra tak akan tega melihat orang lain dihukum dengan cara pelimpahan seperti ini. Janitra berbuat, tetapi abdi dalemnya yang dihukum.
Ya, Kresna terpaksa melakukan hal ini. Ia tak ingin Janitra melukai dirinya sendiri.
"Sekarang, kamu makan. Setelah itu minum obatnya," titah Kresna seraya tangannya sudah mengambil piring makanan Janitra dari atas meja.
"Buka mulutmu. Aaa..." sambungnya.
"Saya bisa makan sendiri, Gusti." Janitra terlihat menolaknya.
"Aku ingin menyuapimu. Tanganmu terluka, jadi biar aku yang melakukannya." Balas Kresna yang tak menyerah.
"Tangan saya tidak terlalu sakit kalau hanya untuk mengambil makan," tolak Janitra secara halus.
"Kalau kamu tidak mau aku suapi pakai tanganku, berarti ingin pakai mulutku. Tinggal kamu pilih yang mana," ucap Kresna dengan nada riuh santai, tapi tetap kekeh.
Pupil mata Janitra seketika melebar usai mendengar ucapan Kresna yang sungguh di luar prediksinya.
Menyuapi dari mulut ?
Bukankah artinya mereka berdua harus saling berciuman.
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra