NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 27

BAB 27

Rian masih dengan ponselnya, mendengarkan laporan singkat di seberang telepon dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat dingin. Setelah menutup panggilan, ia menatap Maya dengan pandangan serius.

"Tim keamanan Kakak baru saja mendeteksi bahwa peretas yang disewa Victor sedang bergerak menuju kawasan industri utara," ujar Rian tegas. "Mereka mencoba merekayasa bukti digital untuk menyudutkan tempat kerja Rendra sebelum tim verifikasi resmi panitia tiba."

Maya berdiri seketika, rasa hangat dari teh chamomile di tubuhnya menguap digantikan oleh pacuan adrenalin. Tanpa membuang waktu lebih lama setelah menyegarkan diri, Maya kembali mengendarai mobilnya membelah kemacetan menuju kawasan industri tua di utara kota.

"Pergilah istirahat. Mandi air hangat biar segar. Besok aku akan pastikan tim hukum perusahaan mengawal proses verifikasi Dito dari belakang tanpa mencampuri keaslian karyamu. Kamu fokus saja menyelesaikan gaunmu." Kata Rian menenangkan Maya.

"Terima kasih, Kak... Terima kasih, Ma," bisik Maya tulus. Dukungan hangat dari

keluarganya malam itu seperti mengisi ulang seluruh bahan bakar jiwa Maya yang sempat meredup. Tanpa membuang waktu lebih lama setelah menyegarkan diri, Maya kembali mengendarai mobilnya membelah kemacetan sore menuju kawasan industri tua di utara kota.

Matahari mulai tenggelam di balik cerobong-cerobong pabrik tua ketika mobil Maya kembali berhenti di depan gudang beratap seng gelombang. Pintu besi geser Pencagai terkulai sedikit terbuka, memancarkan pendar oranye keemasan dari dalam ruangan yang tembus ke tanah kering di luar.

Maya melangkah masuk, membawa bungkusan kuningan dan tas peralatannya. Di dalam bengkel, Rendra tidak sedang menempa. Pria itu berdiri di dekat tungku pembakaran yang arangnya masih menyala hangat. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celemek kulit tebal yang menutupi bagian depan tubuhnya, memperlihatkan gurat-gurat otot punggung dan bahunya yang tegang, basah oleh keringat dan bercak jelaga. Ia sedang mengasah mata [pahat] di atas batu asah dengan gerakan maju-mundur yang berirama konstan.

SREK... SREK... SREK...

Suara asahan batu itu mendadak terhenti saat Rendra mendengar langkah kaki Maya. Tanpa berbalik, Rendra bersuara berat, "Tepat waktu. Tiga jam sepuluh menit."

Maya menghentikan langkahnya sejenak, membiarkan matanya menyapu postur tubuh Rendra yang tangguh di balik remang cahaya tungku. "Kamu sudah lihat berita televisi hari ini?" kata Maya, melangkah mendekati meja kerja kayu.

Rendra mengambil kain lap, mengeringkan bilah pahatnya, lalu memutar tubuh menghadapi Maya. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Maya. "Belum. Memangnya berita apa?"

Maya menarik napas dalam-dalam. Secara singkat, ia menceritakan tentang pertemuannya yang tidak disengaja dengan REN di Galeri Kebudayaan, lalu tuduhan manipulasi data dengan cara licik menyebar foto pertemuannya yang dibubuhi narasi fitnah. Juga tentang tuduhan plagiat dari Clarissa atas kerangka logam yang sedang mereka tempa serta peringatan Rian kakaknya mengenai serangan peretas yang mengincar bukti digital mereka.

Rendra mendengarkan tanpa memotong sekata pun. Ekspresi wajahnya tetap tenang bagaikan permukaan danau purba, meski ada pendar dingin yang mendadak menyala tajam di kedalaman matanya saat nama Victor dan Clarissa diucapkan.

"Jadi," ujar Rendra lambat seraya melempar kain lapnya ke meja. "Victor memakai media untuk menekan dewan juri, sementara Clarissa mencoba mengunci legalitas karya kita dengan tuduhan hak paten."

"Iya!" tegas Maya, melangkah satu tapak menuntut tindakan. "Kita harus bertindak cepat, Rendra! Aku sudah menyusun draf rilis pers bersama Dito. Kita harus menggelar konferensi pers darurat esok pagi. Kita tampilkan seluruh riset awal saya, dan kamu... kamu harus membawa seluruh cetakan dokumen paten lama atau stempel Pencagai untuk membuktikan bahwa motif tempaanmu ini murni karya orisinalmu!"

Rendra menyilang tangannya di dada, tatapannya menghujam Maya dengan skeptisisme dingin. "Konferensi pers? Kau mau membawa isu ini ke ranah debat publik?"

"Tentu saja!" balas Maya cepat, matanya menatap Rendra intens. "Di mana lagi kita bisa membersihkan nama kita kalau bukan di hadapan media? Jika kita diam, publik akan menganggap tuduhan mereka benar!"

"Itu jebakan, Maya," potong Rendra datar, suaranya tenang namun memiliki bobot dominasi yang tak terbantahkan. "Kau sedang terpancing masuk ke arena permainan Victor. Media itu milik jaringan bisnisnya. Kau melayangkan rilis pers, mereka akan memotong kalimatmu, memutarbalikkan [konteksnya], dan membuatmu terlihat seperti kontestan panik yang sedang membela diri."

"Lalu kita harus diam saja?!" suara Maya naik satu nada, dadanya naik-turun menahan frustrasi. "Nama baik studioku dipertaruhkan, Rendra! Lisensi kita terancam dibekukan sebelum verifikasi fisik!"

"Dokumen di atas kertas tidak akan pernah membungkam serigala industri seperti Victor," tukas Rendra tajam, memotong argumentasi Maya dengan telak. Ia melangkah mendekati meja kerja, mengetuk permukaan pelat kuningan setengah jadi di atas kanvas dengan ujung jarinya yang kapalan.

THUK! THUK!

"Dengar baik-baik, Maya," lanjut Rendra, suaranya merendah namun amat mengintimidasi. "Gugat-menggugat di ranah publik hanya akan menghabiskan energi dan waktu kita. Kita punya sisa waktu kurang dari tiga puluh enam jam. Kau mau menghabiskan waktu itu untuk berdiri di depan kamera membawakan kertas sanggahan, atau menyelesaikan gaun ini sampai tak ada satu pun juri yang sanggup membantah kehebatannya?"

Maya mengepalkan tangannya di samping gaunnya, matanya menatap Rendra penuh perlawanan. "Tapi bagaimana dengan tim verifikasi panitia? Mereka akan datang ke sini membawa klausul pembekuan!"

"Biarkan mereka datang," sahut Rendra tanpa keraguan sedikit pun. "Taktik Victor sederhana: buat kita panik, alihkan fokus kita dari bengkel ke meja hukum, lalu biarkan karya kita terbengkalai. Strategi perlawanan kita bukan menggelar jumpa pers, melainkan menyerang balik di meja pembuktian fisik."

Maya mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna arah pikiran pria di depannya. "Maksudmu?"

"Jangan keluarkan dokumen patenmu ke media," papar Rendra penuh perhitungan. "Simpan seluruh sketsa awal dan catatan tempaan Pencagai hingga sesi verifikasi tertutup esok sore. Saat tim investigasi panitia datang bersama tim hukum Arum House, baru kita keluarkan dokumen paten, dan menantang mereka untuk [melakukan] demo perakitan fisik secara langsung."

Rendra melangkah rapat ke arah Maya, menatapnya lurus-lurus. "Logam tempaan tangan tidak bisa dipalsukan oleh mesin produksi massal Arum House. Setiap goresan pahat di kuningan ini memiliki [signature] mikroskopis yang hanya bisa dihasilkan oleh teknik tempa Pencagai. Saat Clarissa menyodorkan paten gaunnya yang diproduksi pabrik, kita tunjukkan bahwa garis struktur logam milik kita menyatu secara organis dengan serat sutramu melalui teknik sambungan tersembunyi."

Maya membeku. Efek perkataan Rendra menghantam kesadarannya bagai benturan ombak. Strategi Rendra bukan sekadar membela diri, melainkan membiarkan musuh merasa menang di atas angin melalui berita media, lalu mematahkan leher tuduhan itu secara telak di depan tim kurator resmi saat verifikasi fisik.

"Kau mau membiarkan mereka merasa menang di media malam ini?" bisik Maya, getaran kagum mulai merayap menggantikan rasa frustrasinya.

"Biarkan serigala itu menggerung di televisi," bibir Rendra membentuk senyum tipis yang tajam. "Begitu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kuningan ini mengunci serat sutramu tanpa satu pun jahitan mesin yang cacat, seluruh tuduhan plagiarisme itu akan berbalik menghancurkan Arum House."

Maya menarik napas panjang, merilis seluruh ketegangan di pundaknya, lalu mengangguk lambat. "Baik. Kita ikuti rencanamu, Rendra. Kita kunci mulut mereka di panggung verifikasi."

Rendra mengangguk puas, lalu berbalik menyalakan kembali blower tungku tempa. Pendar api merah membara membumbung tinggi, memantulkan bayangan dua sosok manusia yang siap menempa takdir mereka.

Rendra mengangguk puas, lalu berbalik menyalakan kembali blower tungku tempa. Pendar api merah membara membumbung tinggi, memantulkan bayangan dua sosok manusia yang siap menempa takdir mereka.

Suara deru angin dari blower bersahut-sahut dengan dentang palu pertama Rendra yang menghantam pelat kuningan membara. Percikan api terbang ke udara, menandai dimulainya malam perakitan yang intensif dan tanpa istirahat. Maya mengambil jarum serta benang sutranya, memposisikan kain organza tepat di samping landasan besi Rendra. Di tengah dentang besi dan keheningan malam industri utara, keduanya bekerja dalam konsentrasi tingkat tinggi—menyatukan dua material yang berbeda karakter menjadi satu kesatuan karya yang sempurna.

Namun, tepat saat fajar menyingsing dan potongan kuningan terakhir berhasil dikunci presisi di balik lipatan sutra, layar ponsel Maya berdering nyaring. Sebuah pesan elektronik berlogo resmi dewan kurator pusat terpampang terang: undangan terbuka untuk sidang uji petik material dan verifikasi lisensi darurat di Ruang Pengujian Kriya Utama Gedung Pusat Kurasi Mode, dimulai pukul sepuluh pagi ini—dengan kehadiran wajib pihak Arum House dan Studio Nilakandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!