JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyanyian Iblis yang Mematikan
# Nyanyian Iblis yang Mematikan #
Darah di tubuhku terasa membeku kaku saat tatapan mata keemasan Pangeran Nataniel mengunci keberadaanku di atas balkon istana. Di bawah sana, di pelataran utama yang terhampar luas, tumpukan harta karun berdarah dan potongan tengkorak para Siren liar yang dipenggal kemarin menggunung bagaikan bukit kepingan maut. Bau amis darah hitam yang mengering membubung naik, menusuk indra penciumanku hingga perutku mual tak tertahankan.
Rasa duka, keprihatinan, dan kepedihan mendalam bergejolak hebat di dalam dadaku. Melihat tulang-belulang serta barang-barang jarahan dari mereka yang tewas dibantai begitu kejam membuat jiwaku menjerit horor. Betapa biadabnya dunia bawah laut ini, di mana nyawa begitu murah dan kematian dipamerkan sebagai piala kemegahan.
Namun, ingatan akan pelajaran menyakitkan dari Dainan di masa lalu seketika mengambil alih seluruh kontrol kesadaranku.
("Tahan, Alessia... tahan!") bisik batinku penuh peringatan keras seraya meremas jemari tanganku di balik badan. ("Pria berkuasa seperti Nataniel sedang mengujimu. Kalau kau menunjukkan rasa mual, ketakutan, atau belas kasihan pada bangkai musuhnya, dia akan menganggapmu lemah dan tak berguna. Beri dia apa yang paling diinginkan egonya!")
Aku membuang jauh-jauh rasa mual yang mengocok perutku. Menyulap raut wajahku dalam hitungan detik, mengganti rasa horor itu dengan binar mata cokelat yang dipenuhi ketakjuban, rasa kagum, dan pemujaan palsu yang teramat sempurna. Aku melangkah maju dua langkah mendekati sisi tegap Nataniel, lalu menyatukan kedua tanganku di depan dada dengan napas yang disengajakan berhembus sedikit tertahan.
"Luar biasa..." bisikku dengan intonasi suara yang meliuk lembut dan terpesona. " Ini... ini adalah pemandangan paling megah yang pernah hamba saksikan seumur hidup hamba Paduka yang Maha Agung!"
Nataniel menaikkan sebelah alis tebalnya. Ia sedikit memiringkan tubuh tegapnya, memperhatikan setiap sudut ekspresi wajahku dengan pandangan penuh selidik.
"Kau tidak merasa mual atau ketakutan melihat tumpukan tulang-belulang dan darah bangsa yang kubantai ini, Serangga?" tanya Nataniel dingin dengan suara beratnya yang mengintimidasi. Aku menyunggingkan senyuman paling manis, menatap lurus ke dalam iris matanya yang menyala tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Mengapa hamba harus takut pada bukti keperkasaan Tuan hamba sendiri?" balasku cepat, mengalirkan intonasi pemujaan yang melumpuhkan ego pria. "Tumpukan harta dan tengkorak ini bukanlah simbol kekejaman Paduka... melainkan bukti kehebatan berburu dan mahkota kemenangan mutlak bagi Sang Penguasa Samudra sejati! Serangga-serangga liar itu memang pantas dihancurkan dan hartanya dijadikan piala di bawah telapak kaki Paduka!"
Nataniel membisu sejenak. Sudut bibirnya yang tajam perlahan terangkat, membentuk senyuman angkuh yang teramat puas. Kata-kataku berhasil memberi makan egonya yang haus akan pengakuan mutlak. Nataniel kembali memalingkan pandangannya ke arah tumpukan harta di bawah sana, membiarkan angin laut mengibaskan jubah peraknya yang megah.
"Kau memiliki mata yang cukup jernih untuk ukuran manusia kerdil," ujar Nataniel dengan nada bicara yang sedikit mereda dari ketegangan awal. "Kebanyakan manusia dungu dari daratan berpikir bahwa seluruh klan Siren di samudra ini sama. Mereka mengira kami semua hanyalah makhluk pemikat yang duduk di atas batu karang, bernyanyi merdu untuk menenggelamkan kapal-kapal pedagang."
Aku menyimak kata-katanya dengan cermat, memasang raut wajah penuh rasa ingin tahu yang polos. "Apakah kenyataannya tidak seperti itu, Paduka?"
Nataniel terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang sarat akan pengalaman bertempur selama puluhan dekade.
"Tentu saja tidak," jelas Nataniel seraya menyilangkan kedua tangannya yang kekar di depan dada. "Sama seperti kasta dalam kerajaan manusia, klan Siren memiliki kedudukan, garis keturunan, dan pekerjaan masing-masing yang sangat spesifik. Tidak semua Siren memiliki suara indah yang mampu menghipnotis kesadaran. Itu adalah bakat langka yang hanya dimiliki oleh kasta bangsawan murni dan para pemikat khusus."
Nataniel melirik ke arah para prajurit bersisik perak dan kelabu yang sedang mengangkut tumpukan harta di pelataran utama.
"Setiap kali aku memimpin pasukan untuk berburu kapal manusia atau menaklukkan wilayah baru, aku harus membawa dua jenis bawahan yang berbeda," lanjut sang Pangeran dengan tenang. "Jenis pertama adalah para pemikat bersuara indah. Tugas mereka adalah melantunkan mantra suara untuk merusak pikiran musuh, membingungkan navigasi kapal, dan membuat manusia melompat sendiri ke dalam laut tanpa perlawanan. Jenis kedua adalah para prajurit pemburu bertubuh kekar, mereka yang menggunakan tombak dan kekuatan fisik untuk mencabik-cabik barisan musuh yang sudah linglung."
Aku manggut-manggut berpura-pura paham. "Lalu bagaimana dengan bagian eksekusi, Paduka?"
"Bagian eksekusi berada di hirarki terpisah," jawab Nataniel singkat. "Mereka adalah jagal-jagal dingin yang bertugas menghabisi tawanan dan menguliti hasil buruan di kubangan. Setiap bagian memiliki perannya masing-masing untuk menjaga keberlangsungan Istana Teluk Bayangan." Nataniel melangkah satu tapak lebih dekat ke arahku. Tingginya yang menjulang membuat bayangan tubuh tegapnya menutupi seluruh tubuh mungilku dari sengatan cahaya kristal.
"Dan kau... manusia kerdil..." bisik Nataniel rendah, menundukkan kepalanya hingga jarak wajah kami hanya terpaut beberapa senti. "Kau pasti penasaran seperti apa bentuk suara magis yang sanggup melumpuhkan kesadaran ribuan manusia dalam satu hembusan napas?"
Jantungku berdegup kencang secara mendadak. Ada bahaya terselubung dari cara pria ini menatapku. "Paduka... hamba..."
Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku atau melangkah mundur untuk menyelamatkan diri, Nataniel telah memejamkan kedua matanya. Rahang tegasnya terangkat sedikit, dan bibirnya yang menawan perlahan terbuka. Dari dalam tenggorokan sang Pangeran Siren, sebuah nada melodi misterius mulai mengalun keluar.
*Aaa... aaa...*
Suara itu tidak nyaring, tidak juga keras. Melodi itu bergetar dalam gelombang frekuensi yang teramat halus, namun langsung merambat menembus air laut, merayap masuk ke dalam daun telingaku, dan membakar seluruh jaringan saraf di otakku!
Suara nyanyian Nataniel begitu indah, merdu, megah, dan teramat membuai. Nada-nadanya bagaikan jutaan benang sutra halus yang membelit jiwaku, menyebarkan sensasi hangat yang luar biasa nikmat di seluruh pembuluh darahku. Rasa dingin samudra mendadak lenyap, berganti dengan kehangatan ajaib yang melumpuhkan seluruh logika, daya pikir, dan insting kewaspadaanku.
*BZZZZ...*
Kesadaranku mendadak kabur. Kesadaran ku yang cerdik, cermat, dan penuh kalkulasi manipulasi seketika terhapus dari otak. Logikaku lumpuh total. Aku tidak bisa lagi mengontrol tubuh dan gerakan tubuh ku sendiri. Pandanganku yang semula jernih kini tertutup oleh bayangan keemasan yang teramat indah dan menenangkan.
Di dalam pikiranku yang terhipnotis total, tidak ada lagi rasa takut pada Nataniel. Tidak ada lagi kenangan pahit tentang Dainan. Tidak ada lagi duka atas tumpukan bangkai musuh di bawah sana. Yang ada di dalam dunia otakku saat ini hanyalah sosok Pangeran Nataniel pria paling sempurna, paling agung, dan paling mendesak untuk kudekati.
Dengan langkah kaki yang oleng dan tanpa rasa takut sedikit pun, tubuh mungilku bergerak sendiri maju mendekati sang Pangeran.
Nataniel yang masih melantunkan nyanyian magisnya mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi koral pendek di tepi balkon. Nyanyiannya terus mengalun lembut, memanggil jiwaku untuk menyerahkan seluruh kendali raga padanya.
Tanpa henti, aku melangkah makin dekat. Tangan mungilku terangkat sendiri secara spontan. Dengan gerakan yang teramat berani dan tanpa ragu, aku memanjat pelan dan memosisikan tubuhku untuk duduk langsung di atas pangkuan Nataniel!
Nataniel tidak menghentikan nyanyiannya, namun mata keemasannya terbuka sedikit, menatap penuh keterkejutan saat melihat babu manusianya yang biasanya penuh perhitungan ini kini bertekuk lutut sepenuhnya di bawah pengaruh suara magisnya.
Di atas pangkuan tegap sang Pangeran, tubuhku merapat sempurna ke dadanya yang telanjang dan hangat. Tangan mungilku yang halus dan jemariku yang gemetar penuh hasrat terangkat, membelai lembut kulit dada bidang Nataniel yang kokoh, mengusap bekas luka sabetan yang baru saja kusembuhkan tadi malam.
Napas ku berhembus memburu dan memanas dicerukan leher Nataniel. Wajah mungilku mendongak menatap wajah tampannya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa mendamba yang teramat sangat. Jiwaku yang terbius merindukan sentuhan, pelukan, dan kehangatan dari pria bertubuh tegap di hadapanku ini. Aku sama sekali tidak sadar betapa intim dan beraninya posisi tubuhku saat ini!
Nyanyian magis Nataniel terus mengalun selama beberapa detik, menikmati pemandangan bagaimana manusia cerdik ini telah berlutut pasrah di dalam pangkuannya tanpa sisa pertahanan.
Hingga akhirnya... Nataniel menghentikan nyanyiannya secara mendadak.
*Hening.*
Gelombang suara magis yang melilit otakku seketika terputus dalam hitungan detik. Keheningan dingin Istana Teluk Bayangan mendadak menyengat kesadaranku bagaikan siraman air es yang membekukan darah!
*BOM!*
Kesadaran dan logika otaku yang sempat terbius seketika meledak kembali dengan kecepatan kilat. Kesadaran ku meretas masuk kembali ke dalam saraf-saraf kepalaku. Kabut keemasan yang menutupi pandanganku terhempas sirna tanpa sisa!
Saat mataku kembali fokus dan jernih, pemandangan pertama yang kutangkap adalah wajah tampan Pangeran Nataniel yang berada hanya sejarak satu senti dari hidungku! Mata keemasannya menatapku dari dekat dengan senyuman miring yang teramat mengejek dan penuh kemenangan.
Dan saat aku menyadari posisi tubuhku sendiri...
Aku terkejut setengah mati!
Jantungku rasanya mau meledak keluar dari rongga dadaku! Aku mendapati diriku sedang duduk manis di atas pangkuan paha tegap Nataniel, dengan kedua kakiku melingkar di samping tubuhnya, dan kedua tangan mungilku sedang meremas mesra serta membelai dada bidang sang Pangeran yang telanjang!
"Ya Tuhan, mati aku!" jerit batinku histeris dengan wajah yang seketika pucat pasi bagaikan mayat!
⭐⭐⭐⭐⭐
Ooo... ALESSIA!! 😂 Akibat nyanyian sihir Nataniel yang super merdu, kesadarannya hilang total sampai berani duduk di pangkuan sang pangeran sambil elus-elus dadanya! (btw author & kiravers juga pada mau tuh!🤭) Begitu nyanyiannya berhenti, Alessia langsung shock setengah mati melihat keadaannya sendiri! 🤣🔥
Gimana cara Alessia ngeles dan menyelamatkan harga dirinya di depan Nataniel yang lagi tersenyum culas setelah kejadian memalukan ini?
Jangan lupa klik **LIKE**, tinggalkan **KOMENTAR** heboh kalian, dan **VOTE** cerita ini ya! Sampai jumpa di Bab 16! ✨