-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
🍂🍂🍂🍂🍂
Matahari sore meredup anggun di ufuk barat, membiaskan lembayung jingga yang keemasan di atas atap-atap rumah joglo Desa Lemah Wungu. Angin sore perbukitan bertiup sepoi-sepoi, membawa kesegaran usai seharian disengat terik. Bagas melangkah menyusuri jalan setapak pelataran rumahnya dengan langkah agak lambat. Tubuh tegapnya terasa amat lelah, pundaknya tegang pasca-merampungkan tumpukan dokumen reformasi tanah dan mencatat ribuan nama buruh tani di balai desa.
Namun, rasa lelah yang menghimpit dada Bagas mendadak sirna begitu pandangannya menatap ke arah depan pintu utama rumah joglo.
Di sana, Candra Kirana sudah berdiri menunggu kepulangannya. Wanita jelita itu tampak begitu bersahaja namun memikat dalam balutan kebaya katun halus berwarna merah muda lembut yang memeluk langsing tubuhnya, dipadu kain jarik bermotif sidomukti. Rambut hitam tebalnya disanggul sederhana di tengkuk tanpa hiasan atau perhiasan apa pun, membiarkan leher mulusnya terpapar indah. Senyuman manis nan tulus mengembang dari bibir meronahnya.
"Selamat datang, Mas Bagas..." sapa Kirana dengan suara halus mendayu-dayu.
Kirana melangkah mendekat, berlutut anggun untuk melepas selop kayu di kaki suaminya. Ia memegang jemari tegap Bagas, membimbing pria itu duduk di kursi ukir selasar. Tanpa menunggu diminta, Kirana membawa baskom kayu berisi air hangat dan kompresan rempah, lalu dengan telaten mengusap wajah serta leher Bagas yang berkeringat.
"Pasti Mas lelah sekali hari ini..." bisik Kirana seraya menyodorkan cangkir tanah liat berisi wedang jahe hangat dan piring bambu berisi kue apem kukus yang masih mengepulkan asap. "Ini Kirana buatkan wedang jahe dan apem hangat sendiri di dapur tadi."
Bagas menyesap wedang jahe itu, mengunyah apem yang manis nan lembut, lalu memandangi istrinya dengan binar memuja. "Terimakasih, Kirana... Melihat senyummu dan menikmati sambutanmu seperti ini saja, seluruh lelah di badanku rasanya mendadak lenyap."
Kirana tersenyum malu-malu.
**
Saat malam merambat turun, lampu-lampu minyak di selasar dan meja makan utama dinyalakan. Aroma wangi masakan gurih memenuhi ruangan saat keluarga kecil itu berkumpul untuk makan malam bersama. Di atas meja jati, tersaji sayur lodeh, tempe bacem, dan ikan goreng renyah hasil masakan Kirana.
Kirana berdiri penuh kepatuhan di samping kursi Bagas. Dengan jemari halusnya, ia mengambilkan piring, menakar nasi hangat, lalu menanyakan lauk pauk pilihan suaminya satu per satu.
"Mas Bagas mau sayur lodehnya agak banyak? Ini tempe bacemnya Kirana pilihkan yang paling empuk..." tutur Kirana lembut, menaruh lauk pauk tersebut dengan penuh kerapian di piring Bagas sebelum menyerahkannya.
Mbok Sumi yang duduk di seberang meja memandangi pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Air mata haru menggenang di pipinya yang bergaris penuaan. Wanita tua itu menaruh sendoknya pelan, mengusap dadanya yang diliputi rasa syukur tiada tara.
. "Melihat Bagas dihormati seluruh desa... dan melihat Kirana begitu telaten, santun, dan sangat memanjakan suaminya seperti ini... rasanya hidup Ibu sudah sempurna seutuhnya, Le, Nduk..."
Bagas dan Kirana menoleh, menatap Mbok Sumi dengan penuh perhatian.
"Ibu..." panggil Bagas pelan.
Mbok Sumi tersenyum sangat pasrah dan tenang, menatap kedua anaknya bergantian. "Ibu ini sudah tua... Kalaupun malam ini atau esok hari mau mencabut nyawa dan menjemput Ibu... Ibu sudah ikhlas dan akan memejamkan mata dengan sangat bahagia..."
Kata-kata Mbok Sumi seketika membuat dada Bagas dan Kirana berdesir hebat.
"Ibu! Jangan bicara seperti itu!" potong Bagas cepat dengan raut wajah cemas. "Ibu tidak boleh bicara soal dijemput maut. Bagas dan Kirana masih ingin merawat Ibu sampai tua. Ibu harus sehat untuk melihat cucu-cucu Ibu berlari-lari di rumah joglo ini!"
Kirana berpindah duduk di samping Mbok Sumi, merangkul bahu ibu mertuanya seraya memegang jemarinya erat-erat. "Nggih, Ibu... Tolong jangan katakan hal sedih itu lagi. Kirana baru saja menikmati momen melayani Ibu dan Mas Bagas. Kirana mohon, Ibu panjang umur dan selalu mendampingi kami."
Mbok Sumi terkekeh pelan, mengusap air matanya lalu mengangguk hangat. "Iya, iya, Nduk, Le... Ibu cuma terharu. Terimakasih ya, Kirana... kamu betul-betul menantu idaman."
**
Usai makan malam dan merapikan dapur, keheningan malam mulai menyelimuti rumah joglo. Pintu kamar utama telah terkunci rapat dari dalam. Temaram lampu minyak kelapa membiaskan cahaya keemasan yang hangat dan romantis di atas peraduan kayu jati. Wangi ronce melati dan minyak cendana merayap lembut di udara.
Bagas terbaring telentang di atas tempat tidur tanpa mengenakan baju, hanya berbalut kain sarung tebal. Pegal di punggung dan kakinya masih menyisakan sisa-sisa keletihan seharimengurus desa.
Kirana melangkah mendekati tempat tidur seraya membawa wadah cawan berisi minyak kelapa beraroma bunga kantil. Ia menaiki ranjang, berlutut anggun di samping tubuh tegap suaminya.
"Mas Bagas tengkurap sebentar ya... Biar Kirana pijat punggung dan kakinya," bisik Kirana halus.
Bagas membalikkan badannya menjadi tengkurap. Jemari halus Kirana yang baluri minyak hangat mulai menekan dan memijat lembut otot-otot pundak tegap Bagas yang tegang. Pijatan Kirana begitu meresap, teratur, dan penuh perasaan, membuat erangan lega keluar dari tenggorokan Bagas.
"Nggghhh... enak sekali pijatanmu, Kirana..." erang Bagas pelan, memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya. "Kamu belajar dari mana pijatan senikmat ini?"
Kirana tersenyum manis, memijat lembut menyusuri tulang punggung hingga ke betis tegap Bagas. "Kirana cuma ingin Mas Bagas merasa nyaman dan rileks. Tubuh Mas Bagas ini kan milik rakyat Lemah Wungu untuk dipimpin... tapi kalau di dalam kamar ini, tubuh Mas Bagas sepenuhnya milik Kirana untuk dirawat."
Bagas membalikkan tubuhnya kembali telentang, menatap wajah cantik istrinya yang merona di bawah pendar lampu minyak kelapa. Bagas menarik lembut pinggang Kirana hingga wanita itu terkulai di atas dada bidangnya.
Bagas mengusap pipi mulus Kirana, menatap dalam-dalam ke dalam iris mata bening istrinya.
"Kirana..." bisik Bagas serak dengan nada suara yang dalam dan membara. "Badanmu kan masih terasa remuk pasca-malam pertama kita tadi pagi... Apakah kamu siap lagi, Kirana...?"
Kirana menyandarkan dahinya di leher hangat Bagas, menyunggingkan senyuman manis nan manja seraya meremas lembut bahu tegap suaminya.
"Tentu, Mas Bagas..." sahut Kirana dengan suara lembut bergetar penuh kepatuhan dan asmara. "Apapun untuk kamu, Kirana akan selalu siap... Jiwa dan Raga Kirana adalah milik Mas Bagas selamanya."
Mendengar kepasrahan dan rasa cinta yang begitu besar dari istrinya, gairah di dalam dada Bagas meledak seketika. Pemuda tegap itu membalikkan posisi, menindih tubuh anggun Kirana di atas empuknya peraduan mori putih.
Dengan kelembutan yang membara, Bagas melucuti kebaya merah muda dan kain jarik Kirana satu per satu, membiarkan raga mulus istrinya terpapar polos bagaikan pualam murni. Bagas pun melepaskan sarung di tubuhnya, membiarkan raga mereka bertelanjang bulat seutuhnya tanpa jarak.
Bagas mendaratkan ciuman yang amat dalam dan panas di atas bibir manis Kirana, melumatnya lembut seraya membelai lekuk pinggul dan paha mulus istrinya.
"Emmgh... Mas Bagas..." desah Kirana melengking halus di sela ciuman mereka, meremas erat rambut hitam suaminya.
Bagas membimbing penyatuan raga mereka dari atas. Dengan dorongan yang perlahan namun mantap dan mendalam, raga tegap Bagas menyatu kembali ke dalam kehangatan jalan lahir Kirana yang masih amat rapat dan hangat.
"AAAHHHH... MAS BAGAS...!" jerit Kirana melengking merdu, matanya terpejam rapat, tubuhnya melengkung anggun saat merasakan kerapatan utuh suaminya menembus hingga ke kedalaman rahimnya untuk kedua kalinya.
"Nggghhh... Kiranaaa... hangat sekali... kamu selalu sempit dan Rapat, Dinda..." desah Bagas menggeram panjang tertahan, dadanya yang membidang dan berotot naik turun cepat saat kehangatan rahim Kirana mengunci dirinya secara utuh.
"Ayo, Mas... geraklah... Kirana mau merasakan Mas Bagas lebih dalam..."
Bagas menyunggingkan senyuman tegar, lalu mengayunkan pinggul tegapnya dengan ritme yang lambat, meresap, dan bertenaga. Setiap dorongan intim Bagas memicu gelombang kenikmatan yang membakar saraf raga mereka berdua.
"AHH... AHH... AHH... Masss...!" desah Kirana kian melengking merdu, kedua tangan halusnya memeluk leher Bagas rapat-rapat, membiarkan buah dadanya yang indah bergoyang lembut terbentur dada tegap suaminya.
"Nggghhh... Kiranaaa... indah sekali suara rintihanmu, Dinda..." erang Bagas serak, mempercepat tempo ayunan pinggulnya, menghantam kedalaman rahim Kirana dengan kepasrahan asmara yang membara.
Bagas kemudian mengubah posisi, menarik Kirana untuk duduk mengangkang di atas pangkuan tegapnya. Kirana menyangga tubuhnya pada bahu Bagas, mengayunkan pinggul mulusnya dari atas secara mandiri dan nikmat.
"AHHH... AHHH... Mas Bagas... terasa meresap sekali dari atas... EMMGH!" desah Kirana makin melengking manis, rambut hitamnya yang terurai mengibas lembut di wajah tegap Bagas.
"Emmgh... pandai sekali istriku... gerak terus, Sayang..." erang Bagas serak dari bawah, kedua tangan besarnya meremas hangat pinggul mulus Kirana, membimbing ritme naik turun istrinya yang memabukkan.
Puncak gejolak kenikmatan akhirnya tak tertahankan lagi. Bagas membaringkan Kirana kembali, merapatkan paha mulus istrinya lalu memberikan dorongan-dorongan terakhir yang amat kencang dan mendalam.
"Mas Bagas... Kirana mau sampai... AHHH! AHHH!" jerit Kirana melengking tinggi penuh kenikmatan puncak, tubuhnya bergetar pasrah dalam kejang kebahagiaan.
"BERSAMA, KIRANAA! BERSAMA!" geram Bagas dahsyat dari atas, mendorong pinggulnya rapat-rapat hingga ke dasar rahim istrinya, menumpahkan seluruh benih kehangatan dan cinta murninya secara melimpah di dalam tubuh Candra Kirana.
"EMMMGH! KIRANAAA!"
"AHHHHHH! MAS BAGASSS!"
Jeritan nikmat puncak sepasang pengantin baru itu berpadu sempurna dalam keheningan kamar. Kirana terkulai lemas dalam kelelahan yang nikmat, merangkul leher Bagas rapat-rapat. Bagas merebahkan raga tegapnya di atas tubuh istrinya, memberikan ciuman-ciuman lembut di kening, pipi, dan bibir Kirana yang tersengal-sengal bahagia.
Di bawah pendar temaram lampu minyak kelapa dan semerbak wangi melati, kehangatan, cinta murni, dan pengabdian abadi Candra Kirana menyatu sempurna bersama wibawa Bagas, merajut malam yang indah nan tiada tandingan di rumah joglo Lemah Wungu.
Bersambung...