NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Selasa pagi di Menara Mahendra terasa lebih panjang dari biasanya. Dimas Wiratama datang lebih awal dari jadwal, membawa map tipis yang isinya hanya satu lembar: salinan halaman buku tamu lantai dasar tanggal 5 Oktober. Ia sudah meminta salinan itu dari resepsionis sebelum lift mulai ramai. Nama yang ia cari ada di baris ketiga belas. A. Pramesthi. Waktu masuk 09.12. Tujuan: data room, lantai 28. Tanda tangan coretan cepat yang hampir tidak terbaca.

Ia tidak langsung naik. Ia berdiri di samping meja resepsi, melihat layar CCTV lobi yang sudah digulung ke rekaman kemarin. Perempuan itu datang sendirian. Rambut diikat rendah. Tas hitam biasa. Tidak ada yang menemani. Tidak ada badge internal. Tidak ada yang dari Kusuma yang menyerahkan kartu.

Sari lewat di depannya sambil membawa dua map abu-abu. Ia berhenti sejenak.

“Pak Dimas sudah melihat?” tanya Sari, suara rendah.

“Saya sedang melihat.” Dimas menunjuk layar. “Siapa yang mengurus QR-nya kemarin?”

“Saya. Atas perintah Pak Adrian. QR dimatikan setelah rapat. Buku tidak diubah.”

“Kenapa tidak diubah?”

“Beliau bilang biarkan. Kalau dihapus, resepsionis akan bertanya kenapa ada baris kosong.”

Dimas mengangguk pelan. Ia tidak suka jawaban yang terlalu rapi. “Ada yang bilang perempuan itu dari pihak Vanya?”

Sari menggeleng. “Tidak ada yang bilang. Hanya ada orang di kursi dinding yang tidak ada di denah. Pak Dimas sendiri yang melihatnya.”

Dimas menutup map. “Saya naik dulu.”

Di lantai 28, data room sudah dibuka oleh tim hukum untuk keperluan pagi. Map abu-abu yang kemarin masih di meja kredensa sudah dipindah ke rak kanan. Dimas tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di depan laci kecil di bawah kredensa. Laci itu terkunci. Kuncinya tidak di meja.

Ia menelepon Sari lagi. “Kunci laci kredensa data room ada di mana?”

“Di Pak Adrian.”

“Isinya?”

“Ponsel tamu kemarin. Beliau bilang jangan dibuka.”

Dimas mematikan telepon. Ia tidak suka benda yang dikunci tanpa berita acara. Ia juga tidak suka nama Pramesthi yang tidak ada di daftar kontak Kusuma yang biasa ia pegang.

Ia naik ke lantai 32. Pintu ruang kerja Adrian terbuka sedikit. Adrian sudah di dalam, jas masih di gantungan, kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Jam tali kulit di pergelangan tangannya bergerak saat ia membalik halaman laporan.

“Masuk,” kata Adrian tanpa menoleh.

Dimas meletakkan salinan buku tamu di meja. “A. Pramesthi. Masuk kemarin pagi. Tujuan data room. QR sudah dimatikan. Ponselnya masih di laci lantai 28.”

Adrian mengangkat kepala. “Saya tahu.”

“Saya cek rekaman lobi. Ia datang sendirian. Tidak ada yang menjemput dari pihak luar. Tidak ada badge sementara yang dikeluarkan atas nama Kusuma.”

“Dan?”

“Saya curiga ini bukan mata-mata Vanya.” Dimas menahan napas sejenak. “Kalau Vanya mengirim orang, biasanya ada jejak yang lebih rapi. Atau setidaknya ada yang mengantar sampai lift. Ini terlalu langsung. Dan nama itu… Pramesthi. Saya pernah mendengarnya di tempat lain.”

Adrian menutup laporan. “Di mana?”

“Saya belum ingat. Tapi bukan dari daftar tamu Kusuma yang biasa.”

Adrian menatap map di mejanya. “Kau sudah bilang ke siapa?”

“Belum. Saya datang ke sini dulu.”

“Bagus.” Adrian mengambil pena. “Jangan sebar. Jangan tanya resepsionis di depan orang lain. Kalau ada yang bertanya kenapa ada baris itu, bilang itu urusan internal akuisisi.”

“Pak, kalau ini bukan dari Vanya, lalu dari siapa?”

“Itu yang saya tanyakan kemarin. Ia tidak menjawab.” Adrian menatap Dimas. “Ia menolak disebut utusan Kusuma. Ia juga menolak menyebut pemberi kerja. Satu-satunya yang ia tunjukkan adalah angka di halaman empat yang tidak cocok dengan lampiran.”

Dimas mengingat rapat kemarin. Kursi ekstra di dinding. Perempuan yang duduk diam sampai Oscar menyebutkan Lazuardi. “Angka itu sudah saya lihat di draf. Selisihnya ada. Oscar bilang akan ditandai ulang.”

“Ditandai ulang berarti dibersihkan sebelum sampai ke Aruna.” Adrian meletakkan pena. “Saya menahan sekuriti kemarin karena angka itu. Bukan karena saya percaya perempuan itu.”

“Dan sekarang ponselnya masih di laci.”

“Ya.”

“Kapan dikembalikan?”

“Kalau saya sudah yakin isinya tidak akan muncul di tempat yang salah.”

Dimas mengangguk, meskipun ia tidak sepenuhnya setuju. Ia sudah lama bekerja dengan Adrian cukup lama untuk tahu kapan pertanyaan lebih lanjut hanya akan membuat jawaban semakin pendek.

“Ada lagi?” tanya Adrian.

“Saya akan cek nama Pramesthi di arsip lama. Hanya arsip internal. Tidak ke luar.”

“Lakukan. Laporkan hanya ke saya.”

Dimas keluar. Di koridor ia bertemu Vanya yang baru turun dari lift. Vanya memakai jas krem yang terlalu rapi untuk pagi selasa. Ia tersenyum tipis.

“Dimas. Pagi sekali.”

“Pagi, Bu.”

“Kemarin ada tamu yang duduk di dinding. Nama Pramesthi, kata orang.” Vanya menatapnya. “Itu orang kita?”

“Bukan.”

“Bukan dari Kusuma juga?”

“Saya belum tahu.”

Vanya mengangkat alis. “Kalau belum tahu, lebih baik segera tahu. Nama lama yang muncul di draf akuisisi sudah cukup membuat investor gelisah. Jangan ditambah dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya.”

Dimas tidak menjawab lebih jauh. Ia hanya mengangguk dan berjalan menuju ruangannya. Di meja, ia membuka laptop dan mengetik nama itu di sistem arsip internal. Hasilnya kosong untuk lima tahun terakhir. Tidak ada karyawan. Tidak ada konsultan terdaftar. Tidak ada vendor.

Ia membuka folder berita lama yang pernah ia simpan untuk keperluan due diligence. Satu artikel dari 2022 muncul di hasil pencarian ketiga. Foto seorang pria paruh baya di samping logo Mahendra. Baskara Prameswari. Mantan Direktur Keuangan. Skandal Koridor Timur. Nama belakang yang sama.

Dimas menatap layar cukup lama. Ia tidak langsung menelepon Adrian. Ia menyimpan tautan itu di folder pribadi, lalu menutup laptop. Kalau ia salah, ia hanya membuat keributan. Kalau ia benar, masalahnya jauh lebih besar daripada penyusup biasa.

Sementara itu, di studio Tebet, Alina bangun lebih lambat dari biasanya. Lampu tangga masih mati di tanjakan kedua. Ia membuat kopi instan dan membuka lemari. Kamera saku masih di belakang map kosong. Ia tidak menyalakannya. Angka yang kemarin ia tulis di meja lipat masih ada: 12,4. 18,9. Lazuardi.

Mei menelepon dari kafe. “Kau sudah bangun?”

“Sudah.”

“Ponsel masih di laci orang itu?”

“Masih.”

“Jadi kau tidak bisa dikabari kalau ada yang datang?”

“Tidak.”

Mei menghela napas. “Saya kirim makanan siang nanti. Jangan keluar sebelum itu. Kalau kau mencoba masuk lagi ke gedung itu hari ini, saya benar-benar telepon Ibu Diah.”

“Saya tidak akan lewat lobi.”

“Saya tidak peduli lewat mana. Saya peduli kau ketahuan dua kali dalam dua hari.”

Alina menutup telepon. Ia duduk di kursi lipat dan menatap jendela yang menghadap gang sempit. Ia tahu Dimas atau orang lain akan mulai mencari nama di buku tamu. Itu hanya soal waktu. Yang ia butuhkan adalah celah lain sebelum nama itu dihubungkan dengan ayahnya.

Di Menara, Adrian membuka laci kredensa data room sendiri pada siang hari. Ponsel hitam itu masih di situ, layar gelap. Ia tidak mencoba membuka kodenya. Ia hanya memegangnya sebentar, lalu mengembalikannya dan mengunci lagi.

Sari berdiri di pintu. “Pak Dimas sudah lapor soal buku tamu.”

“Saya tahu.”

“Ada yang perlu saya lakukan?”

“Tidak. Biarkan baris itu tetap ada. Kalau ada yang bertanya, bilang itu urusan akuisisi.”

Sari mengangguk dan pergi. Adrian berdiri di depan jendela data room yang menghadap ke arah Sudirman. Ia tidak tahu siapa A. Pramesthi sebenarnya. Ia hanya tahu perempuan itu menemukan lubang yang juga mengancamnya, dan ponsel di laci itu masih menjadi satu-satunya jaminan yang ia miliki.

Dimas, di ruangannya, menatap artikel lama itu sekali lagi. Nama Baskara Prameswari. Anak yang tidak pernah disebut di berita. Ia menutup folder. Ia belum siap memberitahu Adrian hari ini. Ia masih butuh satu konfirmasi lagi sebelum membawa nama itu ke meja direktur utama.

Di luar, langit Jakarta mulai mendung. Tidak ada hujan. Hanya awan yang menumpuk di atas menara-menara kaca, menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!