NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Aksi Kucing-Kucingan.

Jam istirahat makan siang akhirnya tiba di Menara Utama Nugroho Group. Selasar lobi utama yang tadinya dipenuhi hilir mudik karyawan kini berangsur lengang. Arga mengembuskan napas lega yang teramat dalam saat Riko menggantikan posisinya di depan pintu utama. Dengan langkah seribu, Arga segera bergerak menuju ruang istirahat dan pos keamanan belakang, tempat di mana ia bisa melepas masker tebalnya sejenak untuk mengisi perut yang sudah berbunyi nyaring sejak pagi.

Di dalam ruang istirahat pos keamanan yang berukuran sedang itu, Komandan Bambang dan beberapa anggota Satpam lainnya sedang duduk mengelilingi meja kayu panjang. Di atas meja sudah tersaji beberapa bungkus nasi padang dan botol air mineral.

"Nih, Arga! Bagian kamu nasi bungkus rendang," seru Komandan Bambang seraya menggeser sebungkus nasi ke arah Arga yang baru saja masuk.

"Wah, makasih banyak, Komandan! Asli, kelaparan banget saya dari tadi," jawab Arga girang.

Arga duduk di ujung meja, melepas topi pet dan masker kain hitamnya, lalu menaruhnya di samping meja. Bau harum bumbu rendang dan kuah gulai langsung menyergap indra penciumannya. Tanpa membuang waktu, Arga membuka lipatan daun pisang, menyendokkan sesuap nasi hangat beserta potongan rendang ke dalam mulutnya.

"Nyam... Mantap banget ini," gumam Arga penuh kenikmatan.

Namun, baru saja suapan pertama itu bersarang di mulutnya dan belum sempat dikunyah dengan sempurna, pintu ruang pos keamanan mendadak terbuka lebar. Riko masuk dengan wajah sepucat kapas, napasnya tersengal-sengal seperti habis dikejar anjing gila.

"K-Komandan! Berbahaya, Komandan!" bisik Riko dengan suara bergetar panik.

Komandan Bambang yang sedang memegang paha ayam goreng langsung menghentikan gigitannya. "Ada apa kamu Riko? Masuk-masuk bikin kaget saja! Ada demonstrasi di luar?"

"Bukan, Komandan! Lebih parah dari demo!" Riko menelan ludah dengan susah payah, matanya melotot. "Bu Nadia! Bu Nadia jalan ke arah pos keamanan belakang sini!"

"APA?!"

Komandan Bambang dan tiga anggota Satpam lainnya seketika tersedak. Komandan Bambang sampai terbatuk-batuk hebat hingga mukanya memerah, menyemburkan beberapa butir nasi ke atas meja.

"Kamu jangan bercanda, Riko! Mana pernah Bu CEO sidak ke pos keamanan belakang begini pas jam makan siang?!" bentak Komandan Bambang seraya panik mengelap mulutnya menggunakan tisu.

"Demi Tuhan, Komandan! Saya nggak bohong! Beliau sekarang sudah ada di lorong depan, jalan ke sini!" tegas Riko ketakutan.

Mendengar nama Nadia disebut dan posisinya hanya berjarak beberapa meter dari ruangan tersebut, kepanikan tingkat tinggi seketika menyambar Arga. Nasi rendang di dalam mulutnya mendadak terasa keras bagaikan kerikil. Matanya melotot tajam, jantungnya berdegup kencang seperti mau meledak dari dadanya.

"Mampus gue!" batin Arga histeris.

Tanpa memikirkan nasi bungkusnya yang baru saja ditelan satu suap, Arga secara refleks menyambar masker hitam dan topi petnya dari meja. Ia melompat berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang dan tersungkur ke lantai dengan suara nyaring.

BRAK!

"Lho, Arga! Kamu mau ke mana?!" tanya Komandan Bambang melotot heran melihat kelakuan anak buah barunya yang seperti kesetanan.

"T-toilet, Komandan! Perut saya mendadak mulas parah banget!" jerit Arga dengan suara tertahan.

Arga langsung melesat secepat kilat menyeberangi ruang istirahat, membuka pintu toilet pos keamanan, lalu menyusup masuk dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.

KLIK!

"Bocah aneh... Cuma gara-gara Bu Nadia datang saja mulasnya kumat lagi," gumam Komandan Bambang kebingungan.

Belum sempat para petugas keamanan itu merapikan sisa-sisa makanan di atas meja, pintu utama ruang pos keamanan terdorong terbuka. Sosok wanita berparas jelita namun beraut wajah dingin bagaikan es melangkah masuk dengan anggun. Nadia Nugroho berdiri di ambang pintu, diapit oleh Rina yang membawa papan catatannya.

Aura intimidasi seketika memenuhi ruangan sempit itu. Komandan Bambang dan seluruh anggota Satpam yang ada di dalam ruangan langsung berdiri tegap menghentakkan kaki, memberikan penghormatan paling sempurna yang mereka miliki.

"Selamat siang, Bu Nadia!" seru Komandan Bambang lantang, berusaha keras menutupi rasa gugup dan ceceran nasi di meja.

Nadia menatap sekeliling ruangan dengan pandangan meneliti dan tajam. Matanya menyapu setiap sudut pos keamanan, memperhatikan jajaran layar CCTV, loker penyimpanan, hingga meja makan tempat para Satpam baru saja menyantap makan siangnya.

"Selamat siang, Komandan Bambang," balas Nadia dengan suara datar yang tenang namun berwibawa. "Saya mengganggu waktu makan siang kalian?"

"Sama sekali tidak, Bu Nadia! Suatu kehormatan besar bagi kami di pos keamanan atas kunjungan mendadak dari Ibu," jawab Komandan Bambang dengan nada sangat sopan, dahinya mulai dibasahi keringat dingin. "Ada hal penting yang bisa kami bantu atau evaluasi, Bu?"

Nadia berjalan pelan mengitari meja makan. Pandangan matanya yang jeli menangkap satu bungkus nasi padang di ujung meja yang baru terbuka lipatannya, lengkap dengan bekas suapan pertama dan sebuah kursi yang tergeletak miring di dekat pintu toilet.

"Saya hanya ingin melakukan sidak singkat terkait sistem keamanan dan kesiapan personil di area lobi," kata Nadia seraya menghentikan langkahnya tepat di dekat bungkus nasi milik Arga. Matanya menatap tajam ke arah pintu toilet yang tertutup rapat. "Sepertinya personil di ruangan ini tidak lengkap?"

Komandan Bambang melirik pintu toilet dengan sudut matanya, lalu kembali menatap Nadia seraya tersenyum canggung.

"Anu, Bu... Personil kami lengkap. Cuma ada satu anggota baru yang sedang berada di dalam toilet karena kurang sehat perutnya," terang Komandan Bambang jujur.

"Oh, anggota baru?" Nadia menaikkan sebelah alisnya, mengaitkan kedua tangannya di depan tubuh. "Apakah dia anggota yang bertugas di depan pintu lobi utama tadi pagi? Yang menggunakan masker kain hitam?"

Komandan Bambang agak terkejut dengan pertanyaan spesifik sang CEO. "B-betul sekali, Bu Nadia! Namanya Arga, anggota baru dari Yayasan Garuda Mandiri. Karena dia agak flu dan alergi debu, saya izinkan dia menggunakan masker kain selama bertugas di lobi."

Nadia mengangguk-angguk pelan, tatapan matanya semakin mengintimidasi. Di dalam toilet yang sempit dan remang-remang, Arga menempelkan telinganya rapat-rapat pada daun pintu. Ia menahan napas sekuat tenaga, memegang dadanya yang bergemuruh kencang. Ia bahkan tidak berani berdeham atau menggeser posisi berdirinya sedikit pun agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

"Jadi dia sedang di dalam toilet?" tanya Nadia lagi, melangkah dua tindak lebih dekat ke arah pintu toilet.

"Iya, Bu. Tepat saat Ibu mau masuk tadi, dia mendadak lari ke dalam," jawab Komandan Bambang polos.

Nadia menatap pintu kayu tebal toilet itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Arga di balik pintu. Nadia mengembuskan napas halus. Rasa penasarannya kian membuncah, tetapi reputasi dan martabatnya sebagai CEO melarangnya untuk melakukan tindakan irasional seperti mengetuk pintu toilet Satpam.

"Bagaimana situasi keamanan secara keseluruhan hari ini, Komandan?" alih Nadia akhirnya, memutar badannya kembali menghadap Komandan Bambang.

"Lobi utama dan seluruh akses masuk dalam kondisi sangat kondusif dan terkendali, Bu! Seluruh sistem CCTV dan sensor turnstile berfungsi seratus persen tanpa kendala," tegas Komandan Bambang melaporkan dengan sigap.

"Bagus," ujar Nadia singkat. Ia melirik Rina yang berdiri di belakangnya. "Pastikan seluruh personil keamanan menjaga kedisiplinan dan higienitas. Saya tidak ingin melihat ada pos keamanan yang berantakan atau personil yang tidak fit bertugas di area VVIP."

"Siap, Bu Nadia! Instruksi Ibu akan segera kami laksanakan!" sahut Komandan Bambang mantap.

"Terima kasih atas dedikasi kalian. Lanjutkan makan siang kalian," ucap Nadia dingin.

Tanpa mengucap kata-kata lagi, Nadia berbalik arah dan melangkah keluar dari ruang pos keamanan dengan anggun. Sebelum benar-benar menghilang di balik belokan lorong, Nadia sempat menolehkan kepalanya sekali lagi ke arah pos belakang, melemparkan pandangan selidik yang tersisa pada pintu toilet yang masih terkunci rapat.

Setelah derap langkah kaki Nadia dan sekretarisnya benar-benar hilang tak terdengar lagi, suasana tegang di ruang pos keamanan seketika mencair. Komandan Bambang mengusap dadanya seraya menghela napas lega yang sangat panjang.

"Gila... Seumur-umur kerja di sini, baru kali ini Bu CEO turun langsung ke pos belakang cuma buat nanya kondisi keamanan," cetus Riko terheran-heran.

Komandan Bambang berjalan mendekati pintu toilet lalu mengetuknya keras-keras.

TOCK! TOCK!

"Woi, Arga! Keluar kamu! Bu CEO sudah pergi!" teriak Komandan Bambang dari luar.

Pintu toilet perlahan terbuka. Arga melangkah keluar dengan wajah lemas dan pucat pasi. Masker tebalnya sudah terpasang rapi kembali di wajahnya, dan topi petnya terpasang rapat menutupi jidatnya.

"Aman, Komandan?" bisik Arga lemas, memandangi sekeliling ruangan untuk memastikan Nadia benar-benar telah pergi.

"Aman! Kamu ini aneh-aneh saja, pas ada bos besar malah mengurung diri di toilet," omel Komandan Bambang seraya menggelengkan kepala. "Nasi kamu tuh keburu dingin! Makanan baru masuk satu suap saja sudah bikin heboh satu pos."

Arga berjalan lunglai kembali ke kursinya, menatap nasi bungkus rendangnya yang kini sudah tak hangat lagi. Ia menarik napas panjang di balik maskernya, menyadari bahwa aksi kucing-kucingannya dengan Nadia baru saja dimulai dan akan menjadi mimpi buruk yang siap meneror kehidupannya setiap hari di gedung ini.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!