Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rumah kembali sepi setelah Rara berangkat ke sekolah. Bagi Erlyn, keheningan pagi itu terasa mencekam. Ia berjalan pelan dari satu ruangan ke ruangan lain dan tangannya sesekali meremas ujung daster.
Pesan kemarin sore masih terngiang di kepalanya, Datang sendiri. Kalau tidak... Iqbal akan tahu semuanya.
Ia belum membalasnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Setiap kali jari-jarinya menyentuh layar untuk mengetik, kata-kata itu hilang begitu saja, digantikan oleh rasa takut yang memenuhi dadanya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Angin berhembus pelan menggerakkan tirai jendela. Erlyn duduk di tepi sofa, menatap pintu seolah takut seseorang akan mengetuknya kapan saja.
Ia berusaha menenangkan diri. Mungkin Om Hendi hanya mengancam. Mungkin ia tidak akan benar-benar melakukan apa-apa jika ia tidak menuruti.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu pria itu tidak sekadar mengancam. Enam belas tahun lalu, setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu menjadi kenyataan.
Ponsel di meja tiba-tiba berdering.
Bunyi dering memecah keheningan. Erlyn meloncat kaget, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dada.
Ia menatap layar yang menyala, hanya deretan angka asing yang panjang. Ia tahu siapa itu.
Kakinya terasa berat, namun ia bergerak perlahan mendekat, seolah benda itu akan meledak jika diambil. Tangan kanannya gemetar hebat saat meraih ponsel itu. Ia menelan ludah, napasnya tertahan.
Angkat atau tidak? Jika diangkat, ia akan mendengar suara itu lagi, suara yang berusaha dilupakannya setelah dua belas tahun. Jika tidak diangkat, apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya?
Dering itu tidak berhenti. Ia terus berbunyi, berulang kali, seolah tahu Erlyn ada di sana.
Dengan tangan yang dingin, Erlyn menggeser tombol hijau. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menempelkan ponsel ke telinga, tubuhnya menegang kaku.
Terdengar suara dari seberang, rendah, tenang, dan sangat dikenal. Suara itu sama persis seperti dulu, tidak berubah sedikit pun, seolah waktu berhenti berputar baginya.
"Lama nggak dengar suaramu, kesayanganku yang hilang."
Kalimat itu sederhana, namun membuat darah Erlyn membeku. Ia menutup mulut dengan tangan kiri agar tidak mengeluarkan suara isak tangis.
Panggilan itu, kesayanganku, mengembalikannya ke masa enam belas tahun lalu, ke saat ia tidak berhak memiliki kehendak sendiri, ke saat setiap langkahnya diatur dan setiap kata yang diucapkan diawasi.
"Kenapa diam saja, Erlyn? Apakah suaramu juga sudah berubah setelah kabur dariku?" tanya suara itu lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih tajam.
Erlyn menarik napas panjang, berusaha menahan gemetar di suaranya.
"Apa yang Om inginkan?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
Di seberang sana, terdengar tarikan napas panjang, lalu suara itu terdengar lebih rendah, lebih dekat, seolah bibirnya hampir menyentuh telinga Erlyn.
"Kau tahu apa yang kuinginkan, sayang. Setiap malam aku terbaring di tempat tidur yang sama, menatap sisi tempat kau dulu berbaring. Aku merindukanmu, Erlyn. Merindukan kehangatan tubuhmu, cara kau berada di sampingku, merindukan bagaimana kau melayaniku dengan patuh. Nggak ada yang bisa menggantikanmu. Kau masih milikku, dan kau tahu itu."
Erlyn menegang sekujur tubuh, bulu kuduknya berdiri. Kata-kata itu terasa seperti jari-jari dingin yang merayap di punggungnya. Ia ingin meletakkan telepon itu seketika, namun tangannya terasa kaku.
"Itu sudah berlalu," suaranya bergetar. "Aku bukan milikmu."
"Belum berlalu bagiku," potong Hendi cepat, nadanya tetap tenang namun penuh penekanan.
"Dua belas tahun aku menunggu dan mencarimu. Dua belas tahun aku menyimpan semua foto itu, mengingat setiap momennya, bagaimana kau tersenyum di bawahku, bagaimana kau menatapku... semuanya masih hidup di sini. Dan sekarang aku tahu di mana kau berada. Aku nggak akan membiarkanmu pergi lagi."
"Apa yang Om mau?" Erlyn hampir berbisik, matanya memanas.
"Kau kembali padaku. Sederhana saja. Kau datang, kita seperti dulu. Kau akan melayaniku, menemaniku... seperti yang seharusnya kau lakukan sejak awal."
"Itu penyiksaan!" Erlyn berucap cepat, suaranya sedikit meninggi namun ia tetap menahannya. "Om memaksaku melakukan segala hal yang nggak mau kulakukan! Om ancam aku!"
"Memaksamu?" Hendi tertawa pelan, suara itu terdengar menjijikkan dan menakutkan sekaligus. "Kau nggak pernah nolak saat itu. Kau tersenyum, kau datang, kau melakukannya. Sekarang kau pura-pura nggak tahu? Aku kangen kehangatanmu, Lyn. Itu bukan paksaan bagiku. Kau milikku. Dan aku akan mengambilnya kembali."
Erlyn meremas ujung bajunya hingga kuku menancap ke telapak tangan. Tidak ada gunanya berdebat. Pria itu hidup di dunianya sendiri, di mana Erlyn adalah benda yang hilang, dan kini saatnya diambil kembali.
"Besok pagi pukul sepuluh. Kafe dekat taman kota," ucap Hendi, suaranya berubah tegas. "Datang sendirian.Jangan punya pikiran untuk lari lagi. Aku sudah menemukanmu sekali, aku bisa menemukanmu lagi."
"Kalau aku nggak mau datang?" Erlyn bertanya pelan, meski ia sudah tahu jawabannya.
Hendi diam sejenak, lalu berbicara dengan nada yang sangat tenang, sangat dingin:
"Maka aku yang datang ke rumahmu. Aku akan menyapa suamimu, lalu aku akan tunjukkan padanya foto-foto itu. Aku akan bercerita bagaimana kau dulu berada di tempat tidurku, bagaimana kau merindukanku juga... bagaimana kau tersenyum untukku. Biarkan dia yang memutuskan apa yang harus dilakukan padamu."
Erlyn merosot sedikit, punggungnya menempel pada dinding. Ia bisa membayangkannya, Iqbal melihat foto-foto itu, mendengar kata-kata itu, wajahnya yang penuh kepercayaan perlahan berubah menjadi kecewa, jijik, atau mungkin kebencian. Itu adalah ketakutan terbesarnya.
"Tolong... jangan lakukan itu," suaranya pecah. "Jangan libatkan dia."
"Kalau gitu datanglah," jawab Hendi singkat. "Dan jangan terlambat. Aku nggak suka menunggu. Apalagi menunggu sesuatu yang sudah menjadi milikku."
Panggilan itu terputus.
Erlyn memegang ponsel di telinga lama sekali setelah suara itu hilang. Layarnya sudah gelap, namun kata-kata itu masih terngiang, berputar di kepalanya,
Aku merindukan kehangatanmu di tempat tidurku... kau masih milikku...
Ia merasa kotor, seolah sentuhan yang dulu ingin dilupakannya kini kembali menempel di kulitnya. Ia meletakkan ponsel perlahan di meja, lalu memeluk tubuhnya erat-erat, berguncang menahan tangis yang tak bisa dikeluarkan.
Ia berjalan tertatih menuju dapur, mengambil segelas air, namun tangannya gemetar hingga air tumpah membasahi meja. Ia tidak peduli. Ia duduk di kursi, menatap ke luar jendela tanpa melihat apa-apa. Haruskah ia jujur pada Iqbal? Haruskah ia bercerita semuanya malam nanti?
Bayangan wajah Iqbal muncul, tatapannya yang tulus, pelukannya yang hangat. Hatinya kembali terasa perih. Keraguan itu pun datang kembali, lebih kuat dari sebelumnya.
Bagaimana jika Iqbal mendengar kata-kata itu dan tidak bisa melihatnya lagi seperti dulu? Bagaimana jika ia melihatnya sebagai sesuatu yang kotor, bukan istrinya?
Erlyn mengusap wajahnya kasar. Ia akan pergi besok. Ia akan bertemu Om Hendi, mendengarkan apa yang diinginkannya, berusaha menyelesaikan ini tanpa melibatkan keluarganya. Itu satu-satunya cara yang ia pikirkan saat ini.
Ia mencuci muka, menatap pantulannya di cermin. Matanya merah, pucat. Ia menarik napas panjang, menyusun kembali topeng senyum yang sudah biasa dipakainya.
***
Sore harinya, Iqbal pulang. Erlyn menyambutnya, mencium tangannya, tersenyum.
"Capek, Mas? Aku sudah buatkan teh manis hangat dan bakwan kesukaanmu."
Iqbal menatapnya sebentar. "Makasih, sayang. Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?"
"Nggak... cuma sedikit kurang tidur," jawabnya pelan, mengalihkan pandangan.
Malam itu, saat Iqbal sudah tertidur, Erlyn berbaring di sampingnya, menatap wajahnya. Ia ingin sekali membangunkannya, bercerita, meminta perlindungan. Namun ia takut. Takut kehilangan rumah ini, kehangatan ini, satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman selama sepuluh tahun.
Ponsel di bawah bantal bergetar sekali lagi. Pesan singkat:
"Sampai jumpa besok, sayangku. Aku sudah merindukanmu."
Erlyn memejamkan mata erat, menahan isak tangis agar tak terdengar. Ia berbisik pelan di keheningan kamar:
"Maafkan aku, Mas..."
Pagi akan datang, dan ia harus pergi. Ia tidak tahu apa yang akan dihadapi, namun satu hal ia tahu, ia berjalan sendirian ke dalamnya, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, berharap keluarganya tetap aman di sisi lain.
Dari pada malah tau dari orang lain kan...
kuat2 ya kalian menghadapi orang kayak hendi 😖
kasih pencerahan biar otaknya gak mampet ngelanjutin service berkala untuk si hendi
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn