Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 01
Singapura, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adam Lorenzo Maxnore, justru berubah menjadi hari paling kelam dalam hidupnya.
Adam Lorenzo Maxnore. Nama yang mampu membuat para mafia di Asia Tenggara menundukkan kepala. Pria yang dikenal kejam, dingin, dan tidak pernah memberikan kesempatan kedua kepada siapa pun yang berani mengkhianatinya.
Hari ini, pria itu seharusnya menikah. Pernikahan besar telah disiapkan di kediaman keluarga Maxnore. Para tamu penting dari berbagai negara sudah berdatangan. Dekorasi mewah menghiasi setiap sudut bangunan, sementara puluhan pengawal bersenjata berjaga di sekitar kediaman. Namun, sebuah panggilan telepon menghancurkan segalanya.
[Bos!] Suara salah satu pengawal terdengar panik dari seberang telepon.
Adam yang sedang berdiri di ruang pribadinya mengernyit. "Apa?"
[Calon istri Anda mengalami kecelakaan!]
Adam tidak mengatakan apa-apa, setelah mendengar itu seakan dia mencoba memproses apa yang baru saja dia dengar.
"Apa maksudmu?"
[Calon Nyonya muda Maxnore mengalami kecelakaan tepat setelah beliau keluar dari salon pengantin. Sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya. Kami—]
"Di mana dia sekarang?" potong Adam dengan suara rendah.
[Masih di lokasi kejadian, Bos.]
"Apakah dia terluka?"
Keheningan sesaat menyambut pertanyaan itu. Kemudian, suara pengawalnya terdengar gemetar.
[Ma—maaf, Bos. Calon Nyonya meninggal di tempat.]
Prang!
Gelas kristal yang berada di tangan Adam jatuh menghantam lantai hingga pecah berkeping-keping. Ruangan itu mendadak sunyi. Adam menatap ponsel di tangannya seolah-olah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
Wanita yang beberapa jam lagi akan menjadi istrinya meninggal tepat pada hari pernikahan mereka.
"Siapa pelakunya?" tanyanya akhirnya.
[Kami sedang menyelidiki, Bos. Ada seorang wanita yang berada di dalam mobil tersebut. Saat ini dia sudah kami amankan.]
"Jangan biarkan dia pergi."
Sambungan telepon terputus.
Adam mengambil jas hitamnya, lalu berjalan keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Tidak ada teriakan. Tidak ada kepanikan yang diperlihatkan. Namun, semua orang yang melihatnya tahu bahwa sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di dalam pikirannya.
Hari ini, seseorang telah merenggut calon istrinya. Adam Lorenzo Maxnore tidak akan membiarkan pelakunya lolos begitu saja.
Di lokasi kecelakaan, suasana sudah dipenuhi kerumunan warga dan petugas yang berusaha mengamankan tempat kejadian. Sebuah mobil mewah berhenti dengan bagian depan ringsek. Tidak jauh dari sana, seorang wanita mengenakan gaun pengantin putih tergeletak tak bergerak.
Darah membasahi sebagian gaunnya. Beberapa pengawal berdiri mengelilingi jasad wanita itu, sementara yang lainnya menahan seorang perempuan muda yang terlihat kebingungan.
Perempuan itu bernama Bianca Gia Conti. Putri dari keluarga Conti yang hari ini seharusnya menikah dengan Ricardo Dominic, pewaris keluarga Dominic yang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan nama baik keluarga.
Gia menatap jasad wanita di hadapannya dengan tubuh gemetar.
"Tidak ... tidak mungkin." Napasnya memburu, kedua tangannya gemetar hebat. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi.
Beberapa menit sebelumnya, Gia masih berada di dalam mobil bersama Amerda, kakak angkatnya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Dominic untuk melangsungkan pernikahan.
Amerda yang menyetir tiba-tiba dengan sengaja membanting kemudi ketika sebuah kendaraan melintas di depan mereka. Mobil mereka kehilangan kendali dan menabrak seorang wanita yang baru saja keluar dari salon pengantin. Semuanya berlangsung begitu cepat, terdengar benturan keras dan jeritan dan lalu kemudian keheningan yang mengerikan cukup terasa.
Gia masih berusaha memahami apa yang terjadi ketika Amerda membuka pintu mobil.
"Kak, kita harus bagaimana?" tanyanya panik.
Namun, Amerda tidak menjawab. Kakak angkatnya itu justru menatap kerumunan yang mulai mendekat. Begitu menyadari bahwa korban tidak bergerak, wajah Amerda berubah pucat.
"Aku tidak mau masuk penjara," gumamnya.
"Kak?"
"Diam, Gia!"
Sebelum Gia sempat bereaksi, Amerda sudah keluar dari mobil melalui pintu sebelah pengemudi. Dia berlari menjauh, meninggalkan Gia seorang diri di dalam kendaraan.
Gia membeku, "Kak Amerda!" jeritnya berharap wanita itu kembali.
Beberapa detik kemudian, Gia membuka pintu mobil dan turun dengan kaki gemetar. Dia sama sekali tidak berniat melarikan diri. Dia hanya ingin mengetahui keadaan korban dan mencari pertolongan. Namun, begitu para pengawal melihatnya, mereka langsung mengepungnya.
"Kau pelakunya?!"
"Apa? Bukan! Aku tidak menyetir!"
"Jangan berbohong!" Teriak mereka yang membuatmu mulut Gia segera terbungkam.
"Aku benar-benar tidak menyetir! Kakak ku yang—"
Sebuah tangan mencengkeram lengannya.
"Diam!"
Gia berusaha melepaskan diri. "Tolong dengarkan aku! Aku tidak melakukan apa-apa!"
Tetapi tidak seorang pun mau mendengarkannya. Mereka hanya melihat seorang wanita berpakaian pengantin yang berada di dalam mobil penabrak.
Sebuah mobil mewah berhenti di tepi jalan dengan sangat kasar. Beberapa pengawal langsung menundukkan kepala.
Pintu mobil terbuka.
Adam Lorenzo Maxnore turun dengan wajah dingin. Setelan hitam yang dikenakannya tampak sempurna, tetapi tatapan matanya menyimpan kemarahan yang membuat siapa pun enggan mendekat.
Dia tidak melihat kerumunan. Tidak pula memperhatikan orang-orang yang berbisik di sekitarnya. Tatapannya langsung tertuju kepada wanita yang ditahan oleh anak buahnya, Gia.
Adam berjalan mendekat, "Jadi, kau orangnya?"
Gia mengangkat wajah. Dia tertegun melihat pria yang berdiri di hadapannya.
Pria itu sangat tampan, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Gia merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan malaikat maut.
"Aku tidak—"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Gia. Kepalanya terlempar ke samping. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan sebelum salah seorang pengawal mencengkeram lengannya, sudut mulutnya jelas robek saat cairan bewarna merah mengalir di sana.
Kerumunan mendadak sunyi. Gia memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya membesar, bukan hanya karena rasa sakit, melainkan juga karena keterkejutan.
"Apa yang sudah kau lakukan?" suara Adam terdengar dingin. "Kau tau siapa yang baru saja kau bunuh?"
"Aku tidak membunuh siapa pun!" Gia membalas dengan suara bergetar. "Aku tidak menyetir mobil itu!"
Adam mencengkeram dagunya, memaksanya menatap lurus ke arahnya.
"Berani sekali kau berbohong di hadapanku."
"Aku mengatakan yang sebenarnya!"
"Perempuan sepertimu selalu punya alasan."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gia. Namun, dia berusaha menahannya.
"Aku bahkan tidak mengenal wanita itu!"
"Dia calon istriku!" Kalimat itu membuat Gia terdiam. Adam melepaskan dagunya dengan kasar, lalu berbalik menuju jasad wanita yang tergeletak tidak jauh dari mereka.
Wajah wanita yang seharusnya tersenyum bersamanya saat mengikat janji suci. Wanita yang seharusnya mengenakan cincin pemberiannya. Wanita yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya mulai hari ini. Kini, semuanya telah berakhir.
Adam berlutut di samping jasad itu. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Dia tidak menangis. Adam Lorenzo Maxnore tidak pernah memperlihatkan kelemahannya kepada siapa pun. Namun, ketika menyentuh tangan dingin wanita itu, sesuatu di dalam dirinya seolah-olah runtuh.
"Kita belum menikah," bisiknya pelan, "Kau bahkan belum menjadi istriku."
Adam menundukkan kepala selama beberapa saat. Kemudian, dia bangkit berdiri.
"Bawa dia pulang."
"Baik, Bos."
"Siapkan ruang penghormatan. Tidak seorang pun boleh menyentuh barang-barangnya tanpa izinku."
"Baik."
Adam lalu menoleh kepada anak buahnya yang masih menahan Gia.
"Seret perempuan itu ke mobil."
Mata Gia membelalak.
"Tunggu! Anda tidak bisa melakukan ini!"
Adam bahkan tidak menoleh.
"Kalau dia benar-benar tidak bersalah, dia bisa membuktikannya nanti."
"Tolong dengarkan Aku! Kakak ku yang menyetir mobil itu! Namanya Amerda! Dia melarikan diri dan meninggalkan aku di sini!"
Langkah Adam sempat terhenti, tetapi dia hanya menoleh sedikit.
"Kalau begitu, pastikan kakakmu ditemukan dan terbukti bersalah," Tatapannya kembali mengeras.
"Dan sampai aku mendapatkan kebenarannya, perempuan ini tetap bersamaku."
Dua pengawal menyeret Gia menuju mobil hitam. Gia berusaha melawan, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan kedua pria itu.
"Tolong! Aku tidak bersalah! Aku harus pergi! Hari ini pernikahanku!"
Tidak ada yang menjawab. Pintu mobil ditutup dengan keras, mengurungnya bersama ketakutan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Sementara itu, di kediaman keluarga Conti, suasana yang awalnya dipenuhi kemewahan perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Para tamu telah berkumpul. Keluarga Dominic duduk di ruang utama, menunggu kedatangan mempelai wanita, tetapi waktu terus berjalan dan Gia belum juga datang.
Ricardo Dominic berdiri di dekat jendela dengan wajah masam. Sejak tadi dia sudah beberapa kali memeriksa jam tangannya.
"Di mana Gia?" tanyanya dengan nada tertahan.
Ayah Gia mencoba tersenyum untuk meredakan suasana.
"Mungkin ada sedikit kendala di perjalanan. Kami akan segera menghubunginya."
Sedikit kendala?" Ricardo tertawa hambar. "Pernikahan ini sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Seluruh keluarga saya hadir, para tamu sudah menunggu, tetapi mempelai wanita bahkan tidak bisa datang tepat waktu?"
Ibu Ricardo menghela napas tajam.
"Ini bukan sekadar masalah terlambat. Ini menyangkut kehormatan keluarga Dominic."
Kedua orang tua Gia saling pandang dengan cemas. Mereka telah berkali-kali mencoba menghubungi putri mereka, tetapi panggilan itu tidak pernah dijawab. Lalu, pintu utama terbuka.
Amerda muncul dengan wajah pucat dan napas tersengal-sengal. Gaunnya sedikit berantakan, seolah-olah dia baru saja melewati kejadian yang sangat menakutkan.
Semua orang menoleh kepadanya.
"Amerda?" Ibu Gia langsung berdiri. "Di mana Gia? Kenapa kamu hanya datang sendiri?"
Amerda menundukkan kepala. Kedua tangannya saling meremas.
"Ayah ... Ibu ..."
"Ada apa?" desak ayah Gia.
Amerda mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca.
"Gia ... dia pergi."
Pergi ke mana?" tanya ibunya.
Amerda terdiam sejenak, seolah-olah sulit mengucapkan kata-kata berikutnya.
"Dia melarikan diri dengan seorang pria."
"Apa?!" Suara keterkejutan memenuhi ruangan.
Ayah Gia sampai terhuyung mundur. Ibu Gia menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ricardo menatap Amerda tajam.
"Apa maksudmu, dia melarikan diri dengan pria lain pada hari pernikahan kami?"
Amerda mengangguk pelan, memainkan peran sebagai seorang kakak yang kecewa dan terluka.
"Aku tidak tahu siapa pria itu. Saat kami sedang dalam perjalanan, Gia meminta berhenti. Setelah itu, dia turun dan pergi bersama seseorang. Aku berusaha mencegahnya, tetapi dia tidak mau mendengarkan."
Kebohongan itu meluncur begitu lancar dari bibirnya. Tidak seorang pun di ruangan tersebut mengetahui bahwa beberapa menit sebelumnya, Amerda telah meninggalkan Gia di lokasi kecelakaan.
"Mustahil!" Ibu Gia menggeleng keras. "Gia tidak mungkin melakukan itu!"
"Kalau begitu, coba hubungi dia!" bentak ayahnya.
Ibu Gia buru-buru mengambil ponsel dan menelepon nomor putrinya. Namun, panggilan itu tidak tersambung. Dia mencoba sekali lagi, tetap tidak ada jawaban.
Wajahnya semakin pucat. Ponsel Gia tertinggal di dalam mobil yang berada di lokasi kecelakaan. Tidak ada seorang pun di rumah itu yang mengetahui keberadaannya.
Sementara itu, keluarga Dominic sudah kehilangan kesabaran. Ayah Ricardo berdiri dari kursinya.
"Kami datang ke sini untuk melangsungkan pernikahan yang telah disepakati oleh kedua keluarga. Putra kami telah menunggu, para tamu telah hadir, tetapi putri kalian justru mempermalukan keluarga kami!"
Ada kesalahpahaman," ujar ayah Gia dengan suara bergetar. "Kami akan mencari Gia dan menjelaskan semuanya."
"Kesalahpahaman?" Ayah Ricardo mendengus. "Apa kalian menganggap nama keluarga Dominic bisa dipermainkan begitu saja?"
"Kami akan bertanggung jawab."
"Bagaimana caranya?"
Pertanyaan itu membuat ayah Gia kehilangan kata-kata. Lalu, Amerda perlahan melangkah maju.
"Kalau keluarga Dominic bersedia, Aku masih punya solusi."
Semua mata tertuju kepadanya. Amerda menatap Ricardo dengan ekspresi penuh ketulusan yang dibuat-buat.
"Biarkan aku menggantikan Gia."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Ibu Gia menoleh cepat. "Amerda, apa yang kamu katakan?"
"Aku tau ini tidak mudah, Ibu. Tetapi pernikahan ini tidak boleh dibatalkan hanya karena Gia melarikan diri." Amerda menundukkan kepala. "Aku juga bagian dari keluarga ini. Jika pernikahan aku dengan Ricardo bisa menyelamatkan kehormatan keluarga Conti dan Dominic aku bersedia."
Ricardo menatapnya seolah-olah baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu.
"Kau ingin menggantikan Gia?"
Amerda mengangguk.
"Aku bersedia menikah denganmu."
"Tidak!" Jawaban Ricardo keluar tanpa keraguan sedikit pun.
Wajah Amerda menegang. Namun, sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, ayah Ricardo mengangkat tangan.
"Ricardo, cukup."
"Ayah, saya tidak akan menikahi perempuan lain hanya karena Gia menghilang!"
"Ini bukan lagi soal keinginanmu."
"Tapi ini hidup saya!" Ayah Ricardo menatap putranya dengan tajam.
"Keluarga Dominic tidak akan membiarkan kehormatan kita diinjak-injak. Pernikahan ini sudah disepakati. Jika Gia tidak bisa memenuhi kewajibannya, maka keluarga Conti harus memberikan pengganti."
"Tetapi—"
"Ini demi kehormatan keluarga!" Bentakan itu menggema ke seluruh ruangan.
Ricardo terdiam, menatap ayahnya dengan kemarahan yang nyaris tidak terbendung.
Sementara itu, Amerda menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul di bibirnya.
Dia telah berhasil. Gia akan menanggung akibat dari kecelakaan itu, sementara dirinya akan mendapatkan posisi yang selama ini diinginkannya, menjadi istri Ricardo Dominic. Menjadi wanita yang dihormati oleh keluarga Dominic.
'Maaf, Gia. Tetapi calon suami mu terlalu tampan jika di sia-siakan.'
ap Dy punya rencana sendri???
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,