NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Nasihat Melly

Devan kembali ke kamar sambil membawa baskom kecil berisi air hangat, handuk kecil, dan secangkir teh manis panas. Pria itu meletakkan semuanya di atas meja samping kasur, lalu memeras handuk kusam itu dengan tangan gemetar.

Saat Devan hendak menempelkan kain basah itu ke dahi Bellona, gadis itu mendadak mengibaskan tangannya kaku.

"Kagak usah... pegang-pegang gue," desis Bellona parau. Walau suaranya lemah dan napasnya tersengal parah, tatapan mata yang ia lempar masih dipenuhi kebencian yang sama.

Devan menghentikan tangannya di udara, menghembuskan napas panjang mencoba bersabar. "Bell, badan lo panas banget. Diem dulu, gue cuma mau ngompres dahi lo."

"Gue bilang kagak usah ya kagak usah!" amuk Bellona serak, menepis tangan Devan makin kasar hingga sedikit air di baskom terpercik ke lantai. "Gue kagak butuh kasihan dari lo! Pergi lo dari sini!"

Devan mengepalkan tangannya. Rasa bersalah dan lelah yang menumpuk sejak kemarin mendadak bertabrakan dengan penolakan mentah-mentah dari Bellona. Usahanya yang selalu dianggap sampah membuat pertahanan Devan akhirnya runtuh.

"Terserah lo!" bentak Devan frustrasi, suaranya meninggi penuh emosi yang pecah. Pria itu melempar handuk basah itu begitu saja ke atas meja.

"Gue coba merawat lo karena lo lagi sakit, Bego! Tapi lo malah terus-terusan perlakuin gue kayak gini!" Devan berdiri tegak, menatap Bellona dengan napas memburu dan mata yang memerah. "Gue capek, Bellona! Gue capek serba salah di mata lo!"

Bellona hanya memalingkan wajahnya ke arah dinding, menahan air mata panas yang menetes di balik pejam mata sayunya.

"Yaudah kalau itu yang lo mau," kata Devan kaku, suaranya mendadak berubah dingin dan pasrah. "Gue pergi."

Devan berbalik melangkah lebar keluar dari kamar, menyambar jaket kulitnya di ruang tamu, lalu membanting pintu depan keras-keras.

BLAM!

Suara deru mesin motor tuanya membumbung nyaring di luar teras, lalu perlahan menjauh meninggalkan area gang. Menyisakan Bellona yang terbaring sendirian di balik selimut tebalnya dengan dada yang terasa makin hampa dan sesak.

***

Deru mesin motor tua Devan berhenti kasar di depan studio. Pria itu melangkah masuk dengan napas membara dan raut wajah kusam yang dipenuhi amarah bercampur frustrasi.

Di dalam studio, suasana rupanya agak berbeda dari biasanya. Raka sedang duduk di sofa bersama seorang wanita berpenampilan hangat dengan rambut terikat rapi—Melly, istrinya. Di atas meja lesehan, tersaji beberapa wadah makanan rumahan yang baru saja dibawa Melly untuk suaminya dan anak-anak band.

"Nah, ini dia orangnya," ujar Raka pas Devan menyibak tirai pintu. "Dari mana aja lo, Van? Muka udah kayak tekek kejepit gitu."

Devan tidak menjawab. Pria itu melempar kunci motornya kasar ke atas meja, lalu melempar tubuhnya ke sudut sofa lain dengan napas terengah-engah. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening luar biasa.

Melly menatap Devan dengan pandangan heran sekaligus prihatin. "Kamu kenapa, Van? Datang-datang udah tekuk muka begitu. Masih pagi juga."

"Biasa, Mbak..." sahut Devan serak, suaranya sarat akan rasa frustrasi yang sudah memuncak di ubun-ubun. "Si Bocah... makin hari makin bikin pusing."

Raka menaikkan sebelah alisnya sambil mengunyah mendoan. "Bellona? Berantem lagi lo berdua?"

"Bukan berantem lagi, Ka," kata Devan sambil menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan. "Dia sakit panas tinggi tadi pagi. Gue berniat baik mau ngompres, mau ngurusin dia... eh, malah ditepis, diamuk, dibilang kagak butuh kasihan dari gue. Capek gue, Ka! Beneran capek banget! Apapun yang gue lakuin selalu salah di mata dia!"

Melly yang mendengar ocehan Devan mendadak menghela napas pelan. Wanita itu meletakkan sendoknya, menatap Devan dengan raut wajah yang jauh lebih tenang namun tajam khas seorang ibu.

"Ya iyalah dia begitu, Van," tegur Melly pelan namun menusuk.

Devan mendongak, menatap istri sahabatnya itu dengan kening berkerut. "Kok 'ya iyalah', Mbak? Gue kan niatnya baik mau ngerawat anak sendiri yang lagi sakit!"

"Niat baik kamu itu gak sebanding sama luka yang udah tertanam di hatinya," balas Melly tenang, menatap Devan lurus-lurus. "Kamu bayangin jadi Bellona. Selama bertahun-tahun dia tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya, hidup susah tanpa perhatian ibunya, terus tiba-tiba harus tinggal sama pria asing yang berantakan, suka mabuk, dan tiba-tiba sok ngatur hidup dia. Menurut kamu, emang gampang buat dia langsung nempatin kamu sebagai sosok ayah?"

Devan bungkam seketika. Kata-kata Melly bagaikan tamparan dingin yang langsung menghentikan kepulan amarah di kepalanya.

"Anak perempuan yang lagi sakit dan trauma itu bukannya gak mau dirawat, Van," lanjut Melly dengan nada lembut namun penuh penekanan. "Dia cuma lagi pasang benteng pertahanan paling keras karena takut dikecewakan lagi. Kalau kamu ikut-ikutan terbawa emosi terus ninggalin dia sendirian dalam keadaan sakit begitu... kamu cuma makin ngebuktiin ke dia kalau kamu emang pria yang gak bisa diandalkan."

Ruangan studio mendadak hening. Raka hanya diam meminum kopinya, memberi ruang bagi Devan untuk mencerna setiap kalimat yang baru saja diucapkan istrinya.

Devan mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan.

"Terus... solusinya apa, Mbak?" tanya Devan akhirnya, suaranya terdengar serak dan begitu putus asa. Pria itu mendongak menatap Melly, matanya yang memerah memancarkan kebingungan. "Gue beneran kagak paham gimana cara ngertiin anak cewek. Gue kagak pernah jadi bapak sebelumnya, apalagi buat anak yang udah gede dan benci banget sama gue."

Melly tersenyum tipis, merapikan wadah makanan di atas meja sebelum membalas tatapan Devan.

"Anak cewek itu gak butuh kamu yang sok pahlawan atau mendadak pengin diakui jadi bapak hebat, Van," ujar Melly pelan namun tegas. "Yang dia butuhin itu konsistensi dan rasa aman. Dia butuh tahu kalau kamu ada di sana, gak bakal lari walau dia dorong kamu sekeras apa pun."

Devan terdiam, mendengarkan setiap patah kata Melly.

"Kuncinya cuma satu: turunin gengsi dan sabar," lanjut Melly. "Kalau dia nolak dikompres, ya jangan dipaksa langsung di depannya. Taruh air hangatnya, taruh obatnya, bikin makanan yang gampang ditelan. Jangan dibentak balik kalau dia lagi ketus. Kamu yang dewasa, kamu yang harus ngalah."

Raka menepuk bahu Devan agak keras dari samping. "Dengerin tuh kata bini gue. Lo ninggalin dia pas lagi demam tinggi gitu cuma bikin lo makin kelihatan kayak bocah lepas tanggung jawab. Pulang sana lo."

Melly berdiri, lalu menyambar satu kotak bekal kosong dari tasnya dan mengisinya dengan bubur ayam hangat yang sempat ia bawa.

"Nih, bawa pulang," Melly menyodorkan kotak bekal itu ke dada Devan. "Kasih ke Bellona. Taruh aja di mejanya, gak usah banyak omong kalau dia masih galak. Tapi yang penting, kamu balik ke rumah sekarang."

Devan mematung menatap kotak bekal hangat di tangannya.

"Mbak... Raka... makasih ya," bisik Devan kaku.

Tanpa membuang waktu lagi, Devan menyambar kunci motornya di meja. Pria itu melangkah cepat keluar studio, berpacu dengan waktu menuju rumah tua untuk kembali pada anak gadisnya yang ditinggalkannya sendirian.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!