Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Gemuruh dan Jejak Dingin Malam
Usai gelombang buruk yang menimpa sahabatnya di sekolah, hari Aira tak lantas membaik begitu saja. Surat pemberitahuan dari guru Bimbingan Konseling yang ia serahkan di meja makan berujung pada amukan hebat Bu Windy. Pasrah, Aira menghabiskan sisa harinya dengan mengurung diri di kamar. Satu-satunya penghibur adalah saat ia menghubungi Zara melalui pesan singkat guna memastikan kondisi kening sahabatnya itu.
Namun, di tengah usahanya menenangkan pikiran, ponselnya tak henti-hentinya berdering. Bayu berkali-kali menghubungi dan membujuknya agar mau menemani berkunjung ke rumah Zara.
Awalnya Aira menolak mentah-mentah dan menyuruh Bayu pergi seorang diri. Namun, pertahanan Aira runtuh saat Bayu mengaku tidak tahu arah rumah Zara dan takut melangkah sendirian. Merasa iba sekaligus didorong keinginan untuk melihat langsung kondisi Zara, Aira akhirnya luluh.
"Kamu mau ke mana, Aira?" tegur Bu Windy begitu melihat putrinya bersiap melangkah keluar kamar.
"Aira mau menengok Zara sebentar, Ma... Boleh, ya? Janji, besok Aira akan diam di rumah saja," bujuk Aira dengan tatapan memohon.
Melihat pancaran rasa bersalah yang masih membayang di wajah putrinya, Bu Windy menghela napas halus lalu mengizinkannya dengan syarat tidak pulang larut malam. Beliau bahkan menyodorkan beberapa lembar uang kertas untuk dibelikan buah tangan bagi Zara.
Usai berpamitan, Aira melangkah keluar gerbang dan menghampiri Bayu yang sudah menunggunya di atas sepeda motor.
"Kamu bawa apa untuk jenguk Zara?" tanya Aira seraya mengaitkan tali helmnya.
"Bawa diri," sahut Bayu singkat dan cuek.
"Astaga, kau ini benar-benar tidak punya hati, ya!" cerca Aira jengkel. "Masa menjenguk teman sendiri tidak membawa apa-apa? Punya uang banyak, punya studio foto sendiri, tapi menjenguk teman sakit cuma membawa diri? Dasar pelit!"
"Tidak usah banyak bicara. Masih untung aku mau datang," balas Bayu tak mau kalah.
Sambil mendengus jengkel, Aira menaiki boncengan motor ninja milik Bayu. Atas desakan Aira, mereka memutar arah menuju supermarket terlebih dahulu sebelum meluncur ke rumah Zara.
Sesampainya di supermarket, Bayu berkali-kali menolak ikut masuk. Namun, berkat paksaan Aira yang tak kenal kompromi, ia akhirnya pasrah melangkah mengitari lorong-lorong toko, memilih beberapa cemilan dan buah-buahan segar.
"Buah-buahan sudah, cemilan sudah, susu juga sudah. Oke, semuanya sudah lengkap!" seru Aira puas meneliti isi keranjang.
Bayu hanya menatapnya pasrah seraya mendorong troli menuju antrean kasir.
"Totalnya jadi Rp275.000, Kak," ujar petugas kasir ramah.
"Bayu, cepat bayar!" suruh Aira tanpa rasa bersalah.
Bayu melongo menatap Aira. Sejak awal ia hanya berniat mengantar, tetapi pada akhirnya dompetnya juga yang harus menanggung impak secara mendadak.
"Cepat, Bayu! Antreannya sudah panjang ini," desak Aira lagi.
Enggan berdebat di tempat umum, Bayu menghela napas pasrah lalu merogoh dompetnya. Sambil menenteng kantong belanjaan yang cukup berat, ia berjalan menyusuri parkiran. Aira yang merasa menang sama sekali tidak merasa bersalah dan langsung memasang kembali helmnya.
"Puas kau sudah memalakku?" gumam Bayu sengit.
"Belum! Aku belum puas sampai kau benar-benar minta maaf pada Zara. Dan oh ya, uang kembaliannya jadi jatahku untuk membeli nasi goreng di dekat rumah Zara, ya!" celoteh Aira santai seraya melompat naik ke boncengan.
Bayu mendengus pasrah. Ia harus merelakan uang saku dua bulannya melayang demi Aira dan sahabatnya malam ini.
𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊
Sesampainya di kediaman Zara, kedua remaja itu dipersilakan duduk di ruang tamu. Bagi Aira, suasana sepi di rumah ini bukanlah hal baru. Sepanjang berteman dengan Zara, ia baru satu kali bertemu dengan kedua orang tua sahabatnya yang memang sangat sibuk bekerja.
Tak lama kemudian, Zara melangkah anggun membawa nampan berisi cangkir minuman.
"Kalian minum dulu, ya," tutur Zara hangat.
"Terima kasih, Zara... Maaf jadi merepotkan, padahal kamu sedang sakit," ujar Aira merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Aira. Yang sakit kan cuma keningku, badanku masih sehat," balas Zara menyunggingkan senyum. Gadis itu mengenakan gaun tidur panjang berbahan lembut lengkap dengan kerudung instannya.
"Orang tuamu... sudah tahu soal kejadian ini?" tanya Aira pelan.
Senyum di wajah Zara mendadak pudar, tergantikan oleh tundukan kepala yang menyembunyikan rasa canggung. "Sudah... dan tidak apa-apa. Lagipula ini cuma luka kecil, besok aku sudah bisa sekolah lagi."
Aira mengangguk pelan, tatapannya masih diselimuti rasa bersalah mendalam. Ia kemudian menyikut lengan Bayu yang sejak tadi membisu, mengamati deretan foto keluarga yang terpajang di dinding foto yang memperlihatkan betapa langkanya momen kebersamaan mereka secara utuh.
Mendapat desakan dari siku Aira, Bayu akhirnya memberanikan diri membuka suara. "Za-Zara... aku minta maaf, ya, sudah membuatmu celaka," ucapnya patah-patah dan kikuk.
Zara menoleh, mengukir senyum tulus yang memancarkan kelegaan luar biasa. "Santai saja, Bayu. Lagipula musibah tidak ada yang tahu kapan datangnya."
Mendengar respons hangat itu, keterpaksaan di raut wajah Bayu perlahan luluh. Ia bernapas lega. "Maaf tadi aku tidak membantumu ke UKS... Aku fobia melihat darah. Tadi darah di keningmu banyak sekali, makanya aku membeku dan tidak kuat," aku Bayu jujur.
Aira dan Zara terperanjat mendengar pengakuan itu. Seketika rasa bersalah berbalik menyerang dada Aira, ia teringat betapa tajam tuduhan dan makian yang meluncur dari mulutnya tadi siang. Zara pun tak kalah terkejut, kini mengerti alasan di balik sikap mematung Bayu saat kejadian berlangsung.
"Maafkan aku, Bayu... Aku tidak tahu kalau kau fobia darah. Sumpah, tadi aku tidak bermaksud menuduhmu yang tidak-tidak," bisik Aira penuh penyesalan, tangannya terulur menyentuh pundak Bayu.
Bayu tersenyum tipis, meraih cangkir minumannya. "Santai saja. Aku tidak masalah kalau kalian sempat menganggapku egois atau tidak bertanggung jawab. Tapi memang aku tidak bisa membohongi ketakutanku sendiri."
"Tidak apa-apa, Bayu. Yang penting sekarang aku sudah baik-baik saja. Ayo diminum dulu sirupnya," tawar Zara mencairkan suasana.
Mereka pun larut dalam perbincangan yang makin hangat. Setelah Bayu terbuka tentang ketakutannya, benang ketegangan di antara mereka bertiga seolah terurai sempurna. Tanpa terasa, sang waktu bergulir kian larut menembus malam.
"Kami pulang dulu, ya. Sudah malam," pamit Aira seraya berdiri.
"Terima kasih banyak, ya, kalian sudah mau mampir. Besok aku akan coba bicara pada Pak Rohim untuk meringankan hukuman kalian. Lagipula sebentar lagi ujian, masa kalian malah diskors," ujar Zara prihatin.
"Tidak usah, Zara. Aku malah senang diskors beberapa hari ke depan. Aku sudah punya rencana mengambil proyek foto untuk acara pernikahan," potong Bayu santai.
"Aku juga sudah punya rencana menamatkan drama Korea yang tertunda. Udahlah, skors cuma beberapa hari sama sekali tidak masalah!" timpal Aira seraya memakai helmnya.
"Tapi kan tetap saja kalian tidak—"
"Sudah, Zara sayang, tidak usah memikirkan nasib kami. Aku dan Bayu tidak apa-apa, kamu lihat sendiri kan kami tetap bahagia? Sekarang kamu istirahat yang cukup. Nanti kalau mau kontrol luka ke rumah sakit, hubungi aku atau Bayu untuk mengantar, ya," sela Aira lembut seraya merengkuh tubuh sahabatnya dalam pelukan hangat.
"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Ini sudah jam delapan malam. Bayu, jangan mengebut! Kalau sudah sampai rumah, beri tahu aku, ya."
"Sip!" Bayu menyalakan mesin motornya lalu memberi tanda ibu jari pada Zara.
Usai berpamitan, motor ninja itu meluncur menembus dinginnya malam. Sesuai kesepakatan awal, mereka sempat meminggirkan kendaraan di kedai nasi goreng langganan dekat rumah Zara. Meski Bayu sempat mengajak makan di tempat, Aira memilih membungkusnya saja mengingat waktu yang kian larut.
Lalu lintas malam itu terhitung cukup padat. Di sebuah perempatan jalan, motor yang mereka kendarai terhenti oleh pendar merah lampu lalu lintas.
"Aira, kau kedinginan?" tanya Bayu setengah berteriak menembus deru angin.
"Sedikit," sahut Aira singkat.
"Masukkan tanganmu ke saku jaketku biar tidak kedinginan."
Aira bergeming. Meski hempasan angin malam menusuk hingga ke tulang, ia enggan menuruti perintah itu. Memasukkan tangan ke saku jaket Bayu dari belakang sama saja seperti memeluk laki-laki itu.
Merasakan tak ada pergerakan dari belakang, Bayu mengambil tindakan cepat. Tanpa menoleh, ia menarik kedua jemari Aira dan menjejalkannya paksa ke dalam saku jaket hoodie yang dikenakannya. Aira sempat mencoba menarik tangannya kembali, tetapi genggaman Bayu menahannya kuat.
"Bayu, tidak apa-apa, aku aman..." bisik Aira canggung.
"Nurut saja. Aku tidak mau kau ikut-ikutan sakit setelah ini," balas Bayu tegas.
Aira akhirnya menyerah. Terpaan angin malam memang begitu pekat dan menusuk. Namun, saat tangannya telah bersarang hangat di dalam saku jaket Bayu, pandangan Aira tak sengaja mengarah ke sebelah kiri.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di samping motor mereka dengan kaca jendela tergulung separuh.
Jantung Aira seolah berhenti berdetak seketika. Dari balik kaca mobil itu, sesosok pria menatap tajam ke arahnya dan Bayu dengan pandangan mata yang begitu dingin dan menusuk.
"Kak Arkan!" seru Aira tertahan.
Bayu ikut menoleh ke arah mobil tersebut. Aira benar-benar tak menyangka akan berselisih jalan dengan Arkan di persimpangan ini.
Tanpa mengumandangkan sepatah kata pun, Arkan menaikkan kaca mobilnya rapat-rapat, lalu menancap gas dalam-dalam begitu lampu hijau menyala, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
"Sepertinya Dokter Arkan sedang terburu-buru," gumam Bayu menatap kepergian mobil itu.
"Iya... dia mengemudikannya kencang sekali," bisik Aira lirih dengan benak yang mendadak dipenuhi kegelisahan.
𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊
Setibanya di rumah, Arkan melangkah dengan tatapan kosong menuju kamar mandi. Ia memilih berendam di dalam bathtub guna menyegarkan raga yang mendadak terasa begitu berat. Namun, bayangan di persimpangan jalan tadi terus saja menari-nari di ingatan.
Padahal, usai menyelesaikan tugasnya di rumah sakit hari ini, ia berencana mampir ke kedai nasi goreng favoritnya untuk mengganjal perut. Siapa sangka, henti singkat di lampu merah justru menyuguhkan pemandangan yang mengusik ketenangannya.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana Aira duduk di boncengan motor Bayu, saling melempar tawa, hingga momen tatkala Bayu menarik jemari Aira untuk disembunyikan ke dalam saku jaketnya. Awalnya gadis itu menolak, namun tak lama kemudian Aira membiarkannya terlihat begitu menikmati kehangatan itu.
Mengingat sikap Aira yang terkesan pasrah, benak Arkan dipenuhi tanda tanya besar. Mungkinkah kedua remaja itu memiliki hubungan istimewa? Bukankah tadi pagi mereka juga saling pasang badan menanggung hukuman bersama di hadapan Kepala Sekolah?
Enggan membiarkan pikirannya terhanyut semakin jauh, Arkan menyudahi mandinya dan menyambar ponsel di atas meja. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari Aira sepanjang hari ini.
Rasa jengkel dan gelisah yang tak beralasan makin menggerogoti hatinya. Dengan gusar, Arkan melempar ponselnya ke atas kasur lalu merebahkan diri, membiarkan kelelahan fisik dan batin merayap lambat dalam gulita malam.
𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊𓋼𓍊
Di tempat berbeda, Aira yang baru saja tiba di rumah langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia memandangi langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Hari ini terasa begitu menghimpit, dimulai dari bangun terlambat, dijatuhi skorsing, hingga sorot mata dingin Arkan yang mengabaikan sapaannya di lampu merah tadi. Rasanya kemalangan bertubi-tubi sedang mengepungnya.
Ia berkali-kali menatap layar ponselnya, berniat menghubungi Arkan. Namun, jemarinya membeku. Jika Arkan menolak panggilannya, bagaimana? Haruskah ia menjelaskan alasan mengapa ia bisa terdampar di boncengan motor Bayu?
Namun untuk apa ia menjelaskan semuanya? Bukankah Arkan memang tidak pernah peduli padanya? Bukankah pria itu selalu bersikap acuh tak acuh? Lagipula, di antara mereka tidak ada hubungan spesial apa pun.
"Terserahlah... Lebih baik aku tidur. Aku sudah sangat lelah dengan semua masalah hari ini," keluhnya pasrah seraya membalikkan badan dan membebat tubuhnya dengan selimut.
Namun, tepat saat ia mencoba memejamkan mata, aliran listrik di kamarnya mendadak padam total. Aira berteriak kencang dalam kegelapan. Ia baru teringat bahwasanya sore tadi ada pemberitahuan mengenai pemadaman listrik berkala di kompleks rumahnya.
Aira hanya bisa terhenyak dalam gulita. Hari ini rasa sialnya terasa begitu sempurna seolah dunianya benar-benar kehilangan pendar cahaya.
Bersambung__
_____