Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Tersangka
“Maksudmu dia anak Cahyo Handika, pengacara ternama itu?” tanya Nino memastikan.
“Iya, benar. Memangnya ada apa? Apa dia terlibat kasus?”
“Masih kuselidiki. Terima kasih atas informasinya.”
Nino segera mengakhiri panggilan. Dia kembali fokus pada Asep, Pradipta, dan Gilang yang menunggu informasi darinya. Asep sempat terkejut saat mendengar nama Cahyo Handika.
“Pemilik mobil itu adalah Bimo Handika, anaknya Cahyo Handika.”
“Hem… alamat ribet nih,” gumam Asep pelan.
Pria itu tahu benar bagaimana karakter Cahyo Handika. Sebelum menjabat sebagai anggota DPR RI, Cahyo adalah pengacara terkenal. Dia kerap membela klien dengan kasus fenomenal.
Sialnya, dia selalu berhasil memenangkan kasus meski yang dibelanya adalah terdakwa yang memang bersalah.
Pradipta langsung melakukan pencarian tentang Bimo. Pria itu menelusuri semua sosial medianya dan merangkum semua jejak digitalnya.
Rupanya, pria itu pernah tersandung kasus kekerasan sebanyak dua kali, tetapi berhasil lolos berkat bantuan ayahnya.
“Bimo Handika, aku yakin banget kalau dia yang sudah menghabisi Arga,” celetuk Pradipta. Semua yang berada di sana langsung menoleh ke arahnya.
“Kenapa kamu yakin banget?” tanya Nino.
“Bimo ini pernah dua kali dilaporkan atas tuduhan tindak kekerasan. Kasusnya sudah dua kali dilaporkan ke Polda Metro Jaya, tapi tidak pernah sampai ke pengadilan.
Di depan kamera, tim hukumnya menjelaskan bahwa tidak ada bukti kuat terkait laporan tersebut. Tapi di belakang layar, korbannya dipaksa berdamai oleh mereka.”
“Kenapa ya, orang yang punya kekuasaan cenderung bertindak seenaknya. Dia pikir nyawa orang itu kayak air galon yang bisa diisi ulang?” ujar Gilang dengan kesal.
“Selain itu, Bimo terdaftar sebagai pasien seorang psikolog. Kayaknya dia punya masalah dengan mentalnya,” sambung Pradipta.
“Ini bakal jadi kasus rumit. Tapi aku bisa mulai penyelidikan dari hilangnya Arga. Harus ada yang melaporkannya terlebih dahulu.
Keluarganya bisa datang ke kantor Polda untuk melaporkan hilangnya Arga. Dari sana baru kita bisa mendatangi Bimo,” tutur Nino.
“Arga itu yatim piatu,” sahut Gilang.
“Minta pacarnya melaporkan. Akan lebih baik kalau atasan tempat Arga bekerja juga ikut melaporkan agar laporannya semakin kuat.”
“Baiklah. Aku akan mengatakannya pada Indri. Tujuanku dan Gilang hanya menemukan jasad Arga agar rasa penasaran Indri terjawab. Selebihnya menjadi urusan kalian.”
“Ya, tentu saja. Beri tahu kami informasi apa saja yang sudah kalian temukan.”
“Baiklah. Rekaman CCTV itu sebagai awalan. Aku juga akan memberikan semua informasi tentang Lisa.
Dia salah satu saksi yang terakhir kali melihat Arga. Dia juga mengenal Bimo dan dia juga alasan Arga sampai terlibat dengan Bimo.”
“Maksudnya perempuan di rekaman ini?” tanya Asep seraya menunjuk wanita di dalam rekaman.
“Iya. Bisa dibilang, gara-gara membantunya, Arga jadi kena getahnya.”
“Oke. Minta pacar Arga untuk melapor secepatnya agar kita bisa menyelidikinya.”
Setelah mengatakan itu, Nino dan Asep kembali ke kantor mereka. Sementara itu, Gilang dan Pradipta masih bertahan di tempat mereka.
Tanpa membuang waktu, Pradipta langsung menghubungi Indri. Tak butuh waktu lama, wanita itu segera menjawab panggilan. “Halo,” terdengar suara Indri dari seberang.
“Indri, apa kamu bisa ke kantor Polda?” tanya Pradipta.
“Untuk apa?” tanya Indri bingung.
“Kamu harus membuat laporan soal hilangnya Arga. Kalau bisa kamu temui atasan Arga dan minta dia juga membuat laporan hilangnya Arga. Polisi akan segera mencari jejaknya.”
“Kalau aku harus lapor polisi, lalu apa gunanya kalian?”
Sejenak Pradipta terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Arga sudah meninggal dunia. Dikhawatirkan wanita itu akan bertindak gegabah.
“Aku akan tetap menemukan Arga. Tapi kamu harus tetap melaporkan hilangnya Arga ke polisi.”
“Aku nggak mau!” Indri bersikeras. Dia tidak percaya bahwa pihak kepolisian bisa menemukan kekasihnya.
“Kalau kamu mau menemukan Arga, kamu harus melapor ke polisi. Sementara itu, aku akan terus mencari Arga dengan caraku sendiri. Tapi kamu harus melapor ke polisi!”
Tidak ada jawaban dari Indri. Wanita itu langsung mengakhiri panggilan begitu saja.
“Gimana, Bang? Indri mau melapor ke polisi?”
“Nggak. Dia keras kepala banget sih,” gerutu Pradipta seraya mengacak-acak rambutnya.
“Ya, kita temui atasannya Arga aja atau temannya yang lain. Minta mereka yang melaporkan. Pasti mereka mau dan nggak akan ada drama kayak si Indri.”
“Iya, kamu benar. Ya sudah, kita ke hotel tempat Arga kerja.”
Pradipta dan Gilang segera kembali ke area parkir kantor Polda. Tak lama kemudian, kendaraan roda empat tersebut meninggalkan tempat tersebut.
Satu jam kemudian mereka sudah tiba di hotel Golden Flower. Keduanya segera memasuki lobi hotel dan langsung mendekati meja front office.
“Sore, Mbak,” sapa Gilang.
“Sore. Mau pesan kamar, Mas?” tanya salah seorang petugas front office seraya melemparkan senyuman.
“Nggak, Mbak. Saya cuma mau tanya, di sini ada pegawai yang namanya Arga Kinanta?” tanya Gilang.
“Maaf, Mas siapa ya?” tanya petugas front office itu berhati-hati. Mereka tidak bisa sembarangan memberikan informasi tentang pegawai hotel.
Gilang langsung mengeluarkan kartu namanya, lalu memberikannya kepada petugas berwajah manis itu. Ada kebanggaan yang dirasakan Gilang saat memberikan kartu namanya.
Petugas bernama Nindi itu membaca dengan saksama kartu nama yang diberikan Gilang. “Prada Trace itu apa, ya?”
“Kayak kantor detektif swasta gitu. Kita khusus mencari orang hilang,” jawab Gilang dengan jumawa.
Pradipta yang hanya memperhatikan dari belakang hanya mendecih saja. Gaya tengil Gilang kumat saat berhadapan wanita cantik.
“Arga memang bekerja di sini sebagai roomboy. Tapi kabarnya sudah sebulan dia nggak masuk.”
“Apa saya bisa bertemu dengan atasannya?”
“Sebentar, Mas. Silakan duduk dulu, nanti saya panggilkan supervisornya.”
“Siap, makasih cantik,” jawab Gilang cepat seraya tersenyum.
Gilang mengedipkan sebelah matanya sebelum meninggalkan meja resesionis. Pradipta yang mengikutinya dai belakang menepak belakang kepala Gilang. Pemuda itu hanya mencebik.
Sepuluh menit kemudian, seorang pria mendekati mereka. Gilang langsung memperkenalkan dirinya dan Pradipta kepada pria bernama Samsul tersebut.
“Katanya kalian mencari Arga?” tanya Samsul tanpa basa-basi.
“Iya, Pak. Kami diminta seseorang mencari Arga. Dia sudah menghilang selama satu bulan.”
“Sebenarnya saya juga mencarinya. Soalnya, nggak biasanya Arga nggak masuk kerja tanpa pemberitahuan.
Dia itu pegawai yang rajin, nggak pernah bolos. Ambil cuti mendadak pun kalau ada hal yang mendesak aja. Makanya saya heran pas dia tiba-tiba nggak masuk,” jawab Samsul.
Sebagai atasan langsung Arga, Samsul tentu kebingungan saat salah satu pegawainya menghilang secara misterius.
Dia sudah mendatangi kos Arga, menanyakan kepada teman-temannya serta pegawai lain, tetapi hasilnya nihil.
“Apa Bapak sudah melaporkan hilangnya Arga ke polisi?” tanya Pradipta.
“Sudah, Pak. Saya takut terjadi sesuatu sama dia. Setelah seminggu nggak ada kabar darinya, saya langsung melaporkan ke polisi.
Apalagi waktu saya coba hubungi HP-nya, ternyata nggak aktif. Saya tahu Arga anak yang baik. Saya takut terjadi sesuatu padanya.”
“Di mana Bapak melaporkannya?” tanya Gilang.
“Polsek Antapani,” jawab Samsul cepat.
“Apa Bapak sendiri yang melaporkan?” tanya Gilang lagi.
“Iya, Pak. Saya yang melaporkannya.”
“Nama Bapak siapa? Supaya kami bisa mengecek laporan Bapak.”
“Samsul Wicaksono.”
“Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya.”
Gilang dan Pradipta segera bangkit. Saat mereka hendak pergi, Samsul menahan mereka.
“Kalau ada kabar tentang Arga, tolong kabari saya.”
“Tentu saja, Pak. Kami permisi dulu.”
Pradipta dan Gilang segera keluar dari hotel tersebut. Saat menuju mobil, Gilang menghubungi Nino. Saat pria itu masuk ke mobil, Nino menjawab panggilannya. “Halo.”
“Bang, ada yang udah melaporkan hilangnya Arga. Namanya Samsul Wicaksono. Dia lapornya di Polsek Antapani.”
“Oke, aku bakalan cek.”
Begitu panggilan berakhir, Pradipta melajukan mobilnya.
“Sekarang kita mau ke mana, Bang?” tanya Gilang.
“Kita pulang dulu. Besok kita ke lokasi Arga ditabrak.”
“Kenapa nggak sekarang aja?”
“Udah sore. Sampai sana pasti malam. Kalau kamu mau ke sana sendiri, pergi aja. Aku nggak mau. Pasti banyak setan di sana.”
Jawaban Pradipta membuat Gilang melongo. Setelah sekian lama bergaul dengannya, Nino, dan Asep, ternyata Pradipta masih saja penakut.
***
Jawaban Dipta gong banget🤣
semoga neng Giana baik baik aja 🙏