"Bukan kah diaa.....si gadis Hello Kitty?" Batin Rey, memperhatikan Alice dengan gerak mata saja.
“Waah! Mulai ribut nih!!” Seru Alice dalam hati.
“Harus cari tempat yang PEWE untuk nonton.” Batinnya sambil melemparkan pandangannya ke segala arah di dalam ruangan itu,mencari kursi yang dapat ia gunakan untuk nonton. Karena tidak mungkin dia nonton di area sofa secara semua para pemain sedang berada disana.
“Nah itu dia!” Seru Alice saat melihat kursi nganggur di depan meja kerja Rey. Alice berpikir untuk menarik kursi itu di pojokan untuk nontonin perang besar para wanita pemuja Reyfaldi Arthur. Mana tahu ini bisa menjadi inspirasi untuk novel nya di NovelToon.
“Seru nih!!!” gumam nya sambil pelan-pelan berjalan menuju kursi yang dia tuju di tengah kegaduhan itu, persis seperti seorang maling.
Alice masih tidak tahu kalau Rey tengah memperhatikan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31.
“Ini nama nya Lexi tuan.” Ujar Lexi.
“Maksud mu kura-kura mini, Lexi? Orang gila mana yang memberi nama kura-kura ini seperti nama mu?!” berang Robert.
“Orang gila itu adalah cucu mu sendiri tuan Robert!” jawab Lexi dengan wajah memelas.
Lexi ingat, Rey sengaja membeli kura-kura mini itu dan menamai nya Lexi sebab Lexi dahulu pernah terlambat mengerjakan proyek yang Rey perintahkan.
Jadi sebagai pengingat momentum itu, Rey sampai bela-belain membeli sekor kura-kura. Agar Lexi selalu ingat diri nya harus lah lebih cepat dari pada Lexi si kura-kura.
“Astaga!!” Seru Robert geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk pergi sendiri ke dapur guna membuat roti bakar selai kacang untuk diri nya sendiri.
“Sudah! Kau duduk saja disini bersama si Lexi yang ini.” Ujar nya sambil berjalan ke dapur.
Setelah Robert berhenti bicara, baru yang lain mulai kembali bicara.
“Sayang, aku pamit pulang dulu ya...” Ujar Lusy dengan tatapan cinta pada Rey usai drama yang sempat di ciptakan oleh Lexi bersaudara.
“Heem...” Jawab Rey, yang langsung mengeluarkan handphone nya seolah-olah sibuk dengan email masuk nya.
“maaf aku tidak bisa mengantar mu. Atau kalau kau tidak keberatan, sepupu ku mungkin bisa mengantar mu ke tempat yang kau tuju. Rumah atau perusahaan?” tawar Rey.
“Kau tidak keberatan kan Bram? Aku sungguh tidak bisa mengantarkan Lusy. Mungkin sebelum ke perusahaan aku akan singgah ke tempat nya Benjamin untuk mengambil sebuah berkas penting.” Ujar Rey dengan wajah biasa-biasa saja.
“Tentu saja. Kebetulan aku sedang tidak ada kegiatan hari ini. Apalagi kakek seperti nya masih ingin disini.” Ujar Bram.”Tapi itu pun kalau calon istri mu tidak keberatan untuk pulang bersama ku.” Lanjut nya.
“Kau tidak akan keberatan kan Lusy?” tanya Rey.
“Tentu saja tidak.” Jawab Lusy, melirik pada Bram.
“Baiklah. Titip Lusy ya.” Ucap Rey, tersenyum, tipis.
“Oke!” jawab Bram singkat.
“Kalau begitu ibu akan pulang dengan ibu nya. Kami akan singgah ke butik langganan ibu untuk melihat pakaian pengantin untuk kalian berdua.” Ujar Andini yang sebenarnya tidak suka kalau Lusy dan Bram pergi bersama. Andini takut kalau Bram akan menarik Lusy ke pihak nya.
“Besok ibu kabari kapan kau dan Lusy Fitting pakaian pengantin kalian. Atau kalau kalian punya designer tersendiri kalian bisa mengatakan pada ibu. Ibu akan atur mereka untuk bekerja sama merancang pakaian pengantin kalian.” Ujar Andini sebelum ia pulang.
“Ibu dan ibu nya Lusy saja yang atur. Aku akan kirimkan saja pakaian ku yang pas untuk aku pakai. Aku tidak sempat untuk hal-hal seperti itu. Aku harus ke Miami besok dan baru kembali lusa.” Ujar Rey.
“Baiklah kalau begitu. Aku dan ibu nya Lusy yang akan mengatur semuanya. Kau tidak akan keberatan kan Lusy?” tanya Andini pada Lusy.
“Tentu saja tidak bi.” Ujar Lusy.
“Kalau bibi butuh bantuan, bibi telpon saja aku. Aku akan meninggalkan semua pekerjaan ku dan berlari membantu bibi.” Guyon Lusy, bak seorang calon menantu yang sempurna.
“Baiklah, kami jalan dulu.”” Ujar Bram yang sudah tidak sabar untuk menghajar Lusy di atas ranjang nya.
“Aku pergi.” Ucap Lusy pada Rey, yang sama sekali tidak dijawab apapun oleh Rey.
“Ibu pergi Son...” Ujar Andini yang kemudian pergi dengan Delena.
“Akhirnya semua orang pergi juga!” Seru Rey, menghempaskan diri nya ke sofa.
“kakek mu masih disini Rey!” Ujar Lexi, mengingat kan.
Rey langsung meraup wajah nya sendiri dengan tangannya. Bisa-bisa nya dia lupa kalau kakek nya masih ada di rumah nya dan sedang memporak porandakan isi dapur nya.
“Kenapa tidak kau bantu dia Lexi? Bagaimana kalau dapur ku perlu di bangun ulang setelah ini?!” ketus Rey.
“Aku tidak mungkin bisa membuat dapur mu roboh jika aku hanya sehari disini, Reyfal!!! .Tapi kalau seminggu, mungkin saja..” Jawab Robert dengan entengnya lalu duduk di sofa dan menyantap roti bakar buatannya sendiri.
“Maaf, aku yakin kalian tidak akan suka roti dengan selai kacang buatan orang tua ini. Tapi jika kalian mau yang seperti ini, masih ada sisa bahannya di dapur.” Ujar Robert seenak nya.
Rey dan Lexi hanya bisa saling pandang kemudian menggeleng serentak.
karena dia melihat kesedihan yg dalem dari anaknnya, penghianatan dan kematian cucu nya yg tragis
dia ga mau cucu nya ngalamin lagi... karenanya sakitnya sakit bgt.
mungkin caranya salah
tapi salah satu dia ngelindungi cucu nya
tapi dia lupa,,kepala walaupun semua warnanya hitam tapi ttp kan isi pasti beda beda
yg pasti kak upe lah yg menang
apa si yg gak buat kamu 🤣🤣
tidur doank
hei..kata nenek ku
tidur bareng itu ga bahaya,yg bahaya kl ga tidur di tempat tidur🤣🤣
konsep..itu
cuman sebuah konsep sandiwara cinta 🤣
wkwkwkwk
kan ga salah sentuh disitu🤣🤣
repot cari jaminan sosial nya
kecuali babang itu yg mau jaminin,sekalian masa depan kita
eaaaaa, 🤣😘