Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Hendra Merasa Telah Dijebak
Pagi datang seperti biasa. Aku mulai bosan dengan suasana kota Bandung tak lagi semenarik awal ketika pertama kali aku datang.
Aku duduk di kursi depan mobil, menatap jalanan masih basah oleh sisa hujan subuh tadi. Hendra menyetir dengan satu tangan, lainnya sesekali mengetuk setir, gelisah.
Radio hidup dengan volume kecil. Mobil kami melaju dalam keheningan canggung.
Kami tidak membicarakan apa pun.
Mungkin sama-sama tahu, ada hal-hal lebih baik disimpan dulu. Tentang apa yang kami lalui semalam.
Aku melirik wajah Hendra dari samping. Matanya sembab, tersirat kelelahan tak bisa disembunyikan, meski ia berusaha tampak biasa saja.
Hingga akhirnya, aku mulai membuka obrolan.
“Semalam jadi gimana ceritanya, bang?” tanyaku pelan. “Kok kayaknya habis enak-enak tapi nggak seneng gitu.”
Hendra tak langsung menjawab. Ia menarik nafas, lalu menghembus kasar.
“Bener kata lu, Gas.” katanya singkat. “Harusnya gua nggak main semalam. Rugi bandar.”
Aku menunggu lanjutan cerita.
Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali bicara. “Gua diperas sama tuh cewek. Nggak nyangka sih. Gua ngiranya cewek bandung ya polos-polos aja, tapi nggak taunya, gila!”
“Diperas gimana, Bang?” aku mulai penasaran.
“Dimintain duit gua,” katanya datar. Matanya terlihat seperti mengingat kejadian semalam.
Aku mengangkat alis. “Tapi kenapa lo mau, Bang?”
Hendra tertawa hambar. “Awal bilang tarif biasa, tapi lama-lama dia maksa nambah. Katanya bakal dikasih service tambahan lah, butuh uang buat ibu yang sakit, macem-macem deh.”
“Terus? Lo kasih, Bang?”
“Nggak tega gua,” kata Hendra pelan. “Sama servisnya juga menurut gua enak banget. Puas lah gua.”
Aku tidak bisa menahan tawa. “Dih, itu mah emang lo juga yang doyan, Bang.”
Hendra melirikku tajam. “Tapi duit gua langsung abis ini.”
“Habis berapa jadinya?” kataku sambil tersenyum miring.
Hendra mendecak, “Sejuta.”
Tawaku otomatis berhenti, menyadari bahwa Hendra sepertinya memang telah terjebak.
Untuk beberapa saat, suasana memang terasa ringan. Seakan kami kembali jadi dua manusia biasa, bukan orang yang membawa beban.
Tapi perasaan itu cepat menguap. Tanpa alasan jelas, bayangan apartemen kembali muncul.
Kamar di Spring Town.
Ketukan pintu.
Peristiwa yang dialami oleh Ratna.
Aku menoleh kembali ke jalan. Kedua telapak tanganku bersatu, menggenggam.
Mimpi tadi malam rasanya terlalu nyata untuk aku abaikan begitu saja.
Pikiranku mengambang berlanjut melayang ke wajah Shinta yang kini terbaring di rumah sakit. Kepala mulai terasa berat untuk memikirkan semua.
Mungkin bukan kebetulan, pikirku.
Aku meyakini sakit Shinta, memang ulah Ratna. Tapi sekuat apapun aku berpikir, tidak bisa menemukan solusi apapun.
Setibanya di rumah sakit, aku dan Hendra berjalan cepat menyusuri lorong beraroma antiseptik. Lampu-lampu putih menyala terlalu terang, menusuk mata.
Suara langkah kaki kami berpadu dengan suara suster dan pasien berdengung konstan, membuat kepalaku semakin berat.
Kami langsung menuju ruangan tempat Shinta dirawat.
Begitu pintu terbuka, aku melihat Jefry berdiri di dekat jendela. Bahu turun, wajah pucat, murung. Saat melihat kami, ada kilatan lega di matanya.
“Gimana keadaannya, Bang?” tanya Hendra singkat.
Tanpa berkata apa-apa, Jefry memberi isyarat agar kami mengikuti keluar ruangan. Pintu ditutup kembali, menyisakan Shinta terbaring sendirian di atas ranjang perawatan.
Jefry mengusap wajah, seperti orang yang kehabisan tenaga. Nafasnya tidak beraturan, mirip pecandu sedang sakau.
“Kita harus balik,” katanya. Meskipun terlihat ragu, tapi ada pesan meyakinkan jika terlihat dari sorot matanya.
Aku dan Hendra saling berpandangan.
“Hari ini kita harus balik lagi ke apartemen,” lanjut Jefry.
Mendengar ucapannya, aku merespons dengan santai, “Oh, lo mau ke apartemen dulu, Bang? Ya udah, lo mau diantar siapa, gua atau Bang Hendra?.”
“Bukan.”
“Kita harus balik ke Spring Town,” kata Jefry membuat aku dan Hendra terkejut.
Hendra mendengus. “Lo lagi bercanda kan, Bang?”
Jefry menggeleng keras, tatapan mulai melirik tajam, “Gua diancam,” katanya lirih.
Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat.
“Ratna, Gas,” lanjutnya sambil menatapku. Nama itu meluncur begitu saja dari mulut Jefry. “Dia bilang ke gua. Kalo kita nggak balik hari ini, Shinta..”
Suasana lorong rumah sakit tiba-tiba terasa lebih tegang mencekam. Jefry seperti tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Shinta kenapa, Bang?” tanya Hendra penasaran.
Dengan berat hati, Jefry berkata, “Shinta bakal mati.
Setelah mengucapkan, ia menggeram. Mungkin kalau ini bukan di rumah sakit, Jefry pasti akan berteriak sekencang-kencangnya.
Tentu saja kami sangat terkejut mendengar ucapan Jefry. Ia terlihat sangat serius, bahkan tertekan.
Kami sempat berpikir sejenak. Mempertimbangkan segala kemungkinan.
“Tapi lo percaya, Bang?” ucap Hendra.
“Gua nggak tau pasti, tapi entah kenapa, gua percaya. Ancaman Ratna bukan main-main. Jujur, gua takut, udah berkali-kali gua berusaha buat denial, akhirnya malah jadi kayak gini.”
Lagi-lagi aku dan Hendra saling lirik.
“Maafin gua ya, Gas, Bro. Gua seharusnya bisa lebih aware lagi sama masalah ini,” pungkas Jefry, merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
Hening.
Bahkan aku bisa merasakan setiap hembusan nafas keluar dari hidungku.
“Ya udah, Bang. Nggak usah dipikirin lagi. Sekarang jadi gimana?” tanya Hendra.
Aku menemani Jefry ke restoran Waroeng Kayoe. Setelah memberitahu Damar tentang rencana kembali ke apartemen Spring Town, ia diminta datang memberi penjelasan secara langsung.
Matahari sudah tinggi.
Setibanya di restoran, kami langsung disambut oleh Damar dan Sully yang sedang menyantap beberapa hidangan di meja.
“Makan, Jef, Gas,” ucap Sully menawarkan.
Kami menolak dengan halus. Tujuan kami bukan mengisi perut, tapi memberi penjelasan. Dengan kondisi seperti sekarang, nafsu makan pun tidak ada.
“Jadi gimana itu, Jef? Kok kamu malah mau kembali ke apartemen yang kemarin?” tanya Damar. “Rugi dong gua udah pesan apartemen baru buat kalian.”
Berusaha tetap percaya diri, Jefry mulai memberi penjelasan. Ia tidak menceritakan tentang ancaman kematian Shinta oleh Ratna.
Ia beralasan kalau mendapat petunjuk dari teman yang mengerti hal mistis. Jika ingin sembuh, Shinta harus dikembalikan ke apartemen Spring Town.
Jefry melanjutkan penjelasan dengan mengatakan bahwa penyakit diderita Shinta bukan terkait medis.
“Ini gangguan dari alam lain,” katanya.
Damar mengernyit, “Tumben banget lo percaya yang ginian, Jef?”
Mendapat pertanyaan itu, Jefry terdiam beberapa detik, lalu menjawab diplomatis, “Gua ambil aman aja, Pak. Kasihan asisten gua, kondisinya sampai kayak gitu.”
“Terus, apartemen yang baru gimana?” tanya Sully.
“Kita tetap pakai, nanti setelah urusan Shinta beres. Kita bakal stay di apartemen baru. Kita balik ke Spring Town sementara aja, buat nyembuhin Shinta,” beber Jefry.
Jefry bahkan berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini. Ia mulai kembali ke sifat asli, arogan. Padahal beberapa waktu lalu, ia masih tidak bergairah. Seperti kehilangan harapan hidup.
Tapi kini, aku melihatnya berubah. Ia bahkan mengambil sebotol air mineral tergeletak di meja, membuka tutupnya lalu minum dengan santai.
Di tengah obrolan, Jeje datang mendekat.
Ia ingin memberitahu kalau ada janji untuk bertemu vendor sayuran siang ini.
Namun Sully justru kepikiran dengan acara Grand Opening yang sudah mendekati hari-H.
“Eh, buat persiapan GO, berarti diurus sama Jeje aja ya,” ucapnya.
Wajah Jefry berubah. Ia merasa tak terima, namun juga memahami keadaannya tidak mungkin memaksakan.
Dengan berat hati, ia mengiyakan, “Tapi nanti laporan tetap ke gua ya, supaya nggak ada masalah.”
Jeje menyetujui, “Siap, Kang.”
Aku melihat wajah Jeje tidak bisa menutupi rasa puas yang tersirat.
Kami tak berlama-lama di situ karena harus segera membawa Shinta kembali ke apartemen.
Sebelum berangkat, aku izin sebentar pergi ke toilet. Kebelet buang air kecil.
Begitu selesai, aku dikejutkan dengan kehadiran Lestari yang sepertinya sudah menunggu.
“A’ Bagas,” sapanya tenang. “Aku udah dengar soal Shinta. Gimana kondisi dia sekarang?”
Menjawab apa adanya, aku menjelaskan kalau Shinta masih belum sadar. “Sekarang, kita mau bawa Shinta ke Spring Town lagi, soalnya..”
Aku bingung apakah harus memberitahu Lestari atau tidak.
Namun siapa sangka kalau setelahnya, Lestari malah mengajukan diri untuk ikut mengantarkan Shinta.
“Hah? Ikut gimana, Teh?” tanyaku heran.
“Aku mau bantu,” ucapnya singkat.
Ketika aku ingin bertanya lebih jauh, tapi Jeje keburu datang. Ia menegur Lestari, “Kamu ngapain di sini?”
Menjawab pertanyaan suaminya, Lestari mengatakan kalau ia ingin ikut mengantarkan Shinta ke apartemen.
Dengan cepat, Jeje menarik tangan Lestari, menjauh. Aku melihat mereka berdebat.
Sekarang aku hanya bisa diam, menunggu mereka selesai.