NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam makin melarut. Jarum jam dinding tua di ruang tengah terdengar berdetak konstan membelah keheningan rumah kayu yang sunyi.

Bintang sudah lama terlelap di kamarnya, sementara Dayang pun sudah mengunci diri untuk beristirahat setelah hari yang panjang dan berdarah.

Di kamar belakang yang sederhana, Rimba duduk termangu di pinggir tempat tidur jati tua. Ruangan itu hanya diterangi remang lampu minyak di atas meja kecil.

Sang CEO meraba dada kirinya. Detak jantungnya masih berpacu pelan, menyimpan gelombang emosi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Bayangan wajah Dayang saat menahan perih akibat pukulan Bayu tadi sore terus terbayang di kelopak matanya.

Rasa murka yang mendidih di dadanya saat melihat darah mengalir di pipi halus gadis itu terasa begitu nyata—bukan sekadar dorongan akting demi menjaga penyamaran, melainkan naluri murni seorang pria yang ingin melindungi wanitanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Rimba?" gumamnya serak pada kegelapan kamar.

Ia meraup wajahnya kasar, menyandarkan siku di atas lutut.

Seharusnya misi ini sederhana: masuk ke kehidupan Dayang, mencari kelemahan sang preman pasar untuk merebut sengketa lahan, dan menyelamatkan anak perusahaan Suryo Group dari jurang kebangkrutan.

Namun baru dalam hitungan hari, benteng pertahanannya runtuh secara mengenaskan.

Gadis pasar yang ia anggap ancaman itu justru menunjukkan ketulusan yang tak pernah ia temukan di lingkungan konglomeratnya.

Usapan lembut Dayang, tatapan matanya saat mencabut duri ikan di pelelangan, hingga keberaniannya menengahi pukulan demi membela seorang 'kuli miskin' semuanya merayap masuk, merobohkan dinginnya taktik bisnis Rimba.

Rimba melirik kemeja pudar peninggalan ayah Dayang yang terlampir di sandaran kursi. Kebohongan yang ia rangkai makin hari makin tebal.

Bagaimana jika Dayang akhirnya tahu bahwa 'Bima' si perantau yang ia selamatkan dan ia obati lukanya adalah sosok Rimba Suryo—pria kaya bertangan besi yang berniat menghancurkan mata pencahariannya?

Logika sang CEO menyuruhnya untuk segera menarik diri sebelum segalanya terlambat, namun hatinya menyuarakan hal yang sama sekali berbeda.

Rimba melangkah sangat pelan menembus kegelapan menuju kebun pisang di samping rumah kayu.

Pastikan derit pintu kayu tak sampai membangunkan Dayang maupun Bintang, ia merogoh ponsel cadangan berenkripsi tinggi dari balik lipatan celana usangnya.

Ia menekan tombol panggil cepat. Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum suara panik Dio terdengar di seberang telepon.

"Pak Rimba?! Akhirnya Bapak telepon juga! Saya panik setengah mati dari tadi siang, Pak!" bisik Dio dengan nada tertahan namun penuh ketegangan.

"Diam, Dio. Jangan teriak-teriak," tegar Rimba dingin, matanya liar mengawasi sekeliling kebun yang gulita.

"Bagaimana situasi di kantor pusat?"

Dio menarik napas panjang, berusaha menata suaranya.

"Kondisi pabrik pengolahan makanan laut kita makin kritis, Pak. Direksi sudah rapat darurat. Pabrik Merah di Jawa Timur benar-benar di ambang kebangkrutan karena kekurangan pasokan bahan baku ikan segar. Kalau dalam minggu ini kita akan tidak dapat pasokan ikan skala besar dengan harga miring, pabrik terpaksa tutup dan arus kas Suryo Group bakal jebol!"

Rimba mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"Sengketa lahan dan jaringan distributor pasar lokal, bagaimana?"

"Itu dia masalahnya, Pak!" sahut Dio makin mendesak.

"Pasokan ikan segar paling melimpah dan berkualitas super di wilayah ini dikuasai penuh oleh jaringan Mbak Dayang dan kelompok pedagang Pasar Matahari. Pak Rimba harus bisa membujuk atau mendesak Mbak Dayang agar mau kerja sama dengan Suryo Group secepatnya! Kalau Dayang mau memasok ikan ke pabrik kita, Pabrik Merah selamat, dan posisi Bapak di dewan komisaris aman."

Rimba terdiam. Kata-kata Dio menghantam dadanya begitu keras.

Di satu sisi, masa depan kerajaan bisnis keluarganya dipertaruhkan.

Namun di sisi lain, membayangkan wajah Dayang yang polos dan tulus.

Bagaimana mungkin ia memanfaatkan kepercayaan gadis itu untuk kepentingan korporatnya?

"Pak Rimba? Bapak masih di sana, kan?" tanyak Dio bingung karena keheningan boss-nya.

"Saya dengar, Dio," jawab Rimba rendah, suaranya sarat beban.

"Siapkan draf perjanjian kerja sama pasokan ikan segar. Tapi buat poin-poinnya menguntungkan pedagang lokal, jangan ada pasal pemerasan."

"Tapi Pak, kalau poinnya terlalu menguntungkan mereka, margin keuntungan Suryo Group—"

"Lakukan apa yang saya perintahkan!" potong Rimba tegas tanpa bantahan.

"Tunggu instruksi saya selanjutnya. Dan ingat, penyamaran saya ndak boleh bocor sedikit pun."

Rimba langsung mematikan sambungan telepon, mencabut kartu SIM sekunder itu, lalu menyimpannya rapat-rapat.

Sang CEO menyandarkan punggungnya di batang pohon pisang, menatap langit malam yang kelam dengan helaan napas berat.

Udara dingin khas pukul tiga dini hari menusuk hingga ke tulang, membalut rumah kayu Dayang dalam keheningan yang pekat.

Di saat seluruh desa masih terlelap dalam mimpi, Rimba sudah bangkit dari dipan kayunya.

Menjalankan enam syarat ketat yang diajukan Dayang bukan sekadar perkara mempertahankan penyamaran baginya, melainkan tentang pembuktian harga diri di hadapan gadis yang perlahan mengisi hatinya.

Tanpa menimbulkan suara, pria tegap itu melangkah menuju dapur sederhana di belakang.

Dengan gerakan cekatan yang makin terbiasa, Rimba menyalakan kompor, menata ceret seng tua, dan mengisinya dengan air bersih.

Sambil menunggu air mendidih, ia menyiapkan perkakas pasar—membersihkan keranjang, merapikan sepatu boot karet, dan memastikan motor sport milik Dayang sudah bersih di teras.

Saat air di ceret mulai bergolak dan memancarkan uap hangat, pintu kamar depan terdengar berderit pelan.

Dayang keluar dengan wajah yang masih dibayangi rasa kantuk, celana kain longgar, dan celemek pasar yang tersampir di bahunya.

Plaster di pipi halusnya menjadi pengingat bisu atas keributan kemarin sore.

Namun, langkah Dayang seketika terhenti di ambang pintu teras.

Matanya berkedip heran, tertegun melihat sosok 'Bima' yang sudah berdiri rapi dengan kaos lusuh bersih, wajah segar, dan raut sigap tanpa sedikit pun sisa kantuk.

Rimba menyunggingkan senyum tipis yang hangat, menunjuk ke arah ceret di dapur dengan dagunya.

"Mandi dulu, Mbak. Air hangatnya sudah siap," ucap Rimba halus, suaranya yang berat membelah dinginnya subuh.

Dayang membeku sejenak. Dada gadis perkasa itu berdesir hangat.

Sisa-sisa kecanggungan dari insiden kemarin—dari hembusan napas Bima saat mengobati lukanya hingga pelukan erat di atas motor—seketika menyeruak kembali di kepalanya, membuat pipinya terasa agak panas.

Namun di luar rasa canggung itu, tumbuh rasa hormat baru di mata Dayang.

Ia tak menyangka pria asing yang awalnya dikira halus dan tak bertenaga ini sanggup menunjukkan kedisiplinan serta kepedulian yang begitu tinggi tanpa perlu diperintah.

"M-Mas Bima, bangun jam berapa?" gumam Dayang pelan, berusaha menata suaranya agar tak terdengar bergetar.

"Harusnya tidak usah repot-repot siapkan air hangat segala."

"Ndak repot sama sekali, Mbak Dayang," sahut Rimba sembari menyodorkan handuk bersih dari jemuran dalam.

"Mbak masih terluka, tidak boleh kena angin malam terlalu dingin. Biar saya yang bereskan sisa perlengkapan pasar."

Dayang menerima handuk itu, menatap bola mata Bima yang memancarkan ketulusan penuh perlindungan.

Rasa kagum yang makin sulit ia tepok perlahan merayapi dadanya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!