NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai tropis yang mengancam

Pagi di Desa Tanjung Karang menyingsing bersama semilir angin laut yang membawa aroma garam dan tanah basah. Sinar matahari jingga keemasan perlahan menembus celah-celah daun kelapa, memantul hangat di atas permukaan air laut yang mulai tenang. Di teras Pustu, ketegangan semalam menguap, berganti dengan riuh rendah ucapan syukur dari warga desa.

Setelah memastikan Bu Ningrum terbaring nyaman di ruang perawatan Pustu dengan infus yang menetes teratur serta kondisi bayi laki-lakinya yang stabil, Valen berjalan menuju sumur timba di samping bangunan panggung. Ia membasuh wajah dan tangannya yang lelah, menghirup udara pagi yang segar dalam-dalam untuk mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang.

Kevin keluar melalui pintu samping, membawa selembar handuk bersih dan secangkir teh hangat yang masih berasap. Pria itu menyandarkan bahunya pada tiang kayu sumur, memperhatikan Valen dengan tatapan lembut.

"Minum dulu, Valen," Kevin menyodorkan cangkir seng itu. "Kamu belum istirahat sejak semalam."

Valen menerima cangkir tersebut, menyesap teh hangatnya perlahan. "Terima kasih, Kevin. Rasanya luar biasa... melahirkan bayi sungsang di tengah keterbatasan sarana, lalu mendengar tangisannya meledak di ruangan remang-remang itu. Sampai sekarang tanganku masih sedikit gemetar."

Kevin terkekeh pelan, mengambil handuk di tangannya lalu mengusap sisa-sisa air di pinggir dahi Valen dengan gerakan yang begitu halus dan berhati-hati.

"Itu bukan cuma keberuntungan, Valen," ujar Kevin, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan itu. "Presisi tanganmu saat teknik Mauriceau tadi malam adalah bukti kapasitasmu sebagai dokter yang matang. Aku bangga sekali padamu."

Wajah Valen merona tipis di bawah paparan sinar pagi. Belum sempat ia membalas ucapan Kevin, suara langkah kaki berat yang tergesa-gesa terdengar menghentak papan kayu teras depan. Pak Bahri berlari mendekati mereka dengan raut wajah yang kembali tegang.

"Dokter Kevin! Dokter Valen!" panggil Pak Bahri seraya menunjuk ke arah dermaga kecil di ujung jalan setapak. "Radio kapal dari dermaga kabupaten baru saja terhubung! Dinas Kesehatan membalas panggilan kita!"

Kevin dan Valen saling melempar pandang. Tanpa membuang waktu, mereka bertiga berjalan cepat menuju pondok radio di dekat dermaga.

Di dalam ruangan kayu berdinding seng yang berbau minyak pelumas, seorang operator radio paruh baya menyodorkan gagang handset radio komunikasi kepada Kevin. Suara kresek interferensi frekuensi menyelimuti ruangan.

"Halo, Pustu Tanjung Karang di sini. Saya Dokter Kevin," tegas Kevin melalui mikrofon.

Dari balik pengeras suara, terdengar suara bariton Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten yang putus-putus namun jelas. "Dokter Kevin! Laporan permintaan logistik darurat kalian sudah kami terima tadi pagi melalui kapal nelayan. Tapi kami punya kabar buruk."

Dahi Kevin berkerut rapat. "Kabar buruk apa, Dok?"

"Badai tropis dari selatan diprediksi akan melintas di perairan Tanjung Karang nanti malam. BMKG baru saja mengeluarkan peringatan gelombang tinggi hingga empat meter. Semua pelayaran kapal logistik dan kapal puskesmas keliling resmi dihentikan selama tiga hari ke depan!"

Valen yang berdiri di samping Kevin menghela napas berat, matanya melebar. "Tiga hari? Stok epinefrin kita cuma sisa dua ampul, dan stok cairan infus kita hampir habis untuk penanganan Bu Ningrum semalam!"

Kevin mengencangkan pegangannya pada mikrofon radio. "Dokter, kami baru saja menangani kasus eklamsia berat dengan penyulit sungsang. Stok MgSO_4 dan cairan Ringer Laktat kami kritis. Jika ada kasus darurat lain dalam tiga hari ke depan, kami tidak punya tindakan medis pendukung yang memadai!"

"Kami tahu kondisinya sulit, Dokter Kevin," balas Kadinkes di ujung telepon. "Satu-satunya helikopter bantuan bencana sedang dikerahkan ke area tanah longsor di kecamatan sebelah. Kalian harus bertahan dengan apa yang ada. Maksimalkan sumber daya lokal dan utamakan triase ketat. Semoga Tuhan melindungi kalian di sana. Over and out."

Statik radio memutus komunikasi. Ruangan seketika menjadi hening dan mencekam.

Pak Bahri menatap kedua dokter muda itu dengan kecemasan yang terpancar jelas dari matanya yang mulai keriput. "Bagaimana ini, Dokter? Warga Dusun Barat biasanya mulai datang berobat kalau air laut surut siang nanti. Musim angin barat seperti ini selalu membawa wabah demam dan diare pada anak-anak."

Kevin mengembuskan napas panjang, menepuk bahu Pak Bahri untuk menenangkan. "Kita tidak punya pilihan selain bertarung dengan apa yang kita miliki, Pak Bahri. Tolong kumpulkan Mbak Nita dan seluruh staf kader kesehatan desa di Pustu sepuluh menit lagi. Kita harus adakan rapat darurat."

Sepuluh menit kemudian, meja kayu ruang tengah Pustu dipenuhi oleh catatan inventaris obat yang tersisa. Mbak Nita membacakan daftar stok dengan raut wajah cemas.

"Cairan RL sisa 4 kolf, Normal Saline sisa 3 kolf. Parasetamol sirup untuk anak habis total, tersisa tablet dewasa yang harus kita gerus. Epinefrin 2 ampul, Oksitosin 3 ampul," papar Mbak Nita memprihatinkan.

Valen mencatat angka-angka itu cepat di papan tulis kecil. "Kebutuhan utama kita adalah rehidrasi untuk potensi kasus gastroenteritis dan antipiretik. Kita harus rasionalisasi penggunaan obat."

"Bukan cuma itu," pangkas Kevin seraya berdiri di ujung meja. "Badai yang datang nanti malam artinya kita bisa mengalami mati listrik total kalau generator kehabisan solar. Suhu cold chain untuk vaksin dan sisa anti bisa ular harus dijaga ekstra."

Kevin menatap seluruh timnya dengan pandangan tajam penuh kepemimpinan. "Mulai jam ini, kita terapkan protokol efisiensi ketat. Pertama, pasien rawat jalan dengan gejala ringan berikan edukasi dan terapi simptomatik non-farmakologi atau obat herbal lokal yang aman jika memungkinkan. Kedua, simpan seluruh cairan infus dan obat injeksi hanya untuk kasus gawat darurat berskala life-threatening."

"Bagaimana kalau ada warga yang menuntut obat racikan seperti biasanya, Dok?" tanya salah satu kader desa ragu. "Warga di sini sering merasa belum berobat kalau belum dapat botol sirup atau puyer."

Valen mengambil alih pembicaraan, tersenyum hangat namun tegas. "Itu tugas kita untuk mengedukasi mereka, Bu. Saya dan Dokter Kevin akan memimpin pemeriksaan langsung. Mbak Nita, tolong bantu kami menyortir pasien di pintu depan berdasarkan sistem triase sederhana: Hijau untuk jalan, Kuning untuk pengawasan, Merah langsung masuk ke ruang tindakan."

Siang harinya, ramalan badai mulai menunjukkan tandanya. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi kelabu kehitaman. Angin kencang berembus membawa gelombang tinggi yang menghantam tiang-tiang panggung Pustu, menimbulkan suara gemertak kayu yang beradu.

Sesuai dugaan, puluhan warga mulai memadati selasar depan Pustu. Di antara riuh rendah tangisan balita dan batuk warga, seorang pria setengah baya berlari menggendong anak laki-lakinya yang berusia sekitar lima tahun.

"Dokter! Tolong anak saya, Dokter!" teriak pria itu panik, menerobos kerumunan warga.

Kevin dan Valen seketika sigap keluar dari ruang periksa. Anak dalam gendongan pria itu tampak lemas, matanya cekung, dan napasnya memburu cepat dengan suara mengorok.

"Bawa ke ruang tindakan sekarang!" perintah Kevin menyibak tirai.

Anak itu dibaringkan di atas ranjang periksa. Valen dengan cepat menempelkan stetoskop di dada kecil anak tersebut. "Suara napas wheezing berat di kedua lapang paru, ada retraksi dinding dada yang sangat jelas. Frekuensi napas lima puluh kali per menit. Ini serangan Asma Bronkial Eksaserbasi Berat!"

"Saturasi oksigen berapa, Mbak Nita?" tanya Kevin seraya memeriksa nadi radialis anak yang cepat dan lemah.

"Delapan puluh empat persen, Dok!" jawab Mbak Nita panik sambil memasang pulse oximeter di jari anak tersebut.

"Siapkan nebulizer! Berikan Ventolin satu respon!" seru Kevin.

Mbak Nita menggeledah lemari obat, namun tangannya mendadak kaku. Wajahnya pucat saat menoleh ke arah Kevin. "Dokter... ampul Ventolin untuk nebulizer habis semalam untuk pasien PPOK... tidak ada sisa sama sekali!"

Atmosfer di dalam ruang tindakan mendadak membeku. Ayah anak itu menangis tersedu-sedu sambil memegang kaki anaknya. "Dokter, tolong anak saya... dia tidak bisa bernapas!"

Valen memandang Kevin dengan mata membulat. Tanpa nebulizer, anak ini berada dalam ancaman gagal napas (respiratory failure) dalam hitungan menit. Stok epinefrin injeksi yang tersisa dua ampul kini menjadi satu-satunya pilihan rasional untuk bronkodilatasi darurat, tetapi risikonya sangat besar terhadap efisiensi obat dan efek samping takikardia pada anak.

"Kevin, epinefrin subkutan!" panggil Valen tegas. "Dosis 0{,}01\text{ mg/kgBB}. Kita tidak punya pilihan lain untuk membuka jalan napasnya!"

Kevin menatap tubuh anak yang mulai sianosis di bibirnya. Ia mengangguk cepat. "Ambilkan Epinefrin 1 ampul! Spuit 1\text{ cc}! Valen, siapkan tabung oksigen portabel dengan mask non-rebreathing!"

Dengan kecermatan tinggi, Kevin mengambil spuit, menarik dosis tepat sesuai berat badan anak, lalu menyuntikkannya secara subkutan di lengan atas pasien. Sementara itu, Valen dengan lembut namun cekatan memasangkan sungkup oksigen ke wajah anak tersebut, membimbingnya bernapas.

"Tarik napas, Sayang... pinter... tahan sebentar ya..." bisik Valen lembut di telinga anak itu, membelai rambutnya yang basah oleh keringat dingin.

Satu menit... dua menit... waktu terasa berjalan sangat lambat. Kevin terus memantau denyut nadi dan gerakan dada sang anak dengan raut wajah tegang yang terpatri jelas. Tangannya yang berurat memegang erat pergelangan tangan anak itu untuk merasakan kekuatan nadinya.

Perlahan tapi pasti, retraksi di dada anak itu mulai berkurang. Suara mengorok yang memburu mendadak surut, berganti dengan helaan napas yang lebih teratur dan dalam. Saturasi oksigen di layar monitor portabel merambat naik: 88%... 92%... hingga menyentuh 96%.

Semburat warna merah muda kembali ke bibir anak itu. Matanya yang perlahan terbuka menatap wajah Valen yang berada tepat di atasnya.

"Bapak... sakit..." bisik anak itu pelan.

Tangis haru ayah sang anak pecah seketika. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, membungkuk berulang kali kepada Kevin dan Valen. "Terima kasih, Dokter! Terima kasih banyak! Ya Allah... terima kasih..."

Kevin menghela napas lega yang amat panjang, menyapu keringat di dahinya sendiri dengan punggung tangan. Ia menatap Valen, lalu melemparkan senyum tipis penuh rasa syukur yang mendalam.

"Satu epinefrin tersisa," gumam Kevin pelan pada Valen. "Tapi satu nyawa kecil berhasil terselamatkan."

"Keputusan yang tepat, Kevin," balas Valen pelan, matanya berkaca-kaca menatap anak yang kini sudah bisa bernapas lega.

Sore hari menjelang malam, angin badai benar-benar menghantam Desa Tanjung Karang. Hujan deras mengguyur bagaikan dicurahkan dari langit, disertai petir yang menyambar-nyambar di atas lautan. Suara gemuruh angin membuat tiang-tiang Pustu bergoyang pelan.

Tepat pukul tujuh malam, aliran listrik dari generator desa terputus total akibat kabel utama yang tertimpa pohon kelapa di ujung kampung. Pustu seketika gelap gulita, hanya disinari oleh pendar lampu petromaks dan lilin yang dinyalakan warga di sepanjang koridor.

Di ruang tengah yang remang-remang, Kevin dan Valen duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang setelah selesai memeriksa pasien terakhir hari itu. Suasana luar sangat bising oleh deru angin dan hujan, namun di dalam ruangan kecil itu, ada kehangatan yang tercipta di antara mereka berdua.

Valen menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu kekar Kevin. Rasa lelah yang teramat sangat setelah maraton medis 24 jam akhirnya merobohkan benteng pertahanannya.

Kevin tersenyum tipis, merangkulkan lengan berototnya di sekeliling bahu Valen, menarik tubuh perempuan itu lebih rapat ke sisinya agar terhindar dari terpaan angin dingin yang masuk dari celah jendela kayu.

"Lelah sekali, ya?" bisik Kevin lembut, mengecup pelan puncak kepala Valen yang harum aroma sampo bunga melati.

"Sangat..." sahut Valen dengan suara lirih. "Tapi aku merasa hidup, Kevin. Di rumah sakit kota, kita dikelilingi alat-alat canggih, laboratorium serba cepat, dan spesialis senior di setiap sudut. Di sini... cuma ada kita, insting kita, dan kehendak Tuhan. Dan satu lagi, ini pengalaman pertama aku, langsung tetjun ke dunia medis"

Kevin menatap nyala api lampu petromaks yang mendesis pelan di meja depan mereka. Tangannya mengusap jemari Valen yang terasa agak dingin, menyatukan sela-sela jari mereka dengan begitu erat.

"Dulu saat kita pertama kali ditunjuk untuk dinas di daerah terpencil ini, aku sempat khawatir kamu tidak akan betah," ujar Kevin jujur, suaranya terdengar begitu hangat di tengah hiruk-pikuk badai di luar. "Tapi melihat caramu bertarung semalam untuk Bu Ningrum, dan caramu menenangkan anak tadi siang... kamu membuktikan kalau kamu bukan cuma dokter yang cerdas, tapi juga tempat bersandar yang luar biasa untuk orang-orang di sekitar kamu."

Valen menengadah, mendongakkan kepalanya untuk menatap rahang tegas Kevin dalam remang cahaya lilin. "Aku tidak akan bisa sebebas dan seberani itu kalau di sampingku bukan kamu, Kevin. Kamu adalah jangkarku di sini. Saat aku hampir panik, melihat ketenanganmu saja sudah cukup bikin aku yakin kalau semuanya bakal baik-baik saja."

Kevin menatap bibir Valen, lalu berpindah ke matanya yang berbinar indah. Tanpa kata-kata lagi, Kevin mengikis jarak di antara wajah mereka, mendaratkan kecupan yang dalam, hangat, dan penuh rasa cinta di bibir Valen. Kecupan yang membawa janji perlindungan, saling percaya, dan pengabdian bersama.

Valen memejamkan mata, membalas ciuman itu dengan kelembutan yang pasrah, menikmati detik demi detik rasa aman di dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu.

Ketika tautan bibir mereka terlepas perlahan, dahi mereka saling menempel, membiarkan napas mereka menyatu hangat.

"Apapun yang terjadi selama tiga hari badai ini," bisik Kevin erat di depan bibir Valen, "kita akan lewati bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi bahaya sendirian, Valen."

"Janji?" bisik Valen dengan senyum manis terukir di wajahnya.

"Janji," balas Kevin mantap.

Di luar, badai tropis mungkin sedang mengamuk hebat menghantam pesisir Tanjung Karang, mengisolasi mereka dari dunia luar. Namun di dalam Pustu panggung yang sederhana itu, dua hati yang saling mencintai telah menemukan kekuatan dan keberanian mutlak untuk menghadapi apa pun tantangan medis yang menanti esok hari.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!