Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Protokol 24 Jam
“Minggir… Semuanya!”
Obrolan tegang Alunar dan Sagara langsung terputus. Dari luar balai terdengar orang berteriak kencang membelah kerumunan.
“Pak Asang! Pak Kapten!”
Teriakan seorang pemuda berlari tergesa-gesa. Menerobos barisan warga yang mengenakan pakaian adat Dayak.
Brak…!
Pintu balai desa terbuka kasar. Menampilkan pemuda dengan pakaian basah kuyup oleh keringat dan lumpur, nafas terengah-engah serta wajah pias ketakutan.
Hurfff… Hurff…!
Suara nafas memburu masih terdengar jelas dari mulut sang pemuda saat menaiki tangga panggung kayu. Matanya mengawasi sekitar mencari sosok yang bisa dirinya mintai tolong.
"Pak Asang! Pak Kapten!" seru pemuda itu menatap Pak Asang dan Sagara bergantian. Lalu tatapannya berhenti pada Alunar.
“Bu dokter! Apakah Anda ibu dokter yang baru datang dari kota untuk bertugas?” tanya pemuda itu dengan nada panik, hampir menangis.
Pak Asang segera berjalan cepat mendekati pemuda Dayak itu. Tangannya yang keriput menepuk pundak mencoba menenangkannya.
"Ada apa, Jaya? Tenang dulu, tarik nafas. Bicara yang jelas,” pinta Pak Asang dengan logat Melayunya yang kental.
"Kepala adat kami di Kampung Hulu, Pak. Beliau muntah darah hitam pekat dan badannya menggigil hebat sejak semalam,” tutur Jaya mengatur nafas.
“Sekarang beliau sudah tidak sadarkan diri. Mulutnya menghitam,” lanjut Jaya dengan suara hampir menangis.
"Jalur sungai ke arah hulu sedang surut karena kemarau panjang. Perahu ketinting tidak bisa lewat atas. Kami jalan kaki menembus hutan lima jam untuk cari pertolongan. Tolong... tolong selamatkan kepala adat kami, Pak."
Alunar langsung berdiri dari tempat duduknya. Hingga hampir membuat cangkir kopi miliknya hampir tumpah.
"Kapan terakhir beliau sadar? Apakah ada riwayat penyakit sebelumnya? Apakah beliau sempat makan sesuatu yang aneh di hutan? Singkong hutan atau jamur?" tanya Alunar beruntun pada Jaya.
"Tadi subuh masih bisa bicara sedikit. Setelah itu beliau pingsan. Tidak ada riwayat sakit, dok," jawab Jaya panik.
Alunar menoleh ke arah sekitar ruangan. Mencari tim medis lain yang bisa membantunya.
“Apakah ada tim kesehatan lain di sini?” tanya Alunar cepat sambil mengawasi seisi balai.
“Ada, dok. Sertu Oka, bintara kesehatan Satgas kami,” jawab Pak Asang sambil menarik tangan seorang prajurit dengan ransel kesehatan di punggungnya.
"Sertu Oka! Tolong siapkan emergency kit, obat-obatan injeksi, cairan infus RL dan NS, dan tandu lipat lapangan sekarang juga. Siapkan juga senter kepala dan jas hujan lapangan. Kita berangkat ke Kampung Hulu sekarang juga," perintah tegas Alunar. Nada suaranya tidak lagi meminta, tapi memerintah. Jiwa dokter mudanya sudah mengambil alih.
"Siap, dok!" Oka langsung hormat ke Sagara terus lari ke mobil taktis.
Naluri sebagai tim medis terkadang membuat Oka lupa. Jika setiap pergerakan di wilayah perbatasan harus sepertujuan Sagara.
"Tunggu!”
Suara menggelegar Sagara menghentikan semua aktivitas. Mata semua orang tertuju pada Sagara yang kini berdiri dari tempat duduknya.
Matanya mengawasi semua orang. Lalu menatap tajam ke arah Alunar tanpa ekspresi dan rahang mengeras.
"Tidak ada yang berangkat ke Kampung Hulu hari ini." Satu kalimat bagaikan hantaman keras ke arah Alunar.
Alunar menatap tidak suka sosok Sagara. Di wajah cantiknya kini menampilkan kilatan amarah.
"Kapten Sagara, ada pasien kritis di pedalaman yang nyawanya terancam! Dugaan saya keracunan atau sepsis berat!” tutur Alunar mengatur nafasnya.
“Setiap menit sangat berharga. Kenapa Kapten melarang saya? Apakah Kapten tidak mendengar dia muntah darah hitam?" Suaranya mulai meninggi memenuhi isi ruangan.
Sagara tidak bergeming. Ia menatap Jaya dari atas ke bawah, lalu kembali menatap Alunar. Tatapannya menilai bukan sebagai wanita. Melainkan sebagai tanggung jawab yang merepotkan timnya.
"Perjalanan kaki ke Kampung Hulu menembus hutan belantara membutuhkan waktu lima jam bagi warga lokal yang sudah hafal setiap akar dan setiap jejak babi hutan, dokter,” jelas Sagara menjeda ucapannya.
“Bagi Anda yang baru tiba dari kota dan sepatunya saja masih putih bersih memakan waktu tujuh sampai delapan jam. Sekarang sudah jam tiga sore. Dalam dua jam, hutan Kalimantan akan gelap gulita total tanpa cahaya bulan,” lanjut Sagara sambil melangkah maju mendekati Alunar.
Sudut bibirnya terangkat sambil tersenyum sinis ke arah Alunar. Jujur, saat ini Alunar benar-benar sangat membenci tatapan Sagara untuknya.
"Hutan perbatasan di sebelah hulu itu adalah area merah, Dokter Alunar Abya Manggala,” jelas Sagara menjeda ucapannya. Suaranya sangat pelan namun mampu menembus jantung Alunar.
“Di dalam adalah Jalur perlintasan liar penyelundup dan pelintas batas ilegal. Saya tidak akan membiarkan dokter satu-satunya di Satgas ini, yang baru lima menit menginjakkan kaki. Masuk ke dalam hutan malam-malam tanpa perencanaan taktis, tanpa peta, tanpa pengawalan tempur,” tutur Sagara kembali tersenyum sinis.
“Itu namanya bukan menyelamatkan nyawa, dokter. Tapi tindakan bunuh diri dan membahayakan anggota saya,” jelas Sagara penuh penekanan.
"Tapi saya seorang dokter, Kapten! Sumpah saya menyelamatkan nyawa! Saya tidak bisa diam saja melihat orang sekarat!" suara Alunar meninggi, air matanya mulai menggenang karena frustasi.
"Dan tugas saya adalah memastikan Anda tetap hidup untuk bisa menjalankan tugas Anda, dokter Alunar yang terhormat," balas Sagara dengan suara rendah namun menusuk tepat di depan wajah Alunar.
"Jika Anda mati di hutan malam ini, siapa yang akan mengobati warga di 5 desa perbatasan besok? Idealisme Anda tidak akan berguna jika Anda menjadi mayat."
Sagara buru-buru memalingkan wajahnya saat menatap mata Alunar yang mulai berkaca-kaca. Menatap mata Alunar dari jarak dekat membuat detak jantungnya tak beraturan. Ada sesuatu dalam diri mata gadis itu yang mengingatkannya pada seseorang.
Hurfff…!
Hembusan nafas terasa menerpa wajah cantik Alunar. Suara penuh penekanan itu menggambarkan ada amarah yang tersimpan pada diri Sagara.
Kini, Sagara menatap tajam anak buahnya yang masih berdiri kaku. Menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengurangi rasa sesak di dada.
"Pratu Maruli!”
“Siap, Ndan.”
“Panggil Lettu Arisandhi ke sini sekarang juga. Perintahkan regu patroli satu bersiap dengan perlengkapan tempur penuh, senapan lengkap, munisi penuh, dan senter lapangan! Siapkan HT cadangan!"
"Siap, Komandan!" Pratu Maruli yang dari tadi menahan nafas langsung berlari keluar dengan bergegas.
Sagara kembali menatap Alunar yang masih menahan amarah untuknya. Terlihat jelas dadanya naik turun menahan emosi.
"Kita akan berangkat. Tapi bukan sekarang dan bukan hanya Anda dan Sertu Oka,” ucap Sagara penuh penekanan. Setiap kata yang keluar dari mulut Sagara adalah perintah yang tidak bisa dibantah.
“Regu pasukan saya yang akan membuka jalan dan mengawal Anda di bawah komando saya langsung. Bukan perintah dari Anda. Apakah Anda mengerti?”
“Siap, mengerti,” jawab Alunar dengan suara serak.
“Kita bergerak taktis satu jam lagi. Jam 16.00 sebelum matahari tenggelam total. Itu adalah batas terakhir saya. Bersiaplah, Dokter Alunar Abya Manggala. Ganti sepatu Anda dengan sepatu lapangan,” perintah tegas Sagara lalu membalikkan badan.
Alunar tertegun, menatap punggung Sagara yang lebar dan tegap yang mulai memberikan instruksi koordinasi dengan Pak Asang dan Lettu Arisandhi dengan peta kecil di tangannya. Di balik rasa kesalnya yang memuncak karena berdebat, Alunar diam-diam menyadari satu hal yang membuat hatinya mencelos.
Kapten kaku, menyebalkan, dan arogan di depannya ini tidak sedang mempersulitnya, melainkan sedang mempertaruhkan nyawa seluruh pasukannya demi melindungi keselamatannya. Seorang gadis dari kota yang bahkan belum ia kenal satu jam.
“Egois? Keras kepala? Apakah saat ini aku bertingkah selayaknya seorang bocah kecil tanpa perhitungan yang baru lulus koas?” batin Alunar masih berdiri kaku di tempat sama. Jantungnya berdebar kencang, antara marah, malu dan kagum yang bercampur aduk menjadi satu pada sosok Sagara.
“Ya, untuk saat ini aku harus mengikuti perintah dari laki-laki menyebalkan. Lagipula menunggu satu jam sebelum gelap tidaklah lama jika persiapannya matang,” batin Alunar jengkel lalu kembali fokus dengan tujuan awal kedatangannya.
“Aku tidak bisa berdiri diam menunggu seperti putri manja. Aku harus ikut membantu,” gumam Alunar sambil mengawasi sekitar.
Lalu senyum di wajah cantiknya terbit saat melihat Oka. Kini, di hadapan pemuda itu berbagai alat kesehatan sudah disiapkan diatas meja.
“Permisi Pak Asang.”
“Siap, dokter Aluna. Apakah ada yang bisa bapak bantu?” tanya Pak Asang sedikit kaget.
“Saya izin undur diri ingin membantu Sertu Oka menyiapkan alat.”
“Silakan, dokter Aluna. Hati-hati.”
“Baik, Pak Asang.”
Tanpa melihat sedikit pun kearah Sagara yang menatap tajam ke arahnya dari sudut mata. Aluna keluar dari balai desa menghampiri Oka yang sedang menata cairan infus.
“Sertu Oka, bolehkah saya membantu packing obatnya? Saya bawa beberapa antidotum dari kota.”
“Tentu saja boleh, dokter Aluna. Antidotum itu sangat membantu penawar racun,” jawab cepat Oka dengan wajah lega melihat dokternya tidak manja. Serta memiliki inisiatif sangat tinggi.
Suara obrolan dan kerjasama tim yang dilakukan Alunar dan Oka di bawah terik matahari sore. Membuat Sagara yang berada di dalam balai langsung memalingkan wajahnya. Kembali fokus dengan Pak Asang yang juga ikut membantu menyiapkan pemandu jalan untuk bisa menuju desa hulu.
"Sialan! Baru hari pertama, Manggala. Tapi, kamu sudah membuat seluruh Poskontis saya berantakan,” batin Sagara mengumpat dengan menggunakan nama belakang Alunar.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi