NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa

Reinkarnasi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.

Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — SAAT MALAM BERGANTI PAGI

Jalan berbatu di depan Penginapan Wilis Indah terasa berubah menjadi ladang keheningan yang pekat. Satu-satunya hal yang menampakkan bahwa waktu tetap berjalan adalah aroma logam yang tajam dan menyengat, serta suara darah yang perlahan merembes ke celah-celah batu jalan Kota Batu yang sejuk di kaki Gunung Panderman itu.

Para tetua sekte dan para pelindung yang berdiri di balik gerbang penginapan menatap Farel Kurniawan dengan napas tertahan. Di wajah mereka tidak hanya ada keheranan — ada ketakutan yang dalam, seolah-olah mereka baru saja menyadari bahwa selama ini mereka bepergian bersama bukan seorang murid yang dianggap lemah, melainkan badai tidur yang bisa bangun kapan saja dan menghancurkan apa pun di jalannya. Di mata mereka, Farel kini berdiri di ambang antara manusia dan sesuatu yang jauh lebih tinggi, jauh lebih kuno.

Namun di sisi lain, Rara Sekar Arum Larasati berdiri dengan dadanya bergetar pelan. Di matanya bukan rasa takut, melainkan cahaya pencerahan yang lembut namun dalam, seperti seseorang yang akhirnya menemukan jawaban dari teka-teki yang ia simpan di hati selama bertahun-tahun.

Farel menoleh padanya, dan senyum tipis terukir di bibirnya — senyum yang tulus, hangat, dan sama sekali tidak sesuai dengan sosok yang baru saja menjatuhkan nyaris seratus nyawa dalam sekejap mata tadi.

"Selamat, Peri Rara," ucapnya lembut, suaranya tenang dan penuh penghargaan yang tulus. "Selamat atas terobosanmu dalam Dao Pedangmu malam ini."

Rara tersipu, pipinya merona lembut di bawah cahaya lampu minyak yang remang. Ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Farel. Semua ini... terima kasih telah membiarkan aku melihatnya. Terima kasih karena niat pedangmu membuka jalan itu untukku."

"Tidak," Farel menggeleng pelan, matanya menatapnya dengan kelembutan yang menenangkan. "Niat pedangku hanya membukakan pintu sedikit. Tetapi yang melangkah masuk, yang menangkap cahaya itu dan menjadikannya milikmu, itu semua adalah usahamu sendiri, bakatmu, dan ketekunanmu. Tidak ada yang bisa melakukannya untukmu kecuali dirimu sendiri."

Wajah Rara semakin merona, dan ia menunduk pelan agar Farel tidak melihat betapa berdebarnya jantungnya saat ini. Semakin ia mengenal pemuda di hadapannya ini, semakin ia merasa dirinya terhanyut dalam kedalamannya yang tak terukur. Ia penuh teka-teki, namun anehnya — di dekatnya ia merasa lebih aman daripada di mana pun. Seolah kepercayaan yang ia berikan kepadanya telah terukir jauh di dalam jiwanya, bahkan sebelum mereka saling mengenal.

"Saudara muda..."

Sebuah suara berat namun lembut tiba-tiba terdengar dari seberang jalan, membelah keheningan malam itu. Seorang pria tua berjalan perlahan keluar dari kelompok yang tadi bertahan di penginapan seberang — Penginapan Sembulan. Ia mengenakan jubah abu-abu sederhana dan topeng kayu yang menutupi separuh wajahnya, namun gerakannya begitu tenang dan penuh wibawa sehingga udara di sekitarnya terasa lebih damai.

Bagi mata orang biasa, ia hanyalah seorang kakek tua yang sederhana. Namun bagi Farel, pandangannya langsung menembus ke permukaan yang lebih dalam. Matanya sedikit menyipit.

Alam Pembentukan Inti.

Itu adalah tingkat yang jauh lebih tinggi daripada apa pun yang pernah ia temui di dunia ini sejak terbangun kembali. Di seluruh benua ini, diperkirakan jumlah praktisi di tingkat itu tidak lebih dari seratus jiwa — dan malam ini, ia berdiri tepat di hadapannya. Kakek tua itu memancarkan aura yang tenang namun kokoh seperti gunung tua yang tak tergoyahkan.

"Saya adalah Ki Sembulan," ucapnya dengan suara yang dalam namun lembut. "Bolehkah kami berbicara sebentar, besok pagi? Malam sudah terlalu larut, dan saya yakin kita semua lelah."

Farel mengangguk pelan. "Kami akan bermalam di sini. Besok pagi kita bicarakan hal-hal yang perlu dibicarakan. Hari ini sudah cukup panjang." Ia menunjuk ke arah kerumunan yang mulai terdengar suara langkah kaki jauh — para petugas patroli yang datang menyelidiki. "Para tetua, mohon bantu urus hal-hal di luar sana. Aku perlu beristirahat."

Tetua Hadi Saputro dan Tetua Endang Lestari hanya bisa mengangguk dengan linglung, sementara Rara pamit dengan senyum malu-malu — ia harus segera bermeditasi, menyatukan kembali pemahamannya yang baru saja meluas malam ini.

Di seberang jalan, para pengikut Ki Sembulan tampak tidak terima dengan sikap Farel yang begitu tenang dan seakan meremehkan, tetapi kakek tua itu hanya mengangkat tangan kanannya dengan lembut, memberi isyarat agar mereka diam. Ia menatap Farel sejenak, mengangguk hormat, lalu kembali masuk ke dalam penginapannya.

Tak lama kemudian, pasukan patroli Kota Batu tiba bersama pejabat kota. Awalnya mereka datang dengan sikap kaku dan penuh kecurigaan. Namun setelah berbicara singkat dengan Tetua Hadi Saputro dan melihat tanda pengenal sekte serta keterangan dari pihak Penginapan Sembulan, sikap mereka berubah drastis. Mereka segera membersihkan tempat kejadian dengan cepat dan tertib, membubarkan kerumunan, dan menyelesaikan laporan tanpa banyak tanya — seolah mereka sangat paham bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak digali terlalu dalam.

Karena kejadian itu berlarut hingga dini hari, dan Rara Sekar Arum membutuhkan waktu untuk bermeditasi, diputuskan bahwa rombongan mereka akan memperpanjang masa tinggal di Penginapan Wilis Indah selama dua hari lagi untuk beristirahat sepenuhnya.

Pengelola penginapan menyambut mereka dengan keramahan yang luar biasa — menggratiskan penginapan, memberikan diskon besar, dan memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi. Pengelolanya sendiri, seorang pria bertubuh gemuk dengan wajah selalu tersenyum lebar bernama Pak Sugeng, terus-menerus membungkuk dan tersenyum sambil mengelap keringat dengan sapu tangan yang selalu ia bawa.

Farel kembali ke kamarnya. Pintu tertutup rapat, dan baru saat itulah ia merasakan seluruh kelelahan yang selama ini ia tahan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Meskipun tubuhnya telah jauh lebih kuat daripada saat pertama kali terbangun di gubuk dekat Desa Sumberagung, dan meskipun ia tidak memaksakan Niat Pedang melampaui batas yang ia kendalikan dengan baik, tetap saja penggunaannya dalam skala yang begitu luas meninggalkan dampak yang nyata. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa, seolah ribuan jarum halus menusuk dari dalam.

Ia duduk bersila di atas dipan kayu, menelan beberapa pil pemulihan yang ia peroleh dari Aula Persenjataan sekte, lalu memejamkan mata, menenangkan napasnya. Malam ini ia tidak akan memaksakan diri berkultivasi. Tubuhnya butuh istirahat sejati — tidur yang nyenyak, sesuatu yang dulu ia lupakan selama ribuan tahun, namun kini ia pelan-pelan belajar menghargainya kembali.

Keesokan paginya, udara Kota Batu terasa sejuk dan menyegarkan. Kabut tipis masih melayang di antara pepohonan di lereng Gunung Panderman.

Rara Sekar Arum belum keluar dari kamarnya — ia masih dalam meditasi mendalam, menyempurnakan terobosan yang ia peroleh semalam. Tetua Hadi dan Tetua Endang sedang berdiskusi dengan Ki Sembulan di ruang tamu utama penginapan.

Farel bangun pagi seperti biasa. Ia tidak mencari tempat sepi untuk bermeditasi. Sebaliknya, ia duduk di sebuah bangku kayu di taman halaman dalam penginapan, sebatang rumput di antara giginya, menatap awan putih yang perlahan bergerak di langit biru cerah. Aroma nasi hangat, sambal terasi, dan ikan asin yang digoreng renyah tercium dari dapur penginapan, dan perutnya berbunyi pelan — membuatnya tersenyum sendiri.

Dulu, di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas, makan adalah sesuatu yang tidak perlu ia lakukan lagi. Namun sekarang, perasaan lapar ini... ia menyambutnya dengan senyum. Itu terasa nyata. Hidup terasa nyata.

Dari sudut matanya, ia melihat sosok bulat yang ia kenal berjalan mendekat dengan semangat. Pak Sugeng datang diiringi beberapa pelayan wanita muda yang cantik, membawa nampan besar berisi sarapan yang aromanya semakin menggugah selera.

"Tamu terhormat! Selamat pagi!" sapa Pak Sugeng dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. "Karena Bapak lebih suka berada di luar, kami bawa sarapannya ke sini saja. Semoga berkenan."

"Terima kasih, Pak Sugeng. Sangat berkenan," jawab Farel sambil tersenyum ramah. "Cukup letakkan di meja batu itu. Kalian tidak perlu menunggu, silakan istirahat."

"Tentu saja, Tamu Terhormat! Silakan dinikmati!" Pak Sugeng memberi isyarat kepada para pelayan yang meletakkan nampan-nampan berisi makanan yang terlihat lezat itu di atas meja batu, lalu pamit undur diri dengan tergesa-gesa namun tetap sopan.

Para pelayan itu melangkah pergi sambil sesekali menoleh dengan wajah sedikit malu namun tersenyum ramah. Melihat itu, Farel tersenyum dan berkata cukup keras agar mereka mendengar:

"Jika kalian tidak sibuk, aku justru akan merasa lebih senang jika kalian mau ikut menikmatinya bersama. Makan sendiri terasa sepi."

Mereka berhenti langkah, saling berpandangan dengan mata terbelalak senang. Saat Pak Sugeng memberi izin sambil tersenyum lebar dan berjalan pergi, mereka tertawa riang dan duduk di jarak yang sopan, berbagi cerita sambil menikmati sisa hidangan yang melimpah. Farel mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupan sehari-hari di Kota Batu, tentang buah-buahan yang tumbuh di lereng gunung, tentang pasar pagi yang ramai — hal-hal sederhana yang entah mengapa terasa begitu berharga.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang lebih halus dan teratur terdengar mendekat. Rara Sekar Arum berdiri di pintu masuk taman, sedikit ragu apakah ia boleh ikut atau tidak. Farel melihatnya dan melambaikan tangan dengan senyum hangat.

"Selamat pagi, Rara. Silakan bergabung. Sepertinya sarapan ini memang ditunggu kehadiranmu agar terasa lebih lengkap."

Rara tersenyum malu-malu namun berjalan mendekat, duduk di sebelahnya. "Selamat pagi, Farel. Maaf aku terlambat bangun... aku tidak menyangka meditasiku berjalan begitu lama."

"Tidak ada yang terlambat," jawab Farel lembut sambil menuangkan teh hangat ke cangkir untuknya. "Semuanya berjalan pada waktunya sendiri. Seperti matahari yang terbit, seperti bunga yang mekar."

Rara menerima cangkir itu dengan jari-jemarinya yang lembut. Matanya menatap Farel dalam-dalam, lalu ia tersenyum — senyum yang tulus dan tenang.

"Farel..." ia memulai pelan, menunduk sejenak sebelum kembali menatapnya. "Kemarin kau menyuruhku memanggilmu hanya dengan namamu saja. Tapi aku masih memanggilmu 'Saudara Farel', dan kau tetap menyebutku 'Peri Rara'. Bukankah kita sudah melewati batas-batas kesopanan yang berlebihan itu?"

Farel tertawa pelan, suara yang hangat dan menenangkan. "Benar juga. Kalau begitu, bagaimana seharusnya aku memanggilmu?"

Wajah Rara memerah lembut. Ia menunduk, memainkan ujung jarinya di tepi cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat.

"...Panggil aku Rara saja," ucapnya pelan, namun tegas. Hatinya berdebar kencang, namun di saat yang sama terasa begitu ringan, begitu benar.

Farel tersenyum — senyum yang membuat dunia di sekitar mereka terasa lebih terang.

"Baiklah, Rara. Selamat pagi, dan terima kasih sudah menemaniku sarapan pagi ini."

Mata Rara berbinar cerah seperti embun di atas kelopak bunga saat terkena sinar matahari pagi.

"Selamat pagi... Farel."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!