Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Cklek.
Olivia mendorong daun pintu kayu ber-cat putih di hadapan kami dengan perlahan. Suara dentuman keras pintu utama yang dibanting Kak Charles di lantai bawah tadi seketika menguap, digantikan oleh keheningan baru yang teramat menenangkan. Begitu melangkah masuk, sepasang mataku langsung terbelalak kaget.
"Ta-ra! Bagaimana, Kak, kamarnya? Apa Kakak suka dengan desain buatanku?" tanya Olivia dengan nada suaranya yang imut dan ceria, merentangkan kedua tangannya dengan bangga di tengah ruangan.
Aku mematung di ambang pintu, menatap nanar ke sekeliling ruangan yang teramat luas dan bersih ini. Kamar ini jauh dari kata pengap; pencahayaannya sangat baik berkat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman samping rumah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang besar yang empuk dengan sprei baru bermotif bunga matahari yang cerah, sangat berbanding terbalik dengan tikar tipis berdebu tempatku tidur selama dua puluh tahun di gudang lantai tiga.
"Aku tidak tahu apa saja kesukaan Kakak," lanjut Olivia, raut wajah polosnya mendadak berubah agak salah tingkah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jadi, aku hanya menghias kamar ini berdasarkan apa yang tertera di pikiranku. Aku juga menata sebagian barang-barang kesukaanku di sini untuk meramaikan suasana. Nanti kalau Kak Bella sudah lebih sehat, kita bisa pergi belanja bersama untuk mencari barang-barang apa pun yang Kakak sukai."
Mendengar penuturan tulus dari adik kecilku, dadaku mendadak terasa begitu penuh oleh rasa haru yang tak terbendung lagi. Air mata hangat kembali merebak di sudut mataku, luruh perlahan melewati pipiku yang masih pucat. Barang-barang kesayangan Olivia—seperti boneka beruang rajut di sudut kasur dan barisan buku cerita di rak kayu—sengaja ia letakkan di sini murni agar aku tidak pernah merasa kesepian lagi di rumah besar ini.
Aku melangkah maju dengan hati-hati, membiarkan sepasang mataku menyapu setiap sudut ruangan yang asing ini.
Kamar ini begitu luas dan sangat bagus, jauh berbeda dengan kamar gudang tempatku bertahan hidup selama belasan tahun ini, batinku pilu, meremas ujung sweterku dengan jemari yang bergetar.
Ukurannya bahkan lebih besar sepuluh kali lipat daripada kamar gudangku dulu. Di sini ada jendela kaca yang utuh dan bersih, lengkap dengan ranjang besar yang dilapisi selimut tebal nan empuk. Ada televisi layar datar, lemari pakaian besar yang ukurannya hampir sebesar luas gudangku dulu, dan ada juga sofa nyaman yang bagus untuk bersantai. Sungguh berbanding terbalik dengan kamarku dulu, yang lantainya hanya beralaskan tikar usang yang tipis serta selimut kain tipis yang tak mampu menahan angin malam.
Rasa tidak percaya bercampur haru yang luar biasa besar laksana menyumbat tenggorokanku. Selama dua puluh tahun dibuang ke kerak rumah yang pengap, kemewahan yang ada di hadapanku saat ini terasa laksana fatamorgana yang bisa lenyap kapan saja.
"Kak? Kak Bella? Ada apa? Apa Kakak tidak suka dengan kamarnya?"
Rentetan pertanyaan bernada cemas dari Olivia seketika membuyarkan lamunan panjangku. Aku menoleh perlahan, mendapati adik bungsuku sedang menatapku lekat-lekat dengan kening berkerut dalam. Raut wajah polosnya tampak sangat salah tingkah karena melihatku hanya diam membeku sejak tadi.
"Tidak apa-apa, Olivia. Kakak sangat suka, kok," ucapku menenangkan sembari mengulas senyuman paling tulus untuk menghapus keraguan di wajahnya.
"Kalau begitu, sini Kak, duduk dulu," ucap Olivia. Wajah polosnya seketika kembali cerah. Ia menuntun lenganku dengan lembut menuju sofa empuk yang berada di sudut ruangan. "Untung deh kalau Kakak suka."
Setelah kami duduk berdampingan, Olivia memutar tubuhnya menghadapku. Sorot mata bulatnya mendadak berubah meredup, menyiratkan kedewasaan yang teramat langka. Ia menggenggam jemariku yang masih terasa agak dingin.
"Kak ... soal keributan di bawah tadi, Kakak jangan tersinggung dan jangan dimasukkan ke dalam hati, ya," ucap Olivia lembut, merujuk pada rentetan makian Kak Charles. "Kak Charles itu kalau berbicara memang sering kali tidak berpikir dulu sebelum berucap. Olivia berharap Kakak jangan marah, ya."
Olivia menjeda kalimatnya sejenak, menatap jemari kami yang saling bertautan dengan raut wajah penuh harap. "Walaupun sebenarnya ... Olivia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu di antara kalian, sampai-sampai semua kakak laki-laki selalu memusuhi Kakak," lanjut Olivia parau. "Tapi Olivia yakin kalau kalian semua bukanlah orang jahat. Pasti ada sesuatu di masa lalu yang membuat kalian salah paham sampai sekarang. Olivia sangat berharap kesalahpahaman ini bisa cepat selesai, agar keluarga kita bisa berkumpul seperti keluarga orang lain yang saling menyayangi, bukan seperti ini di mana kakak laki-laki selalu memusuhi Kak Bella."
Mendengar harapan tulus yang mengalir dari bibir adik kecilku, dadaku mendadak terasa laksana dihantam oleh ombak besar. Setitik air mata hangat kembali merebak di sudut mataku. Bukan salah paham, Olivia ... tapi kutukan nyata, batinku pilu.
"Sebenarnya ... ada sesuatu yang tidak kamu ketahui, Dek," ucapku lirih, memberanikan diri membuka sedikit tabir masa lalu. "Kalau kamu sampai tahu rahasia itu, pasti kamu juga akan menjauhiku dan membenciku seperti yang lain. Kamu ... kamu tidak akan menganggapku sebagai kakakmu lagi."
"Tidak akan!" potong Olivia cepat dan tegas tanpa ragu sedikit pun. Ia mencengkeram jemariku lebih erat, menatapku dengan binar mata yang penuh tekad mutlak. "Kita itu saudara kandung, Kak! Apa pun yang terjadi di masa lalu, harus kita lupakan dan kita tinggalkan! Kita harus melihat ke depan, bukan ke belakang. Apalagi kita hidup untuk masa depan, bukan untuk mengenang masa lalu."
Olivia menarik napas panjang, tersenyum lebar demi mengalirkan seluruh kekuatan dan keyakinannya padaku.
"Olivia yakin, Kak Aaron, Kak Charles, dan Kak Ethan pasti akan menerima Kakak suatu hari nanti. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Ini semua hanya masalah waktu, Kak," ucap Olivia panjang lebar, mati-matian meyakinkan diriku bahwa fajar kedamaian di keluarga Adipta pasti akan segera datang.
Aku menatap pancaran binar di sepasang mata bulat Olivia yang begitu bersih tanpa noda dosa. Senyuman lebar di wajah polosnya seolah memancarkan harapan yang teramat cerah tentang masa depan keluarga kami.
Namun, di dalam rongga dadaku, rasa sesak yang teramat perih kembali merayap, menghimpit paruku hingga rasanya aku lupa bagaimana caranya bernapas.
Tapi ... di antara kita semua, sejak Papa dan Mama meninggal, kita tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi, Olivia, batinku pilu, menatap hampa ke arah jemari kami yang saling bertautan.
Kamu tidak tahu apa-apa tentang takdir terkutuk yang mengalir di dalam darah keluarga Adipta. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya melihat barisan angka ghaib berdarah yang tercetak pekat di telapak tangan orang-orang yang kita sayangi, lalu menyaksikan mereka merangkak menuju ajal tepat pada detiknya tanpa bisa dicegah oleh medis mana pun.
Rantai ramalan kematian itu sudah telanjur meremukkan pondasi keluarga ini selama dua puluh tahun. Meskipun Kak Ethan mulai melunak dan Kak Aaron perlahan menarik dinding isolasiku, aku tahu trauma kelam masa lalu yang membakar nurani mereka tidak akan bisa dihapus begitu saja hanya dengan berjalannya waktu.
Aku memaksakan segaris senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan, menyembunyikan badai ketakutan yang kian berkecamuk hebat di dalam kepalaku. Aku tidak ingin merusak optimisme murni adik kecilku, walau di dalam hati, aku teramat takut jika kesempatan kedua yang kucuri dari kematian kemarin malam justru akan menjadi awal dari petaka baru yang siap melumat habis sisa-sisa kedamaian yang baru saja kurasakan di kamar lantai dua ini.
"Kak? Kenapa Kakak jadi melamun lagi?" tanya Olivia lembut. Genggaman tangannya di jemariku sedikit mengerat, seolah berusaha menarikku kembali dari jurang pikiran kelam yang baru saja menyanderaku.
Aku tersentak sedikit, lalu buru-buru mengerjapkan mata demi menghalau kabut kesedihan yang sempat membayang di pelupuk mataku. Aku memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menutupi gemuruh di dada.
"Tidak apa-apa, Olivia," jawabku tulus.
Olivia menggenggam jemariku sedikit lebih erat, menyalurkan kehangatan murni yang seolah menjadi benteng pelindung bagiku malam ini.
"Pokoknya, Kak Bella jangan pernah memikirkan hal yang belum tentu terjadi, ya. Percaya saja pada Olivia," ucap Olivia penuh penekanan, memancarkan binar tekad mutlak di sepasang mata bulatnya yang bersih tanpa noda dosa.
Mendengar ketegasan adik kecilku, dadaku mendadak terasa begitu penuh oleh rasa haru. Kalimat kepolosannya yang memintaku untuk “percaya pada Olivia” laksana menjadi penawar sementara bagi jiwaku yang selama dua puluh tahun ini gersang dalam pengasingan gudang lantai tiga. Aku mengangguk pelan sebagai balasan, memilih untuk menelan rapat-rapat segala kecemasan supranatural tentang kutukan garis kematian, demi menjaga agar binar kebahagiaan di wajah bintang keberuntungan keluarga kami ini tidak ikut memudar.
"Oh iya ... barang-barang Kakak semua ke mana? Yang ada di kamar gudang?" tanya Bella setelah berhasil menenangkan dirinya. Ia menghapus sisa air mata di sudut matanya, lalu menatap Olivia dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~