NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Fitting Baju Pertunangan.

Alih-alih pulang ke rumah masing-masing, mobil Alphard hitam milik keluarga Voss sore itu justru melaju membelah jalanan Jakarta menuju sebuah kediaman megah berarsitektur modern minimalis di kawasan Menteng. Rumah keluarga Langit.

Sepanjang perjalanan, Aletha hanya bisa menatap sapu tangan biru dongker milik Langit yang masih setia ia remas di pangkuannya. Kejadian di kelas jam istirahat tadi benar-benar resmi memutus hubungannya dengan Tommy. Ada rasa lega, namun juga ada rasa cemas yang tak kasat mata.

"Turun, Kurcaci. Sudah sampai," suara bariton Langit membuyarkan lamunan Aletha.

Aletha menoleh kaku, lalu mengikuti Langit turun dari mobil. Begitu pintu utama rumah mewah itu terbuka, mereka berdua langsung disambut oleh pemandangan dua pasang orang tua yang sudah duduk melingkar di ruang tengah. Di sudut ruangan, sebuah gantungan baju berdiri tegak, memamerkan gaun pastel satin yang anggun dan setelan jas formal hitam yang tampak sangat mewah.

Jantung Aletha seketika berulah lagi.

‘Jangan bilang kalau ini…’

"Nah, ini dia anak-anak kita," seru Tante Karina, mama Langit, dengan wajah berseri-seri, seolah lupa bahwa tadi pagi mereka baru saja menyita motor Ducati putrinya sendiri.

"Ayo masuk. Karena kejadian semalam, Papa Baskara dan Papa Wirawan sepakat kalau acara pertunangan kalian dimajukan. Dua minggu lagi."

"Dua minggu?!" pekik Aletha tertahan. Ia melirik Langit, namun cowok itu hanya mengembuskan napas pendek tanpa riak terkejut.

"Tidak ada bantahan, Aletha. Ini demi kebaikan nama baik keluarga kita sebelum gosip di sekolah kamu makin liar," potong Baskara tegas dari sofa.

"Hari ini agenda kalian adalah fitting baju. Desainer langganan Mama Karina sudah menyiapkan ukurannya. Langit, kamu coba jas kamu dulu di kamar sebelah."

Langit mengangguk patuh, membawa setelan jas hitamnya masuk ke ruang ganti. Sementara Aletha, dengan setengah pasrah, dibawa oleh Mama Hanna dan Tante Karina menuju ruang ganti utama untuk mengenakan gaun pastel pilihan mereka.

Sepuluh menit kemudian, pintu ruang ganti Aletha terbuka.

Aletha melangkah keluar dengan canggung, sedikit mengangkat ujung gaun satinnya yang panjang hingga menyapu lantai. Gaun itu melekat sempurna di tubuh mungilnya, memperlihatkan potongan bahu yang indah dan memberikan kesan anggun yang belum pernah ia tunjukkan di sekolah. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir asal kini tergerai rapi.

Di saat yang bersamaan, pintu ruang ganti sebelah juga terbuka.

Langit melangkah keluar. Aletha yang semula menunduk kaku, refleks mendongak. Dan pada detik itu juga, pasokan udara di paru-paru Aletha seolah tersedot habis untuk kesekian kalinya hari ini.

Langit berdiri tegap mengenakan kemeja putih yang dibalut jas formal hitam ‘slim-fit’ berpotongan tegas. Celana kain hitamnya membuat kaki panjang cowok itu tampak semakin jenjang. Rambutnya yang biasanya sedikit berantakan kini disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi dan garis rahangnya yang kokoh sempurna. Ditambah lebam samar di sudut bibirnya, Langit benar-benar terlihat seperti model papan atas yang baru saja turun dari panggung ‘catwalk’.

‘Gila... ganteng banget,’ batin Aletha menjerit jujur, membuat wajahnya mendadak terasa panas. Benci yang biasanya menjadi benteng pertahanannya kini runtuh tak bersisa, digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa.

Langit juga sempat menghentikan langkahnya selama dua detik saat matanya mengunci sosok Aletha. Sorot mata hazel-nya yang biasanya sedingin es mendadak bergetar halus. Ia menatap Aletha dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya selama tiga tahun bermusuhan, Langit menyadari bahwa gadis berisik yang selalu ia panggil 'kurcaci' itu bisa terlihat begitu cantik dan memesona hingga membuat jantungnya kembali berdegup maraton di balik jas formalnya.

"Wah, serasi sekali! Benar-benar seperti pangeran dan putri!" seru Tante Karina heboh, memecah keheningan canggung di antara kedua remaja itu.

Mama Hanna bergegas maju, menarik lengan Aletha lembut untuk berdiri tepat di samping Langit di depan cermin besar.

“Ayo berdiri berdampingan, Mama mau foto buat kenang-kenangan."

Aletha melangkah kaku, berdiri tepat di sebelah tubuh tegap Langit. Jarak mereka begitu dekat hingga lengan mereka saling bersentuhan. Aroma parfum mint yang familier kembali mengepung indra penciuman Aletha, membuatnya mendadak gugup setengah mati.

"Dekatan dikit, Langit. Rangkul pinggang tunangan kamu dong," perintah Wirawan sambil terkekeh menggoda dari sofa.

Langit tidak membantah. Dengan gerakan lambat yang teramat telaten, tangan panjangnya bergerak melingkari pinggang ramping Aletha, menarik tubuh mungil gadis itu agar semakin merapat pada tubuh bidangnya.

Set.

Sentuhan tangan hangat Langit di pinggangnya seketika membuat tubuh Aletha menegang tegak bagai tersengat listrik. Jantungnya berdentum hebat seolah ingin melompat keluar dari dada. Aletha refleks mendongak tajam, berniat memprotes tindakan nekat cowok itu. Namun, begitu ia mendongak, wajah Langit ternyata sudah menunduk menatapnya dari jarak yang kelewat dekat.

Mata hazel Langit mengunci manik mata Aletha penuh kehangatan yang belum pernah gadis itu lihat sebelumnya. Sebuah senyuman tipis, sangat tipis namun teramat tulus dan tampan, terukir di bibir Langit yang terluka.

"Senyum, Kurcaci. Kamera Mamanya lagi fokus," bisik Langit dengan suara rendah yang terdengar begitu lembut di telinga Aletha.

Aletha menelan ludah dengan susah payah, seluruh kata-kata makian yang sudah di ujung lidahnya menguap begitu saja. Di bawah jeratan kain sutra dan dekapan hangat tangan Langit yang mengunci pinggangnya, Aletha terpaksa mengulas senyuman tipis ke arah kamera, sementara di dalam dadanya, badai debaran baru yang jauh lebih dahsyat resmi dimulai. Malam ini, ia sadar, perjanjian kerja sama pura-pura mereka sudah benar-benar kehilangan maknanya.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!