NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Istana Raja' Iblis

"Cepat! Arah cahayanya berasal dari balik lereng itu!" teriak Shen Yuan, melesat menembus semak belukar dengan kecepatan penuh. Hatinya bergemuruh hebat.

Lin Yue dan para gadis Asrama Selatan berlari sekuat tenaga di belakangnya, napas mereka terengah-engah membelah angin malam Hutan Kematian. Begitu mereka mencapai puncak lereng berbatu, Yuan langsung menjatuhkan dirinya, memberi isyarat tangan agar semua tiarap.

"Bersembunyi di balik semak! Jangan sampai ada yang mengeluarkan suara!" desis Yuan tegang.

Mereka semua mengintip dari balik semak belukar berdaun tajam. Di bawah lereng sana, sebuah pemandangan yang membuat darah mereka membeku terhampar luas. Sebuah istana raksasa yang terbuat dari ukiran batu hitam dan tulang belulang siluman berdiri megah menantang malam. Di setiap sudutnya, ratusan prajurit iblis berkepala banteng dan serigala berdiri tegap membawa tombak berkarat yang memancarkan aura kematian. Obor-obor hijau menyala terang benderang.

"Astaga Naga..." bisik Su Yin dengan bibir gemetar, matanya membelalak ngeri. "Banyak sekali penjaganya. Ini markas utama mereka!"

Lin Yue buru-buru membuka gulungan petanya di atas tanah, mendekatkannya pada pendar cahaya batu spiritual yang diredupkan. "Titik merahnya berhenti tepat di bangunan utama istana tulang itu. Tidak salah lagi, Kak Yuan. Yui pasti dikurung di dalam sana."

"Tapi bagaimana caranya kita masuk?!" keluh Jia Li panik, mencengkeram lengan Mei Lin. "Satu sayap istana saja dijaga oleh puluhan monster bertombak! Jika kita nekat menerobos, kita akan jadi landak penuh lubang sebelum sempat mencapai pintu utama!"

Yuan memukul tanah dengan kepalan tangannya, rahangnya mengeras. "Kita tidak boleh mundur. Rui ada di dalam sana. Pasti ada celah pertahanan yang bisa kita masuki."

Mata Lin Yue menyapu pemandangan di bawah sana dengan teliti, mengamati pola pergerakan para siluman. Tiba-tiba, senyum cerah terbit di wajah gadis itu. "Aha! Kak Yuan, lihat ke arah pintu samping di dekat kolam lahar kecil itu! Ada rombongan siluman wanita pembawa nampan buah yang sedang bersiap masuk. Pakaian mereka... itu seragam dayang-dayang istana iblis!"

"Lalu apa rencanamu, Lin Yue?" tanya Yuan menautkan alis.

"Di dekat kolam itu ada jemuran kain gelap. Kita turun perlahan-lahan. Kita tidak bisa berjalan kaki karena pasti terlihat dari menara pengawas. Kita harus merangkak... ya, merangkak dengan perut menempel di tanah seperti bayi yang baru belajar jalan!" jelas Lin Yue bersemangat. "Kita ambil pakaian dayang itu, menyamar, lalu masuk menyelinap ke aula utama!"

"Merangkak di atas lumpur beracun ini? Demi Yui, baiklah! Ayo kita lakukan!" seru Mei Lin tanpa ragu.

Dengan sangat hati-hati, Yuan, Lin Yue, dan para gadis mulai meluncur menuruni lereng. Mereka merangkak lambat layaknya bayi kadal, perut mereka bergesekan dengan tanah berlumpur, menahan napas setiap kali siluman penjaga menoleh ke arah mereka.

Setelah perjuangan menegangkan selama setengah jam, mereka berhasil mencuri beberapa pasang jubah dayang berbahan sutra hitam. Yuan, meski dengan wajah merah menahan malu yang luar biasa, terpaksa ikut menutupi jubahnya dengan jubah dayang kedodoran dan menyembunyikan wajahnya di balik kerudung kain.

Berbaris rapi sambil menundukkan kepala, kelompok penyusup itu berjalan gemetar mengikuti barisan dayang iblis yang asli, melangkah melewati pintu gerbang utama menuju aula singgasana. Jantung mereka berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Yuan menggenggam pedang kayunya di balik lengan jubah, bersiap menghadapi pemandangan adiknya yang mungkin sedang disiksa atau bersimbah darah.

Namun, begitu mereka melangkah masuk ke aula raksasa itu... pemandangan yang terhampar di depan mata mereka sukses membuat mulut Yuan dan para gadis terbuka sangat lebar.

Di tengah aula, di atas sebuah karpet bulu beruang yang tebal, Shen Rui duduk bersila dengan sangat santai. Tidak ada rantai, tidak ada cambukan. Di hadapannya, terhidang sebuah meja panjang berisi tumpukan daging panggang, buah-buahan roh, dan arak manis.

Yui sedang menggigit paha siluman kalkun raksasa dengan rakus, pipinya menggembung penuh makanan.

"Hei, Dayang! Kemari kau!" teriak Yui dengan mulut penuh, menunjuk ke arah barisan Lin Yue dengan tulang kalkun. "Daging ini kurang asin! Dan mana kecap manis yang kuminta tadi?! Kalian ini iblis tapi miskin bumbu ya?! Panggil koki dapur kalian ke sini, biar aku yang ajari cara membuat kaldu yang benar!"

Di atas singgasananya, Ba Mofeng, sang Raja Iblis Rawa, duduk merosot sambil memijat-mijat kepalanya yang sepertinya akan pecah. "Berikan saja apa yang bocah gila itu mau! Cepat jejalkan makanan ke mulutnya agar dia berhenti mengoceh tentang bumbu masakan! Telingaku berdarah!"

Shen Yuan mematung di barisan belakang. Kepanikan, kesedihan, dan rasa bersalahnya selama berjam-jam mendadak menguap, digantikan oleh rasa ingin mencekik leher adiknya itu.

*Anak setan ini... aku menangis darah mengiranya sedang direbus, dia malah sedang pesta makan malam sambil memarahi Raja Iblis?!* batin Yuan, urat kesabarannya nyaris putus.

"Kak Yuan..." bisik Lin Yue dari balik kerudungnya, menahan tawa yang nyaris meledak. "Sepertinya Yui... sangat baik-baik saja."

"Kita mundur perlahan," desis Yuan sambil menggertakkan giginya. "Aula ini dijaga Iblis Serigala Primordial. Jika kita menyerang sekarang, penyamaran kita terbongkar dan kita akan dikepung. Kita cari celah saat iblis-iblis itu lengah. Ayo keluar dari sini dan susun rencana penyerangan!"

Dengan sangat perlahan, rombongan "dayang-dayang" itu mundur teratur keluar dari aula singgasana tanpa disadari siapa pun.

---

Sementara Yuan dan para gadis menyusun rencana pembebasan, di sisi lain Hutan Kematian, nasib yang jauh lebih mengenaskan sedang menimpa tiga pemuda arogan yang bau kotoran.

Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi sedang berjalan tersesat di tengah semak berduri. Tiba-tiba, suara dengusan kasar terdengar dari atas pohon. Tiga siluman harimau berkepala dua melompat turun, mengepung mereka dengan tombak terhunus.

"Berhenti di sana, Manusia!" raung siluman harimau itu. Hidung mereka mendadak berkedut-kedut hebat. "Ugh! Bau apa ini?! Kenapa bau kalian lebih busuk dari kotoran babi rawa?!"

Wang Jian yang wajahnya masih cemong sisa-sisa tai kuda langsung jatuh berlutut, kakinya gemetar hebat hingga ia mengompol. "T-Tolong! Ampun, Tuan Siluman yang gagah berani! Tolong jangan makan kami!"

"Benar! D-daging kami beracun! Sangat tidak enak!" ratap Li Mo sambil bersujud dan menangis tersedu-sedu. "Kami belum mandi! Kami baru saja bergulingan di atas kotoran kuda! Tuan Siluman pasti akan sakit perut kalau memakan kami! Tolong lepaskan kami! Huaaa!"

Siluman harimau itu menutup hidungnya dengan pandangan luar biasa jijik. "Makan kalian? Cih! Membayangkan menyentuh kalian saja membuatku mau muntah! Tapi Raja Iblis memerintahkan menangkap semua manusia penyusup!"

"Tolong, Tuan! Jadikan kami budak pembersih kakus saja, tapi tolong biarkan kami hidup!" jerit Zhao Qi merengek-rengek, memeluk kaki siluman itu.

"Singkirkan tangan baumu dari kakiku, Manusia Menjijikkan!" Siluman itu menendang Zhao Qi hingga terguling. "Ikat mereka dengan tali babi! Bawa mereka ke penjara bawah tanah! Jauhkan dari dapur, bau mereka bisa merusak selera makan Raja Iblis!"

"TIDAAAAAK! TOLONG KAMI! KAK YUAN! TETUA! TOLOOOONG!" jerit Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi bersamaan, diseret seperti tiga karung sampah busuk menembus kegelapan hutan.

Teriakan melengking mereka yang luar biasa menggema memecah malam, tak ada satu pun yang sudi datang menyelamatkan tiga tuan muda congkak yang kini hanya berharga setara kotoran kuda.

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!