Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Iblis x Saksi Bisu 3
Sementara Poltak bertarung dengan napasnya mengejar para pelaku, Reza berdiri di depan pintu kayu Teater Lama. Tangannya bergetar saat ia memutar kenop pintu yang sudah berkarat itu.
Kriet...
Pintu terbuka, mengeluarkan suara decitan panjang yang mengerikan. Aroma debu tebal, kayu lapuk, dan bau apak menyengat hidung Reza. Ruangan itu sangat gelap, hanya diterangi oleh seberkas cahaya matahari yang menembus dari celah-celah ventilasi atap yang rusak. Deretan kursi penonton dari kayu yang sudah lapuk tampak seperti siluet nisan di kuburan massal.
"Mbak Dini?" panggil Reza pelan, suaranya menggema di ruangan luas itu. Jantungnya berdetak sangat kencang. Firasat buruk yang menggerogoti dadanya semakin membesar.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam.
Reza melangkah masuk lebih dalam, matanya berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan. Ia menyusuri lorong di antara kursi penonton, menuju ke area panggung dan ruang ganti di belakangnya.
"Mbak Dini! Ini Reza! Mbak di mana?!" teriaknya lagi, kali ini lebih keras, kepanikannya mulai tidak terbendung.
Tiba-tiba, telinganya menangkap sebuah suara. Bukan suara sahutan, melainkan suara isakan tertahan yang sangat pelan, nyaris seperti suara embusan angin. Suara itu berasal dari sudut ruang penyimpanan properti di sebelah kiri panggung.
Dengan langkah tergesa, Reza berlari menuju sudut itu. Begitu ia berbelok melewati tumpukan papan triplek bekas dekorasi panggung, langkah Reza terhenti secara brutal. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya dan membekukan seluruh aliran darahnya.
Di sudut ruangan yang kotor dan berdebu itu, Dini duduk meringkuk di lantai ubin yang dingin.
Pemandangan di hadapan Reza adalah sesuatu yang akan menghantuinya seumur hidup. Dini, primadona komunikasi yang selalu tampil modis, harum dengan parfum vanilla, dan selalu tersenyum ceria, kini hancur berkeping-keping. Kardigan pastel dan celana jeans-nya tergeletak robek berserakan di dekatnya. Gadis itu terduduk dengan lutut ditarik ke dada, tubuhnya hanya berbalut bra dan pakaian dalam. Tubuh mulusnya kini dipenuhi debu, noda kotor, dan memar kemerahan di pergelangan tangannya akibat cengkeraman paksa.
Dua preman biadab itu tidak hanya menyekapnya. Mereka telah melakukan instruksi Kevin hingga tuntas. Mereka mencabuli Dini, merenggut harga diri dan kehormatannya di tempat paling kotor dan sepi ini.
Mata Dini terbuka, tapi tatapannya kosong. Ia menatap ke arah dinding di depannya tanpa berkedip. Air mata masih mengalir dari sudut matanya, membasahi pipinya yang pucat pasi, namun tidak ada suara tangisan yang keluar. Dini mengalami shock berat, trauma mendalam yang membuat otaknya memutus kesadaran dengan realitas untuk melindungi kewarasannya. Ia diam mematung, seperti boneka rusak yang dibuang pemiliknya.
Reza berdiri kaku. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar. Kakinya terasa seperti dipaku ke lantai. Pemuda yang seumur hidupnya bahkan belum pernah menggandeng tangan perempuan itu, kini dihadapkan pada realitas paling menjijikkan dan traumatis yang bisa dialami seorang wanita.
"Ya Ampun... Mbak Dini..." bisik Reza dengan suara bergetar hebat. Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Reza. Rasa bersalah, amarah, dan kesedihan melebur menjadi satu ledakan di dalam dadanya. Seandainya gue lari lebih cepat. Seandainya gue nggak pernah ngajak dia ngerayain ujian semalam.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Reza perlahan membuka kancing kemeja flanel lungsurannya, menyisakan kaus oblong putih lusuh di badannya. Ia melangkah perlahan mendekati Dini, seolah takut gerakan sekecil apa pun akan menghancurkan gadis itu lebih jauh.
Reza berlutut di depan Dini. Ia tidak berani menatap tubuh gadis itu. Dengan pandangan diarahkan ke lantai, Reza menyampirkan kemeja flanelnya yang kebesaran itu ke bahu Dini, menutupi tubuh gadis yang gemetar kedinginan dan ketakutan itu.
"Mbak... ini Reza, Mbak," bisik Reza dengan suara parau, menahan tangisnya sendiri. Ia mencoba merapikan kerah kemeja itu agar menutupi Dini dengan lebih baik. "Mbak aman sekarang. Nggak ada yang bakal nyakitin Mbak lagi. Maafin saya telat... maafin saya, Mbak."
Dini tidak memberikan respons. Ia tidak menepis tangan Reza, tidak juga membalas ucapannya. Gadis itu tetap terdiam seperti orang linglung, terperangkap dalam neraka di kepalanya sendiri. Tangan Reza terhenti di bahu Dini, tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyelamatkan jiwa yang baru saja hancur itu.