NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Matahari baru saja terbenam, langit berubah jingga ke ungu saat Maxy melirik jam di dinding ruang tamu rumah mewahnya. Jarum tepat menunjukkan pukul lima sore. Dia berdiri di depan cermin, menunggu pergantian fase yang selalu datang tepat waktu. Dadanya berdebar — tadi pagi di taman terasa begitu nyata, begitu dekat, sebagai dirinya sendiri. Tapi malam ini, dia akan menemui Shella dengan wajah lain, dan dia tahu konsekuensinya.

Getaran halus merambat ke seluruh tubuhnya. Di udara di depannya, tulisan hologram muncul perlahan.

DING!

FASE BERGANTI

Mode malam dimulai.

Penampilan dioptimalkan.

Akses dana sistem tersedia.

Metrik saat ini — Maxy: 25%, Roxy: 21%.

Pandangannya sejenak kabur. Saat jernih kembali, pantulan di cermin menampilkan Roxy — wajah tegas, rahang terdefinisi, tatapan mata dalam dan tenang yang memancarkan kepercayaan diri tanpa perlu banyak bicara. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap yang menonjolkan postur tubuhnya, diselipkan rapi di dalam celana bahan yang senada. Sepatu kulit hitam yang mengkilap melengkapi penampilannya — sederhana, tapi setiap orang yang melihat akan langsung tahu bahwa kualitasnya tidak murah.

Aku mengambil ponsel, menarik napas dalam, lalu menekan nomor Shella. Telepon berderung beberapa kali sebelum diangkat.

"Halo?" Suara Shella terdengar lembut dari seberang.

"Halo, Shella. Ini Roxy. Maaf ganggu malam-malam," ucapnya, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdebar.

"Eh, nggak kok! Kamu nggak ganggu. Ada apa?" Nadanya terdengar ceria, sedikit antusias.

"Aku kebetulan lewat daerah pusat kota, dan teringat kamu pernah bilang mau cari waktu buat jalan-jalan. Kalau malam ini kamu luang, boleh aku ajak ke mall pusat kota? Nggak harus lama, sekadar jalan-jalan, lihat-lihat, makan malam kalau kamu mau."

Shella terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. "Wah, tiba-tiba banget ya? Tapi... aku nggak ada janji apa-apa malam ini. Boleh deh. Jam berapa dan di mana?"

"Jam setengah tujuh di lobi utama mall besar di pusat kota. Aku jemput di depan pintu masuk kalau kamu mau, atau kita ketemu di dalam?"

"Kita ketemu di lobi aja ya, biar aku langsung ke sana. Nanti aku cari kamu."

"Oke, sampai ketemu nanti ya. Hati-hati di jalan."

"Sampai ketemu, Roxy."

"Tuuut tuuut.." elepon ditutup.

Roxy meletakkan ponsel sejenak di meja, menatap pantulan dirinya di cermin. Dia tahu ini akan menarik perhatian Shella ke Roxy lagi, dan kemungkinan besar membuat posisi Maxy mundur sedikit. Tapi dia juga tahu, kalau dia tidak datang, Shella mungkin akan dijemput orang lain — dan dia tidak mau itu terjadi.

Aku berjalan ke garasi utama, masuk ke dalam sedan hitam mewahku, Mesin menyala dengan suara halus dan bertenaga.

menyetir perlahan menuju mall, membiarkan pikiranku tertata. Malam ini bukan untuk pamer, bukan untuk menang dengan cara apa pun. Malam ini untuk memberi waktu — untuk Shella, dan untuk dirinya sendiri, sebelum semuanya jadi terlalu rumit untuk diurai.

Sesampainya di lobi utama mall, Aku memarkir mobil di area parkir bawah tanah, lalu berjalan masuk menuju area pertemuan.

Lampu-lampu mall yang terang benderang memantul di lantai marmer yang mengkilap. Orang-orang berjalan berkelompok, suara tawa dan obrolan bercampur dengan musik latar yang lembut. Dia berdiri di dekat deretan kursi panjang, menatap ke arah pintu masuk utama.

Beberapa menit kemudian, Aku melihat Shella berjalan masuk. Dia mengenakan gaun santai berwarna lembut yang jatuh pas di badan, rambut terurai indah, wajahnya terlihat segar dan cantik dengan riasan tipis yang menonjolkan fitur aslinya. Dia berjalan sambil memandang ke kiri dan kanan, seolah mencari seseorang. Saat matanya bertemu denganku, langkahnya melambat, dan dia berhenti sejenak di tempat.

Roxy melambaikan tangan, lalu berjalan mendekat.

"Kamu sudah sampai," ucap Shella sambil tersenyum, tapi matanya masih menyelidik wajah Roxy. "Aku... aku baru sadar, kita belum pernah ketemu di tempat yang terang begini."

Roxy tersenyum tipis. "Kenapa? Ada yang beda?"

Shella menggeleng pelan, tapi pandangannya tidak beralih. "Bukan beda... cuma... kamu kelihatan beda. Lebih... aku nggak tahu kata yang tepat. Keren, berwibawa, seolah semua di sekitar kamu ikut berubah saat kamu ada di sini."

Dia menunduk sejenak, lalu menatap lagi dengan senyum malu. "Maaf ya, kedengaran aneh ya?"

"Enggak kok. Terima kasih," jawab Roxy lembut. "Kamu juga terlihat sangat cantik malam ini."

Wajah Shella sedikit memerah, dia mengalihkan pandangan ke arah lorong yang ramai. "Yuk kita jalan? Aku jadi penasaran kamu mau ajak ke mana."

"Ke mana pun kamu mau. Aku cuma pendamping malam ini," jawab Roxy sambil memberi isyarat agar dia berjalan duluan.

Mereka berjalan berdampingan di lorong-lorong mall yang luas. Shella sesekali berhenti di depan etalase toko — menatap pakaian, aksesori, barang-barang yang mungkin tidak akan dia beli, tapi menyenangkan sekadar untuk dilihat. Roxy berjalan di sampingnya, memberi ruang, tidak mendesak, sesekali menjawab saat dia bertanya pendapat. Orang-orang yang lewat sesekali melirik mereka — bukan karena kenal, tapi karena penampilan Roxy yang menonjol, dan cara dia memperlakukan Shella dengan penuh perhatian yang tulus.

"Kamu sering ke sini?" tanya Shella saat mereka berhenti di depan toko perhiasan.

"Jarang. Lebih sering ke tempat yang lebih tenang," jawab Roxy. "Kamu?"

"Kadang kalau lagi stres kerja, aku ke sini jalan-jalan aja, nggak beli apa-apa. Cuma lihat orang, lihat barang, biar pikiran beralih sebentar." Shella tersenyum kecut. "Murah meriah kan?"

Roxy tersenyum. "Bukan cara yang buruk kok. Kadang kita butuh istirahat dari masalah tanpa harus lari ke tempat jauh."

Mereka melanjutkan jalan, dan Shella mulai bercerita — tentang proyek yang makin dekat batas waktunya, tentang Pak Arif yang makin sering mendekat dengan cara yang kadang membuat dia tidak nyaman, tentang kerinduan untuk punya waktu sendiri tanpa harus menjawab pertanyaan siapa pun.

Aku mendengarkan sepenuhnya, tidak memotong, tidak buru-buru memberi solusi. Hanya sesekali mengangguk, atau mengajukan pertanyaan yang membuat dia bisa melihat masalah dari sudut yang lebih tenang.

Mereka mampir ke sebuah kedai makan di lantai atas, duduk di meja dekat jendela yang menghadap ke lampu-lampu kota di kejauhan. Suasana tenang, tidak terlalu ramai. Saat makanan datang, mereka makan sambil ngobrol — topiknya makin luas, makin dalam, makin pribadi.

Shella terlihat rileks, matanya berbinar saat bercerita tentang hal yang membuatnya bersemangat, dan Aku memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa disembunyikan — tatapan yang penuh perhatian, penuh kekaguman, dan penuh rasa takut kalau semua ini suatu hari nanti akan berakhir.

Setelah selesai makan, saat mereka berjalan melewati toko aksesori kecil, Shella berhenti sejenak di depan etalase. Matanya tertuju pada sebuah jam tangan wanita yang mungil — tali kulit berwarna lembut, bingkai perak yang sederhana tapi elegan, angka-angka kecil di dialnya.

"Cantik ya..." gumamnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Sederhana, tapi terasa mahal."

Aku melirik harga sekilas. Angkanya cukup besar — setengah gaji bulanan pegawai biasa. Tapi untuk dana sistem, jumlah itu tidak berarti apapun.

"Kamu suka?" tanyanya pelan.

Shella tersentak, lalu tersenyum malu. "Ah, cuma kagum aja. Nggak perlu kok, aku cuma lihat."

"Tapi kamu suka," ucapku tenang. "Tunggu sebentar ya."

Sebelum Shella sempat menolak, dia sudah masuk ke dalam toko. Shella berdiri di depan etalase, menatap melalui kaca dengan wajah bingung dan sedikit cemas. Beberapa menit kemudian, Roxy keluar dengan kotak kecil berwarna elegan di tangan.

"Roxy, kamu nggak perlu..." cegahnya.

"Anggap saja terima kasih," potong Roxy lembut, tapi tegas. "Terima kasih karena sudah mau meluangkan waktu malam ini, dan sudah mau berbagi cerita. Bukan karena barang ini mahal, tapi karena kamu menyukainya."

"klik".. Shella membuka kotak itu. Jam tangan itu terlihat lebih cantik di dalam kemasannya. Shella menatapnya lama, lalu menatap Roxy. Matanya terlihat bercampur aduk — senang, terharu, tapi juga ragu.

"Aku... aku nggak enak banget nerima barang semahal ini," ucapnya pelan. "Kita kan baru kenal sebentar."

"Bukan soal lama atau baru kenal, Shella. Tapi soal kamu berharga untuk dihargai," jawabku penuh ketulusan.

"Kalau kamu terima sebagai tanda persahabatan, itu sudah cukup buat aku. Aku nggak minta balasan apa pun." lanjutku menjelaskan.

Shella menghela napas pelan, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah... terima kasih, Roxy. Beneran makasih. Aku jaga baik-baik."

Dia mengulurkan tangan, dan Aku membantunya memakaikan jam itu di pergelangan tangan kirinya.

Jam itu terlihat pas, cantik, dan sangat cocok dengan gayanya. Shella menatapnya dengan senyum yang tulus, meski ada keraguan yang masih tersisa di matanya.

Mereka berjalan menuju pintu keluar mall. Langkah mereka lebih lambat dari saat datang. Udara malam terasa sejuk saat mereka berdiri di depan pintu utama, menunggu kendaraan yang akan mengantar Shella pulang.

"Malam ini... luar biasa, Roxy. Makasih banyak ya," ucap Shella sambil menatap jam di pergelangan tangannya, lalu menatap wajahku penuh semangat. "Kamu selalu bikin aku ngerasa dipahami. Bukan dihakimi, bukan disuruh cepat-cepat jadi orang lain."

"Sama-sama. Itu yang aku mau," jawabku lembut. "Kamu berhak dihargai apa adanya."

Mobil yang akan mengantar Shella datang. Sebelum masuk, dia berhenti sejenak, menatap Roxy lekat-lekat. "Sampai ketemu lagi ya. Kabari aku kalau kamu luang."

"Pasti. Hati-hati di jalan."

Shella tersenyum, lalu masuk ke mobil. Roxy berdiri di sana sampai mobil itu hilang di tikungan jalan, baru berjalan kembali ke tempat parkir.

DING!

Hubungan dengan Roxy: 24% (+3%)

Hubungan dengan Maxy: 23% (-2%)

Sumber: Perhatian berupa tindakan nyata, pemberian hadiah yang bermakna, kehadiran yang menenangkan. Penurunan di sisi Maxy murni karena fokus perhatian Shella sedang teralih ke interaksi malam ini, bukan karena perubahan sikap.

Aku masuk ke mobil, duduk diam sejenak di kursi pengemudi. tahu ini akan terjadi. Roxy naik, Maxy turun. Itu aturan mainnya.

Tapi Aku juga tahu, tidak bisa terus begini selamanya. Semakin lama menunda, semakin berat beban yang harus diangkat nanti. Dan semakin dalam perasaan Shella ke sosok yang tidak nyata, semakin besar kemungkinan dia terluka saat kebenaran terungkap.

Aku menyalakan mesin "Vrooom". menyetir perlahan meninggalkan area mall. Lampu-lampu kota menyala di sepanjang jalan, tapi pikirannya jauh di depan — di pagi hari, di taman, di momen di mana dia bisa jadi dirinya sendiri tanpa harus menyembunyikan siapa dia.

Besok pagi jam enam, dia kembali jadi Maxy. Dan besok, dia harus memastikan bahwa kenaikan yang didapat Roxy tidak menutup pintu untuk Maxy. Kalau perlu, dia harus membuktikan bahwa hadiah mewah itu indah, tapi kehadiran yang tulus setiap hari jauh lebih berharga.

Dan di antara dua identitas itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah — perasaannya pada Shella. Yang berubah cuma cara dia menunjukkannya.

Sampai di rumah, Aku parkir mobil, lalu duduk sejenak di tepi ranjang. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat. Masih lama sampai pagi. Aku memejamkan mata, membiarkan malam ini berlalu, dan mempersiapkan diri untuk hari esok — di mana dia harus kembali berjuang, bukan dengan uang atau penampilan, tapi dengan siapa dia sebenarnya..

1
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!