Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Suasana di dalam mansion milik Arlend terasa begitu hening dan tenang. Di ruangan berinterior mewah itu, Hazel berdiri berhadapan dengan Arlend.
Hazel menatap wajah tegap sang Raja Mafia cukup lama. Sepasang iris matanya yang jernih memancarkan pergolakan batin yang sangat pekat. Di dalam benak Hazel, pikiran-pikiran dingin bercampur ketakutan mulai berputar.
Aku takut... jika dia kecewa padaku kalau tahu kebenarannya, batin Hazel seraya terus memandangi Arlend. Sebenarnya, aku hanya ingin dia yang membalaskan dendamku pada Cateline dan Helena. Jika Arlend yang turun tangan, aku tidak perlu repot-repot memutari jalan panjang dengan memanfaatkan Leo...
Penyesalan dan kalkulasi itu menari-nari di kepalanya. Leo hanyalah batu loncatan seorang putra dari pebisnis ternama yang ayahnya merupakan kekasih rahasia dari Helena. Namun, bermain api dengan Leo terasa begitu berisiko jika Arlend sampai mengetahuinya.
Hazel mendadak terdiam, menghentikan deret pikirannya sendiri. Ia menarik napas pelan, mencoba menetralkan raut wajahnya yang mulai cemas.
"Aku... aku mau ke kamar dulu, Kak Sagara," cicit Hazel halus seraya memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.
SETAK.
Belum sempat Hazel melangkah dua pijakan, cengkeraman tangan tegap Arlend yang hangat dan kokoh menyergap pergelangan tangannya. Langkah Hazel terhenti seketika.
Arlend tidak menariknya dengan kasar, melainkan menahannya dengan kelembutan yang sarat akan dominasi. Pria itu memutar tubuh Hazel perlahan hingga mereka kembali berhadapan. Iris mata kelam milik sang Raja Mafia menatap lurus menembus manik mata Hazel, seolah mampu membaca setiap rahasia yang tersimpan di balik paras cantiknya.
"Aku tahu kau mau mengatakan sesuatu, Hazel..." bisik Arlend dengan suara rendah, berat, dan amat dalam. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Hazel yang berada dalam genggamannya. "Jangan menyembunyikan apa pun dariku."
Hazel membeku di tempatnya. Ia menatap wajah Arlend sangat lama, membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik. Tatapan matanya berkaca-kaca, memancarkan kesan rapuh, takut, dan penuh keraguan yang begitu alami.
"Aku... aku takut, Kak Sagara..." bisik Hazel dengan suara bergetar pelan, tenggorokannya terasa tercekat. "Aku takut dan tidak berani untuk mengatakannya padamu..."
Arlend menyempitkan tatapannya, merasakan gurat ketakutan yang nyata dari gadis di hadapannya. Cengkeraman tangannya di jemari Hazel kian merekat erat, bersiap mendengar kejujuran yang selama ini terendam.
Arlend membeku sejenak. Iris matanya yang kelam menatap Hazel tajam, memperdalam genggaman tangannya di pergelangan tangan gadis itu. Suasana di dalam ruangan berinterior mewah itu mendadak menjadi begitu lengang dan tegang.
"Takut?" ulang Arlend dengan suara rendah yang mengayun berat, mengintimidasi namun sarat akan rasa penasaran yang pekat. "Apa yang membuatmu takut padaku, Hazel?"
Ibu jari Arlend merayap perlahan, mengusap lembut kulit pergelangan tangan Hazel, mencoba menyalurkan kehangatan di tengah ketakutan yang terpancar jelas dari raut wajah gadis itu.
Pertahanan Hazel akhirnya runtuh. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya luruh satu per satu, membasahi pipi mulusnya. Hazel menatap Arlend dengan tatapan yang amat rapuh, jujur, dan keputusasaan yang nyata.
"Kak... aku sebenarnya punya dendam dengan Cateline dan Helena," bisik Hazel dengan suara gemetar seraya terisak pelan.
Napas Hazel tersengal, dadanya naik-turun menahan emosi yang selama ini ia pendam sendirian. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Arlend yang membeku mendengar pengakuannya.
"Awalnya... aku ingin memanfaatkanmu untuk membalaskan dendamku pada mereka," aku Hazel jujur, air matanya kian deras mengalir. "Tapi... aku sangat takut. Aku takut Kak Sagara akan membenciku... aku takut Kakak berpikir kalau aku sama saja dengan Cateline yang tega memanfaatkan amnesiamu demi keuntungan pribadi..."
Hazel menggelengkan kepalanya pelan dengan nada penuh penyesalan. Jemari tangannya yang mungil meremas ujung kemeja Arlend dengan erat, seolah takut pria di hadapannya itu akan berbalik dan meninggalkannya detik ini juga.
"Karena ketakutan itu... aku jadi berencana untuk mendekati Leo," lanjut Hazel dengan cicitan halus yang terputus-putus oleh tangisnya. "Leo itu... dia anak dari kekasih rahasia Helena, Kak. Aku berpikir, kalau aku berhasil mengendalikan dan memanfaatkan Leo, aku bisa menghancurkan hubungan mereka dari dalam... Dengan begitu, aku akan membuat Helena berlutut dan memohon pada semua orang dengan kesedihannya!"
Hazel menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangisnya pecah makin keras di dada bidang Arlend. Bahunya terguncang hebat, meluapkan seluruh beban manipulasi, rasa takut ditolak, dan dendam membara yang selama ini menghimpit dadanya.
Arlend berdiri terpaku. Pengakuan jujur dan tangisan emosional Hazel yang begitu transparan menghantam dadanya jauh lebih keras daripada kebohongan apa pun.
double up y thor 😄🙏