Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"An... Anya?!"
Arhan terbangun dengan sentakan yang keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan, jantungnya berdegup kencang seperti baru saja berlari jauh. Tangannya langsung memegang bahu Anya, mengguncangnya pelan.
Matanya terbuka lebar dalam gelap, mencari wajah istrinya.
Tidak ada kejang. Tidak ada suara sesak.
Di dalam pelukannya, Anya masih tertidur lelap.
Wajahnya damai. Napasnya teratur dan pelan. Tangan Anya masih menggenggam baju Arhan dengan lembut, tidak mencengkeram. Tidak ada tanda-tanda kesakitan sama sekali.
Keringat mengalir deras di pelipis Arhan. Dari dahinya, turun ke leher, membasahi kerah kaosnya. Kaosnya lengket di punggung. Dadanya masih terasa sesak dan berat.
Dia merasa sedikit lega. Sangat lega sampai dadanya terasa mau pecah.
Ternyata itu hanyalah mimpi.
Mimpi buruk. Mimpi yang terasa sangat nyata karena ia tertidur dalam keadaan takut yang berlebihan.
Arhan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia mengatur napasnya, menarik napas panjang lewat hidung dan membuangnya lewat mulut. Satu kali. Dua kali. Berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdetak tidak karuan.
"Astaga," bisiknya pelan untuk dirinya sendiri. Suaranya parau.
Ia menatap langit-langit kamar yang temaram. Lampu tidur kecil di sudut nakas masih menyala, cahayanya keemasan memantul di dinding. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sebelas menit. Tengah malam yang benar-benar sunyi, hanya suara detik jam yang terdengar.
Ia mencoba untuk kembali tidur. Ia memejamkan matanya lagi, berusaha memeluk Anya lebih erat, mencari posisi yang nyaman. Tapi tidak bisa.
Matanya justru semakin terbuka lebar.
Jantungnya masih berdegup terlalu kencang. Kepalanya masih penuh dengan bayangan-bayangan. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul bukan kegelapan, tapi wajah Anya yang terlihat dalam mimpinya, kejang di pelukannya. Meski itu hanya mimpi, rasanya terlalu nyata dan menakutkan untuk dilupakan begitu saja.
Arhan menatap wajah Anya yang sedang tertidur lelap di depannya.
Dalam cahaya lampu tidur yang temaram, wajah Anya terlihat sangat tenang. Tidak ada kerutan cemas di dahinya. Tidak ada rasa sakit yang tergambar. Alisnya yang tipis tidak mengerut. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya halus. Cantik, dalam keadaan paling rapuh.
Arhan mengulurkan tangan dan menyingkirkan beberapa helai rambut Anya yang menempel di dahinya karena keringat dingin.
"Anya," bisiknya sangat pelan.
Anya tidak menjawab. Ia masih tertidur pulas, tenggelam dalam tidurnya sendiri, tidak terusik sama sekali.
Arhan tahu, kalau ia tetap berbaring seperti ini, ia hanya akan menatap langit-langit sampai pagi dengan pikiran yang berisik. Ia tidak akan bisa tidur lagi. Letihnya sudah berubah menjadi gelisah yang mengaduk-aduk isi kepalanya.
Pelan-pelan, dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Anya, Arhan melepaskan pelukannya. Ia mengangkat tangan Anya yang menggenggam bajunya dan meletakkannya pelan di atas selimut. Ia menyelimuti Anya sampai ke bahu, memastikan Anya tidak kedinginan karena keringatnya sendiri.
Lalu ia turun perlahan dari kasur. Kakinya menginjak lantai kayu yang dingin. Rasa dingin itu sedikit membantunya untuk lebih sadar.
Ia berdiri beberapa detik di samping ranjang, memastikan Anya tidak terbangun karena gerakan kasur. Setelah yakin Anya masih terlelap dalam posisi yang sama, ia berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang sangat pelan. Ia menutup pintu kamar tidak sampai rapat, menyisakan sedikit celah sekitar dua jari, agar ia bisa mendengar jika Anya memanggil atau terbangun.
Rumah itu gelap dan sepi. Hanya suara kulkas yang berdengung pelan dari dapur dan suara jangkrik dari luar jendela.
Arhan berjalan ke dapur. Badannya masih teramat lelah. Kakinya berat seperti diikat beban, matanya perih karena kurang tidur berhari-hari dan terlalu banyak menahan tangis. Tapi matanya justru tidak mau terpejam lagi. Kepalanya terlalu berisik.
Ia menyalakan lampu dapur yang putih kekuningan. Cahaya itu membuat matanya sedikit silau.
Ia mengambil gelas kaca bening dari rak piring.
"Sepertinya, lebih baik kopi dulu," gumamnya pelan.
Ia menuangkan air panas dari termos ke dalam gelas, memasukkan sesendok kopi hitam bubuk dan sedikit gula aren yang Anya suka. Ia mengaduknya pelan dengan sendok kecil. Aroma kopi yang kuat, pahit, dan hangat langsung memenuhi dapur kecil itu. Aroma yang selalu bisa membangunkan kesadarannya.
Ia mengaduknya pelan. Uap panasnya naik ke wajahnya, menghangatkan hidungnya yang dingin.
Sambil menunggu kopinya sedikit dingin agar bisa diminum, ia bersandar di meja dapur. Tatapannya kosong menatap taman kecil di luar jendela dapur yang gelap. Taman yang Anya rawat setiap sore. Di siang hari taman itu penuh bunga warna-warni, tapi di malam hari hanya terlihat bayangan hitam dari batang-batangnya.
Pikirannya melayang bukan karena ia mencari ide, tapi karena ia takut kehilangan.
Ia takut Anya akan dilupakan. Ia takut dunia akan berjalan terus seolah Anya tidak pernah ada di rumah ini, di taman ini, di dalam hidupnya. Ia takut setelah semua ini selesai, yang tersisa dari Anya hanyalah foto-foto di atas nakas yang akan memudar warnanya.
Arhan tidak mau itu terjadi. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Ia adalah seorang penulis novel. Sudah beberapa tahun terakhir ia hidup dari menulis novel untuk penerbit.
Malam ini, ia tidak ingin menulis tentang orang lain.
Malam ini ia ingin menulis tentang Anya. Ia ingin membuat Anya terus hidup, abadi. Bukan sebagai pasien, bukan sebagai penderita penyakit, tapi sebagai tokoh utama yang hidup selamanya. Jika di dunia nyata waktunya terbatas, maka di dalam tulisannya, Arhan bisa memberi Anya keabadian.
Pikiran itu membuatnya merasa sedikit lebih kuat. Ada tujuan kecil yang bisa ia lakukan malam ini, selain hanya menangis.
Lalu setelah membuat kopi, Arhan membawa gelas kopinya dan berjalan kembali ke ruang tamu. Di sudut ruangan ada sebuah tas hitam besar yang selalu ia bawa kerja.
Ia mengambil tas hitam yang berisi laptop itu. Tas kerja hariannya yang sudah lecet di bagian sudutnya.
Ia kembali ke kamar, masuk dengan pelan, menenteng tas dan gelas kopinya yang masih mengepul. Anya masih tertidur di posisi yang sama, tidak bergerak, selimutnya masih rapi menutupi bahunya.
Arhan tidak mau duduk jauh dari Anya. Ia ingin tetap di dekatnya, bisa melihat wajahnya kapanpun ia mau.
Ia menaruh gelas kopinya di atas nakas, lalu ia menaruh laptopnya di atas meja dan kursi kayu kecil yang ada di sudut kamar, tepat di samping ranjang Anya. Meja kecil tempat Anya biasanya meletakkan buku bacaannya dan botol air minum.
Ia duduk di kursi kayu itu. Kursinya berdecit pelan karena kayu yang sudah tua.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan laptop hitamnya yang agak kusam karena sering dipakai. Ia menyalakan laptop itu. Cahaya dari layar laptop yang menyala tiba-tiba menerangi setengah wajahnya di dalam kamar yang temaram.
Suara kipas laptop berdengung pelan, menemani suara detik jam dinding.
Ia menunggu sampai laptop menyala sempurna, lalu ia membuka aplikasi Word. Lembaran putih kosong muncul di layar. Kursor hitam berkedip-kedip di pojok kiri atas, menunggu untuk diisi.
Bagi Arhan, lembaran kosong itu sudah sangat familiar. Baginya, ini bukan beban yang menakutkan, ini adalah rumah. Ini adalah tempat untuk menyelamatkan seseorang yang ia cintai dengan caranya sendiri.
Ia menyesap kopinya yang pahit. Rasa panasnya menjalar ke tenggorokan.
Ia menatap Anya yang tertidur, lalu menatap layar kosong itu lagi.
Anya suka bunga. Ia suka menanam bunga. Ia selalu bilang kalau bunga itu mengajarkan tentang hidup yang singkat tapi indah dan harus dinikmati.
Arhan meletakkan jari-jarinya di atas keyboard. Jemarinya sudah hafal betul letak huruf-huruf itu. Tidak ada keraguan, tidak ada jeda panjang.
Ia menarik napas panjang, lalu ia mengetik dengan lancar, dengan hati yang penuh cinta.
Di lembaran putih yang kosong itu, ia menuliskan judul novel baru yang akan menjadi rumah kedua untuk istrinya, tempat Anya bisa tinggal selamanya.
Huruf demi huruf muncul dengan mantap di tengah halaman.
BUNGA
Judul yang sederhana. Judul yang sangat Anya. Di novel ini, Anya akan mekar selamanya dan tidak akan pernah layu.
Arhan menatap judul itu. Senyum kecil yang tulus muncul di wajahnya untuk pertama kalinya malam itu. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.
Ia menurunkan kursor ke baris berikutnya, siap melanjutkan mengetik kalimat pertama, kalimat pembuka untuk keabadian Anya.
Saat akan melanjutkan mengetik, tiba-tiba keheningan kamar yang hanya diisi suara ketikan dan dengung laptop itu pecah.
Dari atas ranjang, dari balik selimut, terdengar sebuah suara pelan.
Suara itu serak, pelan, dan terdengar seperti baru saja bangun tidur.
"Han..."
Arhan menoleh cepat, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia mengira Anya sudah terbangun dan melihatnya sedang menulis.
Dengan suara yang sangat pelan dan sendu, Anya berbicara.
"Kalau aku mati, kamu jangan menangis, ya."