NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 "PEREMPUAN ITU IKUT PULANG BERSAMA KITA"
Sinar matahari pagi di ufuk timur kota Yogyakarta belum sepenuhnya mengusir sisa-sisa awan mendung semalam, saat mobil yang dikemudikan Zaki kembali membelah jalanan menuju rumah sakit.
Di bangku penumpang sebelah kiri, Nisa duduk dengan gelisah, tangannya tak henti meremas saputangan sutra yang sudah kusut. Matanya masih sembap, namun kali ini, raut keputusasaan yang membelenggunya semalaman telah berganti menjadi antisipasi yang membuncah.
Di bangku belakang, Harumi duduk diam membisu. Wajah cantiknya masih pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat akibat terjaga semalaman pasca-teror sosok wanita bergaun merah di dalam kamarnya. Gadis itu menatap kosong ke luar jendela mobil, namun pikirannya melayang jauh.
Sejak waktu Subuh tadi, secara sembunyi-sembunyi, Harumi telah mengambil ponselnya dan mengirimkan satu pesan singkat kepada Yuda: "Kak Haruma sadar, Yud. Aku ke rumah sakit pagi ini."
Ia tahu ayahnya akan sangat murka jika mengetahui ia masih menghubungi Yuda, namun Harumi tidak peduli. Ia membutuhkan Yuda. Ia membutuhkan sandaran yang tahu persis apa yang ia alami di atas panggung Candi Prambanan malam itu. Yuda adalah satu-satunya orang—selain Dion—yang percaya bahwa ia tidak menusuk kakaknya secara sadar.
Sesampainya di lobi rumah sakit, Zaki setengah berlari mendahului istri dan putrinya menuju lift, menekan tombol lantai tiga dengan tidak sabar. Pintu lift terbuka, dan mereka bergegas menyusuri lorong panjang menuju ruang Intensive Care Unit (ICU).
Di depan ruang isolasi bernomor tiga, Dokter Surya yang sedang memantau chart pasien tampak tersenyum melihat kedatangan Zaki.
Sang dokter mengangguk, memberikan isyarat bahwa Haruma telah dipindahkan ke bangsal rawat inap biasa yang fasilitasnya disatukan dengan pengawasan semi-intensif (High Care Unit/HCU) pagi itu, mengingat kondisinya yang menunjukkan kemajuan pesat dan tidak lagi membutuhkan ventilator.
"Bapak dan Ibu bisa masuk sekarang. Pasien sudah berada di ruang perawatan VVIP ujung lorong," ucap Dokter Surya dengan nada lega. "Namun, saya mohon jangan memaksanya untuk banyak bicara. Fungsi motorik dan vokalnya masih sangat kaku pasca-koma."
"Terima kasih banyak, Dokter. Tuhan yang akan membalas kebaikan Dokter," ucap Zaki dengan suara bergetar, menjabat tangan dokter tersebut erat-erat sebelum bergegas menuju kamar yang ditunjukkan.
Saat Zaki mendorong pintu kayu bernuansa putih itu terbuka, Nisa tidak bisa lagi menahan isak tangisnya.
Di atas ranjang pesakitan yang bagian kepalanya dinaikkan sedikit, Haruma terbaring bersandar. Selang oksigen kecil menempel di hidungnya, dan selang infus masih terpasang di pergelangan tangannya. Matanya terbuka, menatap ke arah pintu yang baru saja dibuka.
"Haruma... Anak Ibu... Ya Allah, Nak..." tangis Nisa pecah.
Ia berlari kecil menghampiri ranjang, langsung merengkuh tubuh putrinya itu ke dalam pelukan yang sangat hati-hati agar tidak menekan luka di perutnya. Nisa menciumi dahi, pipi, dan tangan Haruma berkali-kali. "Alhamdulillah kamu kembali pada Ibu, Nak... Alhamdulillah..."
Zaki menyusul, matanya memerah. Pria itu mencium kening Haruma lama sekali, air mata menetes dari sudut matanya membasahi wajah putrinya. "Anakku... anakku yang kuat..." bisiknya parau.
Namun, di tengah luapan emosi haru kedua orang tuanya, Haruma hanya diam. Wajahnya yang sepucat pualam tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Matanya masih menatap lurus ke arah pintu dengan tatapan kosong yang sama seperti saat ia pertama kali membuka mata di ruang ICU semalam.
Suhu tubuhnya yang dirasakan oleh Nisa saat memeluknya masih terasa tidak wajar—terlalu dingin untuk ukuran manusia hidup, seolah-olah AC di dalam ruangan tersebut sengaja diarahkan langsung ke tubuh Haruma.
Di ambang pintu, Harumi berdiri mematung.
Kakinya seolah dipaku ke lantai ubin rumah sakit. Tangan kanannya secara refleks memegangi pergelangan tangannya yang lain—tempat di mana ruam biru berbentuk cengkeraman makhluk gaib itu masih berdenyut nyeri.
Harumi sangat ingin berlari dan memeluk kakaknya, menciuminya seperti yang ibunya lakukan. Namun, teror dan rasa bersalah membelenggunya. Bayangan saat tangannya sendiri menusukkan pisau pusaka berkarat itu ke perut Haruma kembali berkelebat dengan kejam.
Ia takut.
Ia merasa dirinya adalah monster kotor yang tidak pantas berada di dekat kakaknya yang sedang meregang nyawa akibat ulahnya.
"Harumi... masuk, Nak... Sini, Nak, temani kakakmu..." panggil Nisa sambil menoleh ke arah ambang pintu.
Harumi menggeleng pelan, air mata menetes di pipinya. "Harumi kotor, Bu... Tangan Harumi yang bikin Kak Haruma begini..." bisiknya sangat lirih, nyaris tak terdengar.
Sebelum Zaki sempat menegur putrinya yang terus menyalahkan diri sendiri, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggema dari ujung lorong HCU.
Ketiga anggota keluarga Zaki menoleh secara bersamaan.
Dan di sanalah Yuda muncul.
Pemuda itu berlari dengan napas memburu, mengenakan jaket yang sama dengan seperti sebelumnya, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi raut kepanikan yang luar biasa.
Begitu mata Yuda menangkap sosok Harumi yang berdiri menangis di ambang pintu, pemuda itu langsung menghambur, meraih pundak kekasihnya.
"Harumi! Kamu nggak apa-apa? Aku dapat chat kamu Subuh tadi. Syukurlah Haruma udah sadar," ucap Yuda dengan suara terengah-engah, matanya memancarkan kelegaan sekaligus kerinduan yang teramat dalam.
Namun, kehadiran Yuda di sana seketika memicu amarah Zaki. Darah ayah angkat itu mendidih.
Zaki melepaskan genggaman tangannya dari Haruma, lalu melangkah lebar-lebar menuju pintu dengan rahang mengeras.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" bentak Zaki, suaranya tertahan namun memancarkan ketegasan yang mutlak. "Bukankah saya sudah peringatkan kamu untuk menjauh dari keluarga saya, Yuda?! Gara-gara kamu dan ambisi teatermu itu, anak saya hampir mati, dan anak saya yang satu lagi dipenjara! Pulang kamu!"
Yuda tersentak mundur satu langkah, namun ia menolak untuk pergi.
Ia menatap Zaki dengan mata sembap yang penuh tekad. Pak... saya ke sini bukan untuk berdebat. Saya cuma ingin memastikan Haruma baik-baik saja. Dan saya harus bicara sama Harumi, Pak. Ini bukan cuma soal hukum atau kelalaian. Ada yang nggak beres sejak malam itu. Ini urusan yang jauh lebih besar dan berbahaya dari sekadar kecelakaan panggung!"
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?!" Zaki membentak lebih keras, jari telunjuknya menuding tepat ke wajah Yuda. "Satu-satunya bahaya bagi putri-putri saya adalah kamu! Keluar dari rumah sakit ini sekarang, atau saya akan minta security menyeretmu keluar!"
"Pak! Tolong, Pak!" jeritan Harumi tiba-tiba memecah pertengkaran itu.
Gadis itu melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Yuda seakan menjadi tameng bagi kekasihnya. Air mata Harumi mengalir semakin deras. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh keputusasaan dan rasa frustrasi.
"Jangan usir Yuda, Pak... Kumohon..." isak Harumi, suaranya bergetar hebat. "Yuda benar... Yuda satu-satunya yang percaya sama Harumi. Semalam... di rumah... makhluk itu datang lagi, Pak! Makhluk bergaun merah itu keluar dari lemari kamarku! Dia yang merasukiku! Dia yang mau membunuh Kak Haruma!"
Zaki terdiam, matanya terbelalak menatap putrinya. Nisa yang sedari tadi menemani Haruma di atas ranjang ikut menoleh dengan wajah pucat pasi.
"Dia mencekik tanganku di sel penjara, Bu..." Harumi melanjutkan, kali ini ia menggulung lengan kaus panjangnya, memperlihatkan pergelangan tangannya.
Zaki dan Nisa terkesiap ngeri melihat ruam biru kehitaman yang membentuk cetakan lima jari manusia berukuran besar di kulit putih Harumi. Ruam itu terlihat sangat jelas, mengerikan, dan mustahil dilakukan oleh Harumi sendiri.
"Yuda ada di sana, Pak... Yuda melihat tatapan iblis itu di atas panggung. Kalau Bapak mengusir Yuda, Harumi nggak punya siapa-siapa lagi yang mengerti..." tangis Harumi semakin pecah, pundaknya berguncang hebat.
Melihat bukti nyata di pergelangan tangan putrinya, dan penderitaan yang terpancar dari mata gadis itu, dinding amarah Zaki akhirnya runtuh. Logika rasionalnya sebagai pria dewasa sekaligus seorang ayah akhirnya menyerah pada instingnya yang tahu bahwa keluarganya sedang diganggu oleh kekuatan gelap.
Zaki menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke arah Yuda dengan tatapan yang masih dingin, namun kebenciannya mulai memudar.
"Masuk," desis Zaki pelan pada Yuda. "Bicara di dalam. Jangan buat keributan di lorong."
Yuda mengangguk penuh rasa terima kasih. Ia meraih tangan Harumi yang dingin, menggenggamnya erat-erat, dan menuntun gadis yang masih gemetar itu melangkah masuk perlahan mendekati ranjang perawatan Haruma.
Di atas ranjang, Haruma masih bersandar diam. Sepasang mata kakaknya itu mengikuti setiap pergerakan Harumi dan Yuda.
"Kak Haruma..." panggil Harumi dengan suara serak, langkahnya terhenti di sisi ranjang. Ia tidak berani mendekat lebih dari itu. "Maafin aku, Kak... Maafin Harumi..."
Yuda ikut berdiri di sebelah Harumi, menatap Haruma dengan perasaan bersalah yang tak kalah besarnya. "Syukurlah lo kembali, Ma. Gue janji, gue bakal cari tahu siapa atau apa yang udah ngelakuin ini semua ke kalian berdua."
Keheningan yang mencekam menguasai ruang rawat inap VIP tersebut selama beberapa detik. Nisa dan Zaki berdiri menahan napas di sisi lain ranjang, berharap putri sulung mereka akan bereaksi, tersenyum, atau setidaknya membalas genggaman tangan ibunya.
Haruma menatap Harumi dan Yuda secara bergantian. Wajah pucatnya masih sedatar manekin. Namun perlahan, dada Haruma terlihat naik turun sedikit lebih cepat. Selang oksigen di hidungnya berembun.
Tenggorokannya bergerak-gerak pelan menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang mengering pasca-intubasi semalaman.
Lalu... bibir pucat pasi Haruma perlahan terbuka.
Suara yang keluar dari bibir itu sangat serak, parau, dan pelan, nyaris seperti gesekan antara dua daun kering. Namun intonasinya terdengar begitu kelam dan sarat akan kengerian yang membuat suhu ruangan terasa anjlok hingga ke titik beku.
"PEREMPUAN ITU..." bisik Haruma lirih.
Nisa segera mencondongkan telinganya lebih dekat ke wajah putrinya. "Iya, Nak? Kamu bilang apa, Sayang?"
Haruma perlahan menggerakkan kepalanya yang terasa sangat berat. Sepasang matanya yang kosong, yang sebelumnya menyaksikan kengerian pembangunan seribu candi di dimensi masa lalu, kini menatap lurus ke arah mata Harumi. Tidak ada kasih sayang di mata itu, yang ada hanyalah ketakutan yang absolut dari seorang saksi mata kebangkitan iblis kuno.
"PEREMPUAN... DARI BATU ITU..." Haruma mengulangi kata-katanya. Suaranya sedikit lebih keras sekarang, bergetar menyalurkan sisa-sisa hawa dingin dari alam gaib yang menempel di sukmanya.
Jari-jari tangan Haruma yang dingin berkedut, lalu bergerak sangat lambat hingga telunjuknya menuding ke udara kosong di sudut ruangan, tepat di belakang Yuda dan Harumi.
"DIA... IKUT PULANG BERSAMA KITA..."
Darah di nadi Yuda, Harumi, Zaki, dan Nisa seakan membeku seketika.
Jantung mereka berhenti berdetak sesaat.
Keempat orang itu secara refleks memutar tubuh mereka, menatap dengan ngeri ke arah sudut ruangan kosong yang ditunjuk oleh telunjuk bergetar milik Haruma.
Di sudut ruangan rumah sakit yang disinari cahaya matahari pagi dari jendela itu, tidak ada apa-apa selain kursi tamu dan sebuah tiang infus cadangan. Ruangan itu tampak normal.
Namun bagi Haruma yang mata batinnya telah terbuka secara paksa setelah kematian sementaranya, pemandangan di sudut ruangan itu adalah neraka yang mewujud di dunia nyata.
Di matanya, sesosok bayangan wanita tinggi berambut panjang, mengenakan gaun kuno berwarna merah darah, sedang berdiri mematung di sudut itu. Sosok iblis bermata hitam legam itu sedang menyeringai lebar, menatap lurus ke arah Harumi dengan pandangan lapar yang tak akan pernah terpuaskan.
Haruma memejamkan matanya erat-erat, air mata ketakutan mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit.
Kalimat pertamanya pasca-koma itu bukanlah kalimat lega karena berhasil kembali dari kematian.
Itu adalah kalimat peringatan, sebuah terompet sangkakala bahwa kutukan berdarah Roro Jonggrang itu, kini secara resmi telah memasuki rumah dan kehidupan nyata mereka.
Iblis itu telah menentukan wadahnya, dan ia tidak akan berhenti sampai tumbal darah dari keluarga "Tulang Wangi" ini lunas seutuhnya.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda