NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENARA TIRAI MERAH

Malam di Kerajaan Langit Timur tidak pernah tidur. Lentera-lentera merah menyala di sepanjang jalan batu, memantulkan cahaya kemerahan ke dinding-dinding kota, seakan seluruh negeri terendam dalam warna darah yang telah lama membeku.

Xuanyuan bergerak di atas atap-atap bangunan, bayangannya menyatu dengan kegelapan. Topi lebarnya sudah dilepas, kain penutup matanya terpasang rapat. Pupil Gandanya di balik kain itu berdenyut pelan memetakan setiap prajurit yang berpatroli, setiap jendela yang dijaga, setiap detak jantung yang berdebar cemas di dalam istana.

"Penjagaan terlalu rapat. Ini bukan sekadar pesta pernikahan. Mereka menunggu seseorang. Seseorang yang mereka tahu akan datang." suara Lang Wuyan rendah dan waspada.

Xuanyuan tidak berhenti. Ia melompat dari atap toko kain ke tembok tinggi istana, cengkeramannya kuat namun senyap. Di bawah sana, halaman istana berkilauan dengan lampu gantung dan perak. Para tamu berjalan tertawa, berpakaian mewah, seakan tidak ada yang tahu bahwa di menara tertinggi, seorang gadis sedang menangis sendirian.

Ia mencapai tepian atap sayap timur. Sebelumnya, ia melonggarkan ikatan kain penutup matanya sedikit cukup agar ia bisa melihat dengan jelas.

Di dalam kamar menara, tirai sutra merah menutupi jendela. Di tengah ruangan, duduk seorang gadis di depan cermin. Pakaian pengantinnya berwarna merah menyala, dihiasi benang emas yang berkilau lembut. Rambutnya dihiasi perhiasan yang berat dan indah. Tapi wajahnya pucat, matanya bengkak, dan tangannya memegang sepotong cermin retak yang tersembunyi di balik lengan bajunya.

Lian Yue.

Jantung Xuanyuan berdenyut begitu keras hingga ia takut akan terdengar melalui dinding batu itu. Ia melihat bahu Lian Yue berguncang pelan. Ia mendengar suaranya yang berbisik sendirian.

"Kau janji... kau janji akan mencariku, Xuanyuan. Di mana kau sekarang?"

Xuanyuan menekan telapak tangannya ke dinding dingin. Ia tidak menangis. Matanya yang tertutup kain justru terasa semakin dingin dan tajam.

Ia mengetuk pelan pada kaca jendela tiga ketukan pendek, satu panjang. Kode yang hanya mereka berdua yang tahu sejak masa kecil.

Tubuh Lian Yue menegang perlahan. Ia menoleh perlahan, matanya membelalak saat melihat bayangan di luar kaca. Ia berlari membuka jendela, angin malam masuk menerpa rambutnya.

"Xuanyuan..." suaranya tercekat.

Ia meraih tangan Xuanyuan yang terulur masuk. Jari-jarinya dingin dan gemetar. Xuanyuan menggenggamnya erat, seakan takut ia akan lenyap jika dilepaskan.

"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku datang."

Lian Yue menatapnya, air mata mengalir kembali namun kali ini bukan karena kesedihan. "Kau seharusnya tidak datang. Mereka memasang jebakan. Semua ini... semuanya untuk memancingmu keluar."

"Aku tahu." Xuanyuan melompat masuk ke dalam kamar, menutup jendela rapat-rapat. "Tapi kau pikir aku akan membiarkanmu menikah dengan orang lain? Membiarkanmu dikorbankan demi ambisi mereka?"

Lian Yue menunduk, air matanya jatuh ke lantai batu. "Ini bukan pernikahan biasa. Keluarga Murong dikepung. Jika aku menolak, mereka akan membakar sekteku dari muka bumi. Aku memilih datang dengan sukarela agar orang-orangku selamat."

Xuanyuan berdiri diam. Kata-kata itu menembus dadanya lebih tajam daripada pedang mana pun. Ia melihat gadis di depannya yang selalu tersenyum padanya, yang selalu memberinya makanan saat ia lapar, yang meninggalkan catatan di bawah bantalnya dan sekarang gadis itu mengorbankan dirinya demi orang lain.

Kemarahan yang berbeda dari sebelumnya bangkit di dadanya. Bukan kemarahan yang membabi-buta, melainkan kemarahan yang dingin, tenang, dan mengerikan.

Ia melepaskan ikatan kain penutup matanya. Untuk pertama kalinya di depan orang lain, ia memperlihatkan matanya sepenuhnya. Dua pupil hitam berlapis berputar perlahan, memancarkan cahaya samar yang membuat udara di ruangan itu terasa berat.

Lian Yue menatap matanya, tidak takut, tapi terharu. "Mata itu... akhirnya terbuka sepenuhnya untukku."

"Mata ini melihat banyak hal buruk," bisik Xuanyuan. "Tapi tidak ada yang lebih buruk daripada melihatmu menderita."

Ia merogoh saku jubahnya, lalu mengeluarkan gulungan kulit hitam yang kasar Blood Ledger. Gulungan itu terasa hangat di tangannya, seakan bernapas.

"Aku tidak akan membunuh semua orang di istana ini malam ini," katanya pelan sambil membuka lembaran pertama. "Tapi mereka yang memaksa kau ke sini... mereka yang menjadikanmu barang tawar... nama mereka akan tertulis di sini malam ini. Dengan darah mereka sendiri."

Lian Yue meletakkan tangannya di atas gulungan itu, menekan lembut. "Dendam tidak akan menyembuhkan lukamu, Xuanyuan. Dan jika kau membunuh Raja dan Pangeran Kerajaan Langit Timur malam ini, seluruh kekuatan sekte dan kerajaan akan memburumu sampai ke ujung dunia."

"Biarkan mereka datang." Xuanyuan menatapnya lurus. "Selama kau bersamaku, aku tidak takut pada seluruh dunia."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lebar dengan keras.

"Manis sekali."

Suara berat dan dingin menggema di ruangan. Di ambang pintu berdiri seorang pemuda tampan dengan jubah sutra merah bertabur benang emas. Wajahnya tampan, tapi matanya kosong dan sombong. Di belakangnya berdiri dua belas prajurit elit dengan baju zirah hitam yang memantulkan cahaya redup.

Pangeran Xuan Hao.

Ia melangkah masuk, matanya meneliti Xuanyuan dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya berhenti pada mata Xuanyuan yang terbuka.

"Jadi ini dia. Anak yatim dari Sekte Awan Langit. Anak yang berani menentang kerajaanku di jalan utara. Dan ternyata... pencuri hati pengantinku." Pangeran Xuan Hao tersenyum sinis. "Kau pikir aku tidak tahu kau akan datang? Menara ini adalah kandang burung yang menunggu tamu yang tepat."

Xuanyuan berdiri di depan Lian Yue, perlahan mengeluarkan Pedang Tulang Hitam yang patah dari punggungnya. Bilah itu bergetar pelan, seakan merasakan kedatangan musuh.

"Kau bisa mengambil kerajaannya, Xuan Hao. Kau bisa mengambil tanah dan hartanya. Tapi kau tidak pernah berhak memiliki dia," kata Xuanyuan tenang.

Pangeran tertawa keras. "Berhak? Ayahku dan tetua sekte Murong sudah menandatangani perjanjian. Dia milikku. Tubuhnya, namanya, dan kekuatan darahnya semuanya adalah milik Kerajaan Langit Timur. Dan malam ini, aku akan membunuhmu di depannya, lalu menikahinya besok pagi. Dan dia akan tersenyum saat aku melakukannya."

Ia melambaikan tangan. Dua prajurit maju dengan pedang terhunus.

"Tangkap dia. Bawa mayatnya ke halaman depan sebagai hiasan pesta."

Xuanyuan tidak mundur selangkah. Ia merasakan tangan Lian Yue mencengkeram ujung jubahnya dari belakang ketakutan, tapi tidak melepaskan.

"Xuanyuan, dengarkan aku. Mereka dua belas, dan Pangeran itu sendiri berada di ranah Lautan Qi tingkat akhir. Kau belum punya kekuatan untuk mengalahkan mereka semua sekaligus. Kau bisa bertarung, tapi kemungkinan besar kau berdua tidak akan keluar hidup-hidup." Lang Wuyan terdengar mendesak.

"Aku tahu," bisik Xuanyuan dalam hati. "Tapi aku tidak akan menyerahkannya."

Ia membalikkan kepalanya sedikit, menatap Lian Yue. Matanya yang berlapis hitam berbicara tanpa kata.

"Pegang erat bajuku. Jangan lepaskan, apa pun yang terjadi."

Lian Yue mengangguk, matanya penuh air mata tapi tekadnya kuat. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."

Xuanyuan mengangkat pedang patahnya. Cahaya merah samar mulai menyelimuti bilah tulang hitam itu. Di luar jendela, angin bertiup kencang, mengguncang tirai merah. Di kejauhan, guntur menggelegar di langit yang tadi cerah.

"Xuan Hao," kata Xuanyuan pelan namun jelas. "Kau mengira ini adalah perang antara kau dan aku. Tapi kau salah. Ini adalah penagihan utang. Dan utang darah selalu dibayar dengan darah."

Ia melangkah maju sendirian, menghadapi dua belas prajurit elit dan seorang Pangeran. Bukan sebagai pahlawan yang gagah berani, melainkan sebagai seseorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang dan karena itu, tidak bisa dikalahkan.

Pertarungan bukan untuk kemenangan. Pertarungan ini adalah untuk satu hal saja: agar dia bisa membawanya keluar dari neraka ini.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!