NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20.Kamera

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar di lantai dua terasa begitu silau, namun sama sekali tak memberi kehangatan bagi Aruna. Gadis itu masih berbaring miring di atas tempat tidur berukuran besar. Matanya yang sembap dan menghitam menatap kosong ke arah dinding kayu di hadapannya.

Sejak insiden percobaan nekat kemarin sore, Aruna tidak sepatah kata pun bersuara. Ia membiarkan Bi Asih mengganti balutan perban di tangan kanannya, membiarkan wanita paruh baya itu menyelimutinya, namun menolak keras setiap sendok bubur yang disodorkan ke mulutnya. Tubuhnya makin menyusut, sementara jiwanya seolah telah memilih untuk mati lebih dulu sebelum raganya menyusul.

Ceklek.

Suara engsel pintu kamar berbunyi pelan. Aruna tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, menduga itu adalah Bi Asih yang kembali untuk membujuknya makan. Namun, derap langkah kaki yang mantap dan berat mengindikasikan sosok lain.

Kaivan melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam mewahnya yang rapi, siap untuk berangkat ke kantor. Wajahnya tetap kaku bak pahatan batu marmer, namun bayangan hitam tipis di bawah matanya menunjukkan bahwa ia juga tidak tidur nyenyak semalaman.

Kaivan berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap sosok Aruna yang begitu kecil dan ringkih di balik selimut tebal.

"Sampai kapan kau mau berakting seperti mayat hidup di rumahku, Aruna?" suara Kaivan memecah kesunyian, terdengar dingin dan dipenuhi nada celaan kaku.

Aruna tidak bergerak. Tidak ada respon, tidak ada helaan napas yang memburu ketakutan seperti biasanya. Gadis itu sepenuhnya mengabaikan keberadaan Kaivan, seolah pria tinggi angkuh itu hanyalah udara hampa.

Melihat pengabaian mutlak dari Aruna, dadanya mendadak terasa dihantam kejengkelan yang aneh. Kaivan menurunkan kedua tangannya, lalu berdehem pelan untuk menetralkan rasa tidak nyaman yang merayapi benaknya.

"Dokter pribadi akan datang siang ini untuk memeriksa luka bakar di tanganmu," lanjut Kaivan dengan nada memerintah yang tak berbelas kasihan. "Dan kalau Bi Asih melaporkan bahwa kau masih menolak makan lagi hari ini, aku akan menyuruh dokter memasang selang infus makanan langsung ke hidungmu. Kau dengar itu?"

Aruna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ancaman itu terasa begitu kejam, namun bagi jiwanya yang sudah mati, hal itu tak lagi menakutkan.

Kaivan melirik ponsel murah milik Aruna yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Ponsel itu mati total karena kehabisan daya. Pria itu menyipitkan mata sejenak, mengingat laporan dari sekretarisnya kemarin malam bahwa teman-teman kafe Aruna terus-menerus mencari keberadaannya.

"Mulai hari ini, aku menyita ponselmu," cetus Kaivan seraya menyambar ponsel Aruna dan memasukannya ke dalam saku jas kerjanya.

"Kau tidak butuh berhubungan dengan siapa pun di luar sana. Fokus saja memulihkan tubuhmu yang menyusahkan itu."

Selesai mengucapkan kalimat kaku tersebut, Kaivan berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menunggu balasan dari Aruna. Ia sengaja tidak mengunci pintu kamar itu lagi dari luar, sebuah kelonggaran kecil yang tak akan pernah ia akui sebagai bentuk penyesalan atau rasa iba.

Sementara itu, di depan sudut jalan raya yang tak jauh dari gerbang kompleks perumahan elit kediaman Adikara, sebuah mobil minivan hitam tanpa plat nomor yang jelas terparkir diam di bawah naungan pohon rindang.

Di dalam kabin mobil yang remang, dua orang pria berjaket kulit hitam menatap lurus ke arah pintu gerbang tinggi bernuansa besi tempa. Salah satu dari mereka memegang kamera berlensa tele panjang, sementara yang lain terus memainkan ponsel di tangannya.

"Kau yakin ini rumah pribadinya Kaivan Adikara?" tanya pria yang memegang kamera seraya menyesuaikan fokus lensanya.

"Yakin seratus persen," jawab pria di sampingnya dengan seringai tipis.

"Informasi ini langka banget. Setelah berita pernikahan rahasia itu viral, Ibu Rosmala diam-diam bocorin ke media kalau anak gadisnya yang dijual itu ditahan di rumah ini tanpa akses keluar sama sekali."

"Gila... Kalau kita berhasil mengambil foto Aruna Rasyara yang sedang dikurung atau depresi di rumah ini, berita ini bakal meledak luar biasa. Julukan 'Tuan Muda Diktator' buat Kaivan Adikara bakal makin viral!"

Pria pemegang kamera tertawa pelan, lalu tiba-tiba menekan tombol shutter berulang kali saat melihat mobil sedan mewah Kaivan meluncur keluar dari gerbang utama kompleks.

"Lihat tuh, Kaivan baru saja berangkat ke kantornya," gumam pria itu dengan sorot mata penuh ambisi.

"Berarti gadis itu ditinggal sendirian di dalam rumah besar itu bersama para pelayan. Kita tinggal tunggu momen yang pas buat menerobos atau ngambil foto dari area pagar belakang."

Mereka tidak tahu bahwa tindakan nekat mereka mengejar berita sensasional ini justru akan membawa bahaya baru yang mengintai Aruna—sebuah ancaman dari luar yang siap menyeret nama gadis itu kembali ke dalam kubangan lumpur kehancuran.

Di tempat lain, suasana di Kafe Kopi Senja berlangsung sangat suram.

Bagas berdiri kaku di depan papan jadwal kerja yang tertempel di dinding area belakang. Matanya menatap nama 'Aruna' yang telah dicoret tipis oleh pemilik kafe karena gadis itu tidak hadir selama beberapa hari berturut-turut tanpa keterangan resmi.

"Gas..." panggil Maya pelan, mendekati Bagas dengan raut wajah cemas. "Tadi aku coba mendatangi kosan Aruna lagi sebelum shift pagi mulai. Ibu kosnya bilang... barang-barang Aruna bahkan belum dibereskan sama sekali. Aruna benar-benar pergi cuma bawa baju di badannya waktu hari terakhir dia kerja..."

Bagas mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga pembuluh darah di lengan tangannya menonjol jelas. Rasa marah, tidak rela, dan penyesalan mendalam meremas dadanya tanpa ampun.

"Aruna dipaksa, May," desis Bagas dengan suara rendah yang menahan gejolak emosi. "Gadis selembut Aruna nggak mungkin meninggalkannya semua ini begitu saja tanpa pamit sama kita. Dia pasti lagi menderita di sana..."

"Tapi kita harus gimana, Gas?" tanyak Rian yang baru datang membawa nampan kosong dari area meja pelanggan. "Kita ini cuma rakyat biasa, pekerja kafe.Laki-laki bernama Kaivan Adikara itu pengusaha raksasa yang punya hukum dan pengawal di mana-mana. Kalau kita nekat mendatangi rumahnya tanpa bukti atau tanpa dipanggil Aruna, kita bisa dimasukkan ke penjara!"

"Aku nggak peduli, Yan!" tegak Bagas tajam, menatap Rian dengan sorot mata berapi-api. "Aku nggak bisa cuma duduk di sini bikin kopi sementara gadis yang aku..." Bagas menghentikan kalimatnya sejenak, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. "...sementara Aruna mungkin lagi menangis minta tolong di dalam sana!"

Maya tertegun melihat reaksi Bagas yang begitu emosional. Ia tahu Bagas menyukai Aruna sejak dulu, namun ia tidak menyangka perasaan laki-laki itu begitu dalam hingga siap menantang bahaya demi Aruna.

"Bagas... tolong jangan nekat," bisik Maya memohon. "Kita cari info dulu dari wartawan atau dari keluarga Rasyara. Kita pastikan keadaan Aruna dulu sebelum bertindak..."

Bagas tidak menjawab. Laki-laki itu membalikkan badannya, melepaskan celemek kerjanya dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja bar.

"Aku minta izin keluar sebentar," kata Bagas dingin sebelum melangkah lebar keluar dari pintu belakang kafe, meninggalkan Maya dan Rian yang menatap keberangkatannya dengan rasa cemas yang kian membuncah.

Laki-laki itu bertekad akan menemukan keberadaan Aruna, apa pun risiko yang harus ia hadapi.

Waktu menunjukkan pukul dua siang di kediaman Adikara.

Dokter pribadi keluarga Adikara baru saja selesai membersihkan dan mengganti perban di punggung tangan kanan Aruna.

Selama proses pengobatan yang biasanya terasa perih menusuk itu, Aruna sama sekali tidak merintih atau menggerakkan tangannya. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela, membiarkan sang dokter menjalankan tugasnya.

"Luka bakarnya sudah mulai mengering dengan baik, Nona Aruna," kata dokter ramah seraya merapikan peralatan medisnya ke dalam tas.

"Tapi Anda harus tetap menjaga agar area perban ini tidak terkena air dan pastikan Anda mendapatkan asupan nutrisi yang cukup agar jaringan kulitnya cepat pulih."

Aruna tidak menjawab, hanya memberikan anggukan kepala yang sangat tipis dan pasrah.

Setelah dokter dan Bi Asih keluar dari kamar untuk mengantar ke depan, keheningan kembali menyelimuti ruangan besar itu.

Aruna perlahan bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya yang kaku dan gemetaran membawanya mendekati jendela kamar yang mengarah langsung ke area taman belakang rumah.

Di luar sana, langit kembali mendung dan angin berhembus kencang mengoyak daun-daun pohon besar di halaman. Aruna menyandarkan dahinya yang dingin pada kaca jendela yang bening.

Dari sudut pandangnya di lantai dua, Aruna melihat gerbang besi tinggi di area pagar belakang rumah. Tanpa ia sadari, di balik semak-semak luar pagar tersebut, lensa kamera dari wartawan yang bersembunyi sejak pagi tadi mendadak mengarah tepat ke wajah pucat Aruna yang berdiri di balik jendela.

Cklik! Cklik! Cklik!

Suara kilatan kamera yang cepat berhasil mengabadikan sosok Aruna—seorang gadis dengan wajah pucat bagai mayat, mata sembap hampa, dan perban tebal melilit tangannya, berdiri kesepian di balik jendela rumah mewah Kaivan Adikara.

Aruna sama sekali tidak menyadari bahwa gambar dirinya yang penuh penderitaan itu dalam hitungan jam akan menjadi amunisi baru yang meledak di dunia jagat maya—sebuah kekacauan besar baru yang siap memancing amarah Kaivan sekaligus menyeret Bagas untuk datang menerobos masuk ke dalam kehidupan sang pengusaha berhati dingin.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!