Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Uang Dulu, Nyawa Belakangan
Tinju seukuran kepala bayi melesat ke arah wajahnya. Aira menundukkan kepala dalam sepersekian detik. Angin dari pukulan itu menyapu rambutnya yang diikat sembarangan. Bau keringat, darah, dan rokok murahan memenuhi udara arena bawah tanah yang sempit. Lampu neon di atas bergoyang-goyang, membuat bayangan lawannya terlihat lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Lawan malam ini bernama Bison. Tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari Aira, otot-ototnya menonjol seperti batu, dan matanya sudah merah karena amarah sekaligus obat-obatan. Crowds di sekeliling arena berteriak-teriak, sebagian memasang taruhan, sebagian lagi hanya ingin melihat darah.
Aira tidak peduli. Yang dia pikirkan hanya satu. Hadiah kemenangan malam ini dua belas juta. Kalau dipotong komisi bandar, masih tinggal sembilan. Cukup untuk bayar utang minggu ini dan beli beras plus mi instan untuk sepuluh hari.
Bison mengayunkan tinju lagi, kali ini dari samping. Aira melangkah ke kiri, membiarkan pukulan itu menyapu udara kosong, lalu menendang lutut lawannya dengan tepat. Ada bunyi “kruk” yang memuaskan. Bison meraung dan jatuh berlutut. “Dasar cewek gila!” teriaknya sambil memegangi lutut yang sudah bengkok.
Aira mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. “Bukan gila. Hanya lapar.”
Crowds meledak tertawa. Beberapa orang berteriak, “Habisin dia, Ratu Darah!”
Aira benci julukan itu. Dulu, di dunia bawah tanah, orang-orang memanggilnya dengan nama yang lebih mengerikan. Sekarang dia cuma Ratu Darah di arena ilegal yang bau dan kotor. Setidaknya julukan itu membuat bandar memberinya lawan yang bayarannya lebih tinggi.
Bison mencoba bangkit. Aira tidak memberinya kesempatan. Dia melompat, memutar tubuh, dan menendang sisi kepala lawannya dengan tumit sepatu bot yang sudah usang. Bison terjengkang ke belakang, kepala menghantam lantai beton. Darah mengalir dari hidungnya.
Wasit yang gemuk dan berkeringat mengangkat tangan. “Knockout! Pemenangnya… Aira!”
Teriakan penonton menggema. Aira berdiri diam di tengah arena, napasnya masih teratur. Dia bahkan tidak berkeringat banyak. Tubuhnya sudah terbiasa dengan rasa sakit dan adrenalin.
Dia melompat keluar dari ring besi yang berkarat dan langsung menuju meja bandar di sudut ruangan. Seorang pria gemuk berkemeja batik murahan sedang menghitung uang dengan jari-jari gemuknya.
“Sembilan juta,” kata Aira datar.
Bandar itu tersenyum miring. “Lima juta saja, Non. Lawanmu terlalu cepat kalah. Penonton belum puas.”
Aira menatapnya tanpa berkedip. “Kita sudah sepakat dua belas juta, dipotong komisi jadi sembilan. Kalau kamu berani mengurangi lagi, saya akan pastikan jari-jari gemukmu itu tidak bisa lagi menghitung uang.”
Bandar itu tertawa canggung. “Hei, santai saja. Saya bercanda. Ini… ini delapan juta. Sudah termasuk bonus karena penonton antusias.”
Aira meraih uang itu, menghitung cepat, lalu memasukkan ke dalam saku jaketnya. “Kamu kurang satu juta. Besok saya ambil. Kalau tidak ada, saya ambil jari telunjukmu sebagai gantinya.”
Bandar itu menelan ludah. “Baiklah, baiklah. Besok saya siapin.”
Aira berbalik tanpa mengucapkan terima kasih. Dia sudah terbiasa. Di dunia ini, kesopanan adalah kemewahan yang tidak berguna.
Dia berjalan menuju pintu keluar belakang, melewati lorong sempit yang penuh asap rokok dan suara orang mabuk. Tiba-tiba sebuah botol bir pecah di dekat kakinya. Seorang pria mabuk tersandung dan hampir menabraknya.
“Hati-hati, cantik,” kata pria itu dengan napas berbau alkohol. “Mau ikut saya pulang? Saya bayar mahal.”
Aira menatapnya secukupnya. “Kamu bahkan tidak sanggup bayar utang judi kamu sendiri. Saya dengar kamu kalah lima juta tadi malam.”
Pria itu terdiam. Aira melanjutkan langkahnya. Dia tidak punya waktu untuk orang-orang seperti itu.
Begitu keluar dari pintu belakang, udara malam yang agak lebih sejuk menyambutnya. Arena ilegal itu terletak di bekas gudang tua di pinggiran kota, jauh dari lampu-lampu mewah. Beberapa mobil mewah terparkir di kejauhan—milik penonton kelas atas yang suka menonton orang saling menghajar sambil minum wine.
Aira baru saja melangkah dua meter ketika mendengar suara teriakan dan deru mesin.
Sebuah mobil sport hitam mengkilat melaju kencang dari arah jalan raya, lalu tiba-tiba berbelok tajam menuju area parkir belakang gudang. Ban berdecit. Asap membubung. Mobil itu nyaris menabrak tiang listrik sebelum berhenti mendadak hanya beberapa meter di depan Aira.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria berambut acak-acakan, mengenakan jaket balap hitam mahal, keluar dengan wajah pucat. Di belakangnya, dua motor berkejar-kejaran. Pengendaranya membawa batangan besi.
“Mati kau, Raka!” teriak salah satu pengendara motor.
Aira mengerjap. Raka? Nama itu terdengar familiar. Pembalap profesional yang sering muncul di berita. Yang katanya selalu menang dan selalu dikelilingi wanita cantik. Sekarang dia terlihat seperti orang yang hampir mati.
Dua pengendara motor itu melompat turun dan berlari menuju Raka. Salah satunya mengayunkan batangan besi ke arah kepala pembalap itu.
Aira menghela napas pelan. "Saya tidak ingin ikut campur. Saya sudah dapat uang malam ini. Ingin pulang, makan mi instan, lalu tidur."
Tapi batangan besi itu sudah hampir mengenai kepala Raka. Insting yang sudah tertanam bertahun-tahun bergerak lebih cepat dari logikanya. Aira melangkah ke depan, menangkap pergelangan tangan penyerang, memutarnya, dan mematahkan siku orang itu dengan bunyi yang renyah. Batangan besi jatuh. Penyerang kedua mengayunkan tinju. Aira menunduk, meninju lambungnya sekali, lalu menendang lututnya hingga pria itu terjatuh sambil meringis.
Semua terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Raka berdiri terpaku, mulut terbuka. “Kau… kau baru saja…”
Aira mengusap debu di jaketnya. “Kamu berhutang kepada saya.”
“Hah?”
“Saya baru saja menyelamatkan nyawamu. Nyawa orang kaya seperti kamu pasti mahal. Jadi, bayar.”
Raka mengedipkan mata beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kamu… minta bayaran setelah menyelamatkan saya?”
“Tentu saja. Saya tidak bekerja gratis. Apalagi menyelamatkan orang yang hampir ditabrak mobilnya sendiri karena ngebut.”
Salah satu penyerang mencoba bangkit. Aira menoleh dan menatapnya dengan tatapan datar. “Kalau kamu berdiri lagi, saya pastikan kamu tidak bisa jalan selama sebulan.”
Pria itu langsung berbaring kembali. Raka masih menatap Aira dengan ekspresi campur aduk antara kagum, bingung, dan… tertarik. “Kamu siapa?”
“Orang yang lapar. Dan sekarang kamu menghalangi saya pulang.” Aira mengulurkan tangan. “Uang. Cepat.”
Raka tertawa kecil, seolah baru saja mendengar lelucon terlucu sepanjang malam. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dompet kulit mahal. “Berapa yang kamu mau?”
Aira berpikir sejenak. “Lima juta. Karena saya harus mengeluarkan tenaga ekstra. Dan karena kamu bikin suasana jadi ribet.”
Raka menyerahkan beberapa lembar uang tanpa ragu. “Ini sepuluh juta. Anggap saja bonus karena kamu keren banget.”
Aira menerima uang itu, menghitung cepat, lalu memasukkannya ke saku. “Terima kasih. Sekarang saya pergi.”
Dia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Raka memanggil dari belakang. “Tunggu! Nama kamu siapa?”
Aira tidak menoleh. “Tidak penting.”
“Aku Raka. Raka Aditya. Pembalap...”
“Saya tahu. Saya pernah lihat wajahmu di koran bekas yang dipakai bungkus mi.”