NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

PIETRA PETROVSKY

Setelah menyantap makanan yang kupesan lewat aplikasi, aku mandi lama-lama lalu berbaring untuk tidur.

Tak butuh waktu lama sampai aku terlelap.

Keesokan harinya aku terbangun sebelum alarm berbunyi.

Cahaya musim dingin yang pucat menembus tirai tipis kamar, menyebarkan rona kebiruan di dinding.

Beberapa detik aku terbaring tanpa bergerak, mendengarkan keheningan. Tak ada suara langkah di lorong. Tak ada suara yang memerintah. Tak ada ketegangan di udara.

Hanya aku.

Aku butuh waktu untuk bangkit, seolah tubuhku masih membiasakan diri pada gagasan bahwa terbangun tak lagi harus menjadi tindakan bertahan diri.

Ketika akhirnya aku duduk di tempat tidur, kutarik napas dalam-dalam dan membiarkan telapak kaki menyentuh lantai yang dingin.

Kamar mandinya sederhana, tapi bersih. Kubasuh wajah dengan air dingin, merasakan sentakannya membangunkan pikiranku. Kugosok gigi, kuikat rambut dalam sanggul rendah, lalu kuamati diriku di cermin.

Mataku tampak berbeda. Lelah, tapi awas. Hidup.

"Satu hari demi satu hari," gumamku.

Kukenakan pakaian yang nyaman namun rapi, sesuatu yang membuatku bisa berbaur tanpa menarik perhatian.

Kuambil mantel dan tasku, lalu keluar apartemen, mengunci pintu dengan kehati-hatian yang berlebihan. Ini belum jadi kebiasaan. Ini naluri.

Dingin jalanan langsung menghantamku, tapi aku tetap berjalan. Trotoar basah, orang-orang berlalu tergesa, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Tak seorang pun mengenalku di sini. Tak seorang pun tahu siapa aku, dari mana asalku, atau dari apa aku melarikan diri.

Dan itu memberiku rasa bebas yang asing.

Toko roti itu terletak beberapa blok dari sana. Kecil, sederhana, dengan jendela berembun karena hangatnya bagian dalam. Begitu aku masuk, aroma roti segar dan kopi pekat menyambutku.

Itu mengingatkanku pada rumah. Bukan pada apartemen yang kutinggalkan, melainkan pada gagasan tentang rumah yang masih kubawa dalam diriku.

Kupilih roti sederhana, sesuatu yang manis, mentega, dan kopi. Kuamati orang-orang di sekitar sambil menunggu, mencoba merasa menjadi bagian dari keseharian itu. Seorang wanita yang terburu-buru, seorang pria tua yang membaca koran, seorang anak yang menarik lengan ibunya.

Kehidupan yang normal.

Aku kembali ke apartemen dengan kantong di tangan dan ketenangan yang asing di dada.

Kusiapkan sarapan dengan cermat, seolah itu sebuah ritual.

Kutata semuanya di atas meja kecil dekat jendela, lalu duduk, mendekap cangkir hangat di antara kedua tangan.

Baru setelah itu aku menyalakan laptop.

Layarnya menyala perlahan, dan kubuka surelku dengan perasaan campur aduk antara harap dan cemas.

Pesan otomatis, balasan yang sopan, beberapa penolakan. Tak ada yang di luar dugaan. Aku tahu, memulai lagi dari awal takkan mudah.

Aku terus membaca sambil menyeruput kopi sedikit demi sedikit, sampai mataku terpaku pada satu nama.

Perusahaan D'Amato.

Jantungku berdegup cepat.

Kubuka surel itu dengan hati-hati, seolah gerakan mendadak sedikit saja bisa membuatnya lenyap. Isinya formal, langsung, nyaris dingin.

Undangan untuk wawancara langsung.

Kupejamkan mata beberapa detik.

Ini nyata.

Ini bukan sekadar percobaan. Bukan rencana dadakan. Ini peluang yang nyata, terlalu besar untuk diabaikan. Terlalu kuat untuk diremehkan.

Kupandangi seisi apartemen yang sunyi. Meja yang sederhana. Pakaian baru yang terlipat di kamar. Hidupku yang tengah dibangun kembali kepingan demi kepingan.

"Ini cuma wawancara," bisikku.

Kuisi formulirnya, lalu muncul alamat, tanggal, dan waktunya.

Jadwalnya keesokan hari, pukul 12:30. Jantungku hampir melompat keluar. Kututup laptop dengan puas dan kembali menikmati kopiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!