Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon jadi Bodyguard Luna
Pukul 08.00 pagi, gerbang TK Pelangi Ceria heboh.
Bukan karena Leon dan Luna datang.
Tapi karena mobil Rolls Royce hitam De Luca dikawal 4 mobil Alphard hitam penuh bodyguard.
"Ya ampun, itu anak siapa sih?" bisik mama-mama lain.
Lorenzo turun pertama. Jas hitam, kacamata hitam, celemek biru PAPA SIAGA TK masih nempel di dalam jasnya. Dia bukain pintu.
Leon turun gaya bos kecil. Tas bekal steak wagyu mini di punggung.
Luna turun setelahnya, pegang tangan Leon erat. Dress pink princess-nya agak kusut karena di mobil tadi Luna rebutan stik keju sama Leon.
Romeo sudah menunggu di depan kelas. Rambutnya pirang, senyumnya manis.
"Luna!" Romeo melambaikan tangan.
Luna langsung senyum lebar, mau lari ke Romeo sambil bawa bunga mawar kecilnya.
TAPI.
Leon langsung tarik tangan Luna.
"Tidak boleh," kata Leon dengan wajah serius seperti papa-nya.
Luna bingung. "Kenapa? Luna mau kasih bunga buat Romeo!"
"Leon janji sama Mama Elena, Leon akan jaga Luna. Romeo itu... mencurigakan," bisik Leon.
Di dalam hati Leon, dia masih ingat kemarin. Romeo pinjam penghapus Luna tapi gak dibalikin. Bagi Leon, itu kejahatan besar.
Bu Guru Sarah datang. "Wah, Leon Luna datang! Ayo masuk kelas, hari ini kita menggambar keluarga!"
Semua anak masuk kelas. Lorenzo mengintip dari jendela kelas sambil sembunyi-sembunyi. Elena video call, "Pa, jangan kelihatan serem! Nanti guru takut!"
Di dalam kelas, masalah dimulai.
Bu Guru suruh duduk berpasangan. Luna mau duduk sama Romeo karena sudah janji mau menggambar bareng.
Leon langsung geser bangku.
"Aku duduk sama Luna," kata Leon.
Romeo kaget. "Tapi Luna sudah janji sama aku kemarin."
Leon melipat tangan seperti bos mafia kecil. "Janji bisa dibatalkan. Luna itu adikku. Adik harus dijaga kakak."
Bu Guru Sarah bingung, tapi gemes lihatnya. "Ya sudah, Leon duduk sama Luna ya, Romeo duduk sama Mika saja."
Jam menggambar dimulai.
Luna menggambar keluarga De Luca: Papa Lorenzo pakai celemek biru, Mama Elena, Leon pakai jas, dan dirinya pakai mahkota pink. Di sampingnya, Luna menggambar Romeo kecil.
Leon melihat gambar Romeo itu. Alisnya naik.
Dengan cepat, Leon ambil krayon hitam dan coret gambar Romeo itu jadi monster.
"Leon! Kenapa dicoret!" Luna hampir nangis.
"Monster itu jahat. Nanti culik Luna," kata Leon serius. "Leon jadi bodyguard Luna. Bodyguard tidak boleh biarkan monster dekat."
Luna cemberut, bibirnya maju 5 cm. Dia ngambek.
Bu Guru Sarah yang lihat langsung panik. Anak pewaris mafia kalau nangis bisa gawat. Dia cepat ambil permen lolipop pink.
"Luna sayang, jangan nangis ya, Bu Guru punya stiker princess banyak lho!"
Tapi Luna tetap cemberut. Bukan karena gambarnya dicoret, tapi karena Leon pelit. Tadi pagi Leon makan 2 stik keju Luna.
Di luar jendela, Lorenzo lihat Luna cemberut. Tangannya langsung mau buka pintu kelas.
Thomas yang di mobil langsung chat: "Bos, jangan masuk! Ingat, kita Papa Siaga, bukan Papa Mafia Siaga!"
Lorenzo tarik napas dalam. Dia kirim pesan suara ke Leon lewat jam tangan pintar Leon.
Jam Leon bergetar. Suara Lorenzo: "Leon, buat Luna senyum. Sekarang. Itu perintah Papa."
Leon dengar perintah Papa. Dia berpikir keras. Otak bos kecilnya bekerja.
Lalu Leon buka tas bekal steak wagyu mininya. Dia ambil steak paling besar, potong kecil, dan suapin ke Luna.
"Luna, jangan ngambek. Leon kasih steak Leon," kata Leon.
Luna masih cemberut, tapi mulutnya otomatis buka karena lapar. Steak wagyu itu enak.
"Enak?" tanya Leon.
Luna mengangguk.
"Kalau enak, jangan dekat Romeo lagi. Deket Leon aja. Leon punya steak banyak," kata Leon sambil senyum licik mirip Lorenzo.
Bu Guru Sarah yang lihat langsung melotot. "Leon! Tidak boleh begitu! Tidak boleh larang Luna berteman!"
Romeo dari bangku sebelah lihat juga. Dia sedih. Bunga mawar kecil yang Luna bawa untuknya masih ada di meja Luna, belum dikasih.
Jam istirahat berbunyi.
Semua anak lari keluar. Luna mau kasih bunga ke Romeo, tapi Leon gendong tas Luna dan tarik Luna ke taman belakang.
"Leon mau tunjukin markas rahasia!" kata Leon.
Di taman belakang, ada rumah-rumahan kecil. Leon masuk duluan.
"Luna masuk, ini markas bodyguard. Di sini aman dari penculik," kata Leon.
Luna masuk. Di dalam rumah-rumahan itu sempit, cuma muat berdua.
Di luar, Romeo berdiri depan rumah-rumahan itu sambil pegang mobil-mobilan. "Luna, mau main mobil-mobilan gak?"
Leon langsung tutup pintu rumah-rumahan dari dalam.
"Tutup! Ada monster!" teriak Leon.
Luna tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, Luna ketawa karena tingkah Leon yang terlalu protektif.
Dari jauh, Lorenzo yang mengintip sambil pakai celemek biru akhirnya senyum lega. Dia foto Leon dan Luna di rumah-rumahan itu dan kirim ke Elena.
Captionnya: "Misi Papa Siaga hari ini berhasil. Calon pewaris aman. Tapi sepertinya bodyguard-nya terlalu posesif sama adiknya."
Elena balas: "HAHAHA mirip siapa coba posesifnya? Like father like son!"
Di dalam rumah-rumahan, Luna akhirnya kasih satu bunga mawar ke Leon.
"Ini buat Leon, karena sudah jaga Luna," kata Luna.
Leon wajahnya merah. Jas kecil hitamnya jadi berantakan. Dia ambil bunga itu dan simpan di saku jasnya seperti harta karun.
Romeo yang masih di luar? Dia masih menunggu, tapi jam istirahat sudah mau habis.
Dan tanpa Leon sadari, di gerbang TK, ada mobil hitam yang bukan milik De Luca sedang parkir. Kaca jendelanya gelap. Mengawasi Leon dan Luna dari jauh.
Siapa itu? Apa benar ada yang mau menculik calon pewaris De Luca
*BERSAMBUNG*