Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Siska bergumam sendiri menghibur hatinya yang sedang hancur karena Kevin belum juga membalas pesannya.
Ia tidak ingin teman-teman sosialitanya tahu bahwa calon suaminya yang kaya raya itu sedang bermasalah.
Ia harus tetap menjaga gengsi dan terlihat mewah di depan mereka.
Siska berjalan menuju sebuah restoran fine dining bintang lima yang berada di lantai dasar mall tersebut.
Restoran itu memiliki dinding kaca transparan dan pelayanan valet parkir khusus di depan pintunya.
Siska masuk ke dalam dan duduk di meja bundar bersama tiga orang temannya yang sudah menunggu.
"Wah Siska, kau cantik sekali hari ini."
"Mana calon suamimu si Kevin yang anak konglomerat itu, kami ingin berkenalan dengannya."
Salah satu temannya bertanya dengan nada menggoda.
Siska tersenyum palsu dan mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya sombong.
"Kevin sedang sibuk mengurus proyek perumahan senilai triliunan rupiah di luar kota."
"Dia terlalu sibuk untuk acara makan siang santai seperti ini, jadi aku yang traktir kalian semua hari ini."
Siska berbohong dengan sangat lancar menutupi kepanikannya.
Teman-temannya langsung bersorak gembira dan mulai memesan makanan paling mahal di buku menu.
Di saat mereka sedang asyik tertawa, sebuah keributan kecil terjadi di area parkir valet tepat di luar kaca restoran.
Suara raungan mesin V8 yang sangat berat dan gahar menarik perhatian semua pengunjung restoran, termasuk Siska.
Sebuah Mercedes G-Class hitam doff yang sangat gagah dan mengkilap berhenti tepat di depan pintu masuk.
"Wah gila, itu kan mobil Mercy G-Class AMG edisi terbaru yang harganya tujuh miliar!"
"Siapa orang kaya yang membawa mobil monster itu ke mari?"
Teman-teman Siska menempelkan wajah mereka ke kaca karena penasaran.
Siska ikut menoleh dengan perasaan iri yang sangat mendalam.
Bahkan Kevin yang kaya raya itu pun hanya memakai sedan BMW seri 3 cicilan ayahnya.
Seorang petugas valet langsung berlari membukakan pintu kemudi mobil hitam tersebut sambil membungkuk hormat.
Sesosok pria muda bertubuh tegap turun dari dalam mobil.
Ia memakai kemeja kargo biru dongker dan celana panjang senada yang terlihat sangat pas di tubuh berototnya.
Rambutnya disisir rapi ke belakang memperlihatkan wajah tampan dengan rahang yang tegas.
Aura pria itu sangat dingin, berwibawa, dan memancarkan karisma miliarder yang menekan semua orang di sekitarnya.
Mata Siska terbelalak sangat lebar hingga bola matanya nyaris melompat keluar dari rongganya.
Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang yang ditabuh brutal.
"A... Amir?"
Siska bergumam tanpa sadar dengan suara yang bergetar hebat.
"Siska, kau kenal dengan pria tampan dan super kaya itu?"
Temannya bertanya dengan nada kaget bercampur antusias.
Otak Siska mengalami korsleting singkat menolak kenyataan yang ada di depan matanya.
Tidak mungkin pria pengemis yang ia tendang dua hari lalu tiba-tiba turun dari mobil seharga tujuh miliar rupiah.
Pria itu pasti hanya mirip saja, atau mungkin Amir bekerja sebagai sopir pribadi pemilik mobil itu.
"Ah bukan, dia itu mantan suamiku yang miskin dan tidak berguna."
"Paling dia melamar pekerjaan jadi sopir pribadi orang kaya di kota ini dan disuruh membawa mobil bosnya."
Siska memberikan alasan yang masuk akal menurut logikanya yang sempit.
Amir menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet dan melangkah masuk ke dalam restoran.
Pelayan restoran langsung menyambutnya dengan senyuman paling manis yang mereka miliki.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa kami bantu?"
"Aku butuh meja untuk satu orang, bawakan menu daging steak paling mahal yang kalian punya hari ini."
Amir berbicara dengan nada datar namun sangat berkuasa.
Ia berjalan mengikuti pelayan menuju sebuah meja di area VIP yang tidak jauh dari tempat duduk Siska.
Siska yang merasa harga dirinya terusik melihat mantan suaminya berlagak sombong, tiba-tiba berdiri dari kursinya.
Ia berjalan menghampiri meja Amir dengan langkah angkuh dan tatapan meremehkan.
Teman-temannya hanya melihat dari jauh dengan penasaran.
Tap tap tap.
Siska berhenti tepat di depan meja Amir dan melipat tangannya di dada.
"Wah wah wah, lihat siapa yang sedang berpura-pura menjadi orang kaya di sini."
Siska membuka suara dengan nada ejekan yang sangat nyaring.
Amir yang sedang menatap buku menu perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapan matanya yang dilapisi aura Keris Naga Darah langsung menusuk lurus ke dalam jiwa Siska.
Siska mendadak merasakan hawa dingin yang mencekik lehernya, membuatnya sedikit memundurkan langkahnya.
"Siska, apa yang kau lakukan di depan mejaku?"
Amir bertanya dengan nada sedingin es di kutub utara.
Tidak ada lagi panggilan sayang, tidak ada lagi senyum mengalah dari pria di depannya ini.
"Kau jangan berlagak sombong ya di depanku dasar gembel."
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau cuma sopir pribadi yang disuruh bosmu mencuci mobil itu kan."
"Beraninya kau memakai mobil bosmu untuk pamer dan makan di tempat mahal seperti ini."
Siska melontarkan tuduhan bodohnya dengan suara yang sengaja dikeraskan agar orang lain mendengarnya.
Amir menutup buku menunya dengan pelan lalu tersenyum sangat tipis.
Senyuman itu bukanlah senyum ramah, melainkan senyum meremehkan dari seorang raja yang melihat badut murahan.
"Ternyata selain miskin hati, otakmu juga sangat miskin ya Siska."
"Kau terlalu sibuk berhalusinasi dengan kekayaan palsu tunanganmu itu sampai tidak bisa menerima kenyataan."
Amir membalas ucapan Siska dengan kata-kata yang sangat tajam dan menusuk ulu hati.
Wajah Siska langsung berubah merah padam menahan amarah dan rasa malu karena beberapa pengunjung mulai menatap ke arah mereka.
"Jaga mulutmu ya dasar parasit!"
"Kevin itu jauh lebih kaya darimu, dia punya banyak proyek besar!"
"Sedangkan kau cuma pengangguran yang uangnya habis untuk makan sehari-hari!"
Siska berteriak marah tidak terima tunangannya dihina oleh Amir.
Amir mengambil gelas air putih di depannya dan meminumnya dengan sangat elegan.
Ia sama sekali tidak terpancing emosi oleh teriakan melengking Siska.
"Kalau tunanganmu itu memang kaya, lalu kenapa kau harus menjual kalung pemberianku ke toko perhiasan hari ini?"
Kata-kata Amir bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di kepala Siska.
Mata Siska terbelalak ngeri karena rahasia memalukannya tiba-tiba terbongkar di tempat umum.
"Da... dari mana kau tahu soal itu!"
"Kau menguntitku ya dasar pria gila!"
Siska menunjuk wajah Amir dengan jari telunjuk yang gemetar ketakutan.
"Aku tidak sepeduli itu untuk menguntit sampah sepertimu, Nyonya Siska."
"Aku melihatmu keluar dari toko perhiasan saat mobilku lewat di depan mall tadi."
"Sungguh menyedihkan melihat calon istri konglomerat harus menjual kalung murahan demi bisa mentraktir teman-temannya makan."
Amir membeberkan semuanya dengan suara tenang namun menggema jelas di telinga teman-teman Siska di meja seberang.
Teman-teman sosialita Siska mulai berbisik-bisik dan menatap Siska dengan pandangan curiga serta meremehkan.
"Siska, apa benar kau menjual kalungmu demi kami?"
Salah satu temannya bertanya dari kejauhan dengan nada sinis.
Harga diri Siska hancur lebur seketika dihantam realita telak di depan banyak orang.
Ia tidak bisa mengelak lagi karena amplop uang itu masih menyembul dari dalam tas mewahnya.
"Ini bukan urusanmu Amir!"
"Kau akan menyesal telah mempermalukanku hari ini!"
Siska berteriak frustasi dan langsung berbalik badan berlari keluar dari restoran tersebut sambil menutupi wajahnya yang memerah.
Ia bahkan meninggalkan teman-temannya yang kebingungan harus membayar tagihan makanan mahal mereka sendiri.
Amir hanya menatap kepergian mantan istrinya itu dengan tatapan datar yang tidak memiliki belas kasihan sedikit pun.
"Maaf Tuan, apakah wanita tadi mengganggu Anda?"
Seorang manajer restoran datang menghampiri meja Amir dengan wajah cemas.
"Tidak masalah, dia cuma pengemis yang salah masuk tempat."
"Tolong segera siapkan pesanan steak saya, saya sudah sangat lapar."
Amir menjawab santai dan kembali duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Pembalasan pertamanya telah sukses menghancurkan gengsi mantan istrinya hingga tak tersisa.
Namun ini barulah permulaan, Amir akan terus menanjak naik hingga keluarga Siska benar-benar hancur berlutut di bawah kakinya.