Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sang Ayah
Lampu merah bertuliskan In Operation menyala terang di atas pintu ganda berlapis kaca buram. Pintu itu tertutup rapat, mengisolasi Alea yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya di tangan tim dokter bedah terbaik.
Lorong rumah sakit yang serba putih terasa dingin dan mencekam. Langkah kaki Adrian terasa begitu berat saat duduk di kursi tunggu. Pakaian dan jemari pria itu masih ternoda oleh bercak darah pekat milik Alea—menjadi saksi bisu atas tragedi berdarah yang baru saja terjadi.
Sampai di rumah sakit, Azka tak henti-hentinya menangis di dalam dekapan Adrian.
Tubuh kecil bocah tiga setengah tahun itu gemetaran hebat akibat trauma berat. Wajah cabinya yang polos kini basah kuyup oleh air mata, menyembunyikan paras sembapnya di dada tegap sang ayah.
"Papaaa... hiks... ini semua salah Azka..." tangis Azka pecah, suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan penyesalan yang teramat besar bagi anak seusianya.
"Azka yang ikut pergi dengan Nenek... hiks... padahal Ibu sudah peringatkan untuk tidak berbicara dengan orang asing... hiks... Ibu kena tembak gara-gara Azka, Paaa!"
Mendengar ucapan polos nan jujur dari putranya, dada Adrian terasa dihantam ombak besar yang teramat menyakitkan. Napasnya tertahan. Pria jangkung itu makin mempererat pelukannya, mengusap lembut punggung kecil Azka dan mencium puncak kepalanya berulang kali dengan penuh kasih sayang.
"Tidak, Sayang... Dengarkan Papa," bisik Adrian dengan suara berat yang bergetar menahan air mata.
Adrian menangkup kedua pipi cabi Azka, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat putranya yang berkaca-kaca.
"Ini sama sekali bukan salah Azka. Anak pintar Papa tidak salah apa pun. Ini semua salah Papa yang terlambat melindungi kalian..." ucap Adrian tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Ibu anak yang sangat kuat. Ibu menyayangi Azka melebihi nyawanya sendiri, dan sekarang dokter sedang berusaha menyembuhkan Ibu. Kita berdoa sama-sama ya untuk Ibu?"
Azka mengangguk pelan dalam dekapan Adrian, menyeka air matanya dengan lengan baju kecilnya. Rasa hangat dan perlindungan yang diberikan Adrian perlahan mulai menenangkan kepanikan di hati bocah itu.
Di ujung koridor, Rian berjalan cepat menghampiri Adrian dengan wajah tegang. Ia menunduk penuh hormat sebelum berbisik, "Tuan, Tuan Besar—ayah Anda—baru saja mendapat kabar mengenai kejadian di pantai. Beliau sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ini sekarang."
Mata Adrian menyipit dingin. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, bersiap menghadapi konfrontasi berikutnya demi membentengi Alea dan Azka dari siapa pun—termasuk keluarga besarnya sendiri.
Langkah kaki tergesa-gesa yang bergaung keras di lorong rumah sakit memecah keheningan yang mencekam. Sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tegas—Papa Adrian—berjalan cepat mendekati ruang operasi. Di belakangnya, beberapa pengawal pribadi mengikutinya dengan jarak aman.
Mata pria tua itu tertuju pada Adrian yang masih memangku Azka dalam dekapan hangatnya, lalu melirik ke arah pakaian Adrian yang bernoda darah.
Papa Adrian pun datang. "Apa yang terjadi?! Bagaimana bisa kamu tidak melindungi dia?!" seru Papa Adrian dengan nada suara berat yang sarat akan rasa cemas dan amarah yang tertahan.
Adrian mendongak, menatap sang ayah dengan pandangan seribu bahasa. Ia mengira kedatangan ayahnya akan membawa perdebatan baru atau pembelaan atas tindakan sang mama. Namun, ekspresi wajah tua itu justru memancarkan kekecewaan mendalam dan rasa bersalah yang teramat sangat.
Papa Adrian berlutut pelan di hadapan Azka, mengusap lembut rambut cucunya yang masih basah oleh air mata. Matanya berkaca-kaca menatap wajah polos yang amat mirip dengan Adrian sewaktu kecil itu.
"Papa tidak pernah menyangka Sarah akan berbuat senekat ini," bisik sang ayah dengan suara bergetar berat. Pria tua itu memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang terasa begitu sesak. "Meski dia istriku dan ibumu... kita serahkan semuanya ke kantor polisi."
Seketika Adrian tahu bahwa sang ayah sudah lama membuka hati untuk menerima Alea dan Azka.
Segala sikap tegas dan kemarahan sang ayah beberapa hari lalu di mansion bukanlah bentuk penolakan terhadap Alea atau Azka, melainkan kepedulian seorang kepala keluarga yang ingin Adrian bertindak bertanggung jawab sebagai pria sejati. Sang ayah rupanya diam-diam telah menerima kehadiran cucu pertamanya dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan mereka secara resmi.
Adrian menatap ayahnya dengan tenggorokan yang terasa tersekat. rasa kesepian dan beban berat yang menghimpit dadanya perlahan terangkat oleh dukungan sang ayah.
"Terima kasih, Pa..." ucap Adrian dengan suara rendah dan tulus.
"Jaga anakmu," tutur Papa Adrian tegas namun lembut, menepuk bahu Adrian dengan erat. "Soal ibumu, Biar Papa yang urus prosedur hukumnya bersama Rian. Jangan biarkan ada celah sedikit pun. Sekarang fokuslah pada keselamatan Alea."
Tepat saat itu, bunyi klik nyaring terdengar dari pintu ruang operasi. Lampu merah bertuliskan In Operation padam, berganti dengan cahaya hijau. Dokter utama berseragam hijau medis melangkah keluar seraya melepas maskernya dengan wajah penuh peluh.
Adrian seketika berdiri menggendong Azka, melangkah cepat menghampiri sang dokter dengan jantung yang berdegup kencang.